Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Jakarta.


__ADS_3

"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga," gumam Nisa setelah berada di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Langit telah berubah menjadi gelap karena ditinggalkan oleh sang raja sinar. Nisa sampai di Jakarta tepat saat adzan magrib berkumandang. Perjalanan udara dari Surabaya menuju Jakarta membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam.


Gadis berhijab itu memutuskan untuk beristirahat sejenak di lobby bandara. Pengalaman pertama naik pesawat membuat kepalanya terasa berdenyut. Dia menatap keramaian yang ada di hadapannya saat ini. Terbesit rasa takut yang muncul di kepala karena merasa asing di kota besar ini. Nisa sendiri tidak menyangka jika bisa menginjakkan kakinya di Jakarta tanpa ada rencana dan bayangan sedikitpun. Rasa bersalah mulai menghantui tatkala teringat jika dirinya berpijak di tempat ini dengan berbohong kepada orang tuanya.


"Ibu, maafkan aku karena sudah melakukan kebohongan besar," batin Nisa sambil menutup kelopak matanya.


Setelah beberapa menit termenung di sana, Nisa mengeluarkan ponsel dan catatan alamat yang ditulis oleh Ardi. Dia mencoba mencari alamat tersebut di map untuk memastikan jarak dan waktu yang harus ditempuh.


"Gak kurang dari satu jam kalau di sini. Sebaiknya aku ke sana sekarang, sebelum semuanya terlambat," gumam Nisa setelah berpikir beberapa saat lamanya.


Nisa memutuskan untuk memesan taksi online saja karena dirasa cukup aman bagi dirinya. Setelah menunggu beberapa menit lamanya, pada akhirnya taksi yang dia pesan sampai di terminal penjemputan.


"Pak, alamatnya sesuai yang di aplikasi," ucap Nisa setelah berada di dalam mobil.


"Baik, Nona," jawab driver tersebut.


Gemerlap lampu serta padatnya kendaraan yang berlalu lalang menjadi pemandangan yang dinikmati Nisa selama dalam perjalanan. Tubuhnya terasa lelah karena belum sempat istirahat. Perlahan mata indah itu tertutup rapat setelah lelah memandang kendaraan yang tak ada habisnya.


"Nona, kita sudah sampai di tempat tujuan," ucap Driver setelah menghentikan laju kendaraan di depan rumah megah dengan pagar yang menjulang tinggi, "Nona," ucap driver tersebut sekali lagi.


Nisa gelagapan setelah mendengar suara seseorang. Dia mengerjap beberapa kali sampai kesadarannya benar-benar kembali. Nisa memberikan ongkos kepada driver tersebut sebelum keluar dari mobil.


"Terima kasih, Pak," ucap gadis cantik itu sebelum keluar.


Nisa mengamati rumah megah yang ada di hadapannya. Dia meyakinkan diri terlebih dahulu sebelum melangkahkan kaki menuju rumah megah tersebut. Dia takut jika sampai salah alamat dan akan membahayakan diri.


"Aku pasti bisa!" ujar Nisa saat meyakinkan diri.


Gadis cantik itu akhirnya mengayun langkah menuju pos satpam yang ada di sisi kanan gerbang. Ada dua penjaga bertubuh kekar yang ada di sana. Tentu hal ini semakin membuat Nisa ketakutan.


"Siapa Anda?" tanya salah satu penjaga itu dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


"Sa ... saya ... saya ... Nis ... Nisa," ucap Nisa dengan suara terbata-bata.


"Ada perlu apa datang ke rumah ini?" tanya penjaga itu lagi.


"Saya hanya ingin menyampaikan pesan penting kepada pemilik rumah ini," ucap Nisa dengan napas yang menggebu.


"Dari mana kamu berasal?"


"Mojokerto, Surabaya," jawab Nisa dengan kepala tertunduk.


Tin ... tin ... tin ....


Nisa membalikkan badan setelah mendengar suara klakson mobil beberapa kali. Salah satu penjaga yang ada di sana berlari untuk membukakan gerbang. Mobil Civic hitam masuk ke halaman rumah tersebut.


"Katakan, ada pesan apa!" ujar penjaga yang berhadapan dengan Nisa.


"Ca ... ca ... cacing merah membutuhkan bantuan!" Akhirnya Nisa mengucapkan pesan tertulis dari Ardi.


Penjaga tersebut terbelalak setelah mendengar hal itu. Pria bertubuh kekar itu meninggalkan Nisa dan segera berlari menuju mobil Civic yang baru berhenti di depan garasi. Penjaga tersebut membukakan pintu belakang mobil dan keluarlah dua orang dari sana. Satu wanita dan satunya lagi seorang pria. Obrolan pun terjadi di sana, sepertinya pria paruh baya itu terkejut setelah berbicara dengan penjaga. Keduanya menatap ke arah Nisa dan setelah itu penjaga bertubuh kekar kembali ke tempat Nisa.


Nisa mengikuti langkah penjaga itu hingga sampai di ruang tamu. Dia dipersilahkan duduk di sofa mewah yang ada di sana. Nisa mengamati keadaan ruang tamu yang tiga kali lipat luasnya dari pada ruang tamunya di Mojokerto. Hingga pada akhirnya tatapan matanya tertuju pada dua orang yang berjalan dari arah dalam.


"Selamat malam," sapa Pria paruh baya bertubuh atletis itu.


Nisa segera beranjak dari tempatnya dan membungkukkan badan di hadapan kedua orang itu. Lantas, dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda penghormatan dirinya. Nisa kembali duduk di sofa tunggal setelah pria tersebut mempersilahkan dirinya untuk duduk kembali.


"Silahkan memperkenalkan diri," ucap pria tersebut seraya menatap Nisa.


Nisa memperkenalkan dirinya di hadapan kedua orang tersebut. Dia merasa gugup dan takut setelah melihat perubahan ekspresi kedua orang ada di hadapannya.


"Lalu apa tujuanmu datang ke rumah ini?" Kali ini wanita tersebut ikut bertanya.

__ADS_1


"Saya hanya ingin menyampaikan pesan, jika cacing merah membutuhkan bantuan. Cacing merah ada di pulau xxx," tegas Nisa seraya menatap kedua orang tua tersebut.


"Katakan siapa nama ayahmu?" tanya pria tersebut.


"Hasanuddin Ibrahim," jawab Nisa.


Kedua orang tua itu saling memandang setelah nama itu terucap dari bibir Nisa, "apa ada sesuatu yang bisa menjadi bukti jika cacing merah membutuhkan bantuan?" Wanita tersebut sepertinya mulai gusar.


Nisa segera mengeluarkan surat yang ditulis Ardi dari ranselnya. Dia memberikan surat itu kepada pria paruh baya yang terlihat tegang. Nisa terus mengamati ekspresi kedua orang itu saat membaca tulisan Ardi.


"Johan, Anakku!" Wanita tersebut bergumam lirih setelah membaca isi surat tersebut. Suaranya bergetar seperti menahan tangis.


"Pa, jemput anak kita, Pa! Aku ingin dia selamat," ujar Wanita tersebut sambil menatap suaminya penuh harap.


"Sabar, Ma. Papa harus mengatur strategi untuk menjemput Johan. Mama yang tenang ya, Papa mau telfon Baron dan yang lain," ucap pria paruh baya itu sebelum meninggalkan ruang tamu.


Nisa mendadak bingung menghadapi situasi ini. Dia tidak tahu harus bagaimana saat melihat wanita tersebut menangis dengan menyebut nama 'Johan' berulangkali.


"Apakah Johan itu Ardi?" batin Nisa saat menerka siapa yang dimaksud kedua orang tua tersebut.


Nisa ternganga setelah wanita tersebut ikut meninggalkan ruang tamu. Gadis cantik itu tidak tahu harus bagaimana saat ini. Haruskah dia pergi atau tetap berada di rumah ini. Nisa termangu di tempatnya sambil menunggu sang pemilik rumah kembali.


"Sebenarnya mereka ini siapa? Memangnya apa yang terjadi sehingga mereka panik dan sedih mendengar cacing merah butuh bantuan? Mereka ini sebenarnya intel, perwira atau mafia?" batin Nisa saat memikirkan keadaan yang sedang dia hadapi saat ini.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Apa iya Johan itu Ardi? ...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Hallo rekomendasi karya untuk kalian baca sambil nunggu othor up. Kuy intip karya author Desy Puspita dengan judul Pernikahan Tak Terduga. Kuy gercep biar gak ketinggalan😎...

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2