
"Besok aku kan harus menemani Elza ke Malang. Mana uang cash nipis lagi di dompet," gerutu Benny setelah teringat jadwal putranya, "aku tarik tunai sekarang saja lah sekalian isi kartu E-tol. Besok pagi biar langsung berangkat," gumam duda tampan itu seraya turun dari ranjang.
Setelah merapikan rambutnya, Benny segera meraih tas kulit yang selalu dia bawa kemanapun. Duda tampan itu keluar dari kamar dan menapaki satu persatu anak tangga hingga sampai di ruang keluarga. Lantas dia menganyun langkah sampai di ruang tamu. Duda tampan itu menghentikan langkahnya tatkala melihat Elza berdiri di balik pintu. Sepertinya putranya itu sedang mencuri dengar pembicaraan seseorang.
"Ngapain Elza di situ?" batin Benny saat menghampiri putranya. Dia berdiri di belakang Elza sambil mengikuti apa yang dilakukan putranya itu.
Benny mengernyitkan keningnya setelah mendengarkan pembicaraan dua orang yang ada di teras rumah. Rupanya ada pembicaraan serius di antara Fina dan Aris. Seketika Benny menyentuh bahu putranya setelah mendengar pengakuan Fina kepada pelatih putranya itu.
"Papa," gumam Elza dengan suara yang lirih ketika melihat ayahnya ada di sana.
Benny berjongkok di hadapan Elza sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir sebagai isyarat agar Elza tidak berisik. Dia meraih Elza ke dalam dekapannya karena tahu jika kondisi bocah kecil itu sedang tidak baik-baik saja. Cukup lama keduanya mendengarkan pembicaraan di luar hingga ada satu momen, di mana membuat Elza menatap ke arah Benny.
"bagaimana kalau untuk sementara waktu kita nikah siri dulu?"
"Papa," bisik Elza dengan sorot mata penuh arti. Bocah kecil itu terkejut bukan main setelah mendengar Aris mengajak Fina untuk menikah.
Benny mengurai tubuh putranya dan setelah itu dia berdiri dari tempatnya saat ini, "Elza tunggu di sini sebentar ya, tidak perlu keluar. Biar Papa yang bicara dengan mbak Fina," ucap Benny sebelum pergi dari hadapan putranya.
"Jangan harap kamu bisa melakukan itu! Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi!" ujar Benny dengan suara yang lantang. Dia mempercepat langkah menuju tempat Fina berada.
"Tidak ada pria manapun yang bisa menikah dengan Fina, karena dia hanya milikku!" tegas Benny seraya menatap Aris dengan intens.
"Pak! Omong kosong macam apa ini? Ini hidup saya, jadi hanya saya yang berhak menentukan pilihan!" sarkas Fina seraya menatap Benny.
"Pria ini tidak pantas menjadi pendampingmu, Fin!" ujar Benny sambil menunjuk Aris.
"Maaf Pak Benny yang terhormat. Atas dasar apa Bapak menyebut saya tidak pantas untuk Fina? Saya selalu berusaha untuk menjaga hati dari wanita lain meskipun saya dan Fina tidak memiliki hubungan resmi," sanggah Aris dengan sikap yang tegas.
__ADS_1
"Jika memang kamu serius kepada Fina, kenapa kamu tidak menemui orang tuanya? Apa kamu pikir aku akan membiarkan Fina mengharapkan sesuatu yang tidak pasti?" Benny seolah mengetahui sesuatu hal dari Aris.
"Sudah! Cukup, Pak Ben!" sahut Fina. Gadis berhijab itu semakin pusing dibuatnya.
"Sebaiknya Kang Aris pulang saja. Kita lanjutkan pembicaraan ini di lain waktu," ucap Fina seraya menatap Aris dengan sorot mata penuh harap.
Fina melakukan semua ini bukan karena ingin membela Benny. Akan tetapi dia hanya tidak mau di rumah ini ada keributan yang bisa mengundang perhatian tetangga. Lagi pula tidak akan ada keputusan yang tepat di saat seperti ini.
"Kenapa? Apa kamu lebih memilih pak Benny dari pada aku?" sarkas Aris seraya menatap Fina dengan sorot mata kecewa.
"Tidak, Kang! Saya hanya tidak mau suasana menjadi keruh. Tolong, kali ini saja pahami apa yang saya khawatirkan," sergah Fina dengan penjelasan untuk Aris.
"Ingatlah! Kamu tidak akan bisa merebut Fina dariku!" sahut Benny dengan tatapan tajamnya.
"Anda jangan terlalu percaya diri, Pak! Meskipun Anda tampan dan memiliki banyak uang, Anda harus ingat jika Anda seperti barang second minus pemakaian!" Entah dari mana keberanian itu sehingga Aris berani melontarkan kata-kata pedas untuk Benny, "saya sangat yakin jika Fina pasti akan memilih untuk mempertahankan saya daripada Anda!" ujar Aris tanpa rasa takut sedikitpun.
"Cukup! Cukup!" teriak Fina. Dia tidak mau jika kedua pria itu menunjukkan kehebatannya dalam berkelahi. Kepala gadis itu rasanya semakin berdenyut, "Kang, tolong segera pergi! Tolong kasihani saya! Sudah cukup!" pinta Fina dengan suara yang bergetar. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai permohonan kepada Aris.
"Kabari aku secepatnya jika kamu sudah siap untuk menikah siri, Fin. Aku pulang dulu," pamit Aris karena merasa kasihan melihat sorot mata penuh harap dari gadis impiannya itu.
Benny mengepalkan kedua telapak tangannya setelah mendengar hal itu. Tentu dia tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Entah bagaimana caranya nanti. Satu hal yang pasti, dia sangat yakin jika Tuhan akan memberikan Fina sebagai jodoh dunia dan akhirat.
"Kenapa Bapak bersikap seperti ini? Kang Aris adalah pilihan saya!" cecar Fina seraya menatap Benny dengan sorot mata penuh kebencian.
"Dia bukan pria yang tepat untukmu apalagi keluargamu!" jawab Benny dengan tegas.
"Apa Bapak seorang dukun yang bisa meramal kehidupan orang lain, hmm?" Fina tidak terima dengan jawaban Benny yang tak berdasar itu.
__ADS_1
"Sudahlah, Fin. Kamu itu tidak tahu bagaimana seluk beluk pria yang ada di sini. Jangan sampai kamu ditipu oleh pria seperti Aris. Kamu tidak tahu bagaimana dia di luar sana. Kamu hanya tahu cover dia sebagai pria yang selalu bersikap baik ketika di hadapanmu saja. Ini adalah kota besar, Fin. Jangan terlalu naif, menyangka Aris adalah pria yang tepat untukmu! Lagi pula kamu baru kenal dia semenjak Elza latihan 'kan?" jelas Benny tanpa melepaskan pandangan dari gadis cantik itu.
"Lalu bagaimana dengan Pak Benny sendiri? Apa Bapak sudah intropeksi diri sebelum menilai buruk tentang kang Aris? Coba lihat diri Bapak! Apakah Bapak sudah menjadi pria yang layak untuk saya? Bapak bergonta-ganti pasangan seenaknya sendiri!" sarkas Fina dengan nada bicara yang berapi-api.
"Aku memang bukan pria baik! Tapi kamu sudah mengenalku lama dan kamu sudah tahu bagaimana aku. Setidaknya kamu tidak akan tertipu hanya dengan kebaikanku saja. Aku dan Aris adalah dua objek yang berbeda dalam pandanganmu. Kamu memandang Aris adalah pria yang baik dan sempurna, sedangkan aku hanya pria buruk di matamu, Fin. Cobalah sesekali mengubah sudut pandangmu." Benny tidak habis pikir dengan pemikiran pengasuh putranya itu.
"Sudah cukup, Pak! Saya memutuskan untuk memilih kang Aris. Tolong hargai keputusan saya!" tegas Fina untuk mengakhiri pembahasan yang tidak ada ujungnya itu.
"Apa kamu yakin dengan keputusan ini? Lalu bagaimana dengan Elza?" tanya Benny dengan sorot mata kecewa.
"Jangan membawa Elza dalam hal ini!" ujar Fina karena tidak terima Elza diseret Benny dalam masalah percintaan ini.
"Tentu aku membawa Elza dalam hal ini, karena dia anakku. Dia memiliki harapan yang besar, jika kamu akan menjadi ibunya." Benny masih berusaha membujuk Fina agar mengubah keputusannya itu, "pikirkan semua ini dengan baik. Jangan memutuskan sesuatu dengan emosi. Ambil keputusan dengan kepala dingin," tutur Benny dengan nada bicara yang berubah menjadi lebih kalem.
Air mata luruh begitu saja dari pelupuk mata. Fina benar-benar berada di posisi sulit karena berada diantara dua pilihan yang menyangkut hatinya. Dia terisak di hadapan Benny karena rasa yang membuncah di dada. Dia takut mengambil keputusan yang salah.
"Jika kamu menolaknya maka hanya ada satu hati yang terluka, tetapi jika kamu menerimanya maka ada dua hati yang terluka, yaitu aku dan anakku." ujar Benny setelah melihat Fina hanya diam saja, "pikirkan ini dengan baik, Fin," ucap Benny.
...πΉTo Be Continue πΉ...
...uluh-uluh Mbak Fina bingung nihπ₯...
...ββββββββββββ...
...Ada rekomendasi karya keren untuk kalianβ€οΈJangan lupa baca karya author Ocybasoaci dengan judul Pelangi Tanpa Warna...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·...