
Satu minggu kemudian,
"Bu, ada paket untuk Ibu. Kata kurirnya Ibu harus buka paketnya sekarang juga," ucap Jumiatin setelah Fina membuka pintu kamar.
Tentu wanita cantik itu merasa heran karena dia tidak membeli barang online. Apalagi saat disuruh untuk segera membuka paket tersebut. Dia menerima paket tersebut dan mengamatinya untuk sesaat.
"Terima kasih, Mbok," ucap Fina saat Jumiatin pamit kembali ke dapur.
Selepas itu, Fina masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa yang ada di sana. Dia masih bingung dengan barang yang ada di dalam kotak tersebut. Setelah berpikir selama beberapa menit sambil mengamati kotak itu, akhirnya Fina membukanya. Dia mengernyitkan kening setelah melihat satu benda seperti remote kunci dan secarik kertas di sana.
Aku tunggu kehadiranmu di taman Bungkul sekarang. Aku kehilangan kunci yang ada di tanganmu saat ini. Ada taksi online yang sudah menunggumu di depan rumah.
Benny.
"Apa sih ini maksudnya?" gumam Fina setelah membaca tulisan singkat itu. Dia mengamati benda berwarna hitam yang ada di tangannya, "apakah remote ini yang dimaksud Mas Benny?" tebak Fina karena hanya menemukan benda itu di dalam kotak.
Tanpa berpikir lebih lama lagi, wanita cantik itu bergegas ganti pakaian dan merapikan penampilannya. Dia harus pergi seorang diri karena hari ini Elza sedang tidak di rumah. Sejak pulang sekolah dia pergi bersama Ani dan Dita ke kota dingin—Batu, Malang—untuk mengunjungi beberapa wisata malam di sana.
"Mbok, saya pergi dulu," pamit Fina kepada Jumiatin sebelum berangkat ke taman Bungkul.
Mobil sedan hitam sudah menunggu kedatangan Fina di depan gerbang yang menjulang tinggi itu. Setelah memastikan jika mobil tersebut adalah taksi online yang dipesan oleh suaminya, Fina segera masuk ke dalam mobil tersebut.
"Pak, saya ini mau dibawa ke mana sebenarnya?" tanya Fina setelah mobil mulai melaju meninggalkan kediamannya.
"Sesuai alamat yang dipesan, Bu. Taman Bungkul," jawab sopir online tersebut.
Ibu sambung Elzayin itu masih bertanya-tanya tentang tujuan suaminya melakukan hal ini. Dia belum menemukan jawaban yang tepat atas rasa penasaran yang tumbuh dalam pikirannya. Setelah beberapa puluh menit melakukan perjalanan menuju Taman Bungkul, akhirnya mobil sedan itu tiba di tempat parkir.
__ADS_1
"Silahkan, Bu," ucap sopir tersebut setelah membukakan pintu untuk Fina.
Wanita cantik itu tercengang setelah melihat Benny dan keluarga besarnya berkumpul di salah satu spot yang ada di bagian depan taman. Elza pun ada di sana, membawa buket bunga mawar putih. Bocah kecil itu tersenyum manis setelah melihat kedatangan ibu sambungnya. Bahkan, Nisa turut hadir di sana sehingga membuat Fina semakin shock atas semua ini.
"Happy birthday ...." Semua anggota keluarga Benny berteriak saat Fina telah sampai di sana.
Putri sulung Badiah itu tercengang setelah mendapat ucapan ulang tahun dari semua keluarga. Sungguh, dia sendiri tidak ingat jika sekarang sedang berulangtahun, karena selama ini dia sudah mendapatkan setiap barang yang diinginkannya. Jadi, dia tidak pernah mengharap kejutan ataupun kado di hari ulang tahun.
"Ini serius? Ini bukan prank 'kan?" Fina meyakinkan diri setelah berdiri di hadapan Benny yang sedang membawa black forest dengan lilin yang menyala.
"Selamat ulang tahun, Istriku." Benny mengembangkan senyum yang sangat manis ketika memberikan ucapan kepada Fina.
Sementara sang empu hanya diam saja karena masih shock atas semua yang ada di hadapannya. Bulir air mata kebahagiaan pun tak dapat terbendung lagi. Dia tersenyum lebar dengan iringan air mata.
"Ma, lilinnya kenapa belum ditiup? Nanti bisa leleh," protes Elza karena Fina hanya menatap Benny dengan sorot mata bahagia.
"Terima kasih, Mas," ucap Fina dengan suara yang bergetar karena terharu atas apa yang ada di hadapannya.
Benny memberikan black forest yang ada di tangannya kepada Nisa. Lantas, dia segera merengkuh sang istri ke dalam dekapannya. Kecupan mesra mendarat beberapa kali di kening dan kepala yang tertutup hijab itu.
"Semoga semua keinginanmu selama ini terwujud. Terima kasih karena sudah menemaniku selama ini," ucap Benny setelah mengurai tubuh Fina.
"Selamat ulang tahun, Mamaku Sayang," ucap Elza sambil memberikan buket bunga yang ada di genggaman tangannya.
Fina semakin terharu setelah mendengar ucapan dari putra sambungnya itu. Dia segera menerima buket bunga tersebut dan memeluk bocah kelas satu SD itu. Fina tak henti menghujani Elza dengan beberapa kali kecupan hingga bocah kecil itu menjauhkan diri.
"Cukup, Ma! Aku malu dilihat banyak orang! Aku bukan anak kecil lagi," tolak Elza sambil mengamati keadaan yang ada di sekitar.
__ADS_1
Semua orang tergelak ketika mendengar penolakan Elza. Tak lama setelah itu, Benny mengajak Fina berjalan membelah beberapa keluarga yang ada di sana. Sekali lagi Fina tercengang ketika melihat benda yang ada di hadapannya.
"Selamat sore, Ibu Fina. Perkenalkan saya Rani, EO yang membantu menyiapkan semua ini," ucap wanita yang berdiri tak jauh darinya, "selamat ulang tahun, semoga semua yang Ibu inginkan tercapai. Ini adalah hadiah yang sudah disiapkan Pak Benny untuk Ibu." Rani menyerahkan kotak kado berwarna merah kepada Fina.
Fina segera membuka kotak tersebut dan ternyata isinya adalah surat-surat kendaraan bermotor. Ada namanya yang tertulis di sana sebagai pemilik motor berwarna merah yang ada di hadapannya.
"Mas!" Fina menatap Benny penuh arti untuk memastikan jika dirinya tidak salah mengartikan.
"Ya, motor ini adalah hadiah ulang tahun untukmu. Semoga kamu suka," jelas Benny sambil menyentuh motor matic berwarna merah keluaran dari H*nda itu.
Lagi dan lagi Fina dibuat terkejut oleh suaminya itu. Dia tidak menyangka jika akan mendapatkan kado ini dari Benny. Sekali lagi, wanita cantik itu menghambur ke dalam dekapan hangat Benny untuk menumpahkan segala rasa bahagia yang tak terbendung lagi.
"Terima kasih, Mas. Terima kasih." Hanya itu yang mampu diucapkan Fina.
Setelah acara inti selesai, kini pihak EO mengarahkan Benny dan keluarganya menuju tempat untuk menikmati makanan. Konsep dari pesta kecil ini sedikit berbeda dengan pesta yang lain, karena bukan pihak catering yang melayani konsumsi mereka, melainkan beberapa pedagang gerobak yang berjajar rapi di tempat yang sudah ditentukan. Ada baso, tahu campur, sate dan gerobak cendol dawet. Semua orang yang menghadiri pesta outdoor itu bebas memilih.
"Mas, kamu kok bisa memiliki ide seperti ini?" tanya Fina setelah mengamati segala yang ada di sana. Tentu Benny harus mengeluarkan banyak rupiah untuk pesta ini. Tidak mungkin bukan jika tempat ini boleh dipakai tanpa izin dari pihak terkait.
"Semua konsep ini aku serahkan kepada Rani. Dia yang menyiapkan segalanya," jawab Benny dengan senyum tipis, "kamu tidak mau mencoba semua makanan itu, Sayang?" tanya Beny sambil menunjuk gerobak yang sudah diserbu beberapa keluarganya.
Fina menggeleng pelan dengan tatapan yang tak lepas dari keramaian yang ada di hadapannya. Dia menatap satu persatu raut wajah bahagia keluarganya, "aku tidak lapar, Mas. Semua ini membuat aku kenyang. Apalagi, saat melihat kebahagiaan dari sorot mata semua orang. Rasanya, aku tidak ingin makan sesuap nasi pun," Jawab Fina tanpa menatap Benny.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Yaelah ... Fina yang dikasih kejutan tapi othor yang baper🤣Mau dong dikasih kejutan juga, misal pakai vote gitu 🤣🤣🤣...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷 ...
__ADS_1