Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Ruang Rawat Inap,


__ADS_3

Malam kelam telah berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Detik-detik menegangkan telah dilalui Fina dan Benny tanpa ada anggota keluarga lain yang menemani. Benny sengaja tidak memberi tahu kabar buruk ini kepada orang tuanya karena takut mereka shock dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Masa kritis Elza telah lewat. Bocah kecil itu baru saja dipindahkan ke ruang rawat inap setelah berada dalam ruang ICU pasca operasi sejak tadi malam. Kondisinya yang cukup stabil membuat dokter mengizinkan bocah kecil itu kembali ke ruang inap VIP yang dipesan oleh Benny.


Sinar cerah sang mentari berhasil membuat kelopak mata pria tampan yang sedang tertidur pulas di sofa terbuka. Beberapa kali dia mengerjap pelan karena silau dari jendela kaca yang tirainya dibiarkan terbuka.


"Jam delapan?" gumamnya setelah melihat jam dinding yang ada di sana. Dia segera bangkit dari tempatnya untuk melihat keadaan yang ada di dalam ruangan tersebut.


Benny berjalan mendekat ke arah bed pasien, di mana Elza terbaring lemah. Sementara Fina masih tertidur pulas dengan posisi duduk di kursi penunggu dan kepala terbaring di tepian bed. Sementara tangannya masih menggenggam tangan Elza dengan erat.


"Kamu pasti lelah," gumam Benny saat memberanikan diri menyentuh kepala yang tertutup kerudung berwarna pasta itu.


Rasa cinta di hati duda tampan itu semakin bertambah saat melihat bagaimana sikap Fina saat melihat Elza terluka. Fina benar-benar sedih dan terpukul atas kejadian yang menimpa Elza. Dia tidak tidur sama sekali selama Elza masih di ruang operasi dan belum melewati masa kritisnya.


"Semoga kamu jodohku, Fin. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Elza ketika bukan kamu yang menjadi ibunya," gumam Benny lagi dengan suara yang lirih.


Setelah cukup lama mengamati pemandangan indah yang menenangkan jiwa, Benny berlalu menuju kamar mandi. Dia harus membersihkan diri karena sejak kemarin sore dia lupa membersihkan diri walau sekadar membasuh wajah.


Tak berselang lama, Fina membuka kelopak matanya. Dia menguap lebar sambil meregangkan otot-otot tubuh untuk sesaat. lantas, di segera mengalihkan pandangan untuk mengamati bocah kecil yang masih terlelap itu. Setelah melewati malam panjang yang menguras perasaan, akhirnya Fina bisa bernapas lega setelah kondisi Elza dinyatakan baik-baik saja pasca operasi. Balutan perban di tangan kanan bocah kecil itu berhasil membuat Fina masih dirundung rasa bersalah.


Gadis berhijab itu beranjak dari tempatnya karena ingin buang air kecil. Dia mengayun menuju kamar mandi yang tertutup itu dan tanpa mengetuk pintu dia mendorong pintu tersebut. Seketika dia histeris setelah melihat kamar mandi itu berpenghuni.


"Aaaaaaakh!" Suara teriakan Fina menggema di dalam ruang inap VIP itu diiringi dengan bunyi pintu yang tertutup dengan keras.


Gadis itu membalikkan badan dan mengempaskan diri di sofa. Dia menghentakkan kaki beberapa kali di lantai karena masih shock dengan pemandangan yang baru saja dia saksikan di sana. Fina melihat dengan jelas duda tampan itu sedang memakai pakaiannya. Untung saja dia sudah memakai underwear segi empat berwarna hitam.


"Ya Allah," gumam Fina sambil menutup mata dengan kedua tangannya, "mataku ternoda! Aduh bagaimana ini! Pasti aku malu banget kalau ketemu pak Ben! Lagi pula kenapa pintunya gak dikunci sih!" gerutu Fina tanpa berani membuka kelopak matanya

__ADS_1


Fina semakin menundukkan kepalanya setelah mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Apalagi setelah mendengar derap langkah milik duda tampan itu, Fina menjadi semakin takut dan gugup.


"Kamu itu kenapa, Fin?" tanya Benny dengan entengnya. Seperti tidak terjadi apapun.


"Emmm ... gak papa, Pak!" jawab Fina dengan gugup.


"Kamu mau sarapan apa? Biar aku belikan di bawah," tanya Benny lagi.


"Terserah Bapak saja," jawab Fina tanpa berani menegakkan kepala.


Hingga beberapa menit kemudian setelah tak mendengar suara derap langkah duda tampan itu, Fina menegakkan kepalanya. Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan tidak lupa untuk mengunci pintu tersebut.


Setelah menyelesaikan segala aktifitas di dalam kamar mandi, Fina keluar dari ruangan tersebut. Wajahnya terlihat lebih segar meski hanya ada bedak dan liptint yang menghiasi wajahnya. Dia berjalan ke arah bed pasien untuk melihat kondisi Elza. Rupanya bocah kecil itu sudah sadar dari tidur nyenyaknya.


"Aku haus, Mbak," keluh Elza dengan suara yang serak.


"Sabar dulu ya karena Elza belum boleh makan dan minum. Kan belum kentut juga," jelas Fina seraya mengusap kepala Elza.


Fina hanya tersenyum tipis setelah mendengar keluhan itu. Dia pun memberikan penjelasan singkat kepada Elza terkait dengan kondisinya seperti pesan yang disampaikan oleh perawat. Elza memang belum diperbolehkan untuk makan dan minum karena keadaan sistem pencernaannya belum normal. Tentu jika dipaksakan untuk minum sebelum waktunya tiba, akan terjadi kesalahan fatal.


"Jadi aku harus menahan rasa haus ini, Mbak? Sampai nanti siang?" tanya Elza seraya menatap Fina.


"Tentu. Jadi Elza harus sabar dulu." Fina mengembangkan senyumnya.


Pintu ruangan kembali terbuka. Ternyata Benny telah kembali dari kantin rumah sakit. Duda tampan itu membawa banyak makanan di kantong kresek yang ada dalam genggaman tangan.


"Makanlah dulu, Fin," ucap Benny sambil menyerahkan kantong tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak," Fina menganggukkan kepalanya. Tentu dia masih takut menatap Benny, "emmm ... untuk masalah yang tadi, saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar tidak tahu jika di dalam ada Bapak," jelas Fina karena takut Benny marah ataupun berpikiran jika dirinya lancang.


"Sudahlah gak usah dibahas lagi. Biasa aja," jawab Benny dengan sikap yang terkesan biasa, "kalau kamu pengen lihat secara utuh boleh banget kok! Nanti aku tunjukkan!" Benny semakin bersemangat menggoda pengasuh putranya itu.


"Pak Benny!" ujar Fina dengan mata yang terbelalak. Dia tidak habis pikir, bagaimana Benny bisa bersikap biasa dan tak tahu malu seperti itu.


"Iya, iya. Maaf. Makan dulu sana! Biar aku yang mengurus Elza," tunjuk Benny pada sofa kosong yang tak jauh dari bed penunggu pasien berada.


Fina mendengus kesal saat bersitatap dengan ayah Elzayin itu. Dia segera pindah tempat dan duduk di sana sambil membuka kantong putih tersebut. Gadis itu mulai menikmati sarapan pemberian dari Benny hingga beberapa puluh menit lamanya, sarapan telat itu selesai.


Klak. Pintu ruangan terbuka lebar hingga membuat Fina mengalihkan pandangan. Ternyata ada Ani yang berdiri di sana bersama adik perempuan Benny. Tanpa menunggu lebih lama, Ani segera menghampiri cucunya itu.


"Kasihan sekali cucunya Uti. Ya Allah kenapa bisa begini?" gumam Ani ketika sampai di samping bed pasien. Wanita paruh baya itu menangis tatkala melihat kondisi cucunya.


"Kenapa kamu baru memberi tahu Ibu sekarang, Ben? Apa kamu pikir semua yang kamu lakukan itu benar dengan menyembunyikan semua ini?" cecar Ani seraya menatap lekat putranya.


Benny hanya bisa menghela napas yang berat setelah mendengar cecaran dari ibunya. Semua ini dia lakukan karena tidak mau membuat kedua orang tuanya sedih dan khawatir.


"Aku melakukan semua ini karena enggak mau ibu dan bapak khawatir. Lagi pula semua sudah terlanjur terjadi dan keadaan Elza pun baik-baik saja," ucap Benny dengan santainya.


...๐ŸŒนTo Be continued ๐ŸŒน...


...Tolong dong buat emak-emak reader yang menyimpan kontak othor, silahkan chat ulang๐Ÿ™ Hape habis direset, jadi kontak ilang semua๐Ÿ˜ซ...


...โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–โž–...


...Hallo semua๐Ÿ˜sambil nunggu othor up, kuy baca karya author Chika SSI dengan judul Kepingan Hati di langit Qatar. Jangan sampai gak baca ya๐Ÿ˜...

__ADS_1



...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


__ADS_2