Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Cidera,


__ADS_3

Malam yang menguras perasaan telah berlalu tanpa sebuah jawaban. Fina memilih untuk pergi dari hadapan Benny setelah mendengar pertanyaan terakhir yang dilayangkan oleh duda tampan itu. Lagi dan lagi perasaannya dibuat tak karuan setelah duda tampan itu membawa putranya ke dalam hubungan rumit ini.


Sejak pagi buta Fina sibuk menyiapkan segala keperluan yang harus dibawa oleh Elza ke Malang. Dia pun akan menemani anak asuhnya itu selama pertandingan berlangsung. Hingga langit berubah menjadi cerah, segala persiapan itu pun akhirnya selesai. Kali ini dia baru saja menyuapi Elza sarapan.


"El kenapa terlihat lesuh begitu? Biasanya kalau mau tanding kan semangat, tapi ... sekarang kok enggak?" tanya Fina setelah menerima gelas kosong bekas susu yang baru saja diminum Elza.


"Gak Papa kok, Mbak," jawab Elza dengan suara yang lirih.


Bocah kecil itu merasa sedih setelah mendengar perdebatan ayahnya dan Fina. Dia mendengar dengan jelas bagaimana Fina menolak untuk menjadi istri ayahnya dan lebih memilih menikah dengan Aris. Bocah kecil itu merasa patah hati dan hilang harapan untuk menjadikan Fina sebagai ibunya.


"Elza harus semangat dong! Nanti biar menang kompetisinya," ujar Fina seraya mengembangkan senyumnya.


"Iya," jawab Elza dengan suara yang lirih.


Sakit. Itulah yang dirasakan Fina saat ini setelah melihat bagaimana sikap Elza. Dadanya terasa sesak melihat sorot kesedihan dari mata anak asuhnya itu. Fina tahu pasti Elza sudah mendengarkan semua pembicaraannya dan inilah imbas dari semua itu. Elza tidak bersemangat dan menyimpan kesedihan itu dalam hatinya. Namun, Gadis berhijab itu memilih untuk tidak bertanya penyebabnya agar Elza tidak memikirkan hal itu lagi.


"Ayo berangkat. Biar tidak terlambat," ajak Benny setelah sampai di undakan anak tangga terakhir.


Tanpa banyak bicara, Elza berdiri dari sofa. Dia berjalan lunglai mengikuti langkah ayahnya keluar dari ruang keluarga menuju garasi. Fina hanya bisa mengela napas melihat bagaimana sikap Elza kepadanya. Padahal Elza bukan siapa-siapa dalam keluarganya, tetapi mendapat perlakuan seperti itu membuat hatinya sakit. Ada rasa tidak tega setelah melihat sikap bocah kecil itu.


"Ya Allah, kenapa hamba harus berada dalam situasi sulit seperti ini," batin Fina seraya berdiri dari tempatnya. Dia segera meraih tas berisi keperluan Elza sebelum berjalan menuju garasi.


Fina naik di kursi mobil yang ada di bagaian belakang. Sementara Elza berada di depan. Tidak ada drama seperti biasanya karena ketiga orang yang ada di dalam mobil tersebut tak ada yang bersuara. Mereka masih membeku setelah kejadian tadi malam. Fina memilih untuk tidur daripada tidak sanggup menahan air mata karena sikap kedua orang yang ada di depan itu.


"Ya Allah jangan sampai masalah ini mempengaruhi kompetisi yang akan diikuti Elza nanti. Hamba tidak bisa membayangkan jika sampai Elza kalah karena semua ini," batin Fina dengan mata yang masih terpejam.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Tepat pukul setengah sebelas siang, mobil yang dikendarai Benny sampai di tempat penyelenggaraan KEJURNAS. Mereka segera keluar dari mobil dan mencari tempat yang sudah diintruksikan oleh Syakur tadi pagi. Sebelum bertanding, para atlet harus berkumpul dan istirahat sejenak. Pertandingan akan dibuka pada pukul satu siang nanti.


"Doakan aku menang ya, Mbak," ucap Elza sebelum diantar Benny ke stand atlet.


"Pasti. Mbak selalu mendoakan Elza. Ingat, harus fokus, oke?" Sekali lagi Fina mengingatkan Elza agar tidak lupa dengan semua yang dipelajarinya.

__ADS_1


Bocah kecil itu mengembangkan senyumnya meski terkesan dipaksakan, sebelum pergi meninggalkan Fina. Semangat besar seperti biasanya tidak ada lagi dalam diri bocah kecil itu. Meski belum mengerti masalah inti yang di hadapi orang-orang dewasa di sekitarnya, dia seperti memiliki beban pikiran yang berat.


"Elza hanya bisa masuk sendiri! Selain pelatih dilarang ikut masuk ke dalam stand," ujar Aris ketika Elza sampai di depan stand atlet. Rupanya Aris sudah menunggu kedatangan salah satu atlet yang mewakili Surabaya itu.


"Titip putraku!" Hanya itu saja yang diucapkan oleh Benny sebelum pergi. Dia harus kembali ke tempat Fina berada saat ini.


Setelah melihat Elza dan Aris masuk ke dalam stand atlet, Benny mengayun langkah menuju tribun penonton untuk mencari keberadaan Fina. Rupanya pengasuh putranya itu memilih tempat duduk paling depan. Dekat dengan gelanggang pertandingan agar lebih jelas saat menyaksikan Elza menunjukkan aksinya.


Tepat pukul satu siang, acara tersebut dimulai. Beberapa orang-orang penting telah memberikan sambutan di sana hingga tiba pada saatnya pertandingan yang ditunggu semua orang dimulai. Untuk siang ini yang pertama kali tanding adalah kelas usia dini, di mana Elza berada dalam kompetisi ini. Para atlet yang akan bertanding pun dikumpulkan di tengah gelanggang sebelum babak satu kelas A dimulai.


"Ya Allah, berikan kemudahan untuk Elza," gumam Fina setelah melihat putra semata wayang Benny itu melambaikan tangan ke arahnya.


"Elza pasti menang!" sahut Benny setelah mendengar Fina bergumam. Dia yakin jika putranya pasti bisa memenangkan kompetisi ini.


"Perasaan saya mendadak tidak enak. Semoga tidak terjadi sesuatu kepada Elza," gumam Fina tanpa melepaskan pandangan dari objek yang ada di dalam gelanggang.


Benny menoleh ke samping agar bisa menatap gadis yang berhasil membuat hatinya gelisah sejak tadi malam. Dia mengamati gurat wajah penuh kekhawatiran yang ditampilkan oleh pengasuh putranya itu, "semoga saja perasaanmu salah," ucap Benny setelah pandangannya kembali ke depan.


"Tidak. Elza tidak boleh dibiarkan seperti ini. Dia emosional saat ini. Konsentrasinya pasti akan terganggu," gumam Fina saat mengamati setiap gestur tubuh anak asuhnya itu, "kita harus turun dan menemui Elza, Pak. Sepertinya dia membutuhkan kita," ucap Fina seraya beranjak dari tempatnya.


"Bagaimana kamu bisa tahu? Dia baik-baik saja," sanggah Benny.


"Sudahlah, Bapak jangan banyak tanya! Kalau tidak mau ikut, di sini saja biar saya yang kesana!" sungut Fina seraya menatap Benny sinis.


Pada akhirnya Benny mengikuti Fina turun dari tribun penonton saat ada waktu break untuk Elza. Namun, keduanya di hadang oleh petugas keamanan yang ada di sana. Setelah memberikan penjelasan yang bisa dimengerti petugas tersebut, akhirnya hanya Fina yang diizinkan masuk ke sana. Sementara Benny harus menunggu di pagar pembatas.


"Elza! Kenapa seperti ini? Kenapa emosional?" tanya Fina setelah menemui Elza yang sedang di breafing Syakur dan Aris.


"Kamu tahu letak kesalahan Elza?" tanya Aris seraya menatap Fina dengan lekat.


"Tentu," jawab Fina singkat. Setelah itu dia berjongkok di hadapan Elza.


"Sayang. Jangan memikirkan apapun saat ini. Ingat tujuan ikut kompetisi ini ya! Elza harus fokus agar tidak kena serangan lawan. Tadi tangannya sakit ya waktu kena pukulan?" tanya Fina dengan suara yang terdengar lembut, "biar Mbak pijat tangannya." Fina meraih tangan anak asuhnya itu.

__ADS_1


"Aku pasti menang!" ujar Elza dengan penuh ambisi.


Waktu Break telah selesai. Fina berdiri dari tempatnya setelah Elza dipanggil oleh panitia. Dia berdiri di sisi Aris untuk melihat pertandingan itu dari dekat. Gadis berhijab itu semakin resah saat Elza kembali naik ke atas gelanggang. Perasaannya semakin tak karuan karena takut terjadi sesuatu kepada Elza.


"Sudahlah. Jangan khawatir! Elza pasti melewati semua ini." Aris meraih tangan Fina saat mencoba menenangkan gadis cantik itu.


Tanpa disadari, ternyata apa yang dilakukan Aris saat ini tak luput dari pengamatan Elza. Bocah kecil itu terlihat semakin emosi. Matanya berkaca-kaca dan berubah menjadi merah, seperti seseorang yang sedang menahan tangis. Bocah kecil itu tersadar dari lamunan setelah wasit menyentuh bahunya.


"Kenapa lagi dia?" gumam Fina setelah melihat apa yang terjadi di atas gelanggang, "apa sih ini, Kang! Jangan begini!" Fina menghempaskan tangan Aris setelah sadar apa yang sedang dilakukan pelatih Elza itu.


"Maaf, Fin. Maaf, tadi aku hanya ingin membuatmu tidak takut lagi," jelas Aris seraya menatap Fina dengan lekat.


Pertandingan itu pun berlanjut. Kali ini gerakan Elza lebih cepat dan tak karuan. Bocah kecil itu kehilangan konsentrasi karena beberapa kali mencoba melihat ke arah Fina dan ayahnya. Hingga pada akhirnya satu pukulan keras melayang di tangannya. Namun, Elza masih bertahan dan semakin berambisi untuk mengalahkan musuhnya.


"Elza! Ya Allah! Itu tangannya kena pukulan, Kang!" teriak Fina setelah melihat apa yang terjadi. Dia menangis ketika tahu jika saat ini Elza sedang menahan rasa sakit.


Baik Syakur ataupun Aris mendadak bingung setelah mendengar teriakan Fina. Pasalnya ayah dan anak itu tidak melihat kejadian apapun seperti yang dimaksud Fina, "tidak terjadi sesuatu, Fin. Lihatlah Elza masih tanding dengan hebatnya!' " ujar Aris.


Peluit tanda berakhirnya pertandingan kelas usia dini telah berbunyi. Elza berhasil mendapatkan poin tinggi dan kemenangan mutlak miliknya. Dia turun dari gelanggang dengan langkah lunglai, serta wajah yang terlihat pucat. Setelah sampai di hadapan Fina, dia ambruk dalam dekapan pengasuhnya itu. Fina pun sigap menangkap tubuh anak asuhnya itu, "Elza! Apa yang kamu rasakan, Nak?" tanya Fina dengan suara yang bergetar. Dia pun duduk di lantai dengan Elza yang dibaringkan di atas pangkuannya. Pihak Pagar Bangsa Surabaya pun ikut khawatir setelah melihat kondisi Elza. Begitu pun dengan Benny, setelah melihat putranya tumbang, dia melompati pagar pembatas dan tidak peduli dengan himbauan petugas.


"Tanganku sakit," rintih Elza tanpa bisa mengangkat tangan kanannya. Sepertinya dia mengalami cidera yang serius.


...🌹To Be Continue 🌹...


...Waduh waduh waduh! Si jagoan cidera nihπŸ˜₯...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Rekomendasi karya keren dari sahabat othor nih❀️Kuy baca karya author Crazy_Girl dengan judul Racun Cinta Arsenio....



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2