
"Posisi target sudah ditemukan dan sedang dalam pantauan. Container yang memuat barang pun sedang disembunyikan di salah satu gudang yang ada di sana. Perkiraan container akan jalan besok, menunggu keberangkatan jadwal kapal di pelabuhan merak. Mungkin barang akan dikirim ke luar jawa,"
Nisa membacakan pesan yang dikirim Johan pada pukul dua dini hari. Benny manggut-manggut setelah mendengar sendiri isi pesan dari teman adik iparnya itu. Dia takjub dengan kehebatan pria bernama Johan itu karena bisa menemukan Gatot hanya dalam kurun waktu beberapa jam saja.
"Kontaknya sudah aku kirim ke nomor Mas Benny. Kalau sudah di Jakarta Selatan, Mas Benny langsung meluncur ke alamat yang sudah aku kirim," jelas Nisa tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Dia sibuk memindahkan data yang yang dikirim Johan ke kontak Benny.
"Terima kasih, Nis, atas bantuannya," ucap Benny setelah membaca semua pesan dari Nisa. Dia bernapas lega karena telah ditunjukkan jalan keluar atas permasalahan ini.
Mantan duda itu segera beranjak dari tempatnya. Sepertinya dia sedang menghubungi seseorang, entah staf marketing atau orang-orang yang akan menemaninya berangkat ke Jakarta pagi ini. Fina sendiri disibukkan dengan persiapan keberangkatan Benny ke Jakarta.
"Nitip Shazia sebentar ya, Nis. Aku mau nyiapin koper mas Benny sekaligus membangunkan Elza," ucap Fina seraya memindahkan Shazia ke atas pangkuan Nisa.
"Oke, Mbak." Nisa mengambil alih balita menggemaskan itu. Nisa membawa Shazia kembali ke kamar yang biasa dia tempati jika menginap di sini karena di luar langit masih gelap. Matahari masih tidur nyenyak karena beberapa menit yang lalu adzan subuh baru berkumandang.
Fina sibuk menyiapkan beberapa pakaian Benny ke dalam koper kecil. Beberapa perlengkapan yang biasa dipakai suaminya itupun ikut masuk ke dalam koper. Setelah selesai mengurus keperluan suaminya, Fina bergegas menuju kamar Elza untuk membangunkan putra sambungnya itu. Sungguh, pagi ini Fina benar-benar dikejar waktu.
"Elza, ayo bangun, Nak!" ujar Fina dengan suara lantang. Dia segera membuka tirai yang menutupi jendela dan tak lupa membuka jendela kaca tersebut. Udara sejuk pun mulai masuk ke dalam kamar Elza.
"Ayo, Sayang. Buruan ke kamar mandi. Setelah ini Papa mau berangkat ke Jakarta," ucap Fina setelah duduk di tepian tempat tidur.
"Jauh sekali, Ma! Aku boleh ikut gak?" Rasa kantuk yang sempat melanda, seperti hilang begitu saja setelah mendengar kabar jika ayahnya akan pergi ke Jakarta.
"Eh Papa itu ada urusan pekerjaan bukan jalan-jalan. Doakan semua pekerjaan cepat selesai ya, Nak. Biar Papa cepat pulang," ujar Fina sambil mengusap kepala Elza dengan gerakan lembut.
Elza segera turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Dia tidak mau jika sampai ketinggalan Benny berangkat ke Jakarta. Bocah kecil itu buru-buru merapikan diri agar tidak terlambat.
"Mas, nanti aku sama Nisa mau keluar ya. Aku mau cari seragam sekolah untuk Elza," pamit Fina sebelum suaminya berangkat.
__ADS_1
"Jangan naik motor. Kasian amak-anak nanti kepanasan," ujar Benny sambil mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, "aku akan menelfon sopir pabrik agar nanti mengantarmu pakai mobil yang ada di garasi itu," jelas Benny sambil mencari kontak sopir pabrik.
Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Tepat pukul setengah enam pagi Benny telah dijemput seseorang yang akan mendampingi selama dia di Jakarta. Sebelum berangkat pria tampan itu berpamitan kepada anak dan istrinya.
"Hati-hati di jalan, Mas. Selalu baca doa agar selalu dalam lindungan Allah," tutur Fina sebelum Benny masuk ke dalam mobil.
*****
Dua wanita berhijab yang memiliki wajah mirip sedang berjalan bersama mengitari salah satu mall terlengkap di Surabaya. Fina mendorong stroller yang ditempati Shazia sedangkan Nisa menggandeng Elza agar tidak berlari ke sana ke kamari yang bisa membuatnya semakin kerepotan.
"Eh, Mbak ... kita beli seragamnya di mana?" tanya Nisa setelah mereka mengitari lantai dua mall tersebut dan belum menemukan keperluan sekolah Elza.
"Entahlah. Dari tadi kita muter mulu di sini tetapi belum mendapatkan seragamnya," jawab Fina sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Mereka terus berjalan hingga sampai di lantai tiga. Satu persatu stand yang menjual perlengkapan sekolah telah didatangi Fina dan Nisa untuk mencari seragam merah putih yang biasa dipakai Elza ke sekolah.
Kedua wanita berhijab itu sibuk memilihkan seragam untuk Elza. Bocah kecil itu sampai merasa tidak nyaman karena harus bolak-balik mencoba ukuran yang pas, "aku capek tau kalau disuruh nyobain ini terus!" protes Elza dengan wajah masam.
"Ini yang terakhir, Sayang. Setelah ini kita pergi ke time zone. Oke?" bujuk Fina agar Elza bersedia mencoba seragam barunya.
Urusan seragam dan perlengkapan sekolah telah selesai. Sesuai janji Fina sebelumnya jika selesai dengan urusan seragam, mereka akan pergi ke time zone untuk bermain. Mereka berjalan keluar dari stand dan mengayun langkah hingga sampai di area bermain.
"Mama tunggu di sini ya," ucap Fina setelah sampai di depan pintu masuk. Dia memilih berada luar demi menjaga tidur nyenyak putrinya.
"Ini kartunya, Nis." Fina menyerahkan kartu akses yang sudah diisi saldo penuh itu.
Nisa dan Elza memasuki are time zone dengan suka cita. Mereka memilih beberapa permainan yang tersedia di sana. Wajah bocah kecil itu terlihat sumringah karena bisa mencoba segala macam permainan di sana dengan puas.
__ADS_1
"Tante ... Tante, itu ada Kang Aris ya!" Elza menarik tunik yang dipakai Nisa beberapa kali sambil menunjuk ke arah lain.
"Sama siapa itu, El?" tanya Nisa seraya mengamati gerak-gerik pria yang sempat diinginkannya kala itu. Nisa menatap lekat pria beristri itu.
"Mana aku tahu, Tante!" Elza mengedikkan bahunya, "biar aku panggil ya!" ujar Elza.
"Kang Aris!!" teriak Elza dengan suara yang cukup lantang hingga membuat Nisa terkejut bukan main.
"El!" Nisa membungkam mulut Elza agar tidak memanggil pria beristri itu.
Tanpa diduga, dari jauh Nisa melihat Aris berjalan ke arahnya dengan membawa anak kecil dan diikuti seorang wanita di sisinya. Nisa mendadak gugup karena takut menghadapi situasi ini.
"Loh Elza di sini sama siapa?" tanya Aris setelah sampai di dekat Elza.
"Sama Mama dan Tante Nisa," jawab Elza, "adek bayinya lucu ya?" Elza menatap Nisa seperti meminta persetujuan jika memang balita yang ada dalam gendongan Aris terlihat lucu.
Nisa hanya mengembangkan senyum kecut setelah mendengar pertanyaan dari Elza. Dia menatap Aris sekilas dan pandangannya tak sengaja bersirobok dengan pria itu. Ada rasa tidak suka dalam hati Nisa ketika melihat tatapan aneh dari Aris.
"Sayang, kita ke sana yuk! Devan sepertinya bisa main di permainan itu deh."
Aris gelagapan setelah mendengar ucapan istrinya. Dia mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk oleh istrinya yang tak lain adalah Miranda. Tanpa pamit, mereka pergi meninggalkan Elza dan Nisa. Gadis berhijab itu merasa lega karena playboy kabel itu akhirnya pergi menjauh. Nisa sangat takut karena pernah berhubungan lewat chat bersama pria beristri itu.
"Untung aja ketahuan di awal. Kalau dulu aku lanjutkan dan ketahuan istrinya, bisa dihajar sampai babak belur aku. Istrinya kelihatan sekali kalau judes banget. Ih gak kebayang jika aku dicap sebagai pelakor. Amit-amit," batin Nisa seraya mengamati gerak gerik sepasang suami istri yang sedang tertawa bahagia karena aksi putranya itu.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Untung deh Nis dikau gak lanjut sama Aris. Bisa dapat julukan pelakor syar'i kau🤣...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...