Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Gelanggang Kemenangan,


__ADS_3

Waktu kian cepat berlalu, membawa semua insan pada tujuan masing-masing. Waktu pun membawa Elza pada satu momen yang sangat ditunggu selama ini. Naik ke gelanggang pertandingan untuk menunjukkan bakat yang sudah diasah selama ini. Setelah melewati babak penyisihan, kini bocah yang belum genap lima tahun itu maju ke babak Final. Hari ini adalah penentuan pemenang pertandingan yang sudah digelar selama satu minggu ini. Selama itu pula Benny dan Fina menemani Elza mengikuti pertandingan tersebut.


Sebagai orang tua, tentu Benny ketar-ketir melihat putranya bertarung, mengingat usia putranya belum genap lima tahun. Meskipun di masa muda sering anarkis hingga sering tawuran, tetapi Benny jika putranya merasakan pukulan lawan.


"Mbak Fina, doakan aku menang ya. Nanti kalau aku menang, Mbak Fina aku kasih hadiah deh," ucap Elza seraya menatap Fina dengan intens.


"Mbak Fina selalu mendoakan Elza. Nanti Elza pasti dapat juara satu," ucap Fina dengan yakin, "pokoknya Elza harus mengikuti semua arahan kang Aris dan pak Syakur. Jangan lupa berdoa ya, Sayang." Fina menatap haru anak asuhnya itu. Dia tidak pernah menyangka jika Elza akan berada di titik ini.


"El kok gak pamit ke Papa," protes Benny karena Elza tak kunjung menemuinya.


"Oh iya. El sampai lupa," ucap Elza dengan diiringi senyum ceria. Dia segera duduk di atas pangkuan ayahnya begitu saja.


Fina tersenyum simpul ketika melihat Elza bergelayut manja dengan Benny. Jika seperti ini, Fina melihat Elza seperti anak-anak pada umumnya, tetapi jika melihat Elza di gelanggang, dia seperti melihat sosok yang dewasa. Kedekatan seperti ini lah yang membuat Fina bahagia. Benny benar-benar berubah, duda satu anak itu semakin perhatian kepada Elza.


"Permisi, maaf pak Benny, saya disuruh ayah untuk menjemput Elza karena pertandingan akan dimulai," ucap Aris saat menghampiri mereka bertiga yang ada di kursi penonton.


"Papa, Mbak Fina, aku kesana dulu ya," pamit Elza sebelum pergi meninggalkan kedua orang yang sangat di sayanginya.


Sebelum pergi, tak lupa Aris menatap Fina dengan senyum yang sangat manis hingga kedua lesung pipit di pipinya terlihat jelas. Tentu hal ini berhasil membuat Benny terbakar api cemburu. Dia menatap Aris dengan sorot tak suka.


"Gak usah senyum-senyum begitu. Orangnya udah pergi juga," ujar Benny tanpa menatap Fina.


"Apa sih, Pak Ben!" Fina berdecak kesal mendengar ucapan majikannya itu.

__ADS_1


Hubungan di antara keduanya belum ada peningkatan hingga saat ini. Benny masih takut untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya kepada Fina. Duda tampan itu takut jika Fina pergi dari sana setelah mengetahui jika dirinya menginginkannya. Kode yang diberikan Benny kala itu pun berhasil membuat Fina menjaga jarak dengannya.


"Jangan pacaran, Fin. Kamu gak takut dosa?" gumam Benny tanpa menatap Fina.


Tentu hal ini berhasil membuat Fina memicingkan matanya. Dia tidak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Benny, "Pak Ben gak usah menuduh saya pacaran. Saya dan kang Aris itu tidak pacaran, Pak. Lah kalau udah tau pacaran itu dosa, kenapa Pak Ben masih pacaran sama biduan dangdut itu!" cibir Fina seraya menatap sinis ke arah Benny.


"La terus aku harus bagaimana?" Kali ini Benny menatap ke arah Fina.


"Menikah lah!" tegas Fina.


"Ayo! Setelah pulang dari sini kita bisa menikah," bisik Benny dengan suara yang menggoda.


Fina menjauhkan tubuhnya dari Benny setelah mendengar hal itu. Tentu dia sudah terbiasa mendengar ucapan Benny yang dianggapnya sebagai gurauan itu, "ih apa sih! Udah menikah sana sama mbak Renata! Gak usah genit ke saya deh, Pak! Nanti kalau pacar Bapak tahu, saya bisa dimarahin!" ujar Fina seraya menatap Benny sekilas.


"Serius nih? Apa kamu rela jika aku menikah dengan Renata?" tanya Benny tanpa melepaskan pandangan dari gadis yang ada di sampingnya. Untung saja tempat yang mereka tempati masih sepi, sehingga tidak ada yang mendengarkan obrolan mereka berdua.


"Saya itu tidak rela jika Elza memiliki ibu tiri seperti pacar Bapak itu. Dia gak ada sayang-sayangnya ke Elza. Saya itu hanya kasihan sama Elza, bukan karena gak rela melihat Bapak menikah dengan dia. Pak Ben ini jangan terlalu PD deh!" ujar Fina dengan tatapan sinis.


Pembicaraan itu harus berakhir ketika panitia acara menyatakan jika pertandingan dimulai. Fina fokus ke depan setelah nama Elza dipanggil. Dia cemas ketika melihat bocah yang melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum lebar. Fina pun melakukan hal yang sama, dia memberikan semangat kepada Elza dengan gerakan tangannya.


"Ya Allah semoga Elza menang," gumam Fina setelah pertandingan dimulai.


Gadis berhijab itu merasakan panas dingin setiap Elza menunjukkan bakatnya di atas gelanggang. Dia ikut cemas dan tanpa sadar tangan kanannya meremas tangan kiri Benny. Dia tak mengalihkan tatapannya walau hanya sebentar. Setiap pergerakan Elza tak luput dari pengamatannya.

__ADS_1


"Ya ampun aku disentuh Fina. Gak masalah deh meskipun rasanya sakit, kapan lagi dia begini. Lebih kenceng, Fin, lebih kenceng!" ujar Benny di dalam hatinya. Sungguh dia sangat menikmati momen ini sambil mengamati putranya.


Hingga beberapa puluh menit lamanya, pertandingan itu akhirnya selesai. Suara riuh penonton pendukung Elza menggema di sana, ketika bocah kecil itu berhasil mengalahkan lawannya. Fina dan Benny terlonjak dari tempatnya. Mereka berteriak dengan semangat memanggil nama bocah kecil itu.


"Pak Elza menang, Pak!" teriak Fina dengan antuasias. Tanpa sadar dia merangkul Benny dengan erat. Dia bahagia karena Elza akhirnya menjadi juara satu tingkat kabupaten.


"Astaga! Apa aku mimpi? Gadis ini memelukku!" Benny terkejut bukan main mendapatkan sesuatu lebih dari Fina. Tanpa membuang kesempatan emas, dia segera membalas rangkulan hangat pengasuh putranya itu.


Fina terkesiap setelah sadar atas apa yang dilakukannya. Dia benar-benar malu karena hal ini, "astagfirullah, mau ditaruh mana muka ku ini! Kok bisa aku memeluk Pak Ben! Ya Allah, betapa malunya aku nanti jika duda ini terus mengejekku!" batin Fina dengan mata yang terpejam. Dia membelakangi Benny karena tidak sanggup menampakkan wajahnya di depan pria itu.


Fina memutuskan pergi dari sana. Dia turun dari tribun penonton untuk menghampiri Elza. Bocah kecil itu sebentar lagi akan naik podium kemenangan setelah poin kemenangan diumumkan.


"Fin, tunggu Fin!" ujar Benny setelah melihat Fina turun dari tribun penonton.


Pada akhirnya kedua orang yang disayangi Elza itu sampai ditempat berkumpulnya para pelatih. Gadis cantik itu mengucapkan banyak terima kasih kepada para pelatih di sana terutama kepada Aris.


"Kang, terima kasih atas semua didikannya," ucap Fina kepada Aris.


"Kamu tidak ingin memelukku, Fin?" sindir Aris dengan bibir yang menyunggingkan senyum tipis, tetapi sorot matanya mengisyaratkan sebuah kekecewaan.


Tentu Fina menjadi salah tingkah mendengar sindiran dari Aris. Dia bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan itu karena apa yang dilakukannya adalah reflek karena bahagia melihat kemenangan Elza.


"Kang, saya tadi tidak berniat melakukan itu. Saya benar-benar reflek dan tidak sadar," jawab Fina tanpa berani menatap Aris.

__ADS_1


...🌹To Be Continue 🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2