
Hari demi hari telah berganti mengikuti waktu yang tak pernah henti berputar. Satu bulan telah berlalu begitu saja meninggalkan kenangan yang ada. Satu persatu masalah telah dilewati hingga sampai pada titik akhir dari suatu masa. Keadaan kembali normal seusai badai menerjang kapal yang dinahkodai oleh Benny. Sama halnya dengan keluarga kecil itu, Badiah pun kembali hidup normal seperti biasanya. Ekonomi stabil dan toko kelontong kembali berjalan seperti biasanya. Biang kerok tak lagi mengganggu karena merasa malu setelah dilabrak langsung oleh Fina.
Suara kicauan burung terdengar merdu bersamaan dengan hembusan angin mesra yang menyambut datangnya fajar. Cakrawala bersemu kuning karena sang mentari bangun dari tidur panjangnya. Mungkin tak lama lagi sinarnya bisa menghangatkan semua insan.
"Elza, bangun dulu yuk!" ujar Fina ketika membangunkan anak sambungnya di kamar, "hari ini Elza pertama kali masuk SD 'kan? Nanti bisa terlambat, Sayang," ujar Fina sambil membelai rambut tipis putranya.
Setelah mengikuti serangkaian tes di sekolah sebelumnya, akhirnya Elza dinyatakan layak masuk ke Sekolah Dasar meski umurnya kurang dari tujuh tahun. Seharusnya Elza mengulang TK karena belum cukup umur, tetapi nilai tes akademik ataupun IQ nya di atas rata-rata, sehingga bisa menjadi pertimbangan untuk perkembangan belajar di sekolah.
"Ma, kalau aku masuk SD berarti aku punya teman baru ya?" tanya Elza setelah bangun dari tidur nyenyaknya.
"Iya, Nak. Nanti Elza punya teman baru dan lebih banyak lagi. Teman waktu TK juga ada kok yang satu sekolah sama Elza. Ada Zahra, Yasmin, Safa, Fero, Nawal dan Haikal. Jadi ... Nanti Elza gak sendirian," jelas Fina agar putranya lebih bersemangat karena masih ada teman satu TK yang sekolah di tempat yang sama.
"Ya ... kenapa satu sekolah sama Safa dan Zahra sih, Ma? Aku gak suka sama mereka karena selalu ngikutin aku terus!" protes Elza dengan pipi yang mengembang karena bibirnya mengerucut sempurna.
"Loh, mereka 'kan temannya Elza. Gak boleh begitu dong." Fina memberikan nasihat kepada putranya agar tidak terlalu memilih dalam berteman.
"Mereka berisik, Ma! Mereka selalu rebutan duduk di sampingku! Aku gak suka!" ujar Elza dengan kesal.
"Cie ... Elza punya penggemar nih!" seloroh Fina sambil menaik turunkan satu alisnya hingga membuat Elza semakin kesal dibuatnya. Bocah kecil itu segera turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar.
Setelah Elza pergi menuju kamar mandi sedangkan Fina segera menyiapkan segala keperluan putra sambungnya itu. Mulai dari seragam baru, tas sekolah dan beberapa keperluan lainnya. Setelah semua selesai, dia merapikan tempat tidur itu hingga rapi. Fina bergegas keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk Elza, karena ada peraturan di mana semua siswa harus membawa bekal saat sekolah.
"Bagaimana Elza? Apa dia malas bangun?" tanya Benny setelah Fina sampai di ruang makan.
"Tidak. Hanya saja dia mengeluh karena ada dua teman cewek yang tidak dia sukai," jawab Fina sambil menyiapkan beberapa makanan di kotak makan Elza.
"Kenapa bisa begitu?" Benny mengernyitkan keningnya karena tidak paham dengan maksud Fina.
__ADS_1
"Dia tidak suka dengan temannya yang bernama Zahra dan Safa. Katanya sih mereka berdua ini berisik karena selalu berebut ingin dekat dengan Elza. Lucu ya, Mas?" jelas Fina sambil tersenyum geli.
"Anak-anak jaman sekarang masih kecil udah mengerti tentang ketertarikan ya, Sayang? Beda banget sama zamanku dulu. Aku dulu seusia Elza gak ada tuh tertarik sama teman cewek. Malah dulu itu anak laki-laki dan perempuan mandi bareng di sungai itu hal biasa loh, tetapi kalau sekarang gak ada deh yang seperti itu." Benny teringat ketika bagaimana masa kecilnya dulu.
"Ya ampun, Mas! Jangan samain Zaman Mas sama Zaman sekarang dong! Elza tumbuh di era modern, teknologi sudah canggih. Mainan anak-anak bukan lagi gembot, bongkar pasang dan ular tangga. Akan tetapi gadget, Mas! Sekarang tuh ya, bayi delapan bulan saja udah bisa geser-geser layar hape ibunya loh!" Fina tidak terima dengan statement Benny.
"Maka dari itu, Mas. Aku tuh tidak suka jika Elza main hape tanpa pengawasanku. Banyak hal yang bisa diakses dengan mudah melalui internet. Aku tidak mau jika Elza salah memilih game, video ataupun hal-hal yang berbau konten dewasa."
"Ya ... meski terkadang aku sadar, tidak selamanya dia berada dalam pengawasanku karena usianya juga semakin bertambah, tetapi setidaknya aku sudah berusaha keras untuk membentengi dia dari semua itu. Aku banyak belajar tentang parenting agar bisa menjadi ibu yang ideal untuk dia." Fina menatap Benny untuk sesaat, setelah dia selesai menyiapkan bekal putranya.
Benny mengembangkan senyum yang manis setelah mendengar penjelasan panjang istrinya. Dia sangat bangga memiliki istri sempurna seperti Fina. Tatapan mata mantan duda itu tak lepas dari wajah cantik yang selalu membuatnya kagum dan terpesona itu.
"Masyaallah, benar-benar istri solehah nih," puji Benny sambil menatap Fina penuh arti.
"Helleh! Gombal!" Fina berdecak setalah mendengar pujian dari suaminya, "semoga Elza gak jadi playboy seperti kamu deh, Mas! Bisa pusing aku didatangi cewek-cewek genit nanti," ujar Fina setelah duduk di kursi. Mereka berdua menunggu Elza yang masih bersiap di kamarnya.
"Iya setia ... setiap tikungan ada, maksudnya!" Fina menghela napasnya, "kita harus bekerja sama dalam mendidik anak, Mas. Jangan bekerja sama hanya dalam membuatnya saja, karena kedekatan anak dan ayah juga diperlukan. Ya ... Mas juga harus belajar tentang dunia parenting lah agar bisa menjadi ayah ideal. Jangan hanya nonton videonya orang Jepang sama America saja!" cerocos Fina sambil menatap sinis ke arah suaminya.
Obrolan pun harus terhenti karena derap sepatu Elza terdengar di sana. Bocah berusia enam tahun sudah rapi dengan seragam baru berwarna merah putih. Jika seperti ini, dia tidak lagi seperti anak kecil yang manja dan menggemaskan.
"Bagaimana, Ma? Aku tampan 'kan pakai segaram ini?" tanya Elza seraya berkacak pinggang di sisi kedua orang tuanya, "Pa, aku keren ya!" Kali ini dia beralih menatap ayahnya.
"Narsis banget tuh, Mas!" ujar Fina dengan suara yang sangat lirih sambil menatap Benny.
"Anak Papa itu pasti keren dan ganteng! Gak ada lawan deh!" puji Benny sambil menatap Elza penuh arti, "nah, karena sekarang udah ganteng dan keren, sebaiknya Elza sarapan dulu deh. Papa dan Mama udah nungguin dari tadi," lanjut Benny seraya menatap kursi yang biasa ditempati Elza.
Keluarga kecil yang baru bangkit setelah diterjang badai itu akhirnya sarapan bersama dengan rasa suka cita. Kehangatan akan senyum bahagia yang terpancar sepertinya berhasil mengalahkan pesona sang mentari. Aura cinta yang besar terlihat dengan jelas dari sorot mata ketiga orang yang sedang menikmati sarapan itu.
__ADS_1
"Hari ini aku di antar Papa dan Mama 'kan?" tanya Elza setelah selesai sarapan.
"Tentu dong! Ini hari pertama Elza masuk SD, jadi ... nanti Mama dan Papa akan mengantar Elza sampai di depan gerbang. Jika sudah di dalam area sekolah dan Elza tidak tahu kelasnya, maka Elza harus ....?" Fina memberikan penjelasan kepada putranya itu.
"Aku harus bertanya kepada teman atau guru di sana, karena malu bertanya sesat di jalan!" jawab Elza dengan cepat.
"Good!" Fina mengacungkan jempolnya kepada Elza karena masih ingat dengan nasihatnya beberapa hari yang lalu.
Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Mobil yang dikendarai Benny sampai di depan gerbang salah satu sekolah favorit di Surabaya. Jarak tempat pendidikan ini dengan komplek perumahan Benny tak seberapa jauh. Akan tetapi karena setelah ini harus kontrol ke rumah sakit, Benny terpaksa harus membawa mobil.
"Jangan lupa baca bismillah, Nak." Sebuah nasihat yang selalu diucapkan Fina sebelum meninggalkan Elza di sekolah.
Bocah kecil itu berlari masuk ke dalam area sekolah setelah pamit kepada Benny dan juga Fina. Tentu hal ini membuat Fina merasa lega karena Elza berani menghadapi lingkungan baru tanpa harus didampinginya.
"Kita langsung ke rumah sakit 'kan?" tanya Benny sebelum meninggalkan pintu gerbang itu. Suara bel masuk terdengar nyaring di sana, pertanda kegiatan belajar akan dimulai.
"Iya. Lebih baik berangkat pagi, biar gak terlalu antre," jawab Fina sebelum membuka pintu mobil.
Hingga saat ini, keduanya masih kontrol ke dokter di rumah sakit tempat mereka dirawat setelah operasi kala itu. Benny kontrol di poli spesialis ortopedi, sedangkan Fina kontrol di poli spesialis kandungan. Sebenarnya, Fina sendiri sudah tidak diwajibkan kontrol, tetapi setiap dua minggu sekali dia tetap melakukan pemeriksaan, karena takut ada masalah dengan kandungannya.
Sedangkan untuk Benny sendiri, memang harus kontrol dengan waktu yang sudah ditentukan oleh dokter, karena masih dalam proses pemulihan. Ya ... meski dia sudah bisa menyetir mobil sendiri, tetapi dokter belum mengizinkan untuk mengangkat beban berat.
"Mas, nanti temenin aku dulu ya waktu periksa kandungan! Nanti setelah dari poli kandungan, baru deh ke ortopedi," ucap Fina seraya menatap Benny dari samping.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Maaf ya othor lagi sakit gigi! Jadi upnya malamππ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·π·...