
"El, maafin Mbak Fina karena sudah membuat El sedih," ucap Fina ketika mengusap kepala Elza dengan penuh kasih.
Elza mengangguk kepala pelan. Tangannya mengusap pipi Fina beberapa kali. Mata bocah laki-laki itu berembun, "jangan marah lagi ya Mbak Fina. Aku gak suka liat Mbak marah ataupun sedih. Mbak Fina harus tersenyum terus biar tetap cantik," ucap Elza dengan suara yang serak. Sepertinya dia sudah tidak kuat menahan rasa kantuk, terlihat dari matanya yang semakin sayu.
Tentu Fina terharu setelah mendengar keinginan Elza. Rasa sayang kepada bocah laki-laki itu semakin bertambah. Ikatan batin di antara anak dan pengasuh itu sepertinya mulai terjalin erat. Telaga bening milik pengasuh cantik itu mulai berembun karena rasa yang membuncah di dada. Dia tidak menyangka anak laki-laki yang dulunya sulit dikendalikan itu, kini tumbuh dengan baik. Bahkan, menjadi lebih pintar dan mengerti. Fina mengeratkan dekapan nya agar Elza tidak melihat matanya yang berembun.
"Sekarang Elza bobok ya. Besok harus sekolah," ucap Fina dengan suara yang lirih.
Hingga beberapa puluh menit kemudian, suara dengkuran halus terdengar di sana. Fina mengurai tubuhnya dan menempatkan guling dalam dekapan Elza. Gadis cantik itu tetap terjaga walau malam semakin merangkak naik. Dia gelisah karena pertanyaan yang sempat dilayangkan Benny kepadanya petang tadi.
"Aku cemburu? Kenapa pak Ben begitu cepat menyimpulkan jika aku cemburu? Memangnya cemburu itu seperti apa?" gumamnya setelah pertanyaan Benny terus terngiang di telinga.
"Seseorang bisa merasakan cemburu, jika memiliki perasaan suka atau cinta kepada lawan jenisnya. Lah, kalau aku cemburu berarti aku suka begitu sama pak Ben?" Fina bermonolog, "gak. Aku gak mungkin cemburu karena aku gak cinta sama pak Ben." Fina berusaha menolak apa yang ada dalam pikirannya.
"Masa iya aku suka sama duda. Jangan sampai ah!" Fina mencoba menolak keraguan yang ada dalam hatinya, "ingat, Fin! Ada kang Aris yang sudah jelas perasaannya kepadamu. Ingat! Pak Ben itu pria berpengalaman dan sering gonta ganti pacar. Kamu tidak selevel dengan dia! Ingat itu, ingat!" Fina mengela napas yang berat setelah mencoba untuk memprovokasi dirinya sendiri.
Gadis cantik itu berusaha memejamkan mata karena waktu terus berjalan. Malam semakin merangkak naik hingga waktu berada di angka satu dini hari. Akan tetapi Fina tak kunjung tidur. Dia masih terbayang-bayang akan pikiran gila tentang Benny. Dia resah karena tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan.
"Ya Allah, kenapa hamba resah begini? Jangan sampai jodoh hamba pak Benny, Ya Allah. Hamba tidak siap." Fina tak henti memanjatkan doa itu hingga tanpa terasa kelopak mata itu tertutup rapat. Alam mimpi yang indah pun telah menyambut kedatangannya.
****
"Mbak Fina, bangun. Mbak!" ujar Elza sambil menepuk pipi Fina beberapa kali.
Fina mengerjapkan mata setelah merasakan tepukan itu. Matanya terbelalak sempurna setelah melihat jam dinding yang ada di sana. Ternyata sudah pukul setengah tujuh pagi. Gadis cantik itu segera turun dari tempat tidur dan buru-buru memakai jilbabnya.
__ADS_1
"Elza, ayo cepat. Nanti kita bisa terlambat!" ujar Fina sambil mengangkat tubuh Elza dari tempat tidur.
Fina benar-benar dikejar waktu karena terlambat bangun. Dia harus menyiapkan keperluan Elza sebelum berangkat ke sekolah. Mulai menyiapkan seragam, sarapan dan banyak hal lainnya.
"Elza nanti bisa makan sendiri?" tanya Fina setelah merapikan penampilan Elza, "Mbak Fina mau mandi dulu, oke?" ucapnya sambil menggandeng Elza keluar dari kamar. Mereka berdua turun menuruni satu persatu anak tangga hingga sampai di ruang keluarga.
"Itu ada Papa! Aku mau makan sama Papa aja." Elza berlari menuju tempat ayahnya berada.
"Papa ...." sapa Elza setelah sampai di sana, "aku pengen makan sama Papa," ucap bocah kecil itu.
"Mau Papa suapin?" tanya Benny seraya membantu Elza duduk di kursi tersebut.
"Pak, saya titip Elza sebentar ya. Maaf, Pak Ben, saya tadi bangun kesiangan. Saya mau mandi dulu," pamit Fina sebelum pergi dari ruang tamu. Tentunya setelah mendapatkan izin dari Benny.
Beberapa puluh menit kemudian, akhirnya Fina keluar dari kamarnya. Dia menghampiri Elza yang masih ada di ruang makan bersama Benny. Suara gelak tawa anak dan ayah itu menggema di sana.
"Papa, aku berangkat dulu," pamit Elza sebelum menjabat tangan ayahnya.
"Gak boleh nakal kalau sekolah," pesan Benny sambil mengusap rambut putranya dengan kasih. Setelah itu Elza berlari keluar meninggalkan Fina di sana.
"Pak, saya berangkat dulu," pamit Fina sambil menundukkan kepala dengan hormat. Gadis cantik itu tidak berani menatap Benny seperti biasanya.
"Salim dulu gih sama calon suami." Benny menggoda Fina sambil mengulurkan tangannya kepada Fina. Dia mengulum senyum begitu melihat bagaimana respon gadis berhijab itu.
"Apa sih, Pak Ben!" Fina membuang wajahnya ke arah lain karena malu mendengar ucapan itu.
__ADS_1
Fina segera pergi meninggalkan Benny seorang diri di sana. Selain karena waktu semakin mepet jam masuk sekolah, gadis itu pun gugup bila berada terlalu lama di dekat Benny. Apalagi setelah kejadian kemarin petang. Sungguh, Fina merasa malu dibuatnya.
"Ayo, El," ucap Fina sambil naik ke atas motor matic itu.
Fina mendadak panik karena mesin motor itu tak kunjung hidup. Beberapa kali kunci motor itu sudah diotak-atik, tetapi tak kunjung hidup, "El, motornya kenapa, El?" gumam Fina sambil menekan tombol stater.
"Duh, pakai bermasalah segala! Mana udah mepet jamnya!" gerutu Fina sambil terus berusaha menyalakan motor matic itu.
"Pak ... Pak Ben! Pak!" teriak Fina karena tidak ada jalan selain minta tolong kepada sang pemilik motor.
Tak berselang lama, pria yang baru dipanggil Fina itu keluar dari rumah. Dia berdiri di samping pilar yang ada di teras rumah, "ada apa, Fin?" tanyanya dengan santai. Punggungnya bersandar di pilar tersebut sementara kedua tangannya disilangkan di depan dada.
"Motornya gak bisa nyala, Pak. Bagaimana ini?" tanya Fina dengan wajah panik.
Benny mengamati motor matic tersebut dan setelah itu dia berjalan mendekat ke tempat Fina. Bukannya ikut panik, Benny malah mengembangkan senyumnya, "coba kamu nyalakan sekali lagi," suruhnya.
"Tetap gak bisa, Pak!" ujar Fina setelah sekali lagi mencoba menghidupkan motor itu.
"Coba standar motornya dinaikkan dulu," ucap Benny yang sedang menahan tawanya melihat ekspresi wajah pengasuh putranya itu.
Seketika Fina menundukkan kepalanya untuk melihat standar motor yang dimaksud oleh Benny. Dia merasa malu karena ternyata bukan motornya yang rusak, melainkan karena dirinya panik sehingga lupa jika standar motor itu belum dinaikkan.
"Maka dari itu jangan terlalu panik. Santai saja lah biar semuanya terkendali. Fokus dong, Sayang," ucap Benny dengan santainya. Sekali lagi Fina terbelalak karena ucapan Benny.
...πΉTo Be Continue πΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...