
Shazia Elok Prameswari, nama yang diberikan Benny dan Fina untuk putri mereka yang baru lahir beberapa jam yang lalu. Bayi perempuan itu lahir dalam kondisi normal, sehat dan tidak kurang dari apapun. Lahir dengan berat badan 3,5 kg. dan panjang 53 cm.. Semua orang menyambut dengan suka cita kehadiran bayi dengan pipi yang terlihat menggemaskan itu.
"Adek Zia ... aku punya medali emas loh! Aku tadi menang lomba!" ujar Elza yang sejak tadi berdiri di sisi box bayi itu, "Ma, kenapa Adek bayi belom bangun? Perasaan dari tadi tidur terus!" protes Elza karena sudah lelah menunggu bayi yang tertidur pulas itu.
"Kalau masih bayi memang begitu, Nak. Sini El, duduk di samping Mama," ucap Fina sambil menepuk bed pasien yang ada di sisinya.
Bocah berusia enam tahun yang masih memakai sakral lengkap itu naik ke atas bed pasien. Dia duduk bersila di sisi Fina. Gurat wajah lelah terlihat jelas di wajah tampan putra sulung Benny itu.
"Coba cerita bagaimana pertandingannya tadi. Mama ingin mendengar bagaimana Elza mendapatkan poin dan akhirnya bisa jadi pemenang." Fina mengusap rambut tipis itu beberapa kali.
Elza sangat antusias ketika bercerita bagaimana jalannya pertandingan yang dia ikuti itu. Semua orang yang ada di sana pun ikut mendengarkan. Benny tak henti tersenyum karena bangga memiliki anak yang hebat seperti Elza. Hari ini dia telah mendapatkan dua kebahagiaan sekaligus.
Suara tangisan Shazia menggema di ruangan hingga membuat cerita yang belum selesai itu harus terhenti. Badiah mengangkat cucu pertamanya itu untuk diberikan kepada Fina. Meskipun belum lancar dalam memberikan ASI, tetap saja bayi itu harus dilatih.
"Ayo belajar menyusui lagi, Fin," ucap Badiah sambil menata bantal di atas pangkuan Fina.
Sementara Elza memilih turun dari bed pasien tersebut ketika melihat Fina mulai membuka kancing pakaiannya. Bocah kecil itu memilih duduk di samping Dita dan Nisa di sofa.
"Tante, kenapa adek bayinya nangis terus! Berisik banget ya!" protes Elza saat suara tangisan itu masih terdengar di sana.
"Adek Zia haus, Sayang. ASI nya belum bisa keluar dengan lancar," jelas Dita sambil menepuk paha Elza.
"Kalau begitu antarkan aku ke bawah yuk, Tante!" ajak Elza seraya berdiri dari tempatnya.
"Ngapain?" Dita mengernyitkan keningnya.
"Beli ice cream sama susu cokelat buat adek Zia," jawab Elza dengan polosnya.
Ketegangan yang terasa di sana mendadak hilang begitu saja setelah semua orang mendengar jawaban Elza. Mereka terkekeh karena pemikiran bocah berusia enam tahun itu. Apalagi Benny, mantan duda itu tidak dapat menahan tawa, hingga suaranya dan suara tangisan Shazia saling bersahutan.
__ADS_1
"Adek bayi tidak boleh minum susu cokelat sama ice cream, El. Hanya boleh minum ASI dari mama," jelas Dita sambil mengulum senyum.
"Oh gak boleh ya! Padahal aku udah janji kalau menang mau membelikan Adek bayi ice cream," gumam Elza dengan pandangan lurus ke depan.
"Kalau begitu wakil Tante Nisa saja, El. Sama aja kan?" Nisa menaik-turunkan satu alisnya sambil menatap Elza penuh arti.
"Gak boleh, Tante! Adek Zia sama Tante Nisa beda! Nanti aku aduin loh ke Mama kalau tadi Tante ngobrol sama Kang Aris!" celetuk Elza hingga membuat tatapan Fina beralih ke arah mereka.
Mungkin karena fokus pada bayi yang baru bisa menyedot puncak dada itu dengan baik, Fina tidak merespon ucapan Elza secara berlebihan. Dia sedang berusaha tetap tenang agar Shazia tidak rewel dan menghentikan hisapannya.
"Bu, lebih baik Ibu ikut mereka pulang. Biar aku sama Mas Benny saja di sini. Besok pagi saja Ibu ke sini lagi, sekarang istirahat dulu di rumah," ucap Fina setelah melihat penunjuk waktu yang ada di sana.
"Iya, Bu. Saya bisa kok merawat Fina sendiri. Ibu tidak perlu khawatir," timpal Benny saat meyakinkan ibu mertuanya.
Tak lama setelah itu, mereka berempat pamit pulang kepada Fina dan Benny karena waktu semakin larut. Benny mengantar mereka hingga sampai di depan lift dan dia segera kembali setelah pintu lift tertutup.
"Sayang, lapar gak?" tanya Benny setelah masuk ke dalam ruang rawat inap Fina.
Namun, tak lama setelahnya suara tangisan itu kembali menggema di sana. Shazia tidak mau melepaskan ujung kendi yang sudah menjadi hak miliknya itu.
"Mas, tolong dipindah dong posisinya. Ganti satunya lagi," ujar Fina karena dia masih kesulitan memindahkan posisi putrinya.
"Aduh ... aduh ... anaknya Mama gak sabaran banget sih hmmm! Tunggu sebentar dong, Nak. Jangan seperti Papa gak sabaran gitu ih!" gumam Fina saat suara tangisan Shazia semakin kencang.
"Kok seperti aku sih!" protes Benny setelah berhasil memindahkan putrinya di posisi kanan.
"Lah memang seperti siapa? Lihat nih! Udah ketemu ujung kendi jadi diam 'kan! Tuh, dia gak nangis lagi!" ujar Fina sambil menatap bayi mungil yang sudah tenang dalam dekapannya.
Benny mengulum senyum ketika melihat apa yang ada di hadapannya. Dia sangat bahagia karena proses melahirkan lancar tanpa anda kendala apapun. Dia bisa melihat bagaimana sorot bahagia yang terpancar dari mata indah Fina. Rezeki seakan tak ada habisnya dalam keluarga kecil itu.
__ADS_1
"Duh, anaknya Papa pinter banget sih! Pasti udah kenyang ya kok dilepas puncak kendinya," gumam Benny ketika melihat apa yang dilakukan Shazia.
Benny mengangkat tubuh mungil yang bersembunyi di balik bedong berwarna merah muda itu. Shazia tertidur pulas setelah menghabiskan air kendi air susu. Benny mengayun putrinya dalam dekapan hangatnya.
"Gak sia-sia Papa sering nengok Zia ya. Baru lahir saja udah pinter nyari puncak kendi. Zia pasti mendengarkan setiap pelajaran dari Papa dengan baik," gumam Benny seraya menatap wajah menggemaskan itu.
Ayah dua anak itu meletakkan putrinya ke dalam box bayi dengan hati-hati. Dia tidak mau membiasakan Shazia tidur dalam gendongan. Apalagi sampai diayun sepanjang malam. Semua itu dilakukan agar di kemudian hari putrinya itu tidak rewel di kala malam.
"Mas, aku lapar sekali," keluh Fina saat Benny menghampirinya.
"Memangnya pengen makan apa?" tanya Benny seraya duduk di bangku tunggal yang ada di sisi Bed.
"Apa aja deh yang penting nasi dan gak pedas," jawab Fina.
"Ya sudah aku pesan lewat aplikasi online saja ya. Aku gak tega ninggalin kamu di sini sendirian." Benny merogoh ponsel yang ada di dalam saku celana.
Sepasang suami istri itu sibuk mencari menu masakan yang cocok dikonsumsi untuk wanita pasca melahirkan. Banyak warung ataupun restoran yang sudah tutup karena saat ini penunjuk waktu sudah berada di angka dua belas malam. Pada akhirnya mereka mendapatkan warung soto daging.
"Mas, aku mau dua porsi ya. Laper banget loh." Fina menatap Benny dengan wajah yang bersemu merah karena malu.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Kuy syukuran ke Surabaya buat dedek Shaziaπ...
...ββββββββββββββββ...
...Happy satnight πDaripada gabut mending baca karya author Melisa dengan judul Syakir dan Syakira. Jan sampai kelewat deh pokoknyaπ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·π·...