Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Bunga Layu,


__ADS_3

Bunga asmara yang baru mekar harus layu begitu saja setelah diterpa kenyataan yang ada. Kalimat panjang yang baru saja diucapkan oleh Fina berhasil membuat perasaan Nisa kecewa. Pria yang berhasil mengetuk hati ternyata tidak sesuai impian.


"Jadi dia sudah menikah?" gumam Nisa dengan tatapan kosong.


"Kamu jangan terlalu naif begitu dong, Nis," tutur Fina seraya menatap adiknya, "lain kali itu diselidiki dulu baru menaruh perasaan kepada pria. Untung saja kamu tahu diawal siapa dia sebenarnya. Coba bayangkan bagaimana jika kamu sudah menaruh perasaan terlalu dalam kepada dia?" Fina menghela napas setelah melihat sorot mata sendu yang terpancar dari telaga bening itu.


"Mana aku tahu, Mbak. Lah aku gak mikir sampai ke sana, karena menurutku ... untuk apa pria yang memiliki pasangan masih berkenalan dengan gadis lain?" Sepertinya Nisa belum bisa menerima kenyataan yang ada.


"Nis, jaman sekarang itu banyak orang yang mengaku single tapi aslinya punya pasangan. Aku tidak tahu apa alasan yang membuat Aris seperti itu. Akan tetapi aku tidak akan membiarkan kamu melangkah ke jalan yang salah. Jangan dilanjutkan sebelum perasaanmu terlalu dalam!" ujar Fina dengan tegas.


Nisa menghempaskan badan di sandaran kursi setelah mendengar penuturan Fina. Patah hati sebelum jatuh cinta, mungkin ini yang sedang dialami Nisa. Gadis yang belum berpengalaman dalam asmara itu telah salah memilih pria untuk dicintai.


Suara dering ponsel kembali terdengar di sana. Nisa menunjukkan ponselnya kepada Fina karena Aris lah menghubungi, "bagaimana ini, Mbak?" tanya Nisa.


"Angkat dan loud speaker!" ujar Fina, "aku pengen tahu apa yang ingin dia bicarakan," lanjutnya.


Nisa melakukan perintah dari Fina. Dia menggeser icon hijau di ponselnya dan tak lama suara Aris terdengar di sana. Fina menyimak obrolan Aris bersama adiknya. Beberapa kali Fina membisikkan arahan untuk Nisa agar bertanya kepada Aris.


"Mas Aris lagi di mana?" tanya Nisa sambil menatap Fina.


"Lagi di tempat kerja. Ada apa? Mau ketemu kah?"


"Ti ... tidak." Nisa menatap Fina penuh arti, "eemmm ... Mas Aris kerja kok bisa menghubungi aku. Gak takut ketahuan kah?" tanya Nisa setelah mendapat bisikan dari Fina.


"Mas bebas sih mau ngapain aja di tempat kerja."


Fina mengulurkan tangannya, sebuah kode jika dia ingin meminta ponsel yang ada di genggaman tangan adiknya itu. Dia sudah tidak tahan lagi dengan drama yang dibuat oleh Aris.

__ADS_1


"Ada apa kamu menghubungi adikku?" tanya Fina langsung pada intinya, "kamu pasti mengenal suaraku 'kan?" Fina tidak mau basa-basi lagi.


"Jangan salah paham dulu, Fin. Aku hanya sekadar komunikasi mengenai Elza saja. Gak lebih kok."


"Alah alasan saja! Kalau memang ada yang perlu dibahas mengenai Elza, langsung menghubungi suamiku saja. Nisa tidak ada sangkut-pautnya dengan Elza," sarkas Fina dengan ketus.


"Aku sudah membaca semua pesanmu! Apa kamu pikir aku akan membiarkan adikku berhubungan dengan pria beristri? Gak akan!" Fina mulai emosi dengan pria yang dulu dia kagumi itu.


"Kamu jangan begitu, Fin!"


"Lalu harus bagaimana? Haruskah aku menemui istrimu heh? Ingat ya, jika setelah ini kamu masih menghubungi adikku, lihat saja! Aku tidak akan tinggal diam. Jika aku tidak bisa menemui istrimu, maka aku akan menemui ayahmu! Makin kesini ternyata kamu semakin terlihat belangnya ya!" cerocos Fina dengan napas yang menggebu.


Panggilan tersebut terputus begitu saja, setelah Fina memberikan ancaman. Wanita yang sedang murung itu segera memblokir kontak Aris dari kontak Nisa. Dia sangat bersyukur karena masalah ini terbongkar di awal. Dia tidak bisa membayangkan apabila hubungan ini terus berlanjut dan adiknya harus dicap sebagai seorang pelakor.


"Lain kali lebih hati-hati lagi saat berkenalan dengan cowok. Jangan mudah menaruh hati, apalagi kamu tidak memiliki pengalaman dalam kisah asmara," tutur Fina seraya menyerahkan ponsel tersebut kepada Nisa.


"Tapi Mbak, bagaimana kalau dia ternyata duda?" sanggah Nisa setelah berpikir beberapa saat.


"Terus kamu mau pacaran dan nikah sama duda?" tanya Fina sambil memicingkan mata.


"Kenapa tidak. Mbak dapat duda satu anak tapi bisa tuh hidup bahagia," jawab Nisa dengan entengnya.


"Jangan samakan nasibmu dengan Mbak, Nis. Kamu salah kalau punya pemikiran seperti itu. Menjadi istrinya duda itu gak mudah, Nis. Ya kalau dudanya seperti Masmu, duda yang istrinya meninggal. Lah, kalau duda cerai ya gak enak lah. Masih ada mantan istrinya yang siap menjadi penghalang dengan memakai tameng anaknya. Kamu paham 'kan sampai di sini bagaimana perbedaannya?" tegas Fina dengan tatapan penuh arti.


"Ayolah. Berpikir yang matang tentang hal ini. Dunia ini luas. Banyak pria baik yang bisa kamu dapatkan suatu hari nanti. Jangan Aris, karena kamu akan merasakan sakit. Asal kamu tahu, sebelum Mbak menikah dengan Mas Benny, dia juga pernah berkomitmen dengan Mbak. Padahal dia punya pasangan yang tak lain adalah istrinya yang sekarang. Dia itu pria gak bener, Nis! Jangan sampai kamu tertipu seperti Mbak dulu."


Nisa semakin terkejut setelah mengetahui kenyataan bila kakaknya adalah korban dari pria yang dikaguminya. Hatinya bergemuruh seperti badai yang datang menghantam. Bagaimana bisa dirinya harus jatuh hati dengan pria yang salah.

__ADS_1


"Mbak serius kah?" tanya Nisa karena belum percaya dengan semua yang diucapkan oleh Fina.


"Kalau kamu pulang ke Mojokerto, silahkan tanya Ibu kalau masih tidak percaya. Memangnya kamu pernah kah lihat aku berbohong?" jawab Fina sambil menatap Nisa penuh arti.


"Enggak sih," jawab gadis berhijab itu dengan suara yang lirih.


Fina hanya bisa bercerita sebatas itu karena dia tidak mau Nisa tahu jika Aris sempat berusaha mendekatinya lagi beberapa bulan yang lalu. Tangisan Shazia yang terdengar di sana membuat pembahasan itu selesai. Nisa pamit pergi ke kamar untuk bersiap mandi karena hari semakin sore. Sementara Fina sibuk menenangkan putrinya.


"Ssssttt! Jangan nangis terus, Sayang. Nanti dimarahi Kak Elza loh. Cup ... cup ... cup. Anak cantik jangan nangis lagi ya," gumam Fina sambil menimang putrinya.


Tak lama setelah itu, Benny pun datang dari arah depan. Ayah dua anak itu baru pulang dari industrinya. Dia tersenyum ceria ketika melihat Fina dan Shazia di ruang keluarga. Rasa lelah yang sempat terasa, sepertinya hilang begitu saja setelah melihat keluarga.


"Eitss! Jangan mendekat! Udah cuci tangan dan kaki belum di depan?" Fina menjauhkan diri saat Benny akan mendekat.


"Sudah, Sayang. Tenang aja, aku gak akan lupa dengan hal itu," ucap Benny sebelum mencium kening Fina.


Badiah dan Ani sudah memberikan wejangan kepada suami istri itu. Siapapun wajib cuci tangan dan kaki sebelum masuk ke dalam rumah. Kedua wanita paruh baya itu tidak mau terjadi sesuatu kepada Shazia. Mereka tak henti menasehati sepasang suami istri itu mengenai hal-hal di luar logika yang bisa terjadi. Mereka hanya tidak mau jika Shazia terkena sawan, karena anak yang masih bayi masih rentan dengan hal itu.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Coba cari sendiri ya apa artinya sawan di internet, karena kalau di Mojokerto masih kental dengan hal itu. Aku gak paham kalau di luar daerah disebut bagaimana😎...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Sambil nunggu othor up, baca juga karya author Alya lii dengan judul Melawan Restu. Jan sampai gak baca ya gais😍...


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2