Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Tidur di luar?


__ADS_3

Brak! Ceklak!


Pintu kamar terkunci rapat setelah Fina masuk ke dalam kamar. Wajahnya murung sejak pulang dari pesta pernikahan salah satu staf di AlasKa. Tentu kehadiran Renata di sanalah yang menjadi penyebab utama. Fina merasa muak melihat mantan kekasih suaminya yang tidak tahu malu itu.


"Amit-amit jabang bayi. Semoga anak-anak ku tidak ada yang seperti dia." Fina mengusap perutnya beberapa kali sambil mengucapkan kalimat yang acapkali diucapkan ibu hamil di Jawa Timur.


Wanita berbadan dua itu menghempaskan diri di atas tempat tidur. Dia terlentang di sana dengan kaki yang dibiarkan menjuntai ke lantai. Tatapan matanya mengamati plafon mewah itu dengan segala bayang-bayang saat Renata bicara dengan Benny.


"Ih! Mas Benny ngeselin banget sih! Kenapa harus punya mantan seperti ulet bulu gitu. Kegatelan banget lagi! Cocok tuh jadi iklan salep panu, kadas, kurap dan kutu air!" cerocos Fina sambil memukul tempat tidur yang ada dia tempati.


Tak lama setelah itu, Fina menghela napas yang berat. Emosi yang ada dalam diri perlahan surut. Entah mengapa, wanita yang biasa selalu bersikap kalem itu, kini berubah menjadi lebih ketus. Apalagi jika ada masalah seperti ini.


Sementara itu, Benny mondar-mandir di depan kamarnya. Dia tahu jika istrinya sedang badmood malam ini. Ingin masuk tetapi pintu terkunci rapat. Dia belum menemukan cara yang tepat untuk membujuk istrinya agar tidak merajuk.


"Sayang ... buka pintunya," ucap Benny ketika beberapa kali mengetuk pintu.


"Jangan seperti ini dong. Kita perlu bicara, Sayang," ucap Benny lagi tanpa menghentikan ketukan di pintu yang masih tertutup itu, "petaka! Mimpi apa aku semalam! Kok bisa Renata jadi pengisi acara di sana!" umpat Benny dengan suara yang lirih.


Mantan duda itu ketar-ketir saat menduga segala sesuatu yang akan terjadi. Masalah ini pasti berbuntut panjang dan mungkin saja bisa berakhir dirinya tidur di luar. Benny menegakkan tubuh serta memasang senyum tipis ketika mendengar suara kunci yang diputar. Degup jantungnya semakin tak beraturan saat menerka apa yang akan terjadi setelah ini.


"Masuk!" Hanya satu kata yang terucap dari bibir tipis berwarna merah muda itu saat membukakan pintu untuk Benny.


Mantan duda itu tercengang karena semua ekspetasi yang ada di angan tidak sesuai kenyataan. Sungguh, dia tidak pernah menyangka jika semudah ini Fina luluh dan tidak memperpanjang masalah.


"Semoga dia sedang tidak kesambet bidadari," gumam Benny saat memasuki kamar dan tak lupa mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


"Di mana Elza?" tanya Fina setelah melihat suaminya duduk di tepian tempat tidur.


"Elza sudah tidur di kamar," jawab Benny sambil melepas arloji yang melingkar di tangannya.


Fina beranjak dari tempat tidur. Pakaian yang dia kenakan pun masih lengkap seperti saat pergi menghadiri kondangan tadi. Lantas, wanita berbadan dua itu berjalan menuju almari. Sepertinya dia akan mengganti kebaya modern itu dengan pakaian yang lebih nyaman. Begitu pun dengan Benny, karena tidak ada rencana keluar, dia mengambil pakaian santai di almari.


"Tumben banget dia milih pakaian itu?" batin Benny ketika melihat Fina mengambil lingerie berwarna merah yang cukup menggoda di mata mantan duda playboy itu, "wah ... setelah ini pasti nananininunu nih! Yes!" ujar Benny dengan yakinnya.


Benny membuang napasnya kasar setelah membayangkan betapa indahnya pergulatan malam ini. Rasa was-was dalam diri yang sempat memenuhi hati dan pikiran, kini telah hilang dan berganti dengan getaran-getaran lain.


"Bagaimana penampilanku saat ini?" tanya Fina setelah membalikkan badan. Tatapan matanya terlihat genit dan tentunya berhasil membuat Benny berdecak kagum.


"So sexy, Baby," jawab Benny sambil menelusuri bentuk tubuh itu dari atas sampai bawah. Meskipun berkali-kali sudah melihat keindahan tubuh yang ada di hadapannya itu tetap saja Benny merasa kagum.


Fina tersenyum penuh arti setelah melihat bagaimana respon suaminya. Dia semakin mendekat ke tempat Benny berada dan membungkukkan badan agar bisa menatap manik hitam suaminya itu.


"Jika memang itu maumu, jangan menunggu lebih lama lagi," jawab Benny dengan senyum penuh arti.


Tubuh yang terbalut pakaian tipis kurang bahan itu kembali tegak. Dia berjalan keluar dari kamar menuju ruang keluarga yang ada di sebelah kamar Elza. Wanita berbadan dua itu terus tersenyum, seakan sedang memenangkan lotre arisan.


"Padamkan lampunya!" ujar Fina dengan tegas.


Tak lama setelah itu, Benny pun datang ke ruang keluarga. Dia duduk bersandar di sofa sambil menatap Fina penuh arti. Apalagi, ketika istrinya itu menunjukkan sikap agresif. Tanpa diduga sebelumnya, Fina tiba-tiba saja naik ke atas pangkuannya.


"Wow!" Benny berdecak kagum melihat tingkah istrinya yang berubah drastis, "kamu yakin ingin melakukannya di sini, Sayang?" Benny memastikan keinginan sang istri.

__ADS_1


Tangan halus itu mulai menyusuri rahang kokoh yang membingkai wajah tampan Benny. Sementara sang empu hanya bisa mendesis karena merasakan sensasi yang berbeda.


"Makin pinter aja sih istriku ini!" puji Benny setelah membuka kelopak matanya.


Wanita cantik itu hanya mengembangkan senyum manis saat melihat respon suaminya. Tangannya tak henti menelusuri setiap gelombang yang ada di tubuh suaminya itu.


"Kamu mau pakai gaya yang bagaimana?" tanya Fina dengan suar yang lirih.


"Terserah kamu, Sayang. Gaya apapun aku mau deh," jawab Benny sambil membelai wajah istrinya.


"Oke, baiklah. Kita lihat dulu si sanca udah bangun atau belum," gumam Fina sambil menyentuh sesuatu yang bergerak di bawah tubuhnya.


Wanita berbadan dua iru semakin tersenyum smirk setelah memastikan bentuk sempurna milik suaminya itu. Dia segera turun dari pangkuan Benny setelah teringat satu hal.


"Aku ambil selimut dulu di kamar. Mas tunggu di sini sebentar," pamit Fina setelah turun dari atas pangkuan Benny.


"Jangan terlalu lama, Sayang," pesan Benny sebelum Fina pergi dari ruang keluarga.


Benny meraih ponsel yang ada di atas meja sambil menunggu kedatangan istrinya. Dia merasa gemas setelah tahu bagaimana sikap Fina beberapa menit yang lalu. Sensual dan menggoda.


"Uh, gak sabar aku!" gumam Benny sambil menggeleng beberapa kali ketika membayangkan bentuk tubuh aduhai sang istri.


Detik demi detik terus berlalu begitu saja. Tanpa disadari mantan duda itu, ternyata Fina cukup lama berada di kamar. Benny merasa resah karena si sanca mulai kehilangan sinyal-sinyal kuat, karena Fina tak kunjung kembali. Bunyi notifikasi pesan terdengar di sana dan Benny pun segera membuka pesan tersebut.


Selamat menikmati kesunyian malam ini. Aku mau bobok dulu. Good night, Mas Benny yang terhormat. Jika sanca memberontak keluar, silahkan diselesaikan sendiri. Ini adalah hukuman untuk suami genit.

__ADS_1


...🌹To Be Continued 🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2