
"Akhirnya kamu datang!" ujar Nisa setelah pintu terbuka lebar dan melihat Johan berdiri di sana dengan senyum yang dipaksakan.
Nisa tersenyum bahagia setelah melihat kehadiran pria yang masih memakai seragam dinas itu. Untuk beberapa detik lamanya pandangan mereka saling bersirobok. Cinta yang besar terlihat jelas dari sorot mata keduanya. Namun, ada satu hal yang membuat senyum Nisa pupus begitu saja.
"Kamu ke sini naik apa? Perasaan tadi ada suara motor berhenti di depan," tanya Nisa sambil celingukan ke halaman rumah.
"Tadi aku diantar ojek," jawab Ardi dengan ekspresi wajah datar. Sepertinya pemuda yang masih berdiri di hadapan Nisa itu sedang tidak baik-baik saja.
"Ada apa, Jo?" tanya Nisa penasaran.
"Tidak bisa kah kita masuk dulu?" Johan sepertinya sedang menahan rasa sakit.
Nisa memberikan jalan untuk Johan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia hanya memberikan isyarat agar Johan duduk karpet empuk yang ada di sana. Bersamaan dengan itu Badiah, Fina dan Benny muncul dari ambang pintu penghubung ruang keluarga dan ruang tamu.
"Saya belum terlambat 'kan Bu? Sekarang masih pukul sebelas lebih lima belas menit." Itu lah yang diucapkan Johan ketika matanya beradu pandang dengan Badiah.
"Bagus. Memang harusnya seperti itu!" jawab Badiah dengan tegas. Lantas, dia pun duduk di sebelah Nisa.
"Ada apa, Jo? Apa yang terjadi?" cecar Nisa ketika melihat kondisi pemuda yang ada di dekatnya sedang tidak baik-baik saja.
"Aku terluka. Maaf, aku tidak bisa duduk bersila." Helaan napas berat terdengar di sana seiring dengan Johan yang sedang mengganti posisi kakinya menjadi berselonjor.
"Loh, lalu bagaimana?" sahut Benny ketika melihat ada bercak darah di celana Johan, "apa perlu kita ke rumah sakit sekarang?" Menantu Badiah itu terlihat khawatir. Dia duduk di dekat Johan untuk memastikan jika pemuda yang datang dari jauh itu baik-baik saja.
"Tidak perlu. Saya sudah sempat dirawat tadi di rumah sakit Surabaya. Maka dari itu saya baru sampai di sini tengah malam begini. Saya minta maaf, Bu Bad," ucap Johan seraya menatap Badiah.
"Buka celanamu!" titah Badiah, "Fin, ambilkan sarungnya Bapak di Almari. Kasihan luka itu kalau terus ditahan begitu," ucap Badiah seraya menatap putri sulungnya dengan lekat.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara, Fina bergegas meninggalkan ruang keluarga. Dia masuk ke dalam kamar Badiah untuk mengambil sarung mendiang Hasanuddin yang masih tersimpan rapi di sana. Ibu dua anak itu bergegas kembali ke ruang tamu.
"Ini, Bu." Fina menyerahkan sarung berwarna hijau itu kepada Badiah.
"Silahkan ganti celanamu dengan ini. Saya tahu jika celana itu pasti kotor. Lukamu bisa infeksi karena bakteri," ucap Badiah seraya menyerahkan sarung tersebut kepada Johan.
Dengan bantuan Benny, pemuda asal Jakarta itu berdiri dari tempatnya. Dia masuk ke bagian dalam rumah tersebut untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dinas dengan sarung dan kaos oblong yang baru saja diberikan oleh Benny.
Sementara di ruang tamu, ketiga wanita yang berada di sana tak ada yang mengeluarkan suara. Ketiga sedang bergelut dengan pikiran masing-masing. Ekspresi Badiah sendiri tidak bisa ditebak karena terlihat tegas dan tegang. Bahkan kedua putrinya belum pernah melihat ketegasan yang ditunjukkan Badiah beberapa hari ini. Wanita paruh baya yang biasa kalem dan lemah lembut itu sedang menunjukkan sisi lain yang selama ini disembunyikan.
"Terima kasih, Bu," ucap Johan setelah kembali ke ruang tamu. Kali ini penampilannya lebih enak dipandang dari pada sebelumnya.
"Kenapa kakimu bisa terluka?" tanya Badiah dengan tatapan tegas.
"Saya jatuh waktu di bandara. Kaki saya harus dijahit karena sobek terkena besi," jawab Johan dengan sikap yang tegas, "lalu, bagaimana, Bu? Apakah saya bisa mendapatkan restu dari Ibu untuk mempersunting Nisa?" tanya Johan. Sepertinya pemuda itu tidak mau membuang waktunya lagi.
"Boleh saya tahu apa syarat yang Ibu minta?" tanya Johan.
"Pertama, jika ingin menikah dengan Nisa, tunggu dia sampai lulus kuliah. Kalau kamu memang ingin tunangan terlebih dahulu silahkan. Akan tetapi untuk menikah, saya ingin dia lulus terlebih dahulu. Lagi pula menunggu dua tahun tidak terlalu lama 'kan? Kamu bisa fokus dengan pekerjaanmu dan Nisa fokus dengan pendidikannya." Badiah menatap lekat pemuda yang sedang menyimak pembicaraannya.
"Untuk yang kedua, jika setelah menikah saya masih diberikan umur panjang. Tolong jangan bawa Nisa ke Jakarta. Carilah tempat dinas di sekitar Surabaya atau Mojokerto. Tinggallah di rumah ini karena saya tidak mau jauh dari Nisa. Saya tidak mau sendirian di masa tua. Mungkin ini berat untukmu, tetapi ini permintaan seorang Ibu yang hanya ingin dekat dengan putrinya. Apa kamu sanggup?"
"Bu, tetapi Ibu bisa tinggal dengan Fina di Surabaya 'kan?" sahut Fina setelah mendengar syarat berat dari Ibunya. Namun, putri sulung Badiah itu tidak berani melanjutkan ucapannya ketika melihat Badiah mengarahkan tangan ke arahnya, sebagai kode agar Fina tidak ikut campur mengenai masalah ini.
Johan tak segera menjawab karena mungkin saja sedang memikirkan syarat yang diajukan oleh Badiah. Dia menundukkan kepala selama beberapa menit dan tak lama setelah itu dia kembali menatap Badiah.
"Saya siap memenuhi syarat yang ibu ajukan," ucap Johan dengan tegas.
__ADS_1
"Baiklah. Kapan kamu datang melamar bersama kedua orang tuamu?" tanya Badiah.
"Tolong beri saya waktu maksimal tiga bulan lagi untuk membawa orang tua saya datang melamar. Banyak hal yang harus saya persiapkan untuk melamar Nisa," jelas Johan dengan tatapan tegas.
"Baik. Saya tunggu dalam waktu tiga bulan ini." Badiah pun tak kalah tegasnya dengan Johan.
"Sebagai bukti jika saya serius dengan Nisa, saya memiliki barang yang sudah saya titipkan kepada Nisa beberapa bulan yang lalu," ucap Johan seraya menatap Badiah. Lantas dia mengalihkan pandangan ke arah Nisa, "ambilkan yang ada di kotak hitam, Nis," ujar Johan hingga membuat Nisa segera beranjak dari tempatnya.
Tak lama setelah itu, Nisa kembali ke ruang tamu dengan membawa kotak hitam pemberian dari Johan kala itu. Dia memberikan kotak tersebut kepada pemiliknya. Lantas, Nisa duduk kembali ke tempat asal dan melihat apa yang dilakukan oleh Johan.
"Cincin ini adalah barang turun temurun dari nenek yang diberikan Mama saat saya akan berangkat mengemban misi di Surabaya. Saya mempersembahkan cincin ini untuk Nisa sebagai tanda jika saya benar-benar serius kepadanya. Bolehkan saya menyematkan cincin ini di jari Nisa, Bu?" Johan menatap lekat ke arah Badiah.
Badiah tak segera menjawab karena dia sedang mengamati cincin itu. Ya, dia ingat jika cincin itu dulu pernah dipakai Rahayu. Tentu Badiah tahu jika cincin itu sangat berharga bagi keluarga mereka. Lantas, Badiah beralih menatap Nisa yang sedang tertunduk di sisi Fina. Helaian napas berat pun terdengar di sana. Meski berat melepas Nisa bersama Johan, tetapi dia tidak tega terus terusan menjadi penghalang hubungan mereka.
"Silahkan saja jika Nisa memang bersedia lamaranmu," ucap Badiah hinga membuat Nisa menatap ke arahnya.
"Aku mau, Bu!" tegas gadis berhijab itu.
Tanpa mengulur waktu lebih lama lagi, Johan mendekat ke tempat Nisa berada. Dia menyematkan cincin permata itu di jari manis Nisa. Senyum keduanya mengembang begitu saja karena pada akhirnya berhasil mengalahkan ego dan mendapat restu dari Badiah.
"Berhubung kamu dan Nisa bukan muhrim, jadi ... saya tidak akan membiarkan kamu menginap di sini. Cari hotel atau penginapan saja. Tidak baik jika kamu menginap di sini karena status kalian bukanlah suami istri," jelas Badiah setelah membiarkan kedua sejoli itu tersenyum bahagia.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Alhamdulillah, akhirnya ... lega kan yaπ...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1