Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Ketika Sanca Dipertanyakan!


__ADS_3

"El, bagaimana hari pertama di sekolah baru?" tanya Fina setelah duduk di sofa yang ada di ruang keluarga bersamaan dengan anak dan suaminya. Mereka baru selesai menikmati makan malam bersama.


Elza tak segera menjawab pertanyaan itu. Dia membuka tas ranselnya untuk mengeluarkan beberapa buku baru dan surat edaran dari sekolah. Lantas, dia memberikan surat tersebut kepada Fina.


"Ini ada surat dari bu guru. Semuanya dapat surat seperti ini untuk orang tua," jelas Elza sambil menyerahkan selembar surat edaran kepada Fina.


"Oh, undangan rapat untuk wali murid," gumam Fina setelah membaca isi surat tersebut, "jadi bagaimana, Sayang? Bahagia gak di tempat yang baru?" tanya Fina sekali lagi.


Sementara Elza hanya bisa mengela napas yang berat. Jika dilihat dari ekspresi wajahnya, bisa dipastikan jika putra sulung Benny itu kurang bahagia. Dia tak kunjung menjawab hingga membuat Fina semakin penasaran.


"Aku gak suka, Ma, karena tempat duduknya ditentukan sama guru kelas. Aku satu bangku sama Safa!" keluh Elza dengan wajah yang tertekuk.


"Bagus dong, El. Berarti Elza tidak perlu kenalan lagi. Enak kan duduk sama teman lama," ucap Fina seraya menatap putra sambungnya itu.


"Aku gak suka, Ma! Aku pengennya duduk sama Nawal, tetapi bu guru malah menyuruh duduk sama Safa," jelas Elza dengan wajah yang masih tertekuk hingga membuat Benny mengembangkan senyumnya.


"Oh iya, aku tadi dapat buku bacaan dari bu guru. Katanya kalau di rumah harus dipelajari. Ini jadwal pelajarannya, Ma!"


Elza mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan jadwal pelajaran yang diberikan oleh guru kelas. Dia mulai menyiapkan buku sesuai dengan jadwal di hari esok. Tentu hal ini tidak luput dari bantuan Fina. Wanita cantik itu dengan telaten memberikan arahan kepada putranya yang masih bingung dengan jadwal pelajaran.


"Berarti aku hanya bawa buku sesuai dengan jadwal yang ada di hari kamis ini ya, Ma?" tanya Elza seraya menunjuk kolom nomor empat.


"Iya. Betul banget. Berhubung buku pelajarannya sudah masuk ke dalam tas, sekarang Elza harus segera istirahat agar besok pagi tidak terlambat bangun, oke?" ujar Fina seusai merapikan semua buku Elza, "kalau yang ada di atas meja, biar nanti Mama yang membawa ke kamar Elza," lanjut Fina seraya mengembangkan senyum tipis.


Bocah berusia enam tahun itu bergegas pergi dari ruang keluarga tanpa protes sedikitpun, karena saat ini memang sudah waktunya istirahat. Dia selalu disiplin dengan jadwal sehari-hari yang sudah diterapkan Fina sejak dia masih sekolah TK.


"Aku gak nyangka jika Elza udah masuk SD aja. Perasaan baru kemarin lusa aku mengasuhnya. Huuh! Bocah yang dulu menguras kesabaran, ternyata sekarang sudah besar dan sangat cerdas," gerutu Fina setelah kepergian Elza dari ruang keluarga.

__ADS_1


"Iya. Aku juga merasa begitu. Rasanya, Elza tumbuhnya cepat sekali. Dia yang dulu menguras hati dan pikiranku, sekarang sudah menjadi anak yang sangat baik. Aku sampai heran, kok bisa Elza berubah begini." Benny pun ikut berkomentar mengenai putranya.


"Hillih! Mas bukannya sibuk pacaran sama Mbak Poppy dan ulet bulu itu?" cibir Fina sambil melengos dari hadapan Benny.


"Hmmm ... iya deh, aku sempat melupakan Elza. Semua ini karena kamu, Sayang," ucap Benny seraya menepuk paha Fina karena salah tingkah.


Sepasang suami istri itu akhirnya menghabiskan waktu di sana dengan obrolan ringan, canda dan tawa. Menikmati momen bersama dengan ditemani dua cangkir mochaccino late. Fina menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu.


"Mas, aku tuh penasaran dengan satu hal," gumam Fina dengan jari telunjuk yang bermain-main di atas paha Benny.


"Apa itu? Katakan saja!" Benny mengernyitkan keningnya dan setelah itu menatap ke bawah.


"Si sanca masih normal kan, Mas?" tanya Fina seraya menegakkan tubuh agar bisa menatap wajah tampan suaminya.


"Pertanyaan macam apa ini?" Benny terkejut setelah mendengar pertanyaan itu, "Sayang, kamu sehat 'kan?" Benny malah bertanya balik sambil menyentuh kening Fina dengan punggung tangannya.


"Jadi begini ... emmm,"


Fina menghentikan ucapannya karena belum menemukan rangkaian kata yang tepat untuk menjawab dari pertanyaan itu. Sebenarnya dia sendiri malu saat memutuskan untuk membahas masalah penting ini, tetapi jika terus dipendam, dia pun semakin penasaran.


"Begini loh, Mas ...." Hembusan napas yang berat terdengar di sana. Fina mengusap wajahnya kasar karena tak kunjung menemukan kata-kata yang tepat.


"Mas kan sudah sembuh nih ya, aku pun sudah pulih pasca kejadian kelam beberapa bulan yang lalu. Terus kenapa sampai sekarang Mas belum minta 'nananinu'?" tanya Fina dengan senyum tipis dan wajah yang bersemu merah, "apa si sanca terganggu karena keretakan tulang ekor? Kok rasanya udah lama aku tidak melihatnya," tanya Fina sambil mengulum senyum.


"Dasar mesum!" sarkas Benny sambil menangkup pipi istrinya itu. Kali ini dia membalas kata-kata yang biasa dilontarkan Fina kepadanya.


"Lah aku hanya menanyakan saja, Mas! Kalau memang bermasalah, ya kita periksa aja ke dokter!" kilah Fina karena tidak mau terlalu menunjukkan jika sebenarnya dia rindu akan kehangatan itu.

__ADS_1


"Bilang saja kalau kamu lagi pengen!" Benny mengerlingkan mata dengan genit.


"Ogah! Sok tahu banget!" sergah Fina seraya memalingkan wajah ke arah lain karena malu.


"Hmmm ... istriku gengsinya gede banget!" Benny bergumam sambil menoel perut Fina.


"Udah ih! Jangan begitu. Mas bilang saja lah kalau memang sanca sedang bermasalah." Fina masih penasaran dengan jawaban suaminya.


Ekspresi wajah tengil yang biasa ditunjukkan ayah dari Elzayin itu mendadak berubah sendu. Dia menyandarkan punggungnya di sofa, tatapan matanya pun beralih dari Fina. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran pria tampan itu.


"Aku belum siap melakukan itu, Fin," gumam Benny dengan tatapan serius.


"Gak percaya ih! Gak mungkin!" Tentu Fina tidak percaya dengan jawaban tersebut karena dia pikir Benny hanya menggodanya saja.


"Aku serius, Sayang!" Nada bicara Benny penuh penekanan sehingga membuat Fina gelagapan.


"Lalu?" Fina menunggu kelanjutan penjelasan suaminya.


"Sejak kejadian itu aku merasa trauma. Aku tahu bagiamana kamu kesakitan saat akan melahirkan, ditambah dengan luka akibat kecelakaan. Sungguh, aku tidak tega jika mengajakmu untuk melakukan hal itu dalam waktu dekat ini. Aku hanya takut kamu kembali merasakan sakit saat kita melakukannya lagi. Selama ini aku harus berusaha keras menahan segala gejolak yang muncul ketika kamu ada bersamaku, Fin," jelas Benny dengan kepala tertunduk. Setiap kejadian menyakitkan itu terlintas dalam pikiran, bersamaan dengan itu pula rasa tidak tega hadir dalam diri.


Fina terkejut setelah mendengar penjelasan yang lolos dari bibir suaminya. Dia tidak pernah menyangka jika luka yang dialami Benny tidak hanya ada di fisiknya, melainkan ada dalam batin dan pikirannya.


"Mas, aku benar-benar pulih kok. Mas jangan menyalahkan diri sendiri terus agar rasa traumanya segera pergi. Aku sudah siap kok melakukan hubungan itu lagi. Sudah saatnya kita bangkit dari keterpurukan loh, Mas." Fina mencoba memberi pengertian kepada suami yang kehilangan kemesumannya untuk sementara waktu.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Perlu ditulis gak nih beb unboxing kedua? Yuk komen😎...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2