
"Mas, kamu sakit?" tanya Fina setelah melihat wajah pucat suaminya itu. Mereka baru saja masuk ke dalam kamar karena tidak ada lagi tamu yang hadir. Hanya ada para tetangga yang masih di sana untuk berkumpul atau di Mojokerto biasa disebut 'melekan'.
Tanpa menjawab, Benny merebahkan badan di tempat tidur yang tertata rapi dengan sprei merah muda. Kamar tak seberapa luas itu didekorasi dengan indahnya agar menunjang suasana romantis malam pertama. Benny masih mengenakan setelan jas lengkap.
"Sebenarnya sejak tadi kepalaku pusing banget. Pengen muntah juga," keluh Benny seraya memijat pangkal hidungnya.
"Terus udah minum obat?" tanya Fina setelah duduk di tepian ranjang. Gadis cantik itu pun masih memakai kebaya simple yang dipakai terakhir kali sebelum MUA pulang.
"Belum sih," jawabnya tanpa membuka kelopak matanya.
"Mau teh panas? Siapa tahu bisa meredakan rasa pusingnya?" tawar Fina seraya menatap Benny dengan rasa iba. Baru kali ini dia melihat lemas seperti itu, "lebih baik Mas ganti baju dulu deh, biar lebih nyaman istirahatnya," ucap Fina seraya berdiri dari tempatnya.
Fina mendekatkan tas ransel berisi beberapa potong pakaian ganti milik suaminya itu. Setelah itu, dia pun membuka almarinya untuk mengambil pakaian ganti. Dia keluar dari kamar meninggalkan Benny seorang diri yang sedang merasakan sakit kepala.
"Ya ampun kenapa mendadak sakit begini! Padahal ini malam yang aku tunggu-tunggu loh!" jerit Benny dalam batinnya.
Tak berselang lama Fina kembali lagi ke dalam kamar. Kali ini dia sudah memakai setelan piyama lengan panjang dengan kerudung segi empat yang menutupi rambutnya. Dia masuk dengan membawa segelas teh hangat untuk suaminya.
"Mas ini ada obat sakit kepala dan teh hangat. Lebih baik Mas minum dulu dan setelah itu istirahat," ucap Fina seraya menyerahkan dua barang yang ada di tangannya.
"Terima kasih, Sayang," jawabnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Benny segera minum obat tersebut agar rasa pusing yang menyerang saat ini segera hilang.
"Mas istirahat saja, aku mau ke kamarnya Nisa minta bantuan untuk menghapus make-up ku," pamit Fina sebelum berdiri dari tepian ranjang.
"Jangan terlalu lama," ucap Benny dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
Hanya senyum manis yang menjadi jawaban gadis cantik itu sebelum keluar dari kamar. Sekali lagi Benny mendengus kesal karena keadaan tubuh yang tidak bersahabat. Momen indah yang sudah dibayangkan sepertinya akan pupus jika rasa sakit di kepala tak kunjung reda. Tentu permainan tidak akan seru jika si 'sanca' tidak singkron dengan kondisi tubuh.
"Mana pakai demam lagi, duh!" gerutu Benny sambil mendengus kesal. Dia menarik selimut yang ada di sana untuk menutupi sekujur tubuh yang terasa menggigil.
Setelah hampir tiga puluh menit lamanya berada di kamar Nisa, kini Fina kembali lagi ke kamarnya. Dia mengernyitkan kening ketika melihat tubuh yang ada di balik selimut. Dia merasa khawatir saat melihat kondisi suaminya itu.
"Mas Benny ini sakit apa ya?" gumam Fina setelah duduk di tepian ranjang. Dia memberanikan diri menyentuh kening itu, "demam ternyata," gumamnya setelah merasakan suhu badan Benny.
"Udah balik dari tadi kah?" tanya Benny setelah membuka kelopak matanya. Tentu dia bisa merasakan sentuhan halus itu meski dalam keadaan tertidur.
"Belum lama, Mas. Bagaimana kalau kita ke puskesmas saja? Mas demam begini," ucap Fina seraya menatap Benny dengan sorot mata khawatir.
"Tidak perlu, Sayang," tolak Benny setelah mengubah posisinya menjadi duduk berselonjor di sisi Fina, "tolong kerok saja punggungku. Mungkin masuk angin karena tiga hari ini aku kurang tidur. Bisa 'kan?" pinta Benny.
"Bisa, Mas. Tetapi tidak ada minyak anginnya. Cuma ada minyak zaitun. Bagaimana?" tanya Fina setelah beranjak dari tempatnya. Lantas dia berdiri menuju meja rias untuk mencari uang koin dan mengambil minyak.
Setelah mendapatkan peralatan yang dibutuhkan, Fina segera melakukan tugasnya. Dia merasa gugup karena melihat punggung putih yang ada di hadapannya, dengan gerakan lembut dan hati-hati, tangan itu bergerak di sana. Perlahan punggung putih itu berubah menjadi merah setelah beberapa kali dikerok pakai koin.
"Ini masuk anginnya parah, Mas," gumam Fina setelah melihat bagaimana warna merah yang tercetak di punggung tersebut.
"Padahal aku gak pernah masuk angin seperti ini. Gak enak banget rasanya," ucap Benny.
Beberapa menit kemudian, Fina telah menyelesaikan tugasnya. Dia meraih tissu yang ada di atas meja rias untuk membersihkan punggung itu dari sisa minyak zaitun. Benny kembali memakai kaosnya karena masih merasa menggigil.
"Terima kasih, Sayang," ucapnya dengan senyum yang manis setelah membalikkan badan hingga berhadapan dengan istrinya itu.
__ADS_1
Senyum manis mengembang dari kedua sudut bibir pria tampan itu. Tatapan matanya tak lepas dari objek indah yang ada di hadapannya. Dia mencoba fokus agar melupakan rasa sakit dan fokus pada apa tujuannya malam ini.
"Kamu sangat cantik," puji Benny hingga membuat Fina tersipu malu, "kamu sudah menjadi milikku seutuhnya. Apa boleh aku melihat keindahan rambut yang selama ini kamu sembunyikan di balik kerudung ini?" tanya Benny saat meminta izin untuk melepas kerudung yang dipakai Fina.
Gadis cantik itu mengembangkan senyumnya karena merasa malu mendapati pertanyaan itu. Dia berharap Benny tidak banyak bertanya tentang hal-hal seperti ini karena tidak tahu harus menjawab bagaimana. Dia hanya menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
Pria yang sudah terlepas dari status duda itu menarik jarum pentul yang tersemat di bawah dagu Fina. Dia meletakkan jarum pentul itu di atas meja. Perlahan kerudung pasmina itu terlepas dengan sendiri hingga rambut hitam yang indah itu terlihat dengan jelas.
"Terima kasih telah menjaga semua keindahan ini dari mata laki-laki," ucap Benny dengan senyum yang sangat manis. Padahal saat ini dia sedang menahan rasa mual yang sedang bergejolak di dalam perutnya.
Untuk pertama kalinya, Benny melihat Fina tanpa hijab dalam jarak yang sangat dekat. Tangannya terulur menyentuh pipi mulus itu dan setelah itu jari-jemarinya membelai pipi sehalus sutera milik wanita yang masih perawan itu.
Fina memejamkan mata saat Benny semakin mengikis jarak yang ada. Degup jantungnya semakin tak beraturan setelah merasakan napas hangat dari pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Namun, tidak lama setelah itu Fina membuka kelopak matanya setelah merasakan pergerakan tempat tidurnya. Dia memicingkan mata ketika melihat Benny buru-buru turun dari ranjang sambil membekap mulutnya.
"Hoek ... hoek!"
Fina bergegas turun setelah melihat Benny mual dan sepertinya ayah dari Elzayin itu ingin muntah. Dia buru-buru mengikuti Benny yang sudah keluar dari kamar. Mungkin pria tampan itu pergi ke kamar mandi.
"Apa mas baik-baik saja? Buka pintunya, Mas!" ujar Fina sambil mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu. Dia merasa khawatir setelah mendengar Benny tak henti memuntahkan isi perutnya.
Malam pertama yang indah sepertinya gagal dilakukan. Sungguh kasihan nasib si sanca karena tidak menemukan sarangnya.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Yaealah mas dud masuk angin lagi🤣Ada yang mau ngerokin gak nih😆...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...