Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Kondangan Ketemu Mantan


__ADS_3

Satu minggu kemudian,


"Sayang, sudah selesai kah?" teriak Benny karena Fina tak kunjung keluar dari kamar.


Malam ini mereka akan menghadiri pesta pernikahan salah satu staf di industri sepatu milik Benny. Elza pun akan ikut bersama mereka agar tidak sendirian di rumah. Pria tampan itu pun sudah rapi dengan kemeja navy serta blazzer hitam yang dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam.


"Sabar kenapa sih, Mas! Wanita kalau dandan memang lama!" ujar Fina setelah keluar dari kamar. Penampilan ibu sambung Elzayin malam ini sangat istimewa karena dia memakai setelan kebaya modern kutu baru berwarna navy.


"Waw! Istriku cantik sekali," puji Benny setelah mengamati penampilan Fina malam ini.


"Lah, dari dulu kemana saja kok baru nyadar kalau aku cantik?" tanya Fina dengan tatapan aneh.


"Kamu yakin mau pakai heels? Apa tidak terlalu bahaya?" tanya Benny setelah melihat heels yang dipakai istrinya.


"Gak masalah kali, Mas! Ini gak terlalu tinggi. Ayo berangkat! Elza pasti sudah menunggu di depan," ajak Fina seraya meninggalkan Benny yang mematung di sisi pagar pembatas lantai dua.


Benar saja, ternyata Elza sudah menunggu di teras rumah. Bocah kecil itu sangat antusias bila diajak kondangan. Malam ini penampilannya pun terlihat rapi, sehingga bocah kecil itu terlihat keren. Mereka bertiga segera berangkat menuju tempat resepsi pernikahan yang ada di salah satu gedung serbaguna di Surabaya.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di tempat parkir gedung tersebut. Benny menggandeng Fina yang ada di sisinya, sementara Elza ada di sisi kirinya. Kehadiran Benny di sana disambut oleh beberapa keluarga dari pengantin pria karena mantan duda itu menjadi tamu spesial di sana.


"Selamat datang untuk tamu spesial malam ini, Bapak Benny beserta keluarga selaku owner AlasKa." Benar saja kehadiran mereka disambut oleh MC yang memandu jalannya resepsi malam ini. Acara dangdut pun mengiringi acara tersebut. Banyak penyanyi cukup terkenal yang menghibur acara pernikahan itu.


Benny membawa Fina dan Elza duduk di deretan meja paling depan yang dekat dengan pelaminan dan panggung hiburan. Mereka mengembangkan senyum saat mendapat sambutan dari wakil mempelai pengantin putra.


"Sayang, mau makan apa?" tanya Benny seraya menatap Fina.

__ADS_1


"Nanti saja deh, Mas. Aku belum lapar," jawab Fina dengan senyum yang tak terus mengembang di kedua sudut bibirnya.


Fina menikmati hiburan yang ada di sana. Dia suka melihat dua penyanyi dangdut yang berpenampilan sangat sopan itu. Mereka tidak genit ataupun centil seperti biduan yang sering dia jumpai di beberapa acara. Namun, senyum merekah itu surut begitu saja tatkala seorang biduan yang lain mendapat giliran tampil.


"Kenapa dia nyanyi di sini sih! Merusak acara saja!" gerutu Fina tanpa melepaskan pandangan dari sosok yang berdiri di atas panggung. Moodnya mendadak berubah karena ternyata salah satu biduan yang mengisi acara itu adalah Renata.


"Feelengku mendadak gak enak ini," batin Benny setelah tahu jika Renata mengisi acara tersebut.


"Mas Pengantin ... bagaimana kalau bosnya diajak naik ke panggung, biar bisa nyawer kami nih!" Terdengar suara manja Renata menggema di ruangan tersebut.


Fina mencengkram paha Benny dengan kuat. Tentu dia tidak setuju jika Benny sampai naik ke atas panggung. Apalagi, biduannya adalah Renata, "Mas, aku lapar ... makan yuk!" ajak Fina agar Benny tidak malu saat menolak naik ke atas panggung.


Benny hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda penolakan secara halus. Dia mengembangkan senyum tipis kepada pengantin yang sedang berbahagia di atas pelaminan itu.


"Cie ... Pak Bos nya takut sama Bu Bos nih!" Renata sepertinya sengaja memprovokasi sepasang suami istri itu.


"Berani Mas naik ke atas panggung, tanggung sendiri risikonya! Gak akan jatah selama satu bulan!" ancam Fina saat mereka baru sampai di tempat catering.


"Tenang aja. Aku gak bakal naik kok," jawab Benny dengan tegas, "kita ambilkan sekalian makanan untuk Elza," lanjut Benny.


Setelah beberapa menit berada di sana, mereka berdua kembali ke meja asal. Elza masih tetap di tempatnya sambil mengamati segala hal yang ada dalam pesta tersebut. Mereka tak menghiraukan Renata yang sedang menghibur di atas panggung.


"Ma, itu si nenek sihir kenapa menatap Papa terus sih? Aku gak suka!" bisik Elza sambil menepuk lengan ibu sambungnya itu.


"Biarkan saja, Nak. Elza fokus makan saja," jawab Fina sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Hingga beberapa puluh menit kemudian, Renata telah selesai menghibur para tamu undangan. Tanpa diduga, dia turun dari panggung dan berjalan ke arah meja yang ditempati Benny. Tentu feeling mantan duda itu semakin tidak enak, dia bisa menebak jika Renata pasti akan datang menemuinya.


"Hai ... apa kabar?" sapa Renata dengan sikap sok akrab. Dia mengulurkan tangan kepada Benny dan Fina.


"Hai." Benny menyapa balik mantan kekasihnya itu dengan senyum tipis, sementara Fina hanya menampilkan senyum yang dipaksakan.


"Bagaimana kabarnya? Apa pernikahan kalian bahagia? Eh maksudku apa sudah diberi momongan?" tanya Renata asal. Sepertinya dia sengaja melayangkan pertanyaan itu untuk memancing emosi Fina.


"Alhamdulillah istriku hamil dua bulan," jawab Benny singkat.


"Wah, topcer juga nih!" Renata tersenyum penuh arti, "bagaimana ... bagaimana? Apa yang tertutup begini lebih menarik, Pak Ben?" Sebuah sindiran yang dibungkus dengan candaan. Akan tetapi efeknya membuat Fina merasa kesal.


"Pasti dong kalau itu! Karena tertutup kan hanya di luar, agar tidak ada orang yang tahu. Kalau di dalam pastinya terbuka dong. Ya ... aku sih lebih suka dan tertantang sama yang tertutup daripada yang dibiarkan terbuka di tempat umum." Benny membalas sindiran Renata dengan sikap yang tegas.


Seketika mata abu-abu itu terbelalak karena tidak menyangka jika sang mantan akan menjawab seperti itu. Ingin marah dan memaki tapi rasanya tidak mungkin, karena ini di tempat umum. Niat hati ingin membuat Fina cemburu, tetapi gagal total. Justru dia sendiri yang malu karena Benny benar-benar tak menghiraukannya.


"Oke, silahkan dilanjutkan. Aku mau kembali ke sana lagi," pamit Renata sebelum berdiri dari kursi yang dia tempati.


"Bodo amat!" sahut Fina dengan sinis.


Benny bernapas lega karena pada akhirnya Renata pergi dari sana. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti setelah pulang dari resepsi ini. Sudah bisa dipastikan jika Fina tidak akan tinggal diam.


"Kalau sudah selesai makan. Kita naik ke atas pelaminan yuk untuk mengucapkan selamat kepada pengantinnya," ajak Benny setelah selesai makan.


...๐ŸŒนTo Be Continued ๐ŸŒน...

__ADS_1


...Bonus akhir bulan๐Ÿ˜4 episode hari ini๐Ÿ˜...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


__ADS_2