
Hari yang ditunggu Benny dan Fina akhirnya tiba setelah melewati jalan panjang menuju pelaminan. Tenda pernikahan sudah terpasang sejak kemarin. Halaman rumah Badiah yang luas itu nyatanya tidak cukup untuk mendirikan tenda pernikahan megah yang dipersembahkan Benny untuk calon istrinya itu. Tenda tersebut sampai meluber ke jalan sehingga jalan di depan rumah Badiah di tutup sementara.
Foto prewedding, undangan, souvenir sudah dipesankan pihak WO karena duda tampan itu tidak mau ribet mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan pesta. Tentu Fina hanya bisa nurut saja, karena semua ini murni keinginan Benny. Tidak ada resepsi pernikahan di Surabaya karena ini adalah pernikahan yang kedua kalinya.
Gadis cantik itu duduk di depan rumah. Mengamati setiap penjuru tenda pernikahannya. Sungguh, dia tidak pernah menyangka jika akan melaksanakan pernikahan semegah ini. Dalam bayangannya dia akan melaksanakan pernikahan sederhana yang tidak mengeluarkan banyak biaya, karena dia sadar diri jika tidak mempunyai banyak biaya untuk menyewa tenda pernikahan sebagus ini. Air mata menggenang di pelupuk mata karena rasa haru yang menyelimuti jiwa.
"Andai saja ayah ada di sini, melihat Fina menikah dengan pria yang tepat. Pasti rasanya lebih membahagiakan. Andai saja ayah masih hidup, pasti bisa menjadi wali nikah Fina," batin Fina dengan pandangan lurus ke depan.
Sekuat apapun dia menahan rasa rindu itu, pada akhirnya runtuh juga. Air mata mengalir begitu saja karena rasa rindu semakin menggebu. Banyak angan yang terlintas dalam pikiran karena kerinduan yang tidak bisa untuk digapai.
"Mbak, kenapa belum masuk? Ini sudah malam loh," ucap Nisa saat menepuk bahu Fina.
"Aku ingat ayah, Nis. Andai ayah masih ada, pasti beliau bahagia karena punya menantu," jawab Fina dengan suara yang bergetar.
Tak lama setelah itu, Badiah pun datang menemui kedua anak gadisnya itu. Tentu wanita paruh baya itu tahu apa yang sedang dipikirkan putrinya. Padahal dia pun merasakan hal yang sama. Sejak tenda pernikahan berdiri megah di depan rumahnya, sejak itu pula bayang-bayang mendiang suaminya hadir dalam pikirannya.
"Tidak baik calon pengantin masih di luar di jam-jam seperti ini," ucap Badiah setelah duduk di hadapan Fina.
"Fina ingin menghirup udara segar, Bu. Berada di kamar membuat dada terasa sesak. Fina seperti ditunggu ayah," ucap gadis cantik itu.
"Seharusnya kamu tidak seperti ini, Nak. Banyak istighfar agar hati terasa tenang. Kalau kamu nangis terus, besok pagi matamu jadi sembab. Kamu tidak akan terlihat cantik, Nak." Badiah mencoba menenangkan putrinya.
__ADS_1
"Memangnya kamu mau suamimu kecewa setelah melihat istrinya menjadi jelek? Padahal dia sudah mengeluarkan banyak uang untuk semua ini. Tentu dia ingin melihat kamu seperti ratu yang cantik. Ayolah, Nak. Buang jauh kesedihanmu! Saat ini waktunya kamu bahagia. Biarkan ayah ada di hati kita masing-masing," ucap Badiah sambil meraih tangan putrinya. Dia menggenggam erat tangan itu.
"Besok kamu akan mendapatkan pria pengganti ayahmu. Seorang suami akan melindungi istrinya sama seperti seorang ayah melindungi anaknya. Dia akan menjadi panutanmu, bertanggung jawab atas hidupmu dan tentunya membahagiakanmu. Babak baru dalam hidupmu akan dimulai besok pagi, Nak. Sambut dengan suka cita, jangan kesedihan seperti ini," tutur Badiah seraya mengembangkan senyum tipis.
Ketiga wanita itu akhirnya masuk ke dalam rumah setelah saling menguatkan. Badiah berhasil mengembalikan keceriaan kedua putrinya. Entah bagaimana caranya.
...๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ...
Malam telah berganti pagi karena terus mengikuti waktu. Rumah Badiah sudah dipenuhi tetangga yang dimintai bantuan untuk 'biodo' dalam pernikahan Fina. Keadaan rumah tersebut cukup ramai karena mereka harus mempersiapkan 'berkat' untuk pengiring pengantin dari Surabaya. Fina sendiri sejak pukul setengah enam pagi sudah dikurung di dalam karena oleh MUA yang bertugas hari ini.
Akad nikah akan diselenggarakan nanti pukul delapan pagi. Acara sakral tersebut akan dilaksanakan di depan pelaminan, di mana ada tempat khusus yang sudah disediakan oleh pihak WO. Maka dari itu, MUA tersebut datang lebih awal, agar riasanya selesai tepat waktu.
Badiah, Nisa dan beberapa kerabat lain pun sudah bersiap di ruang tamu. Mereka menunggu giliran dirias oleh asisten MUA nya. Pagi ini Fina akan mengenakan kebaya putih tulang saat akad nikah dan beludru hitam saat upacara pernikahan. Gadis cantik itu memilih adat jawa saat upacara, tentu tanpa harus melepas hijabnya.
"Mungkin Mbak Fina mau sarapan dulu? Sebelum lipstiknya saya tambahkan," tanya MUA tersebut sambil mencampur lipstik agar mendapatkan warna yang diinginkan.
"Tidak, Mbak. Saya sudah makan tadi," jawab Fina.
"Kalau begitu saya pertebal lipstiknya," ucap MUA tersebut sebelum memberikan sentuhan terakhir pada bibir tipis itu.
Detik demi detik talah berlalu begitu saja. Setelah berkutat di dalam kamar sejak pagi buta, akhirnya MUA tersebut menyelesaikan tugasnya. Dia membawa Fina keluar dari kamar setelah kebaya putih melekat di tubuh gadis cantik itu. Bentuk tubuh yang selama ini tertutup pakaian over size, kini terlihat berbentuk. Lekuk tubuh yang indah terlihat jelas karena kebaya yang dikenakannya.
__ADS_1
"Masyaallah putriku cantik sekali!" puji Badiah setelah melihat kehadiran Fina di ruang tamu. Begitupun para kerabat yang ada di sana, mereka berdecak kagum melihat kecantikan yang selama ini tersembunyi dari wajah itu.
"Ya Allah, Mbak. Aku minder rasanya. Kenapa Mbak cantik banget sih!" Nisa sampai tak berkedip saat mengamati kakaknya.
"Ini hasil seni dari Mbak Vita, selaku MUA pagi ini. Jadi puji saja Mbak Vita nya," ucap Fina seraya menatap wanita sintal yang sedang merapikan ekor kebayanya.
"Ini juga karena pengantinnya yang cantik dan jarang make-up. Maka dari itu begitu dimake-up seperti ini hasilnya sangat bagus." Vita mengembangkan senyumnya. Dia sendiri sangat puas melihat hasil karyanya pagi ini.
Tak berselang lama, ada salah satu kerabat yang masuk ke dalam ruang tamu. Dia memberitahu jika Benny dan keluarganya sudah hadir di sana bersamaan dengan penghulu berserta jajarannya. Tentu berita ini membuat Fina menjadi gugup karena tidak lama lagi akad nikah akan dilaksanakan.
"Gak usah panik, Sayang. Bismillah, menikah karena ibadah," ucap Badiah saat melihat kegelisahan yang terpancar dari sorot mata putrinya.
"Fina gugup, Bu," keluhnya.
"Itu adalah hal yang wajar dirasakan semua pengantin, Nak," tutur Badiah tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik putrinya.
Perasaan wanita paruh baya itu menjadi tak karuan karena proses akad nikah semakin dekat. Sekuat tenaga dia harus menahan rasa haru, bahagia dan sedih yang membaur menjadi satu. Air mata pun rasanya ingin mengalir deras, tetapi janda dua anak itu harus menahannya agar Fina tidak ikut menangis. Tentu dalam hal ini, dia pun teringat mendiang suaminya.
"Ya Allah, Pak. Anakmu sudah dewasa dan akan menjadi istri orang. Andai saja kamu ada di sini, pasti kamu akan bahagia melihat putrimu menikah," batin Badiah ketika mengamati wajah cantik Fina.
...๐นTo Be Continued ๐น...
__ADS_1
...Jangan lupa siapkan ampao yeee untuk kondangan๐ingat dresscod nya putih!! Putih tulang boleh asal bukan putih pocong๐...
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...