
Malam semakin larut karena terus mengikuti putaran waktu. Latihan pencak silat telah usai setelah hampir dua jam lamanya mereka latihan jurus-jurus dasar. Tentu latihan anak yang lain berbeda dengan Elza, bocah berusia enam tahun itu mendapatkan latihan khusus dari Aris dan pelatih yang lain. Dia sedang dipersiapkan untuk mengikuti KEJURKAB dua bulan lagi.
Tok ... tok ... tok ....
Fina dan Elza saling pandang saat mendengar ketukan pintu ruang tamu. Wanita berbadan dua itu menatap jam dinding sekilas. Penunjuk waktu sudah berada di angka dua belas malam.
"El, kira-kira siapa yang datang? Masa iya malam-malam begini ada tamu?" tanya Fina seraya menatap putranya.
"Ayo kita lihat, Ma! Kalau sampai ada orang jahat, biar aku yang melawan mereka!" ujar Elza tanpa rasa takut sedikitpun. Dia meraih tangan Fina untuk digandeng menuju ruang tamu.
Ada rasa takut yang hadir dalam diri wanita berbadan dua itu ketika menerka siapa yang datang di tengah malam seperti ini. Apalagi, Benny sedang tidak ada di rumah. Dia berhenti di balik pintu bersama Elza.
"Aris!"
"Kang Aris!"
Ibu dan anak itu terkejut bukan main setelah melihat kehadiran Aris di depan pintu. Tanpa berpikir panjang, Fina kembali menutup pintu berwarna putih agar Aris tidak bisa masuk ke dalam rumahnya. Dia tahu jika pria beristri itu pasti memiliki niat buruk, sehingga datang di waktu seperti ini.
"Jangan harap kamu bisa menutup pintu rumah ini, Sayang," ucap Aris dengan senyum smirk. Dia menahan pintu tersebut dengan kuat.
"Jangan gila kau! Pergi dari sini!" Fina terus mendorong pintu rumah itu agar tertutup.
"Aku harus mendapatkanmu malam ini juga! Kamu harus menjadi milikku! Aku tidak rela Pak Benny yang memilikimu!" ujar Aris setelah berhasil membuka pintu.
Pertahanan Fina akhirnya kalah. Dia berjalan mundur karena Aris terus melangkah ke arahnya. Tatapan mata pria beristri itu terlihat menakutkan. Dia seperti predator yang bersiap menikam mangsanya.
"Hentikan langkahmu, Cantik. Ayo ... datanglah ke pelukanku." Aris mengulurkan tangannya agar bisa menyentuh Fina.
"Pergi! Jangan harap kamu bisa menyentuhku!" teriak Fina dengan derai air mata ketakutan, "Elza! Kamu di mana, Nak? Tolong Mama!" teriak Fina saat tidak menemukan keberadaan putranya.
"Takdirmu adalah menjadi milikku! Berteriaklah sampai suaramu habis, karena tidak akan ada yang menolongmu. Lihatlah, rumahmu sangat sepi. Anak dan suamimu tidak bisa melindungi!" Aris tersenyum smirk saat mengatakan semua itu.
__ADS_1
"Gila! Dasar Pria gila! Sadarlah! Anak dan istrimu sedang menunggu di rumah! Pergi!" Fina berusaha kabur dari Aris dengan berlari masuk ke dalam ruang keluarga.
Fina tidak peduli meskipun dalam kondisi hamil besar. Dia seperti lupa jika ada janin yang harus dijaga keselamatannya. Dia terus dikejar Aris hingga sampai di depan kamar yang dulu dia tempati saat menjadi pengasuh Elza.
"Aww!" teriak Fina ketika Aris berhasil menarik kerah blousnya, "lepaskan!" teriaknya dengan kencang.
"Oh, jadi kamu ingin kita langsung main di kamar, Sayang. Oke, baiklah ... jika memang ini maumu!" ujar Aris dengan tatapan menakutkan.
"Kurang ajar! Gak tahu diri kau!" teriak Fina saat berusaha melepaskan diri dari cengkraman Aris.
"Aku sangat terobsesi denganmu. Jika dulu aku tidak bisa memilikimu, maka sekarang tiba giliranku! Ayo kita pergi dari sini! Aku akan membuatmu bahagia lebih duda itu!" ujar Aris dengan tatapan mata penuh arti. Senyum smirk di wajah manis itu membuat Fina semakin ketakutan.
"Tolong! Elza ... Tolong Mama, Nak!" Fina berteriak sambil menggerakkan tangannya agar terlepas dari Aris.
"Tolong ... tolong aku!"
"Elza ... Tolong Mama! Tolong ...."
Fina terus berteriak, tetapi tak ada siapapun yang datang menolongnya. Rumah tersebut seperti kosong tak berpenghuni. Entah kemana Elza dan Jumiatin sehingga membiarkan dirinya dalam kesulitan. Sementara Aris masih berusaha menariknya agar keluar dari rumah dan pergi bersamanya. Namun, tak lama setelah itu, dia mendengar Elza sedang memanggilnya.
Fina mengedarkan pandangan ke sekelilingnya untuk menemukan di mana keberadaan Elza. Tentu hal ini semakin membuat Fina takut karena tidak bisa melihat keberadaan putranya. Sementara dia masih berusaha keras melepaskan tangannya dari genggaman Aris.
"Elza! Tolong Mama, Nak! Tolong!" teriaknya
"Ma, Mama ... bangun Ma. Ma ... ini Elza, Ma!"
Kelopak mata yang tertutup rapat akhirnya terbuka lebar. Napas tersengal dengan keringat dingin yang mengalir di sekujur tubuh. Fina hanya diam saja sambil menatap plafon mewah di kamarnya. Mengatur napas serta menata kesadarannya.
"Mama mimpi apa sih? Sampai mengigau begitu?" tanya Elza saat Fina mengalihkan pandangan ke samping.
"Mama masih bingung, sebentar," jawab Fina sambil menatap Elza. Tangannya terulur hingga menyentuh tangan lembut yang ada di sisinya itu, "ini Mama masih mimpi atau bagaimana sih?" tanya Fina sambil berusaha bangkit dari tempatnya. Dia duduk bersandar di headboard ranjang dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Mama ada di dunia nyata. Memangnya Mama mimpi apa sih? Sampai berteriak seperti itu? Aku terkejut ketika Mama berteriak memanggil namaku! Aku udah manggil-manggil Mama tapi gak bangun juga. Untung saja aku belum manggil Mbok Jum terus Mama bangun," jelas Elza tentang bagaimana keadaan yang dia hadapi.
"Mama mimpi diculik orang. Mimpinya seperti nyata, El," jawab Fina tanpa menyebut siapa yang ada dalam mimpinya, "lebih baik kita bobo lagi yuk! Ini masih tengah malam," ajak Fina sambil menepuk bantal tempat Elza semula.
Tanpa bertanya lagi, akhirnya Elza merebahkan diri di sisi Fina. Tempat yang biasa ditempati Benny, untuk sementara digantikan oleh Elza selama ayahnya tidak ada di rumah. Bocah kecil itu menarik selimutnya karena masih merasa lelah.
"Mau kemana, Ma?" Elza membuka kelopak matanya saat merasakan pergerakan Fina.
"Ke dapur ambil minum," jawab Fina seraya meraih gelas kosong yang ada di atas nakas, "Elza bobok aja dulu," ujar Fina sebelum meninggalkan kamarnya.
Wanita berbadan dua itu berjalan dalam suasana rumah yang temaram. Dia tidak habis pikir kenapa bisa mengalami mimpi buruk bersama Aris. Padahal, tadi malam mereka hanya berbicara beberapa menit saja.
"Ya Allah, kenapa bisa mimpiin dia? Apa mungkin gara-gara pembicaraan semalam ya?" Fina bergumam setelah mengingat pembicaraan unfaedah bersama pria beristri itu.
"Amit-amit jabang bayi, jangan sampai mimpiku terjadi." Fina mengusap perutnya beberapa kali saat teringat betapa menakutkan mimpi yang dia alami.
Wanita berbadan dua itu sampai di dapur setelah melewati satu persatu anak tangga di rumah tersebut. Dia mengisi gelas dengan air putih dan meneguknya di sana. Dia merasa lelah seperti baru selesai lari maraton.
"Lagian itu cowok kenapa coba? Gak bahagia sama istrinya curhat ke aku. Kalau dipikir aku ini siapanya sih! Aneh banget! Terus dia pikir aku akan peduli gitu dengan masalah rumah tangganya? Ngaco banget dia!" Fina menggerutu saat berjalan menyusuri jalan kembali ke kamarnya, "kebanyakan drama hidupnya!" lanjut Fina.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Ternyata cuma mimpi gaisπ...
...ββββββββββββββββ...
...Selamat hari mingguπKuy baca karya author Mom Al dengan judul Hot Duda VS Janda Perawan. Nah dari judulnya aja udah bikin penasaran kan? Kuy kepoinπ...
...
__ADS_1
...
...π·π·π·π·π·π·π·...