Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Suami Idaman


__ADS_3

"Pa, Mama sama Tante kemana? Kok sepi?" tanya Elza setelah menghampiri ayahnya di kamar. Bocah kecil itu baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.


Benny menggeliatkan tubuh setelah mendengar pertanyaan putranya. Tidak biasanya Fina pergi tanpa berpamitan dengannya. Lantas, ayah dari Elzayin itu segera bangun dari kasur empuk tersebut. Dia mencoba menerka kemana kiranya sang istri pergi.


"Mungkin di depan, Nak," jawab Benny sambil mengerjapkan mata.


"Gak ada, Pa," jawab Elza dengan tegas, "aku sudah mencari Mama di kebun, di depan dan di semua tempat yang ada di rumah ini, tetapi aku tidak menemukan Mama dan Tante Nisa," jelas Elza.


Pada akhirnya Benny memutuskan keluar dari kamar setelah merapikan penampilannya. Dia berjalan keluar dari rumah hingga sampai di teras bersama putranya, "iya, Mama kemana ya? Motornya juga tidak ada." Benny bergumam seraya duduk di salah satu kursi kayu yang ada di sana.


Tak berselang lama, motor yang dikendarai Nisa telah sampai di halaman rumah. Benny berdiam diri sambil mengamati kakak dan adik itu. Jika dilihat dari raut wajah kedua wanita itu, sepertinya ada yang tidak beres. Apalagi setelah melihat Fina berjalan memasuki rumah dengan wajah murung dan tanpa menyapanya juga Elza.


"Mbakmu kenapa, Nis?" tanya Benny setelah Nisa duduk di teras rumah dengan napas yang terengah.


Gadis cantik itu tak segera menjawab pertanyaan Benny. Dia mengatur napas terlebih dahulu karena masih shock atas kejadian yang baru saja dia saksikan, "Mbak habis ngamuk, Mas! Duh ngeri banget! Serius dah," jawab Nisa seraya menatap kakak iparnya.


"Ngamuk bagaimana maksudnya?" Benny terlihat bingung setelah mendengar jawaban Nisa.


"Habis ngelabrak orang, Mas! Dua sekaligus!" jelas Nisa sambil bergidik ngeri.


"Kok bisa begitu? Memang ada masalah apa?" cecar Benny sambil memasang telinga agar tidak salah dengar saat Nisa bercerita. Dia tidak tahu apapun yang terjadi hari ini karena belum sempat bicara dengan istrinya.


Pada akhirnya Nisa menceritakan semua yang dilakukan oleh Fina. Memori otaknya merekam dengan jelas setiap kata yang dilontarkan oleh Fina. Jujur saja dia sangat takut jika ibunya mendengar semua ini. Pasti keadaannya semakin memburuk.


"Mas, tolong tenangin Mbak ya. Dia emosi karena ibu sakit gara-gara mikirin tetangga. Mbak pasti jadi garda terdepan jika ada yang berani menyakiti Ibu," pinta Nisa seraya menatap Benny penuh harap.


"Oke, nanti aku pikirkan cara meredam emosi Mbakmu." Benny menyanggupi permintaan adik iparnya itu.


"Ya sudah kau begitu aku mau mandi dulu, Mas. Udah mau magrib," pamit Fina sebelum berlaku meninggalkan Benny dsn Elza di sana.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam kamar mandi ... Fina termenung di bawah guyuran shower yang mengalir deras. Tatapan matanya lurus ke depan dengan kilat amarah yang sangat jelas. Matanya memerah karena air mata akhirnya runtuh di sana.


"Bagaimana jika setelah ini Ibu semakin dibenci para tetangga akibat ulahku? Pasti biang kerok itu tidak akan tinggal diam setelah kejadian ini," gumam Fina sambil memijat kepalanya.


...๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ...


Tepat setelah adzan magrib, Fina keluar dari kamar mandi. Wanita cantik itu sengaja mengurung diri di sana untuk meluapkan amarah yang sudah membakar diri. Matanya sembab dan masih merah, mungkin ini adalah efek dari menangis di bawah guyuran shower.


"Kemana Elza?" tanya Fina setelah masuk ke dalam kamar dan hanya bertemu dengan suaminya.


"Ke masjid sama Nisa," jawab Benny sambil membenarkan handuk yang tersampir di pundaknya.


"Kenapa Mas belum mandi?" tanya Fina sambil membuka almari.


"Kamu saja mandinya setahun gak kelar," jawab Benny tanpa mengalihkan pandangan dari sang istri.


Benny hanya diam saja ketika mendapati pertanyaan dari istrinya itu. Dia mengamati setiap gerak-gerik Fina sambil merancang pertanyaan yang tepat. Salah sedikit saja, pasti bisa membuat Fina semakin emosi dan bisa menambah keadaan semakin runyam.


"Ada apa?" tanya Benny setelah duduk di tepian ranjang.


"Aku habis melabrak orang," jawab Fina dengan kepala tertunduk. Dia pun sebenarnya takut kepada sosok yang ada di sisinya itu.


"Kenapa? Apa semuanya tidak bisa diselesaikan secara baik-baik?" tanya Benny lagi tanpa melepas pandangan dari sang istri.


Tangis ibu sambung Elzayin itu akhirnya pecah. Dia tergugu dengan kepala tetap tertunduk. Rasa sesal, sakit, sedih, dan marah membaur menjadi satu sehingga membuat Fina terus terisak.


"Jangan dipendam sendiri, cerita saja," ucap Benny setelah merengkuh tubuh sang istri. Dia mengusap rambut basah itu dengan tangannya.


Setelah mendapat desakan dari Benny, akhirnya Fina menceritakan bagaimana permasalahan ini dari awal hingga berakhir di rumah Zulaikah. Penyebab jatuh sakitnya Badiah pun diungkapkan oleh ibu sambung dari Elzayin itu di hadapan suaminya.

__ADS_1


"Ibu sangat takut dengan Mas. Beliau tertekan dengan omongan tetangga dan takut apabila Mas menanyakan kemana larinya uang dagangan," jelas Fina sambil mengusap air matanya.


Helaan napas berat terdengar di sana. Benny mengurai tubuh sang istri tanpa melepas pandangan dari sang empu, "seharusnya kamu bicara dulu denganku, Sayang, sebelum pergi menemui bu Zul dan bu Neneng. Apa kamu pikir aku akan mempermasalahkan uang-uang itu?" tanya Benny dengan nada bicara yang halus.


Fina hanya bisa menganggukkan kepala tanpa berani menatap Benny. Jujur saja dia sangat takut mendengar jawaban Benny yang mungkin saja bisa melukai hatinya. Fina menyiapkan hati dan mentalnya apabila setelah ini Benny marah.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Sudah berapa lama sih kamu mengenalku? Masa kamu belum tahu bagaimana aku?" cecar Benny sambil mengangkat dagu Fina dengan jari telunjuknya. Tatapan keduanya pun bersirobok.


"Tetapi ini masalahnya Ibuku, Mas. Tentu beliau takut karena sudah ceroboh menghabiskan uang pemberian dari Mas!" sanggah Fina.


"Ibu Bad, Ibu Ani, Bapak, Nisa ataupun Dita, semua aku perlakukan sama. Aku tidak membedakan mana keluargaku dan keluargamu. Semuanya aku beri sesuai dengan porsi masing-masing. Jika memang Ibu sakit karena kepikiran modal usaha habis, seharusnya kamu bilang saja. Pasti aku beri lagi. Aku tidak pernah mempermasalahkan uang yang sudah aku berikan kepada seseorang. Mau habis ataupun tidak, itu bukan urusanku lagi. Tugasku hanya memberi bukan mengungkit apa yang sudah aku berikan."


"Aku tidak memperhitungkan semua itu, Fin. Jujur saja kali ini aku kecewa melihat sikapmu. Kamu terlalu mengikuti emosi dan mempermalukan diri di hadapan orang lain. Apalagi hanya karena masalah uang," jelas Benny tanpa mengalihkan pandangan dari wajah sang istri.


"Mas, ini bukan hanya perkara uang! Aku menemui dua biang kerok itu karena aku gak terima kamu dituduh melakukan pesugihan dengan menumbalkan anak kita! Hal itulah yang membuat aku murka, Mas! Ayolah, Mas harusnya paham kan dengan maksudku!" jawab Fina dengan suara yang bergetar.


"Tidak perlu dipikirkan. Biarkan mereka mau menuduh kita bagaimana karena yang terpenting kita tidak melakukan itu. Aku harap ini adalah yang terakhir kali," tutur Benny dengan tenang.


"Kemarahan yang tidak terkendali tidak akan menguntungkan kamu, Sayang. Harga dirimu bisa jatuh jika kamu tidak bisa mengendalikan amarahmu. Biarkan saja orang mau berkata apa, nanti kalau capek pasti berhenti sendiri." Benny terus memberikan motivasi kepada istrinya itu.


Obrolan di antara suami istri itu terus berlanjut. Benny tak henti memberikan penjelasan yang bisa menenangkan hati istrinya sampai lupa jika belum mandi. Bahkan dia memberikan tawaran kepada Fina untuk memindahkan Badiah dan Nisa dari desa ini. Mantan duda itu siap membelikan rumah dan membuatkan Badiah usaha yang baru. Akan tetapi semuanya ditolak Fina karena dia pun cukup malu jika terus meminta kepada suaminya itu.


"Ya sudah kalau begitu aku mau mandi dulu. Setelah ini kita keluar sebentar ke ATM," pamit Benny sambil beranjak dari tempatnya.


...๐ŸŒนTo Be Continued ๐ŸŒน...


...Duh, ada gak ya suami di dunia nyata yang seperti Benny๐Ÿคฃ...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...

__ADS_1


__ADS_2