
Surabaya.
Gemerlap bintang mulai hadir menghiasi gelapnya malam yang ditinggalkan oleh rembulan. Semilir angin menerpa sepasang suami istri yang sedang bersantai di balkon lantai dua. Ada dua cangkir cokelat hangat serta beberapa makanan ringan yang menemani waktu berharga untuk suami istri itu. Pasalnya, kedua anaknya sudah tidur seusai makan malam berlangsung. Elza mungkin kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Mojokerto. Sementara Shazia, sudah tidur nyenyak setelah menghabiskan dua isi kendi milik Fina.
"Mas, aku makin ke sini makin gendutan ya?" tanya Fina setelah tidak ada masalah penting yang dibahas.
Benny tak segera menjawab pertanyaan itu karena terlalu sulit mencari jawaban yang tepat. Dia seperti dihadapkan pada satu jebakan yang akan meledak jika salah melangkah. Ayah dua anak itu mengamati istrinya untuk sesaat.
"Enggak tuh. Perasaan tetap sexy seperti dulu," jawabnya dengan jujur.
"Mas gak lagi berbohong 'kan?" selidik Fina dengan tatapan tajam.
"Serius, Sayang. Gak ada yang berubah dari kamu," ujar Benny dengan yakin karena memang tidak ada yang berubah dari Fina.
Fina mengembangkan senyum ceria setelah mendengar penuturan suaminya. Hidungnya kembang kempis seperti seorang ABG yang sedang jatuh cinta. Hanya mendengar jawaban simpel dari suaminya, itu saja sudah membuat Fina bahagia.
"Lah kenapa ini orang? Senyum-senyum sendiri gitu?" Benny bergumam dalam hati setelah melihat ekspresi wajah istrinya. Ayah dua anak itu heran saja melihat hal aneh yang terjadi pada istrinya.
Fina beranjak dari tempatnya. Dia berpindah tempat di kursi yang sama dengan Benny. Wanita cantik berambut panjang itu bergelayut manja di lengan suaminya. Entah apa yang sedang dia inginkan sehingga bersikap berlebihan yang membuat Benny merasa heran.
"Maaf ya Mas semenjak ada Shazia aku jarang bersikap mesra begini," gumam Fina dengan suara yang lirih. Dia menempel seperti perangko.
"Gak masalah, Sayang. Namanya juga punya anak bayi, pasti semua waktu tercurahkan untuk anak. Kalau kamu memang lelah dan merasa berat, bilang saja. Aku akan memperkerjakan satu orang lagi untuk membantumu merawat Shazia," jawab Benny sambil membelai rambut Fina dengan gerakan lembut.
"Aku gak capek kok, Mas. Aku hanya tidak enak saja sama Mas. Aku takut Mas kurang perhatian dariku dan mencari perhatian wanita lain di luar sana. Gak kuat aku membayangkan hal itu," ujar Fina hingga membuat Benny mengernyitkan keningnya.
Kini mantan duda itu tahu apa yang membuat istrinya menjadi seperti ini. Dia sudah bisa menebak jika Fina terbawa perasaan karena melihat tontonan di handphone ataupun sinetron di layar kaca, "Sayang, jangan samakan apa yang di sinetron sama dunia nyata. Kamu harus ingat, jika tujuan menikah bukan untuk itu. Apa kamu belum percaya jika aku bisa menjaga kesetiaan hanya untukmu?" tanya Benny sambil menatap Fina yang sedang bersandar di lengannya.
__ADS_1
"Aku percaya sama Mas, tetapi aku hanya takut saja apa yang di film-film terjadi pada rumah tangga kita," sanggah Fina seraya menegakkan tubuhnya.
"Maka dari itu jangan terlalu sering lihat sinetron. Banyak tontonan yang lebih bermanfaat untuk menambah keharmonisan rumah tangga loh," tutur Benny seraya menatap Fina penuh arti.
"Misalnya?" Fina mempertegas jawaban suaminya sebelum salah menduga.
"Ya, nonton film dewasa gitu. Kamu kan sudah tahu bagaimana akses lihat film nananininunu?" Tatapan mata mantan duda itu terlihat menggoda. Dia menaik turunkan satu alisnya di hadapan Fina.
"Sudah ku duga!" Fina memberikan tatapan sinis kepada suaminya.
"Loh gak ada yang salah dengan hal itu, Sayang. Kita ini orang dewasa, menonton itu kan bisa untuk referensi gaya. Nah, dengan begitu hubungan kan makin hot dan bervariasi. Ya kalau Elza yang nonton, gak boleh. Kalau emak dan bapaknya boleh dong," jelas Benny dengan tatapan penuh arti.
"Eh, tapi mendingan langsung praktek aja kali ya, mumpung anak-anak udah anteng di tempat masing-masing," ujar Benny dengan sorot mata penuh arti.
Fina segera beranjak dari tempatnya tanpa dikomando. Ya ... mungkin saja ibu Shazia itu sedang merindukan kehangatan cinta yang membuatnya bisa melayang menembus nirwana. Mereka berdua mengayun langkah menuju kamar dengan suka cita.
"Yes, aman!" ujar Benny dengan bahagia setelah memastikan Shazia tidur nyenyak di dalam box bayi. Dia menatap wajah tenang putrinya itu dengan lekat. Perpaduan wajah Fina dan wajahnya menjadi satu dalam wajah Shazia.
Cukup lama Benny termenung di sana. Dia mengalihkan pandangan ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Senyum smirk terlihat di wajahnya ketika melihat keindahan akan surga dunia yang berdiri di depan kamar mandi.
"Baju baru nih," gumam Benny saat mendekat ke tempat Fina, "I like it, Baby," bisik Benny sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Fina merasa bahagia mendengar komentar suaminya. Tidak sia-sia dia memesan pakaian ini lewat pasar online. Wanita cantik itu bergegas merias diri sebelum Benny keluar dari kamar mandi. Tak lupa dia memakai body lotion dan parfum untuk menunjang penampilannya.
"Pasti Mas Benny suka dengan aroma parfum ini," gumam Fina setelah semerbak aroma vanila musk tercium di sana.
Setelah selesai bersiap, Fina naik ke atas tempat tidur. Dia duduk bersandar di headboard ranjang sambil menunggu suaminya. Tak berselang lama, Benny keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih fresh dari sebelumnya.
__ADS_1
"Harum sekali istriku," puji Benny setelah mencium aroma parfum yang ada di sana. Dia bergegas naik ke atas tempat tidur untuk menjalankan misinya. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Benny pun memulai aktivitas yang bisa membuatnya terbang menembus awan.
Tanpa ada untaian kata-kata indah, permainan telah dimulai. Sentuhan tangan Benny mulai menjalar ke titik sensitif di tubuh istrinya. Suara lenguhan manja mulai terdengar di sana. Sesekali Fina mengigit bibirnya ketika suaranya tidak terkontrol. Dia mencengkram apapun yang ada di sana ketika merasakan sensasi yang diberikan oleh suaminya.
"Mau terbang pakai jari, lidah atau langsung pakai senjata?" bisik Benny saat menarik tali yang ada di tengkuk Fina. Sekali tarikan saja, maka kain transparan itu pasti terlepas.
"Semuanya," jawab Fina dengan tatapan sayu. Sepertinya ibu dua anak itu sudah tidak tahan lagi dengan rasa yang ada dalam diri.
Benny mengembangkan senyum ketika melihat bagaimana ekspresi wajah istrinya saat ini. Dia segera melancarkan aksinya dengan mengeksplor area gua licin yang tersembunyi di bawah hutan gundul. Lagi dan lagi Fina mengeluarkan suara manjanya hingga membuat Benny semakin bersemangat menjalankan aksinya.
"Lebih dalam lagi!" desis Fina sambil mencengkram rambut Benny dengan kuat saat merasakan getaran hebat dalam dirinya.
Terbang ke awan berulang kali telah dirasakan Fina. Tentu suara yang menggoda terus terdengar di sana hingga pada akhirnya saat penyatuan tiba. Benny menarik tangan Fina agar segera bangkit dari tempatnya. Sementara mantan duda itu mengatur posisi dengan tidur terlentang di atas tempat tidur.
"Jadilah joki yang handal. Berpaculah hingga dirimu lupa daratan. Malam ini kamu menjadi penguasanya, Sayang," ujar Benny ketika melihat Fina sudah bersiap di atas tubuhnya.
Peluh keringat mengalir deras meski temperatur kamar sudah diatur pada suhu paling dingin. Bukan lagi kehangatan yang tercipta di sana, melainkan level terpanas yang berhasil membuat keringat mengalir deras. Entah sudah berapa kali Fina merasakan getaran hebat dalam dirinya. Dia benar-benar menjadi joki handal malam ini.
"Bagaimana? Sudah lelah menjadi joki?" tanya Benny setelah Fina menghentikan gerakannya.
Napas Fina terengah-engah. Dia hanya mampu menganggukkan kepala sebagai tanda berkibarnya bendera putih. Wanita cantik itu sudah menyerah dan ingin mengakhiri semua yang ada.
"Akhiri semua ini, Sayang. Aku sudah lelah terbang tinggi hingga tidak tahu berapa kali aku dihadapkan dengan getaran hebat itu," gumam Fina setelah merebahkan diri di sisi Benny.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Selamat berbuka puasa😎Berbukalah dengan yang manis-manis seperti Benny dan Fina😝...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...