Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Sepertiga malam,


__ADS_3

"Aku bahagia, Mas. Terima kasih karena kamu mau berubah demi putra kita. Aku sangat mencintai kalian. Semoga keadaan ini tidak pernah berubah, Mas. Tetap ajarkan kebaikan kepada putra kita,"


Seketika Benny membuka kelopak matanya setelah kembali dari alam mimpi. Napasnya tersengal seperti baru saja selesai berlari. Dia mengubah posisi menjadi duduk bersandar di headboard ranjang sambil mengatur napasnya.


"Nurma, kamu datang lagi," gumamnya dengan napas yang masih memburu.


Ayah dari Elzayin itu mencoba mengingat mimpi indah yang baru saja dialaminya. Terasa seperti nyata bagaimana kehangatan akan dekapan dari Nurmala. Wajah cantik milik ibu dari Elzayin itu terlihat bahagia. Bahkan, wanita itu meninggalkan kecupan mesra di pipi sebelum Benny tersadar dari mimpi indah itu.


"Semoga kamu selalu bahagia di sisi-Nya, istriku. Jangan khawatir soal Elza, aku pasti akan memberikan segalanya untuk putra kita," gumam Benny setelah membuka album foto yang masih ada di atas nakas.


Cukup lama Benny memandang wajah cantik yang tersimpan di sana dan setelah itu, dia turun dari tempat tidurnya. Benny ingin melihat Elza di kamarnya karena tadi malam bocah kecil itu menolak saat diajak Benny tidur satu kamar. Elza berdalih jika ingin tidur sendiri di kamar.


Derap langkah duda tampan itu menggema di lantai dua. Dia mengayun langkah menuju kamar putranya dan setelah sampai di depan kamar tersebut, perlahan Benny membuka pintu kamar itu, untuk memastikan jika putranya dalam kondisi baik-baik saja.


"Loh kok kosong," gumam Benny setelah melihat tempat tidur di sana tak berpenghuni, "kemana dia? Apa dia pindah ke kamarnya Fina?" Benny mencoba menerka di mana keberadaan putranya.


Benny memutuskan untuk turun ke lantai satu, selain untuk memastikan jika Elza ada di kamar Fina, dia pun merasa haus. Tentu dalam keheningan malam, suara derap langkah kaki duda satu anak itu menggema di sana.


"Tapi ... bagaimana caranya aku memastikan Elza ada di kamarnya Fina?" gumam Benny setelah sampai di dapur. Dia merasa bimbang karena takut akan menggangu waktu istirahat gadis tersebut, mengingat saat ini masih pukul dua dini hari.


Benny mengalihkan pandangan setelah mendengar suara pintu yang terbuka. Sebuah kebetulan yang sempurna, ketika duda satu anak itu melihat Fina keluar dari kamar.


"Kenapa Pak Ben jam segini ada di dapur, Pak? Mau sahur?" sapa Fina setelah dirinya sampai di dapur.

__ADS_1


"Enggak, Fin. Aku mau minum aja," ucap Benny sambil menekan tombol biru di dispenser, "sebenarnya aku sedang mencari Elza karena dia tidak ada di kamarnya," jelas duda satu anak itu sebelum meneguk air putih dalam gelas bening tersebut.


"Dia ada di kamar saya, Pak. Beberapa menit yang lalu dia pindah ke kamar saya karena tidak bisa tidur nyenyak katanya," ucap Fina seraya menunjuk kamarnya yang tertutup.


"Apa aku pindahkan Elza di kamarku saja, Fin, biar tidak mengganggu waktu istirahatmu?" tanya Benny tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik pengasuh putrinya.


"Tidak perlu, Pak. Biarkan saja Elza di kamar saya. Dia baru saja tidur pulas, Pak. Tapi ini mau saya tinggal sholat dulu," jelas Fina.


"Sholat? Memangnya ini udah subuh ya?" Benny mengedarkan pandangan untuk memastikan jam dinding yang ada di dapur.


"Sholat sunnah, Pak. Tahajud," jawab Fina.


"Emmm ... boleh kita bicara sebentar? Sebaiknya kita duduk di ruang makan," tunjuk Benny ke arah ruang makan.


"Apa yang ingin Bapak bicarakan?" tanya Fina tanpa basa-basi agar waktu berharga ini tidak terbuang sia-sia.


"Kenapa kamu sholat sunnah? Apakah ada hal yang menarik dari sholat tahajud sehingga kamu rela bangun di waktu seperti ini? Bukankah lebih nyaman tidur di balik selimut tebal?" tanya Benny tanpa melepaskan pandangan dari wajah cantik yang sedang tertunduk itu.


Fina mengembangkan senyumnya tipis setelah mendengar pertanyaan itu. Dia bisa menilai jika kali ini Benny sedang serius. Ayah dari Elzayin itu terlihat tegas dan berwibawa jika sedang berbicara serius seperti ini.


"Saya tidak bisa menjelaskan apa saja hal-hal menarik dari sholat tahajud. Satu hal yang pasti, saya melaksanakan sholat sunnah itu karena di sana saya merasakan kedamaian yang luar biasa. Saya bisa mengeluarkan semua isi hati saya kepada Allah di saat-saat seperti ini. Jika Pak Ben ingin mengetahui rahasia di balik tahajud, lebih baik Pak Ben sowan ke ndalem Kyai," jelas Fina seraya menatap Benny untuk sesaat.


Benny termangu setelah mendengar penjelasan tersebut. Dia terenyuh karena selama ini dia sangat jauh dari hal-hal keagamaan. Bahkan, kewajiban lima waktu saja sering dia lupakan.

__ADS_1


"Apakah Allah menerima sholat tahajud seorang hamba yang sering meninggalkan sholat lima waktu, Fin?" tanya Benny.


"Saya tidak tahu, Pak, karena diterima atau tidaknya sholat seorang umat adalah rahasia Tuhan. Kita hanya bisa pasrah saat menjalani perintah tersebut. Entah itu diterima atau tidak karena sebagai manusia, kita tidak punya wewenang untuk menentukan hal itu," tutur Fina dengan kata-kata yang sopan dan merasuk ke dalam hati.


"Bagaimana jika aku ingin sholat tahajud tapi aku tidak tahu apa saja bacaannya?" tanya Benny lagi.


"Bapak bisa mempelajarinya di buku panduan sholat untuk sementara waktu. Saya punya buku tersebut, jika mau, Bapak bisa mempelajarinya. Akan tetapi jauh lebih baik bila Bapak belajar langsung kepada ustadz atau tokoh agama yang paham tentang sholat tahajud," ucap Fina dengan diiringi senyum manis.


"Tuhan selalu membuka pintu maaf bagi hambanya yang mau bertaubat, Pak. Sebesar apapun kesalahan kita, jika masih bersedia tobat, maka Allah membukakan pintu maafnya dari segala arah," ucap Fina untuk mengakhiri pembahasan ini, "saya ke belakang dulu, Pak, karena waktunya tidak banyak lagi," pamit Fina sebelum pergi dari hadapan Benny.


Ada getaran yang begitu hebat di hati duda satu anak itu setelah mendengar penjelasan panjang dari Fina. Dia merasa menjadi pria yang sangat buruk karena terlalu jauh dari urusan agama.


"Kamu adalah wanita sempurna di mataku, Fin. Aku semakin yakin jika kamu bisa membawaku ke dalam kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya," gumam Benny dengan suara yang lirih seraya menatap kepergian Fina.


Beberapa menit kemudian, dia melihat Fina keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam tempat ibadah yang ada di dekat dapur. Benny memutuskan untuk pergi dari ruang makan. Dia berjalan ke tempat ibadah untuk melihat apa saja saja yang dilakukan Fina di sana.


"Suatu saat nanti aku ingin sholat berjamaah denganmu. Menjadi imam yang baik untukmu dan anak-anak kita nanti. Setelah ini aku pasti akan memperbaiki diri agar layak menjadi imammu, Fin," batin Benny ketika mengamati Fina yang sedang melaksanakan sholat di dalam ruangan itu.


...๐ŸŒนTo Be Continue ๐ŸŒน...


...Selamat tahun baru 2023 para reader tercinta๐Ÿ˜ ...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...

__ADS_1


__ADS_2