
Hari demi hari silih berganti mengikuti putaran waktu yang tak pernah berhenti. Satu minggu sejak lamaran resmi di antara Fina dan Benny telah berlalu. Bunga-bunga asmara bermekar indah di antara keduanya. Cinta, kasih sayang dan perhatian yang diberikan Benny perlahan berhasil merasuk ke dalam diri gadis cantik yang berada jauh darinya. Setiap malam mereka selalu melakukan video call meskipun tidak berlangsung lama.
"Pa, besok pagi kita pergi ke rumahnya mama 'kan?" tanya Elza setelah teringat jika besok adalah hari minggu. Dia sudah rindu berat dengan sosok yang sangat disayangi itu.
"Iya. Besok kita akan bertemu Mama, El," jawab Benny seraya mengembangkan senyum manis. Lantas dia fokus pada beberapa lembar kertas yang ada di hadapannya.
Duda tampan itu sedang menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mengurus surat pernikahan, karena besok dia dan Fina akan mendaftarkan pernikahan mereka di desa Fina. Berkas keduanya akan dikumpulkan di salah satu perangkat desa untuk disetorkan di KUA setempat.
"Kalau Papa sudah menikah dengan Mama berarti kita bisa tidur bertiga dong, Pa," gumam Elza setelah membaringkan tubuh di tempat tidur.
Benny tak segera menjawab karena pertanyaan yang sangat sulit baginya. Elza pasti tidak terima jika dia melarang keinginannya itu. Harus ada penjelasan yang tepat untuk masalah ini.
"Kita lihat saja nanti. Akan tetapi seharusnya kalau sudah besar tidak boleh tidur satu kamar dengan orang tua. Selama ini Elza tidur sendiri bukan?" jelas Benny saat membalikkan badan.
"Tapi biasanya aku kan tidur sama Mama. Masa sekarang gak boleh? Terus Mama tidur sama Papa aja begitu?" tanya bocah kecil itu.
Benny beranjak dari tempatnya setelah mendengar pertanyaan rumit dari putranya itu. Dia meninggalkan berkas-berkas itu di atas meja dan lebih memilih untuk membaringkan badan di sisi Elza, "sebaiknya Elza sekarang tidur dulu, besok biar bisa bangun cepat. Oke?" Benny mencoba mengalihkan pembicaraan agar putranya segera tidur.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Adzan subuh telah berkumandang sejak beberapa menit yang lalu. Elza mengejapkan mata karena tidur nyenyaknya terganggu dengan suara alarm yang ada di atas bantal. Bocah kecil itu segera bangun setelah teringat jika akan pergi ke Mojokerto.
"Papa, bangun, Pa!" ujar Elza saat membangunkan ayahnya.
"Masih terlalu pagi, Nak. Bobok lagi yuk!" Duda tampan itu masih menutup kelopak matanya.
"Tapi kita harus sholat subuh, Papa!" Suara bocah kecil itu meninggi, "bangun, Pa!" Kali ini Elza menggoyang bahu Benny beberapa kali. Dia sudah terbiasa melakukan hal ini bersama Fina.
Mau tidak mau duda tampan itu harus bangun dan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Sejak mengambil keputusan untuk memilih Fina sebagai pasangan hidup, duda tampan itu mulai menata kembali keimanannya. Dia belajar Istiqomah dalam beribadah. Ternyata, kehadiran Fina dalam keluarga tersebut membawa perubahan besar.
__ADS_1
Perlahan langit berubah menjadi terang karena pengaruh waktu yang terus berjalan. Warna gelap mulai terkikis ketika sang mentari mulai menampakkan diri di ujung timur. Kehangatan sinarnya mulai mengikis embun di pagi hari.
"Pak, sarapannya sudah siap," ucap Dewi saat menghampiri Benny di teras belakang. Duda tampan itu sedang berolahraga di sana.
"Siapkan untuk Elza terlebih dahulu." Benny tak mengalihkan pandangannya. Dia masih fokus dengan barbel yang ada di tangannya.
Dewi terpaku pada sosok majikan yang terlihat menawan pagi ini, karena Benny hanya memakai singlet putih dengan celana pendek berwarna hitam. Lengan yang cukup bergelombang membuat Dewi tak berkedip.
"Pantas saja Fina mau sama pak Benny, orangnya memang keren. Kemana saja aku selama ini kok enggak tahu yang bening begini," batin Dewi sambil mengamati Benny yang sedang mengangkat barbel.
"Loh ngapain masih di sini? Memangnya sarapan Elza sudah siap?" tanya Benny dengan tatapan tak suka.
"Maaf, Pak. Emm ... saya tadi masih mengingat pertanyaan yang harus saya sampaikan kepada Bapak." Dewi berkilah karena takut dengan tatapan mata Benny, "itu, Pak ... Emm, Elza harus memakai pakaian yang mana? Karena saya harus menyiapkan pakaiannya." Akhirnya Dewi menemukan alasan yang tepat.
"Terserah. Asal rapi dan bagus," jawab duda tampan itu dengan nada datar.
"Pak, ada tamu di depan sedang mencari Bapak," lapor Dewi seraya menatap Benny, "ada dua orang wanita, Pak. Satu muda dan satunya lagi tua. Sepertinya saya tidak asing dengan yang tua," lanjut Dewi.
"Buatkan minum dan suruh menunggu saya sebentar," jawab Benny sebelum pergi dari halaman belakang dan berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian terlebih dahulu.
Beberapa menit kemudian, duda tampan itu telah berubah menjadi rapi. Dia menghampiri Elza yang sedang sarapan di ruang makan sebelum pergi ke ruang tamu, "El, jangan lupa minum obat. Papa mau ke depan sebentar," ucapnya sambil mengusap rambut putranya.
Setelah itu, dia mengayun langkah menuju ruang tamu untuk menemui tamu yang datang sepagi ini. Duda tampan itu menghentikan langkahnya setelah berada di sana karena terkejut melihat siapa yang menginjakkan kaki di rumahnya.
"Ibu," gumamnya. Lantas dia kembali melanjutkan langkah untuk menemui sosok yang sudah bertahun-tahun tak ditemuinya itu.
"Selamat pagi, Ben," sapa wanita paruh baya itu sambil menatap Benny dengan tatapan tajamnya.
"Selamat pagi," jawab Benny tanpa senyum manis untuk menyambut ibu mertuanya dulu.
__ADS_1
Tika, begitulah panggilan wanita yang duduk tak jauh dari tempat Benny berada saat ini. Sosok wanita yang sudah merawat Nurmala sejak masih bayi hingga menikah dengan Benny. Wanita paruh baya itu adalah ibu sambung Nurmala, karena sejak masih bayi Nurmala sudah ditinggalkan ibu kandungnya kembali ke pangkuan Tuhan.
"Kenapa, Ben? Kamu terkejut dengan kehadiran Ibu di sini?" tanya wanita paruh baya itu.
"Ya. Saya terkejut karena setelah bertahun-tahun lamanya kita bertemu lagi," ucap Benny dengan tatapan menyelidik. Dia penasaran saja kenapa wanita paruh baya itu datang menemuinya, "ada apa Ibu datang menemui saya?" tanya Benny tanpa basa-basi.
"Ibu dengar kamu baru melamar seorang gadis di Mojokerto, apakah itu benar?" tanya Tika.
"Ya. Benar sekali. Dalam waktu dekat kami akan menikah," jawab Benny dengan tegas.
"Lancang sekali kamu menikah tanpa meminta restu kepada orangtuanya Nurmala! Biar bagaimanapun kita masih ada hubungan darah, karena Elza adalah anak dari Nurmala," ujar wanita paruh baya itu, "Laras ini adik Nurmala loh. Dia satu ayah dengan istrimu, meski Ibu tidak ada hubungan darah dengan istrimu itu," ucap wanita paruh baya itu sambil menoleh ke samping, di mana ada gadis muda seumuran dengan Fina.
Benny tersenyum smirk mendengar kalimat panjang ibu sambung Nurmala itu. Dia menggeleng beberapa kali karena tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita paruh baya itu.
"Apakah ibu tidak ingat dengan semua yang terjadi di masa lalu? Kenapa sekarang ibu datang di saat Nurmala sudah tidak ada bertahun-tahun lamanya? Apakah kita masih bisa disebut keluarga setelah semua yang ibu lakukan, hingga membuat istri saya dicoret dari keluarga oleh ayahnya sendiri. Kenapa? Apa sekarang hak Nurmala sudah anda habiskan?" cecar Benny seraya menatap wanita tersebut.
"Benny! Tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu! Biar bagaimanapun Ibu sudah membesarkan istrimu! Jadi seharusnya kamu tetap menghormati Ibu!" Amarah wanita paruh bayar itu mulai tersulut.
Benny menggeleng pelan saat mendengar setiap perkataan mantan ibu mertuanya itu. Sungguh, dia tidak pernah menyangka jika sosok yang sangat dibenci istrinya itu menginjakkan kaki di rumah ini. Padahal, terakhir kali dia datang adalah di saat Nurmala meninggal kala itu dan rumah ini masih sederhana. Belum direnovasi menjadi semewah saat ini.
Tika sangat berperan penting atas hubungan buruk di antara Nurmala dan ayahnya. Ibu dari Elzayin itu sampai diusir dari rumah dan tidak dianggap sebagai keluarga lagi karena hasutan Tika. Hubungan di antara ayah dan anakpun harus terputus karena ulah wanita paruh baya itu.
"Jangan berbelit-belit. Sekarang jelaskan saja apa tujuan Ibu datang ke sini? Karena waktu saya tidak banyak." Sepertinya Benny sudah muak melihat dua orang yang menjadi tamu spesialnya.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Yaelah ada aja pengganggu pak dud yang mau otewe menemui Finaπ...
...π·π·π·π·π·π·...
__ADS_1