Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Meminta Hak


__ADS_3

"Jangan berbelit-belit. Sekarang jelaskan saja apa tujuan Ibu datang ke sini? Karena waktu saya tidak banyak." Sepertinya Benny sudah muak melihat dua orang yang menjadi tamu spesialnya.


Wanita paruh baya itu terbelalak setelah mendengar nada bicara Benny cukup tinggi. Helaan napas berat terdengar dari wanita yang memakai kaca mata bulat itu. Sepertinya emosinya pun mulai tersulut melihat sikap tidak sopan dari pria sukses yang dulu sempat diremehkannya itu.


"Ayahnya Nurmala sudah meninggal satu tahun yang lalu," ucap wanita paruh baya itu.


"Terus?" sahut Benny tanpa menatap wanita tersebut.


"Semua hartanya sudah habis karena dipakai untuk melunasi hutang keluarga. Termasuk sawah dan tambak yang diberikan untuk Nurmala," jelas wanita tersebut seraya menatap Benny.


"Hutang keluarga atau hutang Anda sendiri?" sarkas Benny dengan tatapan sinis karena dia tahu betapa liciknya wanita paruh baya yang tak jauh darinya itu. Kehidupan keluarga Nurmala memang mewah sejak dulu.


"Benny!" bentak Tika karena tidak suka dengan tuduhan Benny.


"Sebelum meninggal ayahmu jatuh sakit dan butuh pengobatan yang besar. Hutang pun menumpuk sampai ayah mertuamu itu meninggal. Ibu tidak pernah mengambil harta istrimu sedikitpun!" jelas wanita tersebut dengan nada tinggi.


"Sudahlah, Bu. Tidak perlu ngotot menjelaskan seperti itu. Saya ini masih ingat dengan jelas bagaimana kisah di masa lalu. Ya, mungkin dulu saya seorang pengangguran saat menikahi Nurmala. Pria gak jelas dan masa depannya suram, seperti kata Ibu dulu. Saya masih ingat dengan jelas bagaimana Nurmala diusir oleh ayahnya sendiri. Tidak diterima kehadirannya dalam keluarga besar. Apa menurut Ibu sekarang saya harus percaya begitu saja atas semua yang terjadi?" jelas Benny panjang lebar. Rasa sakit yang dialaminya di masa lalu masih membekas di hati.


"Saya tanya sekali lagi. Tanpa harus menjelaskan keadaan yang sudah Ibu alami, apa tujuan Ibu jauh-jauh datang menemui saya?" tanya Benny dengan tatapan tajam.


Wanita berkaca mata itu terlihat geram melihat pria yang sudah berubah drastis itu. Akan tetapi, dia harus menahan apa yang ada dalam hatinya sebelum menyampaikan tujuannya datang ke sini.

__ADS_1


"Laras butuh biaya kuliah. Berhubung Laras adalah adik kandung Nurmala, saya ingin harta Nurmala yang di sini diberikan untuk adiknya ini."


Benny menatap tajam ke arah mantan ibu mertuanya itu. Dia tersenyum smirk setelah mendengarkan permintaan gila itu.


"Sebelum datang ke rumah ini, apa Anda sudah berpikir matang? Harta mana yang ada minta? Nurmala diusir dari rumah ayahnya tidak membawa apapun kecuali lima pakaian dinasnya. Semua yang saya miliki saat ini adalah hasil kerja keras saya. Tidak ada uang dari Gresik yang dipakai Nurmala. Bahkan, Anda pun masih tega meminta anting dan kalung emas yang dipakai Nurmala, padahal itu adalah peninggalan ibu kandungnya!" Benny tidak bisa diam menghadapi wanita licik ini.


"Ya, saya tahu akan hal itu. Maka dari itu saya meminta hak Nurmala saat menjadi istrimu, karena sebentar lagi kamu akan menikah. Enak saja istrimu yang baru akan menikmati harta yang seharusnya menjadi milik Nurmala! Jadi, Ibu ingin meminta bagian Nurmala untuk adiknya karena itu jauh lebih baik, dari pada orang lain yang menikmati," ujar Tika tanpa tahu malu.


"Atau jika tidak mau memberikan hak Nurmala, nikahi saja Laras. Tanggung semua biaya pendidikan dan hidupnya!" Sebuah penawaran yang membuat Benny semakin murka.


"Ibu! Jangan seperti ini!" Laras pun terlihat tidak terima.


"Silahkan Anda pergi dari rumah ini!" ujar Benny sambil menunjuk pintu keluar.


"Bu, ayo kita pulang, Bu!" ajak gadis cantik yang ada di samping Tika, "Ibu sudah membuat malu Laras!" Suara gadis itu bergetar.


"Diam kau!" sarkas Tika pada putrinya sendiri, "Ibu melakukan semua ini demi kamu juga!" ujarnya.


Benny mengambil dompet yang ada di saku belakang celananya. Dia menguras semua lembaran rupiah merah muda itu dari dompetnya, "ini ada uang lima juta. Saya rasa lebih dari cukup untuk ongkos pulang ke Gresik dan makan sehari. Silahkan Anda pulang dan jangan pernah kembali lagi ke sini!" ujar Benny seraya menyodorkan uang tersebut kepada Tika, karena tak kunjung diterima Benny meletakkannya di atas meja.


"Wi, Dewi ...," teriak Benny dengan lantang.

__ADS_1


Tak berselang lama, wanita asal Madiun itu keluar dari ruang keluarga, "Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dewi.


"Tolong tunggu kedua orang ini sampai pulang. Pastikan mereka di sini tidak lebih dari sepuluh menit. Jika lebih dari itu panggil satpam komplek. Jika kamu tidak bisa melakukan hal ini, kamu yang saya pecat!" ujar Benny dengan suara yang lantang. Dia tidak bisa mengontrol emosinya lagi.


"Saya akan bersiap ke Mojokerto," ucapnya sebelum meninggalkan ruang tamu.


Tentu Dewi ketakutan melihat sikap majikannya itu, karena selama bekerja di sini, dia tidak pernah melihat Benny semarah ini. Helaan napas berat terdengar dari asisten rumah tangga itu setelah Benny pergi dari ruang tamu.


"Bu, tolong segera pergi dari rumah ini. Saya takut dengan Pak Benny," ucap Dewi dengan tatapan memohon.


Tanpa banyak bicara, Tika mengambil segepok uang yang ada di atas meja sebelum berdiri dari tempatnya. Dia menatap sinis ke arah Dewi sebelum menarik pergelangan tangan Laras keluar dari rumah megah ini. Rencana dan keinginannya gagal terpenuhi. Tanpa pamit, kedua wanita itu keluar dari pintu gerbang yang menjulang tinggi. Dewi pun segera menutupnya setelah melihat mobil Avanza yang membawa kedua wanita itu bergerak menjauh.


Sementara itu, di bawah guyuran shower Benny meluapkan amarahnya. Kenangan pahit di masa lalu kembali memenuhi pikirannya. Sungguh, kedatangan Tika berhasil membuat amarahnya meledak.


"Dasar tidak tahu malu!" ujar Benny sambil memukul tembok yang ada di hadapannya. Dia tidak peduli meski tangannya terasa sakit.


Masih teringat dengan jelas setiap penghinaan yang dilontarkan Tika dan ayah dari Nurmala, karena dulu di awal pernikahan jika dibandingkan dengan keluarga mendiang istrinya, tentu Benny tidak ada apa-apanya. Ayah Nurmala memiliki banyak tambak yang tersebar di Gresik dan Lamongan. Bahkan, mereka pun memiliki saham besar di salah satu pabrik semen terkenal di sana. Sementara Benny dulu hanya pekerja di pabrik sepatu yang tak menentu gajinya.


"Nurma. Semoga kamu tenang di sana. Biarkan harta-hartamu diambil mereka yang rakus. Jangan khawatir dengan Elza. Aku pasti bisa membahagiakannya tanpa harta sepeserpun dari keluargamu," ujar Benny dengan kepala yang tertunduk. Sementara air shower terus berjatuhan di atas kepalanya.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Sayang banget duit lima juta diberikan ke nenek lampirπŸ™„...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2