
Pesta ulang tahun sederhana outdoor di salah satu taman kota yang ada di Surabaya berlangsung meriah, meski hanya dihadiri keluarga inti dan beberapa kerabat. Fina sangat bahagia mendapatkan semua ini dari Benny. Dia tersenyum bahagia sepanjang acara tersebut. Hanya Badiah yang tidak bisa hadir di sana karena bersamaan dengan acara penting di rumah saudaranya.
"Mbak, aku harus kembali ke Mojokerto sekarang, nanti ketinggalan kereta kalau malam," ucap Nisa setelah menghabiskan beberapa makanan yang disediakan di sana.
"Loh kamu gak nginep saja, Nis? biar besok diantarkan Mas mu saja," tanya Fina sambil meletakkan piring yang masih berisi sate ayam.
"Aku harus pulang, Mbak. Besok pagi ada acara di kampus," jawab Nisa dengan tegas.
"Jangan naik kereta, Nis. Naik taksi online saja," sahut Benny setelah mendengar adik iparnya itu akan pulang. Tentu dia khawatir membiarkan Nisa pulang seorang diri di waktu seperti ini.
"Aku lebih suka naik kereta, Mas. Gak papa kok! Gak perlu khawatir," tegas Nisa sambil merapikan kerudungnya.
Beberapa menit kemudian, gadis cantik itu telah selesai berpamitan kepada keluarga besar Benny. Lantas, dia pamit kepada Fina dan Benny sebelum pergi. Tak lupa dia mendapatkan uang saku untuk ongkos pulang ke Mojokerto karena Benny sendiri menyarankan agar Nisa naik taksi online.
"Udah gampang lah kalau masalah itu. Nanti kalau keretanya gak ada, aku pasti naik taksi online kok, Mas," ucap Nisa dengan yakin.
"Nis, hati-hati loh. Jangan memilih gerbong yang sepi," gurat ke khawatiran tergambar jelas di wajah Fina.
"Udah beres, Mbak. Udahlah ... aku bisa menjaga diri kok, Mbak. Lagi pula aku ini udah gede." Nisa mencoba menenangkan kakaknya.
Nisa melambaikan tangan seusai mengucapkan salam perpisahan. Dia berjalan keluar taman dan segera menemui ojek online yang sudah dia pesan sebelumnya, "sesuai yang diaplikasi ya, Pak," ucap Nisa setelah duduk di atas motor.
Setelah beberapa menit membelah jalanan kota yang cukup padat, pada akhirnya mereka sampai di depan stasiun kereta api. Setelah membayar cash ongkos ojek online tersebut, Nisa bergegas masuk ke dalam stasiun. Gadis cantik itu mencari mushola untuk menunaikan kewajiban tiga rakaat sambil menunggu waktu keberangkatan kereta api.
Detik demi detik telah berlalu. Nisa pun sudah masuk ke dalam kereta api sesuai dengan tiket yang dia beli lewat online. Gadis berhijab itu mencari gerbong yang cukup ramai seperti pesan dari Fina. Dia mendapatkan tempat duduk di gerbong tiga dengan tempat duduk di deretan belakang.
"Huh! Akhirnya." Nisa bernapas lega setelah duduk di kursi. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk memberi kabar Fina agar tidak khawatir.
__ADS_1
Aku sudah duduk di dalam kereta, Mbak. Aku dapat gerbong yang ramai sesuai pesan dari Mbak.
Video keadaan di sekitarnya pun telah dikirim kepada Fina beserta pesan tersebut. Nisa sibuk membalas chat masuk di ponselnya, mengingat besok ada acara di kampus. Banyak diskusi yang belum sempat dia ikuti di group kelasnya.
"Permisi, apa boleh saya duduk di sini?"
Tiba-tiba saja terdengar suara bariton di dekat Nisa hingga membuat gadis itu menengadahkan kepala, "boleh, silahkan saja," jawab Nisa sambil memandang wajah yang tak asing baginya. Nisa seperti pernah bertemu dengan pemuda yang duduk berhadapan dengannya.
"Loh ... loh ... Kamu kan ...." Nisa menunjuk pemuda tersebut setelah membuka topinya, "duh pakai lupa lagi namanya," gumamnya.
"Ardi," jawab pemuda tersebut sambil menatap Nisa.
"Oh, iya. Ardi," ujar Nisa setelah teringat sosok yang ada di hadapannya, "Mas yang waktu itu nolong kakak saya 'kan?" Nisa menatap pemuda tersebut dengan intens.
"Iya." Hanya itu yang menjadi jawaban Ardi, "kamu naik kereta sendirian?" tanya Ardi.
"Iya saya sendirian. Mau pulang ke Mojokerto," jawab Nisa dengan diiringi senyum yang manis.
"Insyaallah aman kok," jawab Nisa dengan yakin.
Tidak ada pembahasan apapun setelah Nisa menerima panggilan telefon dari seseorang. Sementara Ardi hanya diam saja sambil sesekali mencuri pandang ke arah Nisa. Pemuda yang terlihat cool itu bersedekap sambil menatap kegelapan yang ada di luar jendela kereta api.
...πππππ...
Hotel bintang lima di kawasan Surabaya kota menjadi penutup dari pesta kecil yang diselenggarakan Benny untuk istrinya. Setelah acara selesai, Benny membawa Fina check in di sana. Sementara Elza berangkat bersama ibu dan adiknya ke Malang untuk mengunjungi beberapa tempat wisata, sesuai dengan rencana awal.
"Kita mau nginep di sini, Mas?" tanya Fina setelah masuk ke dalam lift, "aku gak bawa baju ganti loh! Lagian mau ngapain nginep di hotel?" Fina menatap Benny heran, mengingat selama ini suaminya itu masih trauma untuk melakukan hubungan tersebut.
__ADS_1
"Iya kita nginep di sini. Aku sudah menyiapkan pakaian ganti buat kamu kok. Tenang aja," jawab Benny dengan santainya.
"Yaelah ... tidur doang pakai nginep di hotel, di kamar kita sama aja, Mas!" Fina sengaja meledek suaminya itu.
"Siapa bilang hanya tidur aja?" Benny mengernyitkan keningnya sambil menatap Fina penuh arti.
Namun, belum sempat penjelasan itu diteruskan, pintu lift terbuka lebar. Mereka berdua bergegas keluar dari sana dan berjalan menyusuri koridor hotel. Mereka mencari kamar sesuai dengan reservasi yang dilakukan oleh Benny.
"Kita akan lembur bikin adonan adiknya Elza," ucap Benny setelah sampai di depan pintu kamar yang dia pesan. Pria tampan itu segera membuka pintu kamar dengan menempelkan kartu akses.
"Wah ... mewah banget kamarnya!" ujar Fina setelah sampai di dalam kamar. Wanita cantik itu berjalan menuju jendela besar dengan korden yang terbuka. Dia bisa melihat pemandangan beberapa gedung pencakar langit dan keindahan kota Surabaya di malam hari.
Benny tersenyum simpul setelah melihat bagaimana ekspresi wajah istrinya. Dia membuka kancing kemeja yang ada di pergelangan tangannya dan setelah itu melipatnya hingga sampai siku.
"Anggap saja kita sedang berbulan madu," ucap Benny setelah berdiri di belakang Fina. Dia mendekap tubuh yang tertutup rapat itu dari belakang.
"Pengantin lama masa iya masih bisa disebut bulan madu, Mas?" tanya Fina dengan diiringi senyum yang manis. Dia benar-benar merasa bahagia atas semua yang sudah disiapkan Benny untuknya. Suami yang terkadang dianggapnya konyol itu ternyata memiliki sisi romantis tersendiri. Tentunya tidak bisa ditebak karena penuh dengan kejutan.
"Kita udah lama tidak melakukan itu 'kan? Jadi ... anggap saja kita masih pengantin baru. Nanti kita akan meresmikan pembukaan jalan tolnya," seloroh Benny hingga membuat Fina terkekeh.
"Memangnya Mas masih ingat jalan masuknya? Aku takut Mas salah jalan loh," tanya Fina dengan diiringi gelak tawa.
Benny pun ikut tertawa setelah mendengar keraguan istrinya itu. Lantas dia membalikkan badan Fina hingga berhadapan dengannya. Tatapan keduanya saling bersirobok dengan kedua sudut bibir tertarik ke dalam. Jari tangan Benny menyusuri pipi dan rahang yang masih tertutup kerudung itu.
"Jika kamu ragu dengan kemampuanku, mari kita buktikan bagaimana aku meresmikan pembukaan jalan tolnya," gumam Benny dengan tatapan penuh arti.
...πΉTo Be Continued πΉ...
__ADS_1
...Mau ditulis gak nih peresmian jalan tolnyaπ€£...
...π·π·π·π·π·...