
Sinar sang surya mengikis rasa dingin karena hujan selama semalam suntuk. Langit nampak cerah dengan warna biru laut serta awan putih yang menghiasi. Kehangatan tersebut menyapa gadis yang sedang duduk di halaman belakang rumah berlantai dua milik seorang duda. Berjemur sambil menatap keindahan beberapa bunga yang ada di sana.
Ya, dia adalah Fina. Setelah dua hari terbaring lemah di atas tempat tidur, akhirnya dia bisa menghirup udara bebas seperti saat ini. Meski tenaga belum pulih sepenuhnya, dia tetap bertahan di sana untuk merasakan kehangatan sang surya. Peluh keringat mulai membasahi piyama lengan panjang yang dipakainya saat ini.
"Mbak Fina mau makan roti?" tanya Elza setelah menghampiri Fina di halaman belakang. Dia menunjukkan roti panggang kepada pengasuhnya itu.
"Nanti saja, Mbak Fina masih kenyang," jawab Fina dengan suara yang lirih. Dia mengembangkan senyum atas perhatian kecil yang diberikan anak asuhnya itu.
Derap langkah seseorang yang baru datang, berhasil membuat Elza dan Fina mengalihkan pandangan. Ternyata Benny yang sedang berjalan ke tempatnya saat ini. Duda tampan itu membawa cangkir di tangannya.
"Minumlah air madu hangat ini, Fin. Katanya madu bisa menyembuhkan asam lambung. Aku sudah membeli madu beberapa botol untukmu langsung dari peternaknya," ucap Benny seraya memberikan cangkir tersebut kepada Fina.
"Saya semakin tidak enak hati dengan Bapak kalau begini. Harus berapa kali lagi saya minta maaf karena sudah merepotkan Bapak dan bu Ani," gumam Fina dengan helaan napas yang berat.
Selama dua hari ini, Ani selalu datang untuk membuatkan sarapan untuk Fina, mengingat Dewi belum kembali dari kampungnya. Wanita paruh baya itu pun sangat perhatian kepada Fina hingga membuat gadis itu merasa tidak enak hati dengan keluarga majikannya. Adik perempuan Benny pun ikut datang ke rumah ini meski hanya sekadar melihat kondisinya.
"Sudahlah, Fin. Kamu tidak perlu merasa sungkan apalagi sampai minta maaf terus. Kamu adalah tanggung jawabku selama berada di sini, jadi tidak perlu berpikir macam-macam. Kamu harus semangat agar lekas sembuh," ucap Benny setelah duduk di kursi yang ada di samping Fina.
"Kamu belum minum obat 'kan?" tebak Benny seraya menatap Fina.
"Pak Ben kok tahu?" Fina mengernyitkan keningnya.
"Ya karena kamu bisa duduk lama di sini, kalau minum obat kan pasti udah tidur kamu, Fin," ucap Benny dengan diiringi senyum tipis.
__ADS_1
Efek samping obat yang dikonsumsi Fina memang bisa menyebabkan rasa kantuk yang tak tertahankan. Gadis berhijab itu pasti teler beberapa puluh menit setelah minum obat. Tidak peduli meski hari masih pagi, dia tidak bisa menahan kantuknya.
"Jangan sampai telat minum obat selama dalam masa penyembuhan, Fin, karena setelah ini kita akan pergi liburan," ucap Benny tanpa mengalihkan pandangan dari Fina.
"Liburan, Pak? Sama siapa saja?" tanya Fina penasaran.
"Sama semua karyawan dan keluarga. Biasa acara rutin untuk menghilangkan setres," seloroh Benny dengan senyum manis yang mengiringi.
"Memangnya Bapak bisa stres? Kalau setres kak udah ada yang menghibur. Bisa bernyanyi bersama pacar," ujar Fina saat menanggapi Benny.
"Aku sudah tidak bersama Renata lagi. Hubungan kami sudah berakhir beberapa hari yang lalu." Benny mengalihkan pandangan dari Fina.
Tanpa sadar gadis cantik itu mengembangkan senyumnya. Entah mengapa hatinya merasa lega setelah mendengar kabar itu. Namun, senyum itu seketika pudar setelah dia sadar atas apa yang membuat dirinya merasa bahagia.
Fina memilih untuk menahan diri agar tidak bertanya tentang hal yang bersifat pribadi itu. Sepertinya membahas masalah lain jauh baik daripada harus membahas tentang hubungan yang sudah kandas itu.
"Oh ya, Pak, bagaimana latihan Elza selama dua hari ini?" tanya Fina seraya menatap Benny yang sedang termenung.
"Latihannya lancar dan tidak ada kendala. Kemarin pak Syakur ikut datang dan membahas masalah KEJURNAS Pagar Bangsa di Malang," jelas Benny setelah teringat pembicaraan bersama pelatih senior itu.
"Terus bagaimana, Pak? Apa Elza ikut tanding?" tanya Fina.
"Iya. Elza dipilih untuk mewakili Surabaya, entah kelas apa yang akan diikuti. Pertandingannya kalau tidak salah bulan depan, Fin." Benny sedikit lupa tentang waktu pertandingan.
__ADS_1
Hingga beberapa menit lamanya, mereka berdua membahas masalah pertandingan yang akan diikuti oleh Elza. Beberapa saran dan arahan telah disampaikan Fina, mengingat ayah dari Elzayin itu tidak paham tentang pertandingan.
"Sebaiknya kamu masuk saja, Fin. Terus minum obatnya, jangan sampai telat!" ujar Benny setelah melihat keringat di wajah mulus gadis yang ada di sisinya itu, "cepat sembuh," imbuh Benny dengan senyum yang sangat manis hingga membuat gadis itu menjadi salah tingkah.
Fina segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Benny di sana. Duda tampan itu rela tidak pergi ke industrinya demi menjaga Elza di rumah. Setelah minum obat seperti biasanya, Fina kembali ke kamar. Dia merebahkan diri di atas tempat tidur. Gadis cantik itu menatap langit-langit kamar dengan segala pemikiran yang bersarang di kepala.
"Pak Ben kok perhatian dan baik banget ya sama aku. Sepertinya kalau sama mbak Dewi biasa aja. Kira-kira kenapa ya? Apa mungkin hanya karena aku baik kepada Elza? Tapi menurutku pak Ben ini terlalu berlebihan deh," Fina bergumam lirih setelah mengingat semua kebaikan yang dilakukan Benny kepadanya.
Gadis cantik itu takut menyimpulkan sesuatu yang belum pernah dialaminya. Dia tidak mau menilai jika semua kebaikan Benny atas dasar perasaan yang dimiliki duda satu anak itu untuknya. Mengingat, Fina sendiri belum pernah menjalin hubungan bersama pria manapun. Dia belum mengerti bagaimana seorang pria jika memiliki perasaan kepada seorang wanita.
"Kang Aris yang terang-terangan mengatakan ingin menikah denganku saja, sikapnya enggak seperti itu. Aku jadi bingung deh," gumam Fina lagi.
"Jadi ... sebenarnya pak Ben ini gimana sih? Aku takut salah mengartikan sikapnya. Duh, bikin kepala pening saja," gerutu Fina seraya mengubah posisinya menjadi miring.
Kurangnya pengalaman dalam hal asmara nyatanya membuat Fina menjadi bingung. Apalagi sosok yang sedang dihadapinya adalah sosok berpengalaman yang memiliki jam terbang tinggi. Meski begitu dia tetap mencoba berpikir positif, agar tidak menimbulkan rasa sakit apabila ada satu hal yang membuat hatinya terluka.
"Aku tidak boleh terpengaruh dengan sikap pak Benny. Aku harus tetap pada satu tujuan yaitu kang Aris, karena hanya dia yang masuk dalam kategori suami idamanku. Mungkin dia bersikap seperti itu, karena benar-benar ingin menjagaku. Dia sangat menghormatiku dan tentunya kami memiliki tujuan yang sama." Fina bermonolog.
"Kang Aris, kang Aris, kang Aris." Fina terus mengulang nama itu agar hatinya tetap pada satu pria yang sudah pernah berkomitmen dengannya.
Ketika hati dan pikiran tidak sejalan, maka akan ada perasaan bimbang yang hadir dalam diri. Akan tiba waktunya di mana gadis cantik itu dihadapkan di antara dua jalan. Tinggal menunggu hari maka hidup akan memberi dua pilihan yang sulit. Antara hati dan kenyataan. Tentu nasihat yang pernah disampaikan oleh ibunya menjadi pertimbangan besar akan keputusannya nanti.
"Ah sudahlah! Aku mau tidur saja! Lebih baik aku menjalani apa yang ada di hadapanku saja," gumamnya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
...🌹To Be Continue 🌹...