
Satu bulan kemudian.
"Ma, nanti itu pengisian jurus tiga. Doakan lancar ya, Ma," ucap Elza setelah keluar dari mobil.
Malam ini Fina ikut mengantar Elza latihan karena setelah ini dia akan periksa kandungan klinik dokter kandungan. Hanya sekadar mengecek kandungan dan konsultasi mengenai program hamil anak ke dua. Janji pun sudah dibuat bersama dokter spesialis kandungan tersebut.
"Mama selalu mendoakan Elza. Semangat latihan ya, Nak," ucap Fina sambil mengusap rambut tipis itu.
"Oh ya, setelah ini Papa mau mengantar Mama ke dokter. Nanti setelah latihan kalau Papa belum menjemput, jangan mau diantar orang lain. Elza tunggu di sini saja bersama pak Syakur. Oke?" Benny memberikan nasihat kepada putra sulungnya bersama Nurmala itu.
"Lebih baik Mas bicara sama Pak Syakur saja deh. Biar Elza aman dan kita tidak khawatir," ucap Fina sambil memberikan kode agar Benny ikut masuk ke dalam padepokan bersama Elza.
Pada akhirnya ayah dan anak itu masuk ke dalam padepokan. Sementara Fina menunggu di luar. Dia berdiri di sisi mobil hitam suaminya sambil bersedekap. Dia harus menunggu selama beberapa menit karena mungkin suaminya masih bicara dengan Syakur.
"Kok gak ikut masuk?"
Fina terkesiap saat mendengar suara bariton di sisinya. Dia menoleh ke samping dan ternyata ada Aris di sana. Pria beristri itu sepertinya sudah siap melatih anak didiknya karena sudah memakai sakral lengkap, "iya, soalnya Mas Benny hanya bicara sebentar dengan Pak Syakur," jawab Fina tanpa ekspresi yang berlebihan. Dia sangat tenang meski di hadapan Aris.
"Oh, tidak baik loh seorang wanita menunggu di luar sendiri," celetuk Aris dengan sikap yang terlihat salah tingkah di hadapan Fina.
"Baik saja. Suami saya sebentar lagi keluar kok," jawab Fina tanpa menatap Aris karena sepertinya ada maksud lain di balik keakraban Aris.
Benar saja, tak lama setelah itu ... Benny keluar dari padepokan. Ekspresi wajah mantan duda itu terlihat tidak suka saat melihat pemandangan yang ada di samping mobil. Dia mengamati Aris yang berusaha akrab dengan istrinya.
"Ada apa ini?" tanya Benny setelah sampai di hadapan Fina. Dia menatap Aris dengan tatapan tak suka.
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya menyapa Fina, tidak lebih," jawab Aris dengan tegas, "permisi," pamitnya sebelum meninggalkan sepasang suami istri itu.
Benny menatap sinis kepergian putra pelatih Elza itu. Rasa cemburu pun mulai menguasai hati karena sikap yang ditunjukkan oleh Aris, "seneng ya karen disapa mantan?" tanya Benny dengan sinis.
__ADS_1
"Apaan sih, Mas? Biasa aja kali, cuma nyapa doang kok," jawab Fina seraya menatap wajah masam suaminya.
"Senyum dong!" Fina meraih kedua telapak tangan Benny untuk digenggam, "kenapa harus cemburu berlebihan sedangkan Mas tahu jika tidak ada pria lain yang ada dalam hati dan pandanganku?" Fina menyentuh rahang kokoh suaminya dan setelah itu kedua jari telunjuknya menarik sudut bibir Benny agar tersenyum.
"Berangkat yuk!" ujar Fina dengan senyum yang sangat manis. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling dan setelah itu, tanpa diduga oleh Benny, dia mendaratkan kecupan mesra di bibir tipis itu.
Benny mengembangkan senyum tipis setelah mendapatkan hal tak terduga dari istrinya. Tatapan matanya tak lepas dari wajah cantik yang menghiasi hari-harinya itu. Tentu Benny sangat takut kehilangan Fina, karena hati telah terpatri hanya untuk putri sulung Badiah saja.
"Silahkan Tuan Ratu," ucap Benny saat membukakan pintu untuk Fina.
Sementara itu di balik pintu padepokan, ada sepasang mata yang mengamati kemesraan dua orang yang ada di sisi Pajero hitam. Tangannya mengepal erat karena rasa iri yang tumbuh di dalam hati. Sikap yang ditunjukkan Fina kepada Benny membuat hatinya meradang, karena dia jarang mendapatkan sikap manis dari istrinya sejak anak pertama lahir.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Setelah membelah jalanan kota yang cukup padat, pada akhirnya mobil yang dikendarai Benny sampai di halaman Klinik bersalin milik seorang dokter kandungan ternama di Surabaya. Mereka berdua bergegas keluar dari mobil dan berjalan beriringan masuk ke dalam klinik tersebut.
"Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?" tanya satu pegawai klinik yang bertugas di bagian depan.
"Baik. Saya konfirmasi kehadiran Ibu dulu ya," ucap wanita berhijab itu setelah membaca balasan pesan di handphone Fina, "Ibu mendapatkan nomor antrian tiga. Silahkan ditunggu di depan ruang pemeriksaan. Nanti nama Ibu akan dipanggil jika sudah waktunya," jelas wanita tersebut sambil memberikan nomor antrean kepada Fina.
"Terima kasih, Bu," ucap Fina sebelum pergi dari sana. Dia berjalan menuju ruang tunggu yang ada di depan ruang pemeriksaan.
Sepasang suami istri itu duduk di deretan bangku paling depan karena suasana di sana lumayan sepi. Pemeriksaan dokter pun belum dimulai karena masih kurang beberapa menit dari jadwal praktek.
"Semoga hasilnya nanti baik ya, Mas. Jujur saja aku takut ada kelainan dengan rahimku," ucap Fina penuh harap. Dia tak melepaskan genggaman tangannya dengan Benny.
"Kita harus optimis. Pasti hasilnya baik, Sayang. Kalau pun hasilnya tidak sesuai dengan harapan, kita akan berjuang bersama. Biarpun harus berobat ke luar negeri, pasti akan aku lakukan demi kesembuhanmu. Jangan berpikir negatif dulu, oke?" Benny mencoba menenangkan Fina agar tetap tenang setelah mengetahui hasil pemeriksaan nanti.
Pasalnya ibu sambung Elzayin itu meras risau karena tak kunjung hamil. Dia sangat takut jika rahimnya bermasalah karena benturan keras saat kecelakaan kala itu. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan pemeriksaan sekaligus program hamil di klinik ini.
__ADS_1
Detik demi detik terus berlalu. Hampir tiga puluh menit mereka berdua menunggu giliran pemeriksaan. Keringat dingin mulai membasahi tangan Fina karena pikirannya tidak tenang, serta degup jantung pun berdetak tak karuan. Rasa mual mulai menyerang istri bos AlasKa itu karena kepikiran dengan hasil pemeriksaan nanti.
"Nyonya Fina Imaniyah ... Nyonya Fina Imaniyah, silahkan masuk ke ruang pemeriksaan."
Fina beranjak dari tempatnya setelah mendengar namanya dipanggil. Dia masuk dengan ditemani Benny untuk konsultasi bersama dokter Hana. Kedatangan mereka disambut hangat oleh dokter Hana dan asistennya.
"Silahkan berbaring di bed, Bu. Kita lakukan USG dulu," ucap dokter Hana seraya menunjuk bed yang ada di samping akat USG.
Setelah sang asisten selesai menyiapkan segalanya, dokter Hana segera melakukan pemeriksaan sambil bertanya tentang keluhan Fina. Dokter berparas manis itu fokus pada layar monitor saat melakukan pemeriksaan di bagian bawah perut Fina.
"Jadi bagaimana, Dok? Apa ada kerusakan di rahim saya? Apakah saya bisa melakukan program hamil, Dok?" tanya Fina sambil menatap dokter kandungan itu penuh arti.
Dokter Hana tak kunjung menjawab karena masih menggerakkan alat tersebut di perut Fina. Sepertinya dokter kandungan itu sedang mamastikan kondisi rahim Fina.
"Sayangnya Ibu tidak bisa melakukan program hamil nih," ucap dokter Hana hingga membuat Fina dan Benny terkejut bukan main.
"Kenapa, Dok?" tanya mereka berdua serempak.
Dokter Hana meletakkan alat USG di tempatnya setelah selesai melakukan pemeriksaan. Dia tak segera menjawab karena sedang membaca hasil yang ditunjukkan di layar monitor tersebut. Tentu hal ini membuat pasangan suami istri itu semakin resah dan gelisah.
"Karena ternyata Bu Fina sedang hamil empat minggu," jawab dokter Hana dengan senyum yang sangat manis, "selamat ya Bu ... Pak," lanjutnya sambil menatap wajah Fina dan Benny bergantian.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Wah ... wah ... wah ... siapkan hadiahnya ya Ontyπbuat syukuran hamilnya mbak Fina nihπ...
...βββββββββββββββ...
...Rekomendasi karya keren yang wajib kalian baca nihπKuy baca karya author Santi Suki dengan judul Cinta Tak Pernah Salah. Jangan sampai lupa yesssπ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...