
"Jadi, apakah dugaan kami selama ini benar, Bu ... jika ayah sebenarnya seorang prajurit?" tanya Fina setelah mendengar tutur kata ibunya.
Badiah hanya bisa memijat keningnya karena desakan Fina. Dia tidak tahu harus bercerita dari mana dulu tentang semua kisah di masa lalu. Selain karena sudah pernah berjanji kepada mendiang suaminya, Badiah pun tidak mau jika kedua putrinya merasa tidak aman setelah ini. Namun, menyembunyikan semua rahasia itu pun rasanya tidak mungkin lagi karena terlalu banyak lubang yang membuat rahasia itu bocor dari wadahnya.
"Apa kamu tidak ingat, Fin, jika kita pernah tinggal di Surabaya, di rumah dinas tentara?" tanya Badiah dengan suara yang lirih.
Fina hanya menggelengkan kepala setelah mendengar pertanyaan itu. Sekuat apapun dia mencoba mengingat bagaimana masa kecilnya, tetap saja hanya kenangan masa kecil di kampung ini yang dia ingat.
"Dulu kamu masih kecil saat kita tinggal di Surabaya." Tatapan mata Badiah lurus ke depan, seperti sedang mengumpulkan kepingan masa lalu yang tersimpan di kepala.
"Bapakmu dulu seorang intel di kesatuan TNI. Bahkan, sampai saat ini keluarga Ibu tidak ada yang tahu tentang hal ini. Ibu saja baru tahu apa pekerjaan Bapakmu setelah diboyong ke Surabaya. Dulu awal menikah Bapakmu kerjaannya jual kangkung keliling. Ternyata itu hanya topeng yang dipakai Bapakmu saat menjalan misi. Ibu tidak perlu membahas apa saja yang sudah dilakukan Bapakmu, karena itu adalah rahasia yang tidak bisa diungkapkan kepada siapapun," jelas Badiah dengan pandangan lurus ke depan.
"Lalu kenapa Bapak jadi penjual tempe? Kalau Bapak memang seorang prajurit, kenapa hidup kita gak bisa enak layaknya orang-orang, Bu?" tanya Fina karena masih belum paham kenapa kehidupan keluarganya bukan seperti layaknya keluarga TNI.
"Bapakmu sengaja membuat kesalahan fatal agar dipecat dengan tidak hormat dari TNI. Dia bekerja sama dengan Wiratama untuk keluar dari tugas dan lembaga itu. Wiratama lah yang dilantik menjadi Komandan karena rencana yang sudah disusun Bapakmu. Mungkin, Bapakmu sudah lelah melindungi Ibu dan kamu, Fin. Nyawa kita terancam karena tugas Bapakmu. Hidup terasa tidak tenang karena terus was-was karena takut penyamaran terbongkar. Menjadi istri seorang angkatan tidak mudah dan itu menjadi beban berat bagi Ibu."
"Pada akhirnya setelah mempertimbangkan dan menyusun rencana dengan matang, Bapakmu mulai menggagalkan misinya bersama Wiratama. Kamu saat itu mungkin masih berusia dua tahun, sedangkan Johan mungkin berusia lima atau tujuh tahun. Ibu lupa. Hingga akhirnya, Bapak berhasil dipecat dan kita diboyong ke kota kelahiran Ibu," jelas Badiah dengan air mata yang tak henti mengalir.
"Berarti Ardi atau Johan itu lebih tua dari aku, Bu? Lalu bagaimana selanjutnya, Bu?" tanya Fina karena masih penasaran dengan cerita ibunya.
__ADS_1
"Mungkin iya. Ibu lupa berapa selisih umurmu dengan Johan. Kita dulu bertetangga di rumah dinas dengan bu Rahayu. Setelah pindah ke kota ini, kehidupan Bapak dan Ibu jauh lebih tenang meski kondisi ekonomi pas-pasan. Ibu lebih memiliki banyak waktu dengan Bapak. Pokoknya Ibu bahagia menjadi seorang penjual tempe dari pada menjadi istri tentara. Berat, Nak," ucap Badiah sambil mengusap air mata yang membasahi pipi.
Wanita paruh baya itu beralih menatap Nisa yang sedang termenung. Badiah melihat ada kekecewaan yang begitu besar dari sorot mata putrinya. Bunga yang bermekar indah mendadak layu karena sebuah kenyataan. Mungkin, hanya ini yang bisa Badiah lakukan agar putrinya terbebas dari bahaya dan intaian para musuh intelejen. Dia hanya ingin kedua anaknya bisa hidup tenang.
"Ibu sangat berharap kamu bisa menerima kenyataan ini, Nis. Sebelum perasaanmu terlalu dalam kepada Johan, sebaiknya kamu menjauh. Ibu yakin pasti Johan memiliki misi hingga dia ada di sekitar Surabaya dan Mojokerto. Kamu belum tentu bahagia apabila berjodoh dengan dia. Jangan sampai kamu merasakan apa yang ibu rasakan dulu," ucap Badiah dengan suara yang sangat lirih. Badiah mencengkram kancing dasternya dengan erat. Gestur tubuh itu menjelaskan jika ada banyak rasa sakit yang sudah dirasakan olehnya.
"Masih banyak rasa sakit yang ibu rasakan, tetapi tidak bisa diceritakan. Jangan bertanya apapun lagi mengenai bapakmu. Ibu tidak mau siapapun tahu mengenai hal ini, karena ibu takut semua akan menjadi runyam. Biarkan bapakmu tenang di sisi Allah. Lupakan jika kalian pernah memiliki bapak seorang tentara. Kalian hanya perlu mengingat satu hal sampai kapanpun, jika kalian anak dari penjual tempe di pasar."
Badiah mengucapkan permohonan itu dengan sorot mata penuh harap. Kini, wanita paruh baya itu seperti memikul beban berat di punggungnya. Dia sangat takut jika rahasia ini akan diketahui orang lain. Air mata tak henti mengalir dari pelupuk mata tatkala kenangan tentang Hasanuddin memenuhi kepala.
Ketiga wanita yang ada di atas tempat tidur itu terkesiap tatkala mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Badiah buru-buru turun dari tempat tidur karena merasa jika ada sesuatu di depan. Sementara kedua putrinya mengekor di belakangnya menuju ruang tamu. Lampu dibiarkan mati agar keberadaan mereka tidak diketahui orang yang ada di luar.
"Ibu tidak tahu, bulan lalu ibu juga melihat orang ini di depan rumah kita," jawab Badiah dengan suara yang sangat lirih, "kalian tunggu di sini sebentar, Ibu akan keluar," ucap Badiah.
"Jangan, Bu!" sergah kedua wanita cantik itu, "kalau ibu kenapa-napa bagaimana?" Fina menarik tangan Badiah.
"Sudahlah. Lepaskan Ibu." Badiah menghempaskan tangan Fina. Kalau sudah seperti ini, tidak ada yang bisa menghalangi jalan wanita paruh baya itu.
"Bagaimana ini, Mbak?" Nisa mulai panik ketika melihat Badiah berjalan cepat ke arah bahu jalan untuk menemui pria tersebut.
__ADS_1
"Apa aku panggil Mas Benny saja ya," gumam Fina setelah mengamati ibunya. Namun, belum sempat dia mengayun langkah meninggalkan ruang tamu, Nisa memberikan interupsi.
"Stop, Mbak! Gak perlu memanggil papanya Shazia. Itu ibu sudah kembali," tunjuk Nisa ketika melihat Badiah kembali lagi ke rumah. Pria yang ada di sana pun pergi dengan motornya.
Badiah tak menghiraukan kedua putrinya yang sudah penasaran itu. Dia terus berjalan hingga sampai di dalam kamarnya. Wanita paruh baya itu duduk di tepian tempat tidur dengan pandangan luruh ke depan. Seperti ada beban berat yang sedang dipikirkan.
"Ada apa, Bu?" tanya Nisa setelah duduk di sisi Badiah.
"Pria itu ternyata anggota cacing. Dia sedang ditugaskan Wiratama berjaga di sekitar sini karena takut ada yang melukai Nisa," jawab Badiah dengan suara yang lirih.
"Hah? Apakah aku sedang terancam, Bu?" Tentu Nisa terkejut dengan pengakuan ini.
"Ibu tidak tahu. Mungkin saja waktu kamu membantu Johan ada yang mengetahui. Mari kita semua berdoa tidak ada bahaya yang akan menimpa keluarga kita," jawab Badiah dengan suara yang sangat lirih.
Nisa hanya menelan ludah setelah melihat ekspresi wajah ibunya. Dia takut jika ada yang berniat jahat kepadanya. Sementara Fina sendiri, mulai tidak tenang dengan kondisi ini. Dia bingung antara bercerita kepada suaminya atau diam saja.
"Sebaiknya aku mengikuti saran ibu dengan tidak mengatakan hal ini kepada Mas Benny dulu," batin Fina setelah mengamati ibu dan adiknya.
...🌹To Be Continued 🌹...
__ADS_1