
"Cielah cantik banget kamu, Fin, pakai baju baru," puji Dewi setelah melihat penampilan Fina pagi ini. Gadis berhijab itu memakai pakaian pemberian dari Benny.
Fina hanya mengembangkan senyumnya setelah mendengar pujian dari Dewi, "biasa aja kok, Mbak," jawab Fina tanpa berani menatap Dewi. Dia tidak mau jika kakak seperjuangannya itu melihat hidungnya yang kembang kempis.
Matahari masih bersembunyi di istananya, langit pun masih gelap gulita karena beberapa menit yang lalu adzan subuh baru saja selesai berkumandang. Akan tetapi di salah satu rumah yang ada di komplek elit itu aktifitas sudah dimulai. Sejak pukul setengah empat pagi Dewi dan Fina sudah berkutat di dapur, menyiapkan segala yang dibutuhkan oleh Benny dan Elza.
"Sepertinya pak Benny dan Elza sudah selesai sarapan tuh, Fin," ucap Dewi setelah melongakkan kepala untuk melihat majikannya yang ada di ruang makan.
"Kalau begitu aku ke depan dulu, Mbak," pamit Fina setelah selesai mencuci piring bekas sarapannya.
Mereka bertiga memang harus berangkat pagi buta agar tidak terlambat datang ke sekolah Nisa yang ada di kota Jombang. Duda tampan itu tampak bersemangat meski langit masih gelap. Seusai sarapan dia segera menyiapkan mobil yang akan dipakai menempuh perjalanan ke kampung halaman Fina. Hingga beberapa puluh menit lamanya, mereka bertiga siap berangkat.
"Jangan terlalu lama pulang kampungnya, Fin. Nanti aku kesepian di sini," ucap Dewi sebelum Fina masuk ke dalam mobil pajero hitam itu.
"Tenang aja, Mbak. Pasti pulang cepet kok," jawab Fina sambil menepuk bahu Dewi, "saya berangkat dulu ya, Mbak," pamit Fina kepada Dewi.
"Hati-hati, Fin." Dewi mengembangkan senyumnya sebelum pintu mobil tertutup.
Terkadang rasa iri menyelinap ke dalam hati Dewi ketika melihat Fina mendapatkan perlakuan khusus dari Benny, tetapi ART asal Madiun itu berhasil memupus semua itu, mengingat pekerjaan Fina memang lebih rumit dari pekerjaannya. Gadis cantik itu bisa istirahat hanya setelah Elza tidur dan dia bertanggung jawab atas semua perawatan yang ada pada diri bocah yang dianggapnya nakal itu.
"Kamu beruntung banget, Fin, kalau pulang kampung selalu diantar pak Ben. Iya sih kalau aku pulang pun selalu di kasih ongkos dan bonus tambahan, tetapi kadang aku juga pengen kayak kamu," gumam Dewi saat melihat mobil hitam itu keluar dari gerbang. Dia segera menutup gerbang itu dan menguncinya, "ah tapi sudahlah, rezeki orang kan berbeda-beda. Lagi pula jika aku harus memilih, mending ngerjain pekerjaan rumah daripada merawat Elza." Dewi berusaha memupus perasaannya.
...π π π π π ...
Tepat pukul setengah tujuh pagi, mobil yang dikendarai Benny sampai di halaman rumah sederhana milik Badiah. Kedatangan mereka bertiga disambut hangat oleh sang pemilik rumah. Rupanya Badiah pun sudah siap, terlihat wanita paruh baya itu sudah memakai gamis dan kerudung rapi.
"Monggo masuk, Pak," ucap Badiah setelah bersalaman dengan Benny, "silahkan duduk, Pak. Lebih baik pak Ben istirahat dulu, kasian jauh-jauh dari Surabaya, pasti capek." Badiah mengulas senyum tipis sebelum pergi meninggalkan Benny di ruang tamu.
Fina masuk ke dalam rumahnya setelah melihat kode dari ibunya. Tidak lama setelah itu, dia keluar membawa nampan berisi minuman hangat. Ada kopi hitam dan susu hangat untuk ayah dan anak yang sedang menunggu di ruang tamu.
__ADS_1
"Silahkan diminum dulu, Pak," ucap Fina setelah meletakkan nampan tersebut di atas meja, "El, minum susu hangat dulu ya. Ini susu sapi asli, kesukaan El kalau pas di sini," ucap Fina sambil memberikan gelas berisi susu itu kepada Elza.
"Terima kasih, Fin. Seharusnya tidak perlu repot menyiapkan minum untuk kami," ucap Benny seraya menatap Fina penuh arti.
"Tidak repot kok, Pak," ucap Fina.
"Mbak Fina, nanti kita jalan-jalan lagi ya! Lihat kerbau!" ujar Elza setelah meletakkan gelas bekas susunya di atas meja.
"Boleh, tapi nanti sore aja ya. Setelah ini kita akan ketemu mbak Nisa dulu. Oke!" Fina mengacungkan jempolnya.
Setelah beristirahat selama kurang lebih satu jam untuk meregangkan otot-otot tubuh, akhirnya Benny mengajak Fina dan ibunya berangkat. Mengingat pesantren Nisa cukup jauh dari kampung ini. Mungkin bisa menghabiskan waktu kurang lebih satu jam lamanya. Sementara undangan wali murid harus datang pukul setengah sembilan pagi.
"Fin, kamu di depan saja. Pak Benny kan tidak tahu di mana lokasinya. Nanti kamu yang menunjukkan biar kita tidak nyasar," ucap Badiah saat melihat putrinya duduk di belakang.
"Nah, ini cocok, Bu. Terima kasih sudah mendukung calon menantu ibu yang tampan ini," batin Benny seraya mengambangkan senyumnya setelah mendengar interaksi Fina dan ibunya.
Perjalanan menuju tempat Nisa menimba ilmu akhirnya dimulai. Selama dalam perjalanan itu, tidak ada pembicaraan apapun. Hanya suara musik pop yang menemani perjalanan mereka. Setelah menghabiskan waktu selama satu jam lebih, akhirnya mobil hitam itu sampai di halaman sekolah MAN Jombang.
"Bu, saya tunggu di luar saja ya," ucap Fina setelah keluar dari mobil. Suasana dalam tenda yang terpasang di halaman luas sekolah itu pun nampak ramai.
"Ikut masuk saja, Fin. Kasian pak Ben kalau nunggu di luar. Mending kita masuk biar Nisa tahu kalau kamu ikut datang," ucap wanita paruh baya itu.
"Bagaimana, Pak?" tanya Fina kepada Benny.
"Ya sudah gak papa kita masuk saja," jawab Benny setelah mengamati keadaan di sekitar.
Kedatangan mereka disambut oleh beberapa guru di depan tenda. Mereka dipersilahkan masuk dan menempati deretan kursi yang sudah disediakan untuk wali murid. Fina mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan adiknya di antara para wisudawan dan wisudawati yang duduk di sisi kiri.
"Bu, itu Nisa!" tunjuk Finap pada seorang gadis yang sedang berdiri dan melambaikan tangan ke arahnya. Fina tersenyum manis ketika melihat penampilan cantik adiknya dalam balutan kebaya modern yang dipadukan dengan hijab simpel.
__ADS_1
Merekap tidak bisa bersatu untuk saat ini karena acara sudah dimulai. Berbagai rangkaian acara telah dibacakan oleh pembaca acara. Hingga beberapa puluh menit lamanya akhirnya acara wisuda tiba. Satu persatu siswa siswi mulai maju ke depan saat namanya dipanggil .
"Fin, aku keluar dari tenda ini ya, aku mau nyari tempat buat ngerokok," ucap Benny setelah merasa ngantuk dan bosan berada di tempat tersebut.
"Aku ikut Papa! Aku gak suka di sini, bosan." Elza turun dari tempat duduknya.
"Bu, Fina mau menemani Elza dulu ya. Gak enak sama pak Ben kalau Fina gak ikut nemenin Elza," bisik Fina saat Elza dan ayahnya mulai beranjak dari kursi.
"Iya. Lebih baik kamu cari tempat saja. Nanti ibu telfon kalau acaranya sudah selesai. Kasihan Elza pasti gerah di sini," jawab Badiah sambil menatap kepergian majikan yang dianggapnya baik itu.
Setelah mendapatkan izin dari ibunya, Fina menyusul Benny keluar dari tenda perpisahan ini. Dia mengikuti langkah kedua laki-laki berbeda generasi itu menuju taman sekolahan. Suara acara yang sedang berlangsung masih terdengar jelas di sana.
"Mbak Fina mana hape ku? Aku mau main game aja!" ujar Elza setelah duduk di bangku yang ada di bawah pohon rindang.
Fina segera mengeluarkan ponsel milik Elza dari dalam tasnya. Lalu dia duduk di samping Elza untuk memantau apa saja yang akan dilakukan bocah kecil itu. Sementara Benny, masih berdiri tak jauh dari tempat Fina dan Elza berada. Dia masih sibuk menghubungi seseorang. Mungkin dia sedang ada urusan pekerjaan.
"Fin, nanti adikmu gak sekalian pulang?" tanya Benny setelah duduk di bangku yang sama dengan Fina. Dia duduk di samping Fina dengan jarak yang cukup dekat.
"Tidak, Pak. Meski sudah kelulusan sekolah, masih ada tanggungan hafalan di pondok. Jadi, belum bisa pulang," jelas Fina seraya menatap Benny sekilas.
"Kalau adikmu masuk kuliah, bilang saja. Nanti aku bantu membayar uang masuknya," ucap Benny.
Tentu Fina terkejut setelah mendengar ucapan Benny. Dia menatap ayah dari anak asuhnya itu dengan intens. Ada rasa curiga yang hadir dalam pikiran tentang kebaikan yang diberikan Benny kepadanya. Pikiran gadis cantik itu mulai mengingat apa saja yang sudah diberikan Benny kepadanya akhir-akhir ini.
"Kenapa pak Benny sangat baik kepada keluarga saya? Apakah ada alasan khusus yang membuat Bapak bersikap baik kepada saya ataupun ibu?" tanya Fina seraya menatap Benny dengan lekat. Dia mulai risau dengan sikap berlebihan yang ditunjukkan Benny kepadanya.
...πΉTo Be Continue πΉ...
...π·π·π·π·...
__ADS_1