
Wajah murung serta bibir mengerucut terlihat jelas di wajah cantik yang biasa tampak ceria itu. Tentu Benny penasaran apa kiranya yang menyebabkan sikap istrinya berubah. Dia tahu jika istrinya itu sedang menahan tangis karena terlihat dengan jelas mata indah itu berembun.
"Setelah ini kita beli sarapan dulu yuk!" ajak Benny seraya meraih tangan Fina untuk digenggamnya.
"Terserah Mas saja," jawabnya dengan suara yang bergetar.
Tak lama setelah itu, telur gulung pesanan Benny telah selesai. Mereka segera pergi dari sana untuk mencari warung lesehan yang buka di car free day. Kebetulan sekali, tak lama setelah mereka berjalan menyusuri jalan cor itu, mereka menemukan warung pecel lesehan. Benny memilih tempat yang cukup sepi agar bisa bicara dengan Fina.
"Ada apa, Sayang?" tanya Benny setelah memesan menu sarapan untuk mereka bertiga.
"Itu aku tadi ketemu tetangga. Mereka pada ngomongin kita yang enggak-enggak. Aku kesel sama mereka, Mas," ujar Fina dengan suara yang masih bergetar. Fina sengaja membelakangi Elza agar putra sambungnya itu tidak tahu jika air matanya tak dapat dibendung lagi.
Situasi ini tentu bukanlah sesuatu yang mengherankan bagi Benny. Dia paham jika istrinya sedang mengalami perubahan mood karena hormon kehamilan. Seperti pengalamannya dulu saat Nurmala hamil Elza, dia pun menghadapi perubahan mood besar ibu dari Elzayin itu.
"Sabar. Biarkan saja mereka berpikir buruk tentang kita. Kamu tidak boleh sampai setres karena omongan tetangga. Biarkan saja mereka berkata bagaimana," ucap Benny sambil menggenggam erat tangan istrinya.
"Mama! Aku nanti mau beli mainan itu ya!" tunjuk Elza pada pedagang mainan yang tak jauh dari tempatnya saat ini.
"Iya, nanti beli sama Papa," sahut Benny agar putranya tidak mendengar suara Fina yang bergetar karena menangis.
"Monggo," ucap pemilik warung pecel ini ketika menyajikan tiga porsi nasi untuk mereka bertiga.
"Sebaiknya kita sarapan dulu, nanti lanjut bicara lagi. Mau aku suapin?" tanya Benny sambil menatap Fina penuh arti.
Fina tak segera menjawab tawaran Benny karena masih mengamati keadaan di sekitar, "mau dong. Mumpung gak ada yang lihat," ucap Fina seraya tersenyum manis. Wajah murung mendadak hilang setelah mendapatkan tawaran manis dari sang suami.
"Cie ... Papa sama Mama pacaran ya! Seperti yang di film film itu!" ujar Elza tatkala melihat ayahnya sedang menyuapkan satu sendok makanan untuk ibu sambungnya itu.
Kehangatan keluarga terasa di sana setelah mantan duda itu memberikan perhatian lebih kepada Fina. Dia berhasil mengembalikan mood istrinya yang sedang hamil muda. Tatapan penuh cinta serta senyum merekah terlihat jelas di wajah menawan Benny. Apa yang sudah dia lakukan kepada Fina tentu berhasil membuat beberapa gadis yang ada di sana merasa iri.
__ADS_1
"Ayo kita lanjutkan jalan-jalannya," ajak Benny setelah selesai sarapan di warung pecel lesehan itu.
Keluarga kecil itu menyusuri area car free day dengan suka cita. Mereka membeli banyak makanan untuk dibawa pulang. Fina sendiri sepertinya sedang kalap karena membeli makanan hampir di seluruh gerobak yang ada di sana. Mereka memutuskan pulang setelah kaki terasa lelah. Matahari pun mulai menampakkan kuasanya sehingga jalanan tersebut mulai terasa panas.
"Huh! Akhirnya sampai juga," gumam Fina sambil menghela napas setelah sampai di rumah ibunya. Dia duduk berselonjor di teras rumah untuk meregangkan otot tubuh yang terasa kaku.
Sementara Benny dan Elza memilih masuk ke dalam rumah. Tak lupa mereka membawa masuk semua makanan untuk diberikan kepada Badiah dan Nisa. Tak lama setelah itu, Benny kembali ke teras dengan membawa segelas air putih untuk istrinya.
"Minum air putih yang banyak, biar kuat," ucap Benny sambil memberikan gelas tersebut kepada Fina.
"Terima kasih, Papa," jawab Fina sambil tersenyum manis.
"Aku mau mandi dulu, Fin. Kamu di sini sendiri gak masalah kan?" tanya Benny.
"Gak papa kali, Mas. Jangan lebay gitu ih!" Fina memperingatkan suaminya, "Mas mandi dulu sana," usir Fina sambil menunjuk pintu ruang tamu. Sebuah kode agar Benny segera pergi.
Kini tinggallah Fina seorang diri di teras rumah itu. Dia membuka tas slempangnya untuk mengambil handphone. Wanita cantik itu ingin mengunggah foto kebersamaan hari ini di media sosialnya.
"Waalaikumsalam," jawab Fina sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas, "Bu Neneng mau cari ibu kah?" tanya Fina dengan sikap yang ramah.
"Tidak, Fin. Aku kesini ada perlu sama kamu," ucap Neneng sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sepertinya wanita berusia empat puluh tahun itu sedang memastikan keadaan di sekitar.
"Oh begitu. Memangnya ada perlu apa ya, Bu? Bagaimana kalau kita bicara di dalam saja?" tawar Fina sambil menunjuk ruang tamu.
"Tidak perlu, Fin. Aku hanya sebentar saja kok," sergah Neneng, "jadi begini, Fin. Sebenarnya aku ke sini mau merepotkan kamu," ucap Neneng dengan senyum tipis.
"Merepotkan bagaimana, Bu?" Fina semakin bingung menghadapi istri pak RW itu.
"Saya mau pinjam uang sama kamu, Fin. Saya tidak tahu harus pinjam uang kemana lagi untuk membayar sekolah Nanda," ucap Neneng dengan suara yang sangat lirih, "saya sebenarnya malu melakukan hal ini, tetapi mau bagaimana lagi, saya lagi butuh," jelas Neneng seraya tersenyum getir.
__ADS_1
"Memangnya ibu butuh berapa?" Fina mendadak tidak tega melihat cerita tetangganya itu. Dia teringat bagaimana dulu saat kesusahan mencari pinjaman untuk biaya sekolah Nisa.
"Satu juta ada gak, Fin? Saya kembalikan kalau dapat arisan bulan depan," ucap Neneng sambil berbisik.
"Maaf, Bu kalau satu juta tidak ada. Ini di dompet saya hanya ada lima ratus ribu. Kalau satu juta saya harus tarik tunai dulu karena uangnya ada di rekening," jawab Fina sambil membuka dompetnya dan mengeluarkan lima lembar rupiah berwarna merah muda.
"Iya deh, seadanya saja. Jangan bilang siapa-siapa ya, Fin. Ini rahasia kita berdua," ucap Neneng saat menerima uang tersebut.
Perbincangan terjadi di sana selama beberapa menit. Neneng pun pamit pulang setelah sempat berbasa-basi dengan Fina. Dia takut ada orang yang melihatnya di sana karena tentunya Neneng gengsi jika ada orang tahu jika dia hutang kepada Fina.
"Mbak! Kenapa di kasih hutang sih itu orang! Pasti gak akan dibayar, Mbak!" Tiba-tiba saja Nisa muncul di balik pintu ruang tamu.
"Jangan begitu, Nis. Mbak ini teringat saat kita susah dulu. Mbak dan Ibu kesusahan mencari pinjaman untuk biaya sekolahmu. Huuuh ... rasanya sedih banget kalau tidak ada yang memberi pinjaman," jelas Fina dengan hembusan napas yang berat.
"Iya, Mbak. Aku tahu jika kita harus saling membantu. Akan tetapi bu Neneng itu hutangnya ke ibu udah numpuk. Kalau gak salah udah tiga juta tuh. Katanya di bayar waktu dapat arisan 'kan?" tebak Nisa sambil menatap kakaknya.
Fina hanya menganggukkan kepala setelah mendengar tebakan adiknya. Lantas, dia mendengarkan cerita yang disampaikan Nisa selama ini. Ternyata, ada beberapa tetangga yang tega hutang kepada Badiah tetapi tak kunjung dibayar. Mereka menduga jika Badiah memiliki banyak uang karena memiliki memantu kaya raya.
"Aku tuh sampai kasihan sama Ibu. Kalau gak dikasih pinjam pasti menjadi bahan gosip di jamaah radar. Rata-rata yang hutang adalah group julid. Mereka pasti bilang 'Bu Bad, saya pinjam uangnya. Besok pasti akan saya kembalikan pagi-pagi.' Modus banget kan! Sampai sekarang pun belum ada yang mau bayar hutang ke Ibu." Nisa terlihat emosi saat menceritakan bagaimana keadaan di sana.
"Apalagi si Neneng itu. Dia itu enggak kesusahan, Mbak. Dia hutang karena harus bayar cicilan laterpay. Hampir setiap hari tuh ada paket datang. Hidupnya mewah," jelas Nisa sambil menatap kakaknya.
Hanya helaian napas berat yang terdengar di sana. Fina tidak menyangka saja jika ada orang-orang tak bertanggung jawab yang mengusik kehidupan keluarganya.
"Ya sudah kalau begitu setelah ini jangan sampai ada yang ngutang lagi. Kasihan Ibu kalau begini terus caranya. Apa mereka pikir kita ini bank pencetak uang kali ya, Nis?" Fina pun merasa geram dengan para tetangga nakal ibunya.
...๐นTo Be Continued ๐น...
...Tetangga kalian ada gak yang seperti itu? suka ngutang tapi sulit bayar๐...
__ADS_1
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...