Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Kerumitan hati


__ADS_3

"Hati-hati, Bu," ucap Benny saat mengantar Ani sampai di depan lift, "Dit, jangan ngebut nyetirnya," tutur Benny seraya menatap adik perempuannya yang bernama Dita.


Selepas waktu duhur, Ani pamit pulang karena ada janji dengan terapis yang biasa membantu suaminya. Dita pun harus segera pulang karena sudah terlalu lama meninggalkan anaknya di rumah.


"Nanti kalau butuh sesuatu telfon saja, Kak," ucap Dita sebelum masuk ke dalam lift.


Sementara Benny hanya mengembangkan senyum tipis saat menanggapi ucapan adiknya. Duda mapan itu membalikkan badan setelah pintu lift tertutup rapat. Dia harus segera kembali ke kamar inap, untuk menjaga Elza karena Fina sedang pergi ke mushola.


"Papa, Mbak Fina kenapa belum kembali? Apa Mbak Fina pergi meninggalkan aku?" tanya Elza setelah Benny kembali ke ruangannya.


Bukan tanpa sebab Elza bertanya seperti itu. Dia takut Fina meninggalkannya setelah tadi sempat ada pembahasan tentang pernikahan bersama Ani. Gadis berhijab itu sempat menangis ketika Ani memintanya untuk menerima lamaran Benny. Wanita paruh baya itu pun sangat berharap jika Fina bersedia menjadi menantunya.


"Mbak Fina lagi sholat. Elza gak usah khawatir," ucap duda tampan itu saat mencoba menenangkan putranya.


"Papa gak bohong 'kan?" tanya Elza dengan sorot mata penuh harap.


Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka setelah ada ketukan pintu beberapa kali. Ternyata ada Syakur dan Aris yang muncul di sana. Benny berdiri dari tempatnya untuk menyambut kedatangan pelatih putranya. Bersamaan dengan itu, Fina masuk ke dalam ruangan.


"Maaf, Pak Ben, kami baru sempat datang siang ini karena memang kami baru pulang tadi pagi." Syakur memberikan penjelasan kepada Benny, "saya mohon maaf atas kejadian ini. Saya tidak menyangka jika Elza kena pukulan tipuan," ucap Syakur dengan nada penuh sesal.


"Tidak masalah, Pak. Mungkin ini adalah musibah. Lagi pula keadaan Elza baik-baik saja, ya ... meski tangannya harus dioperasi. Kemungkinan setelah ini, dia pun tidak bisa latihan, Pak," ucap Benny seraya menatap Syakur.


"Memang harusnya seperti itu, Pak. Elza harus istirahat dulu sampai benar-benar sembuh. Perkara latihan bisa dilakukan kapan saja." Syakur menepuk bahu Benny dengan diiringi senyum manis.


Sementara Aris saat ini sedang duduk di kursi yang ada di sisi bed Elza. Dia mengambangkan senyumnya kepada bocah kecil itu. Beberapa kata-kata penyemangat telah dilayangkan pemuda manis itu untuk Elza. Namun, bocah kecil itu tak sedikitpun mengembangkan senyum ke arah Aris. Dia murung dan terlihat tak bersemangat.


"Sekarang Kang Aris mau nanya, Kenapa Elza kehilangan Fokus? Apa musuhnya banyak memberikan tipuan?" tanya Aris seraya menatap bocah kecil itu dengan lekat.


"Tidak," jawab Elza tanpa menatap Aris. Dia sepertinya sedang marah kepada bocah kecil itu.


"Terus kenapa?" Aris masih penasaran dengan penyebab tumbangnya jagoan hebat Pagar Bangsa itu.

__ADS_1


"Aku tidak suka melihat Kang Aris pegang-pegang tangan mbak Fina! Aku gak suka lihat Kang Aris dekat Mbak Finaku!" ujar Bocah kecil itu hingga membuat semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangan ke arahnya.


Tentu Aris tidak bisa berbicara lagi setelah mendengar ungkapan kekesalan Elza. Dia merasa malu kepada semua yang ada di ruangan itu. Perasaan bersalah semakin besar dalam hatinya setelah mendengar penjelasan itu.


"Ya Allah, jadi karena masalah ini Elza mengalami cidera parah. Dia tertekan setelah mendengar pertengkaranku dengan pak Benny dan kang Aris. Lalu dia pun melihat kang Aris menggenggam tanganku. Astagfirullah," batin Fina setelah mendengar semua pengakuan Elza. Dia hanya bisa menundukkan kepala karena tidak sanggup melihat keadaan yang ada di sekitar.


Keadaan ruang inap itu mendadak menyesakkan dada. Baik Aris ataupun syakur, keduanya merasa tidak enak hati kepada Benny. Begitupun dengan ayah Elzayin itu, dia merasa geram setelah mendengar pengakuan putranya. Ingin marah tapi tidak tahu harus meluapkan ke siapa, mengingat dirinya ikut andil dalam hal ini.


Bukankah memang seperti itu? Anak akan terkena imbas apabila orang tuanya sedang ada masalah. Entah itu imbas secara fisik ataupun psikisnya.


"Pak Benny, kami pamit dulu karena setelah ini harus menyiapkan laporan ke pusat mengenai cidera yang terjadi kepada Elza. Kami benar-benar minta maaf atas kejadian ini," ucap Syakur sebelum pergi dari ruangan Elza.


Mereka sempat berbincang untuk sesaat, sebelum benar-benar pergi dari ruangan tersebut, "terima kasih atas kunjungannya, Pak," ucap Benny saat mengantar Syakur sampai di depan pintu ruangan.


"Fin, aku mau pulang sebentar. Mau ambil baju ganti dan beberapa barang. Kamu mau nitip sesuatu gak?" tanya Benny setelah kembali ke tempat Fina berada. Dia memilih untuk tidak membahas masalah yang sempat diperbincangkan di sana, karena tidak mau membuat Fina semakin sedih.


"Tidak perlu, Pak. Nanti saya pulang sendiri saja," ucap Fina seraya mengembangkan senyumnya.


"El, Mbak Fina minta maaf ya, karena sudah membuat Elza sedih," ucap Fina dengan suara yang bergetar.


"Aku tidak membenci Mbak Fina," ucap bocah kecil itu, "jangan pergi meninggalkan aku ya, Mbak," ucap Elza dengan tatapan penuh harap.


Fina menggelengkan kepalanya saat mendengar permintaan Elza. Tangannya tak henti mengusap kepala Elza dengan penuh kasih, "Mbak gak akan meninggalkan Elza, tenang saja. Sekarang Elza istirahat dulu ya," ucapnya.


"Jangan pergi dengan kang Aris, Mbak," pinta bocah kecil itu lagi dan Fina hanya menanggapi dengan senyum tipis.


Detik demi detik telah berlalu begitu saja hingga rona jingga mulai muncul di cakrawala barat. Benny baru saja tiba di rumah sakit tepat pukul empat sore. Dia membawa beberapa barang agar tidak bolak-balik pulang dan fokus menjaga putranya.


"Pak, saya mau izin pulang sebentar," ucap Fina setelah Benny duduk di sofa yang ada di sana.


"Kamu naik apa pulangnya? Soalnya aku tadi bawa mobil," tanya Benny.

__ADS_1


"Saya bisa naik ojek online, Pak," jawab Fina.


"Jangan! Lebih baik kamu naik taksi online saja," sergah Benny dengan tegas. Lantas dia membuka tas kulitnya dan mengambil dua lembar rupiah berwarna merah muda untuk diberikan kepada Fina, "ini ongkosnya, Fin," ucap Benny sambil memberikan uang tersebut kepada Fina.


"Terima kasih, Pak," ucapnya setelah menerima uang tersebut.


Gadis cantik itu bergegas keluar setelah pamit kepada Benny. Dia mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi online melalui aplikasi. Hingga beberapa menit kemudian, gadis itu sampai di halaman rumah sakit. Taksi pun sudah menunggunya di sana.


"Perjalanan sesuai pesanan ya, Kak," ucap Driver tersebut.


Fina hanya menganggukkan kepalanya dan setelah itu dia menyandarkan tubuh di kursi penumpang. Gadis cantik itu memejamkan mata dan mencoba untuk mencari jalan keluar atas kerumitan hatinya. Mungkin, memilih jalan pulang adalah yang terbaik untuk saat ini.


"Pak, berhenti dulu, Pak," ucapnya setelah menemukan satu jawaban yang tepat atas kerumitan ini, "saya mau ubah arah tujuan. Tolong antar saya ke Mojokerto," ucap Fina setelah driver menepikan mobil.


Setelah mengatur perubahan tujuan melalui aplikasi, akhirnya mobil yang membawa Fina putar balik menuju arah Mojokerto. Gadis itu pun mengeluarkan ponselnya untuk memberi kabar kepada Benny dan setelah itu dia menonaktifkan ponselnya.


Assalamualaikum, Pak Ben.


Sebelumnya saya minta maaf karena izin mendadak di saat Elza membutuhkan saya. Akan tetapi saya harus segera pulang ke Mojokerto untuk menenangkan diri. Saya izin pulang 1-2 hari saja. Tolong jangan beritahu Elza dulu, Pak.


...🍦To Be continued 🍦...


...Lah si Fina malah pulangπŸ˜†...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Hallo semua😍Ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih😎Kuy baca karya author Haryani dengan judul Istriku, Penutup Aibku....



...🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼...

__ADS_1


__ADS_2