
"Mama Baru? Apakah kita akan membeli mama di mall begitu maksudnya, Pa?"
Pertanyaan yang dilayangkan Elza berhasil membuat Benny tertawa lepas. Dia pun menghujani Elza dengan kecupan beberapa kali kepada putra semata wayangnya itu, karena gemas akan pemikiran yang masih polos itu.
"Tidak, Sayang. Elza bisa memiliki mama baru apabila Papa menikah lagi dengan seorang wanita," jelas Benny setelah menghentikan tawanya. Dia menatap Elza penuh arti, "Elza tahu kan bagaimana orang menikah?" tanya Benny.
"Tahu, Pa. Seperti orang-orang yang biasa duduk di atas pelaminan itu 'kan? Yang biasa aku lihat di saat ikut Papa kondangan?" tanya bocah kecil itu setelah mengingat momen saat dirinya diajak Benny ke pernikahan saudara.
"Nah, itu benar. Coba Elza lihat album yang warnah hitam. Ini adalah foto-foto pernikahan Papa dan mama Nurmala dulu," ucap Benny seraya membuka album pernikahannya.
Elza mengamati setiap foto yang ada di lembar album tersebut. Dia kagum melihat wajah cantik ibunya yang tidak pernah dia lihat secara langsung. Elza melihat foto itu sampai lembar terakhir dan setelah selesai dia menutup album tersebut.
"Pa, kenapa waktu Papa menikah dengan Mama aku tidak diajak foto? Kenapa Mama tidak menggendongku seperti di album yang tadi?" tanya Elza seraya menatap Benny dengan lekat.
Seketika ekspresi wajah duda satu anak itu berubah, setelah mendengarkan pertanyaan itu. Dia bingung harus menjawab bagaimana, karena jika salah sedikit saja, maka dia sendiri yang akan dibuat bingung. Mengingat Elza adalah anak yang cerdas. Dia akan terus bertanya sampai paham.
"Tidak mungkin 'kan jika aku menjawab—kamu belum dibuat saat papa dan mama menikah—bisa kacau urusan ini," batin Benny saat memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut.
"Kenapa, Pa? Apa Papa dan mama malu membawaku duduk di atas pelaminan?" tanya Elza lagi.
"Tidak, Sayang. Tidak seperti itu," sergah Benny dengan bola mata yang bergerak ke kiri dan ke kanan setelahnya, "emmm ... saat itu Elza masih kecil, jadi tidak boleh ikut duduk di pelaminan. Memangnya Elza pernah lihat ada pengantin bawa bayi? Mereka sibuk bersalaman sama tamu 'kan?" tanya Benny.
"Iya juga ya, Pa. Hmmm ... berarti kalau Papa mau menikah lagi, ajak aku ya, Pa. Aku sekarang kan sudah besar, jadi tidak akan merepotkan Papa," ujar Elza hingga membuat Benny kembali mengulum senyum.
"Pasti dong! Nanti Papa akan mengajak Elza." Benny menyanggupi hal ini kepada putranya.
Elza terlihat bahagia meski hanya mendengar hal itu. Dia membuka kembali lembar foto, di mana ada dirinya di sana. Bocah kecil itu tak henti tersenyum ketika memandang wajah cantik Nurmala.
__ADS_1
"Mama cantik ya, Pa," gumamnya dengan tangan tak henti mengusap gambar tersebut.
"Tentu dong. Eh tapi cantik mana Mama sama mbak Fina?" tanya duda satu anak itu karena penasaran. Mungkin ini adalah awal dari pembicaraan mengenai pernikahannya nanti.
"Pertanyaan yang sulit!" ujar bocah kecil itu.
Elza tak segera menjawab pertanyaan ayahnya. Dia termenung sambil menatap foto Nurmala. Sungguh, ekspresi wajahnya terlihat sangat lucu jika sedang berpikir seperti ini. Benny pun sampai mengulum senyum melihat respon putranya, seperti seseorang yang dihadapkan dengan pilihan hidup yang berat.
"Dua-duanya cantik, Pa," gumam Elza dengan suara yang lirih. Bocah kecil itu tidak bisa memilih di antara kedua wanita yang ada dalam hidupnya.
"Menurut Elza bagaimana kalau Papa menikah dengan mbak Fina saja? Elza mau gak punya mama seperti mbak Fina?" Akhirnya pertanyaan ini lolos juga dari bibir duda satu anak itu.
"Mau! Mau! Mau!" teriak Elza dengan suara yang lantang. Dia sangat antusias setelah mendengar pernyataan itu.
"Tapi Pa, apa mbak Fina mau sama Papa?" tanya Elza dengan polosnya.
"Nah, itu yang Papa gak tahu, El." Benny mengela napasnya berat, "maka dari itu Papa butuh bantuan Elza," ucap Benny seraya menatap Elza penuh arti.
"Memangnya aku harus membantu Papa bagaimana? Apa aku perlu menangis di hadapan mbak Fina?" tanya Elza dengan tatapan yang tak lepas dari wajah putranya.
Benny tersenyum penuh kemenangan setelah mendengar pertanyaan putranya. Ide-ide cemerlang seketika muncul di kepalanya. Mendapatkan Fina melalui jalur orang dalam sepertinya lebih muda, mengingat Elza cukup pandai bila diajak kerja sama. Apalagi, dia pun menginginkan tujuan yang sama dengannya.
"Elza setuju 'kan jika Papa menikah dengan mbak Fina? Nanti Elza akan memanggil mbak Fina dengan sebutan Mama. Kalau Papa jadi menikah dengan mbak Fina, nanti Elza akan punya adik, jadi ada temannya bermain," jelas Benny sebelum memberikan putranya tugas untuk mendapatkan Fina.
"Serius, Pa?" Elza menatap Benny dengan tatapan tak percaya, binar bahagia terlihat jelas di mata bocah kecil itu.
"Iya, serius. Maka dari itu bantu Papa, oke?" Benny mengembangkan senyum dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
"Kalau Papa menikah sama mbak Fina, apa mama Nurma tidak marah? Masa Papa punya dua istri?" tanya Elza setelah terdiam beberapa detik lamanya.
Benny kembali mengulum senyum setelah mendengar pertanyaan putranya. Ternyata Elza punya pemikiran yang sangat cerdas. Hanya dengan mendengarkan setiap penjelasan ayahnya, dia bisa tahu kemana arah pembicaraan. Tentu Benny sangat bangga karena hal itu. Anak yang dulu selalu membuatnya emosi, kini berubah menjadi anak yang membuat dirinya merasa tentram dan tenang.
"Mama tidak akan marah, El. Justru mama Nurma senang jika Papa menikah sama mbak Fina," jelas Benny seraya mengusap rambut putranya dengan lembut.
Benny pun menjelaskan apa saja yang harus dilakukan Elza untuk membantu melancarkan aksinya. Dia tidak peduli meski belum tahu jawaban gadis pujaannya itu.
"Elza paham maksud Papa?" Benny memastikan jika putranya mengerti penjelasannya.
"Oke, Papa! Aku akan menjaga mbak Fina dari kang Aris," ujar Elza.
"Tos dulu!" Benny mengarahkan telapak tangannya kepada Elza.
"Tos, Papa!" Elza menepuk telapak tangan ayahnya dengan telapaknya.
Misi mendapatkan Fina telah dirancang dengan sempurna. Entah itu akan terlaksana atau justru Tuhan berkehendak yang lain. Satu hal yang pasti, Benny sudah mendapatkan lampu hijau dari putranya. Jalan semakin mulus untuk mendapatkan bunga yang sedang bermekar indah. Harapan memiliki rumah tangga bahagia bersama Fina semakin besar dan tentunya lebih mudah karena ada pendukung di belakangnya.
"Jangan lupa, Elza harus menjaga rahasia misi kita dari mbak Fina. Jangan sampai calon mamanya Elza tahu jika kita sedang bersekongkol, karena Papa takut mbak Fina kabur," ucap Benny ketika mengingatkan putranya agar tidak membocorkan rahasianya.
"Siap, Papa!" ujar Elza dengan sikap yang tegas, seakan sedang menerima tugas dari atasan.
Benny memberikan pelukan hangat untuk putranya karena sudah bersedia membantu untuk mendapatkan Fina. Kedekatan mereka berdua semakin terjalin kuat karena misi mendapatkan mama baru. Jika misi ini berhasil, maka tugas Fina semakin bertambah. Dia bukan hanya menjadi pengasuh Elza, tetapi juga akan menjadi pengasuh idaman duda tampan itu.
"Bagaimana kalau nanti sore kita pergi ke makam mama Nurma? Apa Elza mau?" tanya Benny seraya menatap Elza dengan lekat.
...🌹To Be Continue 🌹...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...