Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Radar Gosip


__ADS_3

"Hoek ... hoek ... hoek."


Seperti hari-hari sebelumnya, setiap bangun tidur Fina selalu memuntahkan isi perutnya. Kalau sudah begini, tubuh terasa lemas dan kepala mendadak pening. Berdiam diri di kamar mandi untuk mengumpulkan tenaga adalah pilihan Fina. Dia memijat pangkal hidungnya agar rasa pusing segera hilang.


"Sayang. Buka pintunya," ucap Benny sambil mengetuk pintu beberapa kali.


Ceklak.


Setelah pintu terbuka lebar, Fina pun keluar dari sana. Dia tak menghiraukan Benny yang sedang menunggu di depan pintu. Lantas, Fina duduk di kursi yang ada di dapur. Kedua tangannya dipakai untuk menopang kepala.


"Mas, minta tolong buatkan aku teh panas ya, Mas," gumam Fina tanpa menegakkan kepala. Dia merasa tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya.


"Baiklah, tunggu sebentar," jawab Benny sambil berjalan menuju tempat kompor berada. Mantan duda itu berkutat di sana demi istri tercintanya.


Tak berselang lama, Benny datang menghampiri Fina dengan membawa segelas teh panas dan diletakkan di meja yang ada di hadapan Fina. Tanpa disuruh, pria tampan itu memijat pundak Fina dengan gerakan pelan sehingga membuat wanita berbadan dua itu merasa nyaman.


"Assalamualaikum ...."


Fina menegakkan kepala setelah mendengar suara Elza dari depan rumah. Putra sambungnya itu sepertinya baru pulang dari masjid bersama Nisa dan Badiah.


"Waalaikumsalam ... Mama di dapur, El," teriak Fina karena khawatir Elza mencari keberadaannya.


Tak lama setelah itu, Elza pun menemui Fina di dapur. Dia berdiri di sisi Fina sambil menatap ibunya dengan heran, "Mama sakit lagi?" tanya Elza sambil menyentuh pipi Fina.


"Mama Enggak sakit, Nak. Cuma mual saja," jawab Fina sambil mengembangkan senyum yang manis.


"Jangan sakit lagi ya, Ma, karena aku sedih kalau lihat Mama sakit," ucap Elza sambil memeluk tubuh ibu sambungnya itu


"Tenang, El, Mama itu enggak sakit. Tapi Mama lagi hamil adiknya Elza. Sembilan bulan lagi Elza punya adik," ujar Benny seraya menatap putranya.


"Serius, Pa?" Mata minimalis itu menunjukkan binar bahagia, "tapi perutnya Mama kok enggak besar. Adek bayinya di mana?" tanya Elza sambil menyentuh perut Fina yang masih rata.


"Adiknya masih kecil, nanti kalau sudah tumbuh, perutnya Mama jadi besar," jelas Fina dengan degup jantung yang tak beraturan karena takut Elza terus bertanya.


"Oh, jadi nunggu adonannya mengembang ya, Ma?" Pertanyaan ini berhasil membuat semua orang tertawa lepas. Termasuk Badiah dan Nisa yang ada di ruang tengah.

__ADS_1


"Iya. Begitu lah." Fina sendiri bingung harus bagaimana, "emmm ... tadi Elza habis sholat subuh berjamaah ya? Sama siapa saja tadi di masjid?" Fina mengalihkan pembahasan untuk menghindari pertanyaan Elza.


Elza pun menceritakan apa saja yang sudah dia lakukan sejak adzan subuh berkumandang. Fina hanya mengembangkan senyum saat menyimak cerita dari putra sambungnya itu. Sementara Benny masih berdiri di belakang kursi yang ditempati Fina dengan tangan yang tak henti memijat pundak itu.


"Ma, Pa, kita jalan-jalan yuk! Aku mau beli jajan di depan. Banyak orang jualan, mau ya, Ma?" tanya Elza dengan sorot mata penuh harap.


"Mbak belom tahu ya kalau hari minggu pagi di jalan cor ada car free day. Coba ke sana, Mbak. Ramai loh," sahut Nisa yang ada di ruang keluarga. Dia masih sibuk membereskan sisa-sisa acara semalam.


"Mas mau jalan ke sana?" tanya Fina sebelum menyanggupi permintaan Elza.


"Mau dong. Sekalian cari sarapan saja," jawab Benny.


"Yes! Aku jalan-jalan!" teriak Elza karena keinginannya terpenuhi.


****


Suasana segar khas pedesaan menyapa ketiga orang yang baru keluar dari halaman rumah. Bocah kecil yang sedang menggandeng kedua orang tuanya itu nampak antusias. Dia begitu semangat ketika pulang ke tanah kelahiran ibu sambungnya itu. Selain banyak anak-anak seusianya yang bebas bermain bersamanya, dia suka dengan suasana sejuk di sana.


"Ma, ini masih jauh kah?" tanya Elza seraya menatap Fina sekilas.


"Kurang sebentar lagi kita sampai, Sayang," ucap Fina seraya mengembangkan senyum yang manis.


"Ma, aku mau beli jajan itu!" tunjuk Elza pada gerobak penjual telur gulung. Padahal mereka belum sampai di area car free day.


"Iya. Sabar, nanti kita beli di sana. Jangan lari!" ujar Fina ketika melihat bagaimana antusiasnya Elza setelah melihat keramaian yang tak jauh darinya.


"Biar Elza sama aku saja. Kamu jalan pelan-pelan saja," ujar Benny sambil meraih tangan putranya, "ayo, Sayang, sama Papa," ajak Benny.


Bocah kecil itu terlihat bahagia. Dia berlari bersama ayahnya untuk melihat setiap pedagang makanan yang berjajar rapi di sepanjang jalan. Sementara Fina, memilih untuk berjalan santai sambil menikmati suasana di sana. Wanita yang sedang hamil muda itu memutuskan duduk di salah satu bangku bambu yang ada di bawah pohon trembesi cukup rindang.


"Wah ... ketemu Fina di sini nih," sapa salah satu tetangga Fina yang kebetulan pergi ke sana bersama beberapa tetangga yang lain.


"Iya, Bu. Mumpung sedang pulang. Saya baru tahu kalau ada keramaian di desa kita," jawab Fina dengan sikap yang ramah.


"Udah buruan borong semua dagangan orang-orang di sini, biar makin viral," seloroh wanita tersebut. Tentu ini bukan sekadar candaan biasa, tetapi lebih ke arah sindiran.

__ADS_1


"Seperti artis saja, Bu, pakai viral segala." Fina masih berusaha menanggapi candaan tetangganya itu.


"Lah emang begitu loh. Siapa yang gak tahu di sini, jika ada orang kaya baru," ucap wanita tersebut sambil tersenyum smirk, "Aku mau lanjut dulu, Fin. Selamat berbelanja," pamit wanita tersebut bersama yang lainnya.


Ada rasa sakit yang menjalar dalam hati setelah mendengar kata-kata pedas dari tetangganya itu. Padahal selama ini dia tidak mempunyai niat sedikitpun untuk menunjukkan kekayaan yang bisa mengundang gunjingan tetangga.


"Loh kok sendirian saja, Fin. Mana suaminya?" Lamunan dalam pikirannya mendadak hilang ketika ada salah satu tetangganya yang datang ke car free day.


"Itu, Bu. Lagi antre telur gulung," tunjuk Fina pada pedagang telur gulung.


"Wah pasti mau borong ya?" Wanita tersebut menatap Fina dengan senyum smirk.


"Tidak, Bu. Beli seperlunya saja. Itu tadi anak saya yang minta," jawab Fina dengan senyum dipaksakan.


Bukannya pergi, wanita itu justru duduk di samping Fina. Tentu hal ini membuat Fina merasa risih karena tahu jika tetangganya satu ini pasti akan bicara yang ngelantur karena memang wanita yang bernama Zulaikah ini terkenal sebagai radar gosip.


"Eh, Fin suamimu kerja apa sih? Sepertinya duitnya kok banyak banget. Padahal jika dilihat dari penampilan kan biasa saja, seperti merakyat gitu loh, bukan yang hedon." Zulaikah mulai menggali informasi dari Fina, "kalau kata orang-orang suamimu itu punya pabrik ya?" tanya Zulaikah seraya menatap Fina.


Mood Fina mendadak berubah setelah mendengar setiap pertanyaan dari radar gosip itu. Dia merasa kesal karena ternyata Zulaikah ingin tahu bagaimana kehidupannya di Surabaya.


"Suami saya enggak pernah kerja, Bu. Mungkin Bu Zul salah dengar kali," jawab Fina asal.


"Wah jangan-jangan punya pesugihan ini. Hmmm ... mungkin saja suaminya Fina ini penipu kali ya atau ... bisa jadi dia bandar obat-obatan terlarang. Astagfirulloh," batin Zulaikah seraya menatap Benny dari jauh.


"Eh, Fin. Jaman sekarang seharusnya kamu lebih hati-hati jika berhadapan dengan orang baru. Apalagi, kalau orangnya gak jelas. Ya ... takutnya tiba-tiba saja berurusan dengan polisi." Entah ini sebuah nasihat ataukah cibiran untuk Fina.


Fina memicingkan mata setelah paham maksud dari Zulaikah. Dia segera beranjak dari bangku bambu itu agar terbebas dari radar gosip, "Bu, saya pamit duluan ya. Sepertinya anak dan suami saya sudah selesai antrenya. Permisi ...." Fina tersenyum simpul sebelum pergi meninggalkan Zulaikah.


"Wah, jangan sampai keluarga Bu Bad ini jadi petaka semua orang. Takutnya mereka memakai jalur pesugihan lagi, bisa-bisa banyak orang desa meninggal karena dijadikan tumbal nih," gumam Zulaikah dengan suara yang cukup kencang. Akan tetapi wanita itu tidak sadar jika suaranya terdengar jelas.


Fina menjadi geram setelah mendengar sendiri bagaimana prasangka buruk tetangganya itu kepada keluarganya. Fina membalikkan badan dan kembali menghampiri Zulaikah untuk menjawab praduga radar gosip itu.


"Tolong kalau bicara yang hati-hati ya, Bu. Jangan menduga dan asal menuduh jika tidak tahu kebenarannya. Apalagi sampai memfitnah orang lain, karena itu termasuk dosa besar!" ujar Fina dengan suara lantang hingga Benny membalikkan badan karena mendengar suara istrinya.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Di tempat kalian ada gak tetangga yang julid seperti itu?😝...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2