Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Curhatnya Dua Wanita.


__ADS_3

Senyum ceria tergambar jelas di wajah Fina setelah jalan-jalan bersama Elza keliling komplek. Tak hanya sekadar jalan-jalan, keduanya berburu aneka jajanan pedagang kaki lima yang ada di taman depan, karena hari ini Nisa akan berkunjung ke rumahnya.


"Ma, tante Nisa nanti sampai sini jam berapa?" tanya Elza setelah mereka sampai di rumah. Keduanya pergi ke teras belakang untuk bersantai dan menikmati jajan hasil buruannya pagi ini.


"Menjelang siang mungkin, Nak. Eh, ini tolong berikan ke Mbok Jum kue putunya," ucap Fina sambil menyerahkan satu kantong jajanan tersebut kepada Elza.


Fina hari ini terlihat ceria karena sudah mendapatkan kabar dari suaminya. Tentu dia berharap jika rencana kerja sama yang disusun suaminya berhasil, sehingga usahanya bisa berkembang jauh lebih besar.


"Ma, ini aku buatin susu untuk adek bayinya. Berhubung Papa gak ada di rumah, jadi aku yang akan membuatkan Mama susu," ucap Elza setelah kembali ke teras belakang dengan membawa segelas susu rasa cokelat favorit ibu sambungnya itu.


"Serius ini tadi Elza yang bikin? Bukan Mbok Jum?" tanya Fina setelah menerima gelas pemberian Elza.


"Iya, Ma. Aku bikin sendiri, maaf ya, Ma, jika rasanya tidak enak," ucap Elza sambil menatap Fina dengan senyum manis.


Tentu hal kecil seperti ini berhasil membuat Fina merasa bahagia. Dia tidak menyangka jika Elza memiliki kepedulian yang cukup besar terhadapnya. Wanita berbadan dua itu segera meneguk susu cokelat itu hingga tandas.


"Enak banget kok, Sayang. Mama suka," puji Fina sambil menunjukkan gelas kosong tersebut, "terima kasih, Nak." Fina mengusap pipi Elza dengan lembut. Dia sangat bahagia karena mendapatkan perhatian kecil dari putra sambungnya itu.


"Dedek suka gak sama susunya? Baik-baik ya di dalam situ karena Papa gak ada di rumah. Sementara kakak yang mengusap perutnya Mama ya," ucap Elza di depan perut buncit Fina.


Suara gelak tawa Fina terdengar di sana karena melihat sikap putra sulung suaminya itu. Dia terharu karena perhatian Elza terhadapnya. Sikap jijik yang ditunjukkan saat melihat keromantisannya bersama Benny, nyatanya sekarang ditunjukkan di saat tidak ada ayahnya. Anak yang diasuhnya selama ini tumbuh menjadi anak yang sangat peduli dan sayang kepadanya.


"Dedek bayi pasti bahagia memiliki Kakak yang sangat baik seperti Elza," ucap Fina sambil menyentuh bahu putra sambungnya itu. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata karena rasa haru.


"Bu, Mbak Nisa sudah datang," ucap Jumiatin saat menemui Fina di belakang.


"Yeeee ... tante cantik datang!" teriak Elza. Dia berlari meninggalkan Fina di teras belakang. Bocah kecil itu sangat antuasias menyambut kedatangan adik kandung ibu sambungnya itu.


Fina beranjak dari tempatnya untuk menyusul Elza. Tentu kehadiran Nisa sangat di harapkan karena rasa rindu yang memenuhi hati. Fina mengayun langkah menuju bagian depan rumah tersebut dan pada akhirnya sampai di ruang tamu.

__ADS_1


"Mbak ...." Nisa berteriak saat melihat Fina muncul dari ruang keluarga. Dia menghampiri Fina dan segera menghambur ke dalam pelukan kakaknya itu.


"Hei! Ada apa ini? Apa kamu tidak melihat perutku hmmm!" ujar Fina sambil menepuk punggung adiknya.


"Maaf, Mbak. Maaf," ucap Nisa sambil mengurai tubuhnya, "habisnya aku kangen sama Mbak," jelas gadis berhijab itu. Dia menatap Fina dengan lekat.


"Tante! Aku bum dipeluk loh!" Elza sepertinya iri karena Nisa belum memberikan dekapan hangatnya.


"Aduh, maaf ya. Tante sampai lupa kalau belum peluk Elza," ucap Nisa sambil beralih menatap putra sambung kakaknya itu.


Fina mengembangkan senyum tipis ketika melihat interaksi Elza dan Nisa. Dia mengamati adik kesayangan yang sudah tumbuh menjadi gadis cantik itu. Akan tetapi ada satu hal yang membuat Fina terganggu, dia menemukan sesuatu yang lain dari adiknya itu. Sorot mata Nisa terlihat berbeda. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"El, tolong bilang Mbok Jum agar membuatkan minum Tante Nisa," ucap Fina seraya menatap putranya penuh harap.


Setelah memastikan bocah berusia enam tahun itu masuk ke dalam, Fina mendekatkan diri dengan adiknya. Sekali lagi dia mengamati ekspresi wajah Nisa hingga sang empu sedikit terganggu karena hal itu.


"Ada apa?" tanya Fina tanpa basa-basi lagi, "apa terjadi sesuatu denganmu?" Fina tak melepaskan pandangannya.


"Aku tadi di kereta mengalami pelecehan," ucap Nisa tanpa berani menatap Fina.


"Terus?" selidik Fina dengan tatapan yang terlihat serius.


Pada akhirnya Nisa menceritakan bagaimana kejadian yang menimpanya. Nama Ardi pun terucap dari bibir gadis berhijab itu. Dia menceritakan bagaimana Ardi menolongnya hingga mengantar sampai di depan rumah ini.


"Kamu pacaran sama dia?" tanya Fina dengan tatapan tajamnya.


"Sumpah tidak, Mbak. Dia itu pria gak jelas!" tegas Nisa dengan suara tinggi.


"Kok bisa gak jelas?" tanya Fina lagi. Dia butuh penjelasan atas jawaban adiknya itu.

__ADS_1


Helaian napas berat kembali terdengar di sana. Nisa mengubah posisi hingga bisa menghadap Fina. Lantas, dia mulai menceritakan semuanya sejak awal. Bagaimana dia bertemu dengan Ardi dan keanehan dari pemuda itu. Nisa pun bercerita jika Ardi menyewa rumah di tetangga desa hingga titipan barang dari Ardi diceritakan kepada kakaknya.


"Menurut Mbak, dia aneh gak sih? Dia tertutup banget lagi!" tanya Nisa setelah menceritakan semuanya.


"Apa mungkin dia aparat negara yang sedang menyamar, Nis?" tebak Fina.


"Maksudnya intel begitu, Mbak?" Nisa melempar pertanyaan itu.


"Iya begitulah, Nis. Pokoknya yang bagian menyelediki kasus tapi nyamar gitu. Mungkin gak sih?" Fina mengernyitkan keningnya setelah menemukan ide itu.


"Sepertinya gak mungkin deh, Mbak. Sekarang kalau dia seandainya seorang intel, kenapa terus membuntutiku, Mbak? Apakah aku ini targetnya? Lalu salahku apa coba? Aku kan bukan pelaku kriminal?" cecar Nisa setelah mencerna pemikiran Fina.


"Iya juga sih. Terus apa dong?" Fina pun menjadi bingung karena hal ini.


Kedua wanita berparas hampir mirip itu terdiam beberapa saat lamanya. Mereka mencoba menerka tentang siapa sebenarnya Ardi itu dan apa tujuannya selalu mengikuti Nisa.


"Mbak, apa jangan-jangan dia itu mafia yang sedang menyamar jadi orang biasa karena dalam pencarian polisi? Atau mungkin dia narapidana yang kabur terus menyembunyikan diri di kota kecil Mojokerto? Kalau seandainya dia mafia, terus dia jadi mafia apa ya?" Lagi dan lagi tebakan Nisa sangat tidak masuk akal.


Fina memicingkan mata setelah mendengar ucapan ngelantur adiknya itu. Rasa kasihan yang sempat hadir mengenai masalah pelecehan itu mendadak hilang. Ibu hamil itu merasa kesal karena tebakan ngelantur yang tercetus dari Nisa.


"Nis, sadar, Nis! Kita itu hidup di dunia nyata, bukan dunia halu seperti drama korea yang biasa kamu tonton. Jangan terlalu jauh deh kalau menebak! Kalau masih penasaran, tunggu aja tiga bulan lagi," ujar Fina sambil menepuk bahu Nisa beberapa kali.


...🌹To Be Continued 🌹...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Rekomendasi karya keren untuk kalian nih😍yuk baca karya author Mommy Ghina dengan judul Dijual Ayahku Dibeli Bosku. Jangan sampai gak baca ya😎...


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2