
"Papa ... aku kesal banget!"
Kedatangan Benny disambut dengan aduan putra sulungnya itu. Padahal, ayah dari Elzayin itu baru tiba di teras rumah. Sejak beberapa menit yang lalu, ternyata Elza sudah menunggu kedatangannya di teras rumah.
"Ada apa lagi, El?" tanya Benny setelah duduk di lantai yang ada di sisi Elza. Dia menghela napas berat sebelum mendengarkan cerita yang disampaikan oleh putranya. Sudah bisa dipastikan jika semua ini pasti berhubungan dengan sikap Fina.
"Mama nangis di dalam. Padahal, ice creamku sudah direbut dan dihabiskan. Pa, Mama itu kenapa sih kok aneh begitu?" keluh Elza seraya menatap ayahnya. Bocah berusia enam tahun itu terlihat kesal.
Helaan napas berat terdengar di sana. Benny meraup wajahnya kasar setelah mendengar keluh kesah Elza. Akhir-akhir ini Fina mendadak aneh. Selain mengalami ngidam yang seringkali membuat Benny harus kerepotan, mood wanita berbadan dua itu pun mengalami naik turun. Dia lebih cengeng dan sensitif. Tak jarang Elza pun menjadi penyebab tangisan Fina. Hanya karena hal sepele, Fina bisa tergugu hingga matanya menjadi sembab.
"Nak, Mama sedang hamil. Jadi, sikap Mama berubah itu karena hormon dari dalam perut. Jadi, terkadang Mama tidak bisa mengendalikan diri. Nanti kalau perutnya Mama udah besar pasti Mama kembali seperti dulu. Enggak cengeng dan yang paling penting gak akan merebut mainan Elza," jelas Benny dengan tutur kata yang menenangkan.
"Jadi ... semua yang dilakukan Mama, bukan keinginan Mama gitu maksudnya, Pa?" tanya Elza setelah mendengar penjelasan ayahnya.
"Iya. Intinya Mama seperti ini karena tidak bisa mengendalikan perasaannya," pungkas Benny karena dia tahu jika penjelasan ini diperpanjang, maka tidak akan selesai.
"Berarti Mama sekarang lagi kesurupan ya, Pa?" celetuk Elza setelah terdiam beberapa saat.
Benny tertegun setelah mendengar celetukan putranya. Dia tidak habis pikir kenapa Elza bisa memiliki pemikiran seperti itu. Putra sulung Sukirman itu hanya menggeleng pelan karena bingung harus memberikan penjelasan bagaimana lagi.
"Tidak, Nak. Mama tidak kesurupan!" sergah Benny, "intinya Elza ikuti saja keinginan Mama. Kalau jajannya diminta Mama, kasihkan. Kalau Mama mau main sama Elza, ajaklah! Anggap saja Elza sedang latihan momong adek bayi. Oke?" Benny menatap lekat wajah putranya.
"Di mana Mama sekarang?" tanya Benny.
"Tadi sih di dapur, Pa," jawab bocah berusia enam tahun itu.
Akhirnya Benny mengajak Elza masuk ke dalam rumah untuk melihat kondisi Fina. Mereka terus berjalan sampai di ruang keluarga. Ternyata, Fina ada di sana dan sedang menikmati se kotak salad buah. Tatapan matanya fokus pada layar televisi di mana serial kartun legendaris terputar di sana.
"Assalamualaikum," ucap Benny setelah sampai di dekat sofa.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Fina seraya mengalihkan pandangan ke sumber suara. Dia mengembangkan senyum manis untuk menyambut kehadiran suaminya.
Sementara Elza hanya melongo setelah melihat perubahan sikap ibu sambungnya itu. Padahal, saat dirinya memutuskan keluar dari rumah, Fina masih menangis sesegukan di sana. Akan tetapi sekarang bisa tersenyum ceria. Sungguh, bocah kecil itu merasa bingung.
"Elza kenapa hanya diam saja? Mau salad buah gak seperti Mama?" Fina menawarkan salad buah seperti yang sedang dia nikmati saat ini.
"Enggak, Ma. Aku gak suka salad." Elza menggelengkan kepalanya. Dia masih heran dengan perubahan ibu sambungnya.
Benny mengajak putranya bergabung dengan Fina di sofa yang sama. Mantan duda itu pun bingung harus berbuat apa saat ini, karena takut salah ucap atau salah bertindak yang bisa membuat Fina badmood.
"Mas, pulang kerja dedek bayinya kok gak disapa?" Fina memicingkan mata karena Benny tak kunjung mengusap perutnya.
"Ya ampun, aku lupa. Maaf, Sayang." Benny menepuk kening setelah mendengar protes dari Fina.
Usia kandungan Fina sudah memasuki bulan ketiga. Perutnya mulai terlihat membuncit karena berat badanpun ikut naik. Fina belum pernah mengalami mual dan muntah parah di pagi hari, tetapi jika menjelang magrib ... wanita berbadan dua itu mulai tak berdaya. Dia terus mual dan muntah seperti orang yang sedang mabuk kendaraan. Jika keadaan ini sudah melanda, maka ibu sambung Elzayin itu hanya bisa mengurung diri di kamar karena lemas. Keadaan ini tentu tidaklah singkat karena sampai malam terkadang masih mengalami hal itu.
Setiap melihat pemandangan seperti ini, Elza selalu bergidik ngeri. Dia tidak suka melihat keromantisan yang dianggapnya sangat aneh dan menggelitik itu. Bocah kecil itu benar-benar tidak suka berada dalam situasi ini.
"Ma, Pa ... aku mau mandi dulu deh. Aku mau ke masjid sholat ashar," pamit Elza sebelum meninggalkan ruang keluarga. Adzan ashar sepertinya tak lama lagi akan berkumandang di sana.
Setelah kepergian Elza, terdengar suara bel dari depan. Benny beranjak dari tempatnya untuk melihat siapa yang datang. Dia berjalan cepat menuju ruang tamu dan segera membuka pintu tersebut.
"Loh Pak Syakur. Mari masuk," ucap Benny ketika melihat kehadiran pelatih putranya di depan pintu.
"Assalamualaikum, permisi, Pak Benny," ucap Syakur saat masuk ke dalam ruang tamu bersama dengan sang pemilik rumah. Ternyata Aris pun ikut serta bersama ayahnya. Dia mengikuti Syakur masuk ke dalam ruang tamu.
"Silahkan duduk, Pak," ucap Benny dengan diiringi senyum tipis, "saya ke dalam sebentar," pamitnya sebelum masuk ke dalam rumah.
Tak lama setelah itu Benny kembali lagi ke ruang tamu. Dia memilih duduk di sofa panjang dan setelah itu mengembangkan senyum tipis saat menghadap Syakur, "bagaimana kabarnya, Pak?" tanya Benny.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik, seperti yang Pak Ben lihat," jawab Syakur dengan diiringi senyum tipis.
Semua orang mengalihkan pandangan ke arah pintu ruang keluarga ketika mendengar derap langkah seseorang. Ternyata Fina datang dengan membawa nampan berisi minuman. Dia meletakkan satu persatu gelas tersebut di meja.
"Monggo, silahkan," ucapnya sebelum duduk di samping Benny.
"Terima kasih," jawab Syakur seraya menatap Fina sekilas, sementara Aris hanya mengangguk pelan.
"Tumben Pak Syakur datang tanpa memberi kabar dulu? Pasti ada yang penting ini," tanya Benny tanpa mau menatap Aris. Dia fokus pada pria bernama Syakur itu.
"Iya, Pak. Benar sekali. Jadi, tujuan kami datang kemari ingin memberitahu jika Elza bisa latihan di rumah," ucap Syakur dengan sorot mata serius, "nanti ada Aris dan pelatih lain yang melatih Elza secara khusus. Jika nanti ada anak sekitar sini yang mau ikut, gak masalah, Pak," jelas Syakur kepada ayah dari Elzayin.
"Apakah tidak ada kompetisi apapun dalam waktu dekat ini, Pak?" Fina ikut bertanya kepada ayah dari pria yang sejak tadi mencuri pandang ke arahnya itu.
Pada akhirnya Syakur menjelaskan tujuan lain dirinya datang menemui Benny. Pria paruh baya itu menjelaskan jika potensi Elza untuk mengikuti kompetisi sangatlah besar. Dia hanya perlu dilatih dengan tekun karena sudah memiliki power yang besar. Syakur sekaligus ingin meminta izin kepada Benny, jika ingin mendaftarkan Elza di kompetisi tingkat kabupaten itu.
"Kalau kami sebagai orang tua pasti mendukung kegiatan positif ini. Jika memang Elza sudah mampu mengikuti kompetisi, monggo didaftarkan. Saya percayakan anak saya kepada Bapak. Saya sangat senang jika memang Elza bisa latihan di rumah, karena saya merasa tenang bisa mengawasi Elza dan Mamanya yang sedang hamil muda sekaligus," jelas Benny seraya menatap Fina sekilas dan setelah itu beralih menatap Syakur.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Maaf ya kemarin gak up karena othor lagi di RS. Yang nyimpan nomor othor pasti tahu storynya lagi di mana kemarinπ...
...βββββββββββββββ...
...Hallo ada rekomendasi karya keren nihπKuy kepoin karya author Reni.t dengan judul Istri Tangguh Milik Tuan Arogan. Jangan sampai ketinggalan ya, π...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1