Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Hubungan Berakhir,


__ADS_3

Satu bulan kemudian,


"Bagaimana penjualan produk baru kita?" tanya Benny setelah karyawan bagian marketing duduk di kursi yang ada di sebrang mejanya.


Hilda, karyawan yang selama ini dipercaya Benny menghandle urusan pemasaran produk sepatu dan sandal di industrinya. Tentu tak hanya Hilda saja yang ada di bagian pemasaran, ada beberapa anak buah Hilda yang turun langsung di lapangan.


"Produk sandal wanita dengan seri Fhinae sangat laris di pasaran, Pak. Apalagi untuk pasar online shopiah, Lezadat dan tok tok, semua pada berburu sandal model ini. Banyak pesaing yang menembak model baru produk kita untuk menarik konsumen. Untuk pihak produksi sampai kuwalahan memproduksi sandal ini, mengingat sekarang ini mendekati flash sale akhir tahun." jelas wanita berusia dua puluh enam tahun itu.


Hilda menunjukkan hasil laporan yang tersimpan di dalam laptopnya kepada Benny. Kenaikan grafik penjualan pun sudah ditunjukkan kepada duda satu anak itu. Tentu pembahasan ini terus berlanjut hingga beberapa puluh menit lamanya.


"Bagaimana untuk penjualan offlinenya?" tanya Benny seusai membahas lapak online mereka di aplikasi.


"Untuk pasar penjualan masih stabil, Mbak. Tidak ada penurunan ataupun retur barang cacat. Kebanyakan store kita kehabisan stok untuk model ini," ucap Hilda setelah membaca laporan tentang stok barang di toko.


Selain dari memiliki usaha industri pembuatan sepatu dan sandal, Benny pun memiliki beberapa toko yang tersebar di Surabaya khusus menjual produknya sendiri. Usaha ini memang berkembang pesat sejak Elza lahir ke dunia ini. Dia memiliki merk dagang sendiri yang sudah resmi dipatenkan dan teregister di dinas perdagangan—AlasKa—begitulah merk semua produk yang dibuat di industri milik duda satu anak itu.


"Oh ya, Pak. Apa akan ada model baru untuk persiapan lebaran? Mengingat permintaan pasar selalu membeludak menjelang lebaran," tanya Hilda seraya menatap Benny.


"Ada. Masih dalam proses design," jawab Benny setelah menyelesaikan membaca laporan tentang penjualannya, "oh ya, tolong nanti sampaikan kepada kepala gudang, agar memberikan semangat kepada semua pekerja karena setelah proses produksi sandal seri 'Fhinae' selesai, saya akan mengajak semua karyawan ke pantai. Buatkan memo jika besok pagi ada rapat seperti biasanya," ujar Benny seraya menatap Hilda.


Wanita berhijab itu terlihat bahagia setelah mendengar kabar yang disampaikan oleh bosnya itu. Inilah yang membuat semua karyawan betah bekerja di tempat ini, pemiliknya loyal kepada semua karyawannya. Benny sering memberikan bonus ataupun mengajak semua karyawannya untuk liburan bersama.


"Baik, Pak. Nanti akan saya sampaikan kepada mereka," ucap Hilda dengan antusias, "saya kembali ke ruangan, Pak," pamit Hilda sebelum keluar dari ruangan bos AlasKa itu.


Pintu ruangan tertutup kembali setelah Hilda pergi. Benny fokus pada layar laptop yang ada di hadapannya untuk melanjutkan desain seri baru yang akan lauching. Duda tampan itu sedang menyiapkan sandal wanita seri Fhinae kedua. Dia sengaja memakai nama Fina sebagai nama produknya. Duda tampan itu mengalihkan pandangan dari layar laptop setelah mendengar pintu ruangan terbuka tanpa ada ketukan sebelumnya.


"Renata," gumam Benny setelah biduan cantik itu berdiri di depan meja kerjanya.


"Kenapa? Terkejut ya melihat kehadiranku di sini?" tanya Renata setelah duduk di kursi yang ada di sebrang meja Benny. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sementara tatapan matanya terlihat sinis.

__ADS_1


Benny tak segera menjawab pertanyaan Renata. Dia menyimpan file yang belum selesai itu sebelum berbicara dengan kekasihnya.Tentu Benny tahu kenapa Renata sampai datang ke tempat kerjanya. Beberapa minggu ini Benny menolak setiap kali Renata ingin bertemu. Uang jajan pun tak lagi mengalir deras seperti dulu.


"Kenapa kamu datang ke sini? Padahal sekarang cuaca sedang panas. Apa kulitmu akan baik-baik saja?" tanya Benny dengan sikap yang sangat tenang.


"Gak usah basa-basi!" ujar biduan cantik itu, "kenapa kamu melakukan semua ini kepadaku, Mas?" tanya Renata seraya menatap lekat wajah tampan kekasihnya.


"Melakukan apa?" tanya Benny dengan santainya.


"Pertanyaan macam apa ini?" Renata terhenyak dari tempat duduknya. Dia mencondongkan setengah badannya dengan kedua tangan yang mencengkram erat tepian meja sebagai penopang.


"Kenapa kamu berubah seperti ini? Kenapa kamu menjauh dariku. Kamu memberikan jarak yang cukup jauh dalam hubungan kita. Apa kamu tidak takut ada pria lain yang mencoba merebutku darimu, Mas?" jelas Renata dengan suara yang lantang.


"Oh jadi ada pria sedang dekat denganmu? Siapa dia? Katakan saja dengan jelas." Bukannya cemburu, Benny malah melontarkan pertanyaan yang berhasil menyulut emosi biduan cantik itu.


"Mas! Apa kamu rela hubungan kita berakhir karena orang ketiga? Apa tidak ada lagi rasa cintamu untukku?" tanya Renata dengan tatapan nyalang.


"Loh kenapa aku tidak rela jika kamu pun menginginkan pria itu? Kita bukan lagi anak remaja, jadi permasalah seperti ini tidak usah diperpanjang. Sekarang katakan saja apa maumu?" sarkas Benny pandangan yang tak lepas dari wajah kekasihnya itu.


"Apa ini maksud semua ini Mas? Kamu memakai nama pengasuh anakmu untuk merk sandalmu?" Renata menunjukkan sandal tersebut kepada Benny.


"Jangan sok tahu!" kilah Benny dengan suara yang berat.


"Oh, jadi dia yang membuat sikapmu berubah seperti ini? Kamu tergila-gila dengan gadis bau kencur itu?" tuduh Renata setelah meletakkan sandal tersebut ke tempat semula. Dia kembali duduk di hadapan Benny.


"Jangan ikut sertakan dia dalam hubungan kita, Re!" tegas Benny dengan tatapan yang terpatut pada wajah kekasihnya itu.


"Kenapa? Memang seperti itu bukan kebenarannya. Sudah lama aku ingin membahas ini dan kebetulan saat ini adalah momen yang tepat." ujar Renata.


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan, Rena! Kamu pikir aku bodoh? Kamu sudah memiliki pria lain kan? Dia pemilik showroom mobil di kawasan Rungkut? Asal kamu tahu Dedi adalah temanku kuliah! Apa kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu pernah jalan bersama dia!" sarkas Benny hingga membuat Renata terkejut bukan main. Dia gelagapan di hadapan Benny.

__ADS_1


"Jangan mengalihkan kebenaran seakan-akan kamu menjadi korban. Apalagi, sampai kamu menyeret Fina dalam hal ini, dia tidak bersalah. Kenapa kamu memakinya tanpa bukti yang jelas!" cecar Benny setelah teringat laporan Elza kala itu.


"Aku dan Dedi tidak ada hubungan apapun!" kilah Renata.


"Sudahlah, Re! Tidak usah banyak alasan. Aku mau hubungan kita berakhir cukup di sini karena aku tidak ada niat untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius." Akhirnya keputusan itu lolos juga dari bibir duda satu anak itu.


Renata ternganga mendengar keputusan dari Benny yang begitu mendadak itu. Biduan cantik itu merasa sakit hati karena pengakuan terakhir yang diucapkan oleh Benny. Bagaimana bisa pria itu tega mengakhiri hubungan tanpa sebab dan alasan yang jelas.


"Gak! Aku gak mau!" tolak Renata dengan tegas, "di mana letak kesalahanku, Mas?" tanya Renata dengan napas yang tersengal.


"Aku ini duda yang memiliki satu anak. Jika aku menikah maka aku akan mencari wanita yang peduli dengan anakku, tidak egois dan tentunya dia bisa menerima anakku. Bukan karena fisikku apalagi uangku saja. Selama ini aku lihat kamu tidak ada niatan untuk mendekat kepada Elza. Kamu selalu bad mood setiap aku mengajak Elza keluar bersamamu. Lalu apa lagi yang harus aku pertimbangkan darimu?" Benjy mengeluarkan semua keresahan yang selama ini dipendam.


"Jadi setelah apa yang sudah kita lakukan selama ini, kamu hanya menganggapnya angin lalu, Mas?" tanya setelah berdiri dari tempatnya, "apa arti kesenangan yang sudah lama kita jalani?" cecar Renata dengan tatapan tajam.


"Sudahlah, Re. Jangan membahas hal itu. Coba kamu ingat kembali ketika momen itu terjadi, siapa yang terlebih dahulu menawarkan diri? Jangan menyudutkan aku saja, seolah-olah aku ini pria brengsek yang hanya mau enaknya saja. Ingatlah, aku bukan pria pertama yang melakukannya. Jadi, jangan jadikan itu sebagai alasan," jelas Benny dengan tenangnya.


"Benny!" teriak biduan cantik itu setelah mendengar penjelasan panjang dari pria yang bersikap sangat tenang di tempatnya.


"Kenapa? Salahku di mana? Aku pun sudah mengabulkan semua yang kamu minta, tetapi apa balasannya? Kamu masih menggoda Dedi demi perhiasan yang melingkar di leher dan pergelangan tanganmu itu! Apalah kamu ini! Sebagai seorang pria aku merasa sakit hati, karena aku sudah memberikan segalanya, tetapi kamu masih mencari di pria lain!" Amarah Benny mulai tersulut.


Renata termangu mendengar semua yang diucapkan oleh Benny. Dia tidak pernah menyangka jika Benny mengetahui hingga sedetail itu. Sungguh, tidak ada lagi jawaban untuk mempertahankan posisinya.


"Mulai hari ini tidak ada lagi hubungan di antara kita. Jangan pernah menemuiku lagi, apalagi sampai menganggu semua orang yang ada di rumahku, termasuk Fina. Dia hanya bekerja di rumahku, jadi jangan pernah membawa dia dalam masalah!" tegas Benny dengan tatapan tajam.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, biduan yang kerap memakai pakaian mini itu segera pergi. Pria yang selama ini menjadi ATM berjalannya itu tidak sebodoh yang dibayangkan.


...🌹To Be Continue 🌹...


...Ini ceritanya buaya di kadalin😂...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2