
"Ya ampun. Elza ternyata bawel banget kalau tidur ada Fina. Minta diusap punggungnya, rambutnya. Duh, Papa juga pengen kali, El," batin Benny saat mendengar suara berisik di belakang. Sesekali dia melihat apa yang dilakukan kedua orang itu dari kaca spion dalam mobil.
Fina tidak tahu jika mobil yang dikendarai Benny melaju ke jalan yang berbeda dari arah rumah. Gadis berjilbab hitam itu sibuk mengurus Elza. Pada akhirnya bocah kecil itu tertidur pulas setelah drama yang menguji kesabaran pengasuhnya. Suara Fina terdengar merdu di sana sebagai pengiring dari bocah berusia empat tahun itu.
"Suaranya merdu banget. Aku sampai merinding mendengarnya. Pantesan Elza betah banget tidur sama Fina," batin Benny dengan tatapan lurus ke depan.
Fina menatap ke arah luar jendela setelah sadar jika ini bukanlah jalan menuju komplek perumahan yang ditempati oleh Benny. Gadis cantik itu hanya diam saja meski rasa penasaran mengusik pikirannya. Hingga pada akhirnya mobil yang dikendarai Benny telah sampai di halaman luas sebuah gedung. Fina mengernyitkan keningnya karena Benny tetap di tempatnya.
"Oh, ternyata menjemput pacarnya," batin Fina setelah mendengar Benny berbicara dengan seseorang lewat sambungan telfon.
"Pura-pura tidur aja lah!" batin Fina sambil memejamkan mata ketika melihat Renata berjalan menuju mobil ini.
"Sayang! Lama banget sih jemputnya!" ujar Renata dengan suara yang manja dan lantang.
"Ssst! Jangan berisik! Ada Elza dan Fina yang sedang tidur!" bentak Benny seraya mendesis pelan. Dia seakan tidak mau kedua sosok yang disayanginya terganggu.
Tentu hal ini membuat Fina membuka kelopak matanya, karena penasaran bagaimana respon biduan cantik itu setelah dibentak oleh Benny. Fina berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya ketika melihat Renata termangu dengan tatapan yang tak lepas dari Benny.
"Sayang! Kamu membentakku hanya karena takut tidur pengasuh Elza terganggu? Keterlaluan sekali!" sungut Renata tanpa melepaskan pandangannya dari Benny.
"Gak usah berlebihan. Ini sudah malam, aku gak mau kita bertengkar karena hal sepele. Apalagi di depan Elza dan Fina," gumam Benny tanpa menatap kekasihnya itu. Dia mulai mengarahkan setir mobilnya keluar dari halaman gedung ini.
"Syukurin! Syukurin! Salah sendiri jadi cewek gak bisa jaga sikap! Pecicilan sekali!" umpat Fina dalam hati setelah melihat bagaimana kedua sejoli yang duduk di depan.
Entah apa penyebabnya, yang pasti Fina sangat tidak suka dengan Renata. Entah karena biduan cantik itu terlalu agresif ataukah karena alasan lain. Apalagi, ketika biduan cantik itu mulai berbicara dengan gayanya yang manja, sambil menyentuh Benny. Sungguh, rasanya Fina ingin memberi pelajaran kepada biduan bernama Renata itu.
__ADS_1
"Awas saja kalau sampai berani nyentuh pak Ben! Aku akan memprovokasi Elza agar melarang bapaknya untuk bertemu denganmu, wahai biduan gatel!" sungut Fina dalam batinnya.
"Eh, kenapa juga aku marah. Bodo amat kali meski mereka saling bersentuhan! Dosa juga yang nanggung mereka sendiri. Ngapain aku harus mengurus hal seperti ini. Sudah, Fin, sudah! Jangan mencampuri urusan majikanmu!" Fina menenangkan dirinya sendiri setelah sadar dari pikirannya.
Pengasuh kesayangan Elza itu berubah menjadi murung selama dalam perjalanan menuju ke kediaman Renata. Dia seperti tak dianggap ada oleh kedua orang yang ada di depan itu. Rasanya ingin sekali berteriak kencang agar mereka tahu jika masih ada dirinya yang sedang mendengarkan obrolan mereka.
"Mbak Fina, aku haus!"
Tiba-tiba saja terdengar suara Elza yang membuat lamunan Fina hilang begitu saja. Dia mencoba mencari botol minum di dalam tas yang selalu dibawa saat latihan. Akan tetapi botol itu ternyata sudah kosong.
"Yah, minumnya habis, El. Nanti saja ya minumnya kalau udah pulang," bujuk Fina sambil mengusap rambut Elza dengan lembut.
Bocah kecil itu bangkit dari atas pangkuan Fina, Dia duduk di sisi pengasuhnya itu dengan tatapan penuh harap, "aku haus sekarang! Aku mau minum!" rengek Elza dengan suara yang terdengar serak.
"Elza mau minum apa? Biar Papa belikan di angkringan depan itu," tunjuk Benny pada salah satu angkringan yang ada di depan ruko tutup.
Setelah menghentikan mobil di tempat yang tepat, Benny segera keluar dari mobil seorang diri. Sementara Elza, Fina dan Renata menunggu di dalam mobil. Keheningan sempat terasa di dalam mobil tersebut, tetapi tak lama setelah itu terjadi obrolan yang dimulai oleh Renata.
"Sejak kapan mas Benny perhatian denganmu?" tanya Renata setelah mengubah posisi hingga bisa menatap Fina.
"Saya tidak merasa diperhatikan pak Benny, Mbak," jawab Fina dengan jujur.
"Alah! Jangan sok gak ngerti ya! Asal kamu tahu hubunganku bersama mas Benny sekarang menjadi renggang. Aku yakin kamu lah penyebabnya. Pasti kamu sudah menggoda mas Benny ya!" tuduh Renata tanpa sebuah bukti yang kuat. Dia melayangkan tatapan sinis kepada Fina.
"Astaghfirullah, saya tidak pernah melakukan itu, Mbak. Jangan asal tuduh, Mbak. Sebaiknya sebelum menyalahkan orang lain, Mbak Rena introspeksi diri dulu. Mungkin pak Ben menjauhi Mbak karena dia risih, karena saya lihat Mbak terlalu agresif." Entah keberanian dari mana hingga Fina berani melontarkan semua itu kepada Renata.
__ADS_1
Tentu kalimat panjang yang diucapkan Fina semakin menyulut emosi biduan cantik itu. Harga dirinya seakan runtuh karena gadis yang dianggapnya masih bau kencur itu berani sekali menjawab ucapannya.
"Heh! Jangan sok suci ya! Tidak mungkin jika kamu tidak menaruh hati kepada mas Benny. Secara dia ganteng dan juga banyak uang. Jangan munafik deh!" Renata sepertinya benar-benar kesal dengan Fina.
"Maaf ya, Mbak Renata yang cantik. Kita itu dua orang yang berbeda, jadi sudut pandang kita pun pasti berbeda. Sedikitpun saya tidak pernah melihat pak Benny dalam hal itu. Saya di sini hanya bekerja menjadi pengasuh anaknya pak Benny, bukan untuk menggoda pak Benny. Jadi, buang jauh pikiran negatif Mbak Renata tentang kecurigaan kepada saya." Fina tidak terima jika Renata terus menyudutkannya dengan tuduhan tidak benar.
"Tante! Jangan marah-marah sama Mbak Fina! Memangnya tante mau aku dorong keluar dari mobilnya Papa!" Elza berbicara dengan nada tinggi setelah mendengar ucapan pedas kekasih ayahnya itu, "kalau Tante terus berisik dan memaki Mbak Fina-ku, akan aku adukan ke Papa jika Tante jahat! Aku gak suka Tante dekat-dekat Papaku!" sarkas Elza dengan suara yang lantang.
Biduan cantik itu segera mengubah posisinya karena takut jika Elza nekat mendorongnya keluar. Dia tidak mau jika kejadian kala itu terulang kembali. Cukup satu kali saja dia merasakan betapa kuatnya anak dari kekasihnya itu. Amarah yang ada dalam diri biduan cantik itu semakin tersulut karena Elza lebih membela Fina.
"Dasar gak tahu malu! Rasain kamu habis dimaki Elza! Untung aja ente gak didorong keluar!" Fina memaki biduan cantik itu di dalam hati.
Setelah mengantre beberapa menit di angkringan, akhirnya Benny berhasil mendapatkan susu hangat seperti yang diminta putranya. Dia segera memberikan susu itu kepada Elza setelah masuk ke dalam mobil. Duda satu anak itu tidak tahu jika keadaan di dalam mobilnya sempat menegang akibat ulah wanita yang duduk di sisi kirinya.
"Sekarang Elza bobo lagi ya, setelah ini kita pulang ke rumah," ucap Benny sebelum mengarahkan setir mobilnya kembali ke jalan raya.
Beberapa menit kemudian, mobil pajero hitam itu sampai di depan kediaman Renata. Sebelum keluar dari mobil, Renata sempat menoleh ke belakang dan memberikan tatapan sinis kepada Fina. Setelah itu dia memberikan kecupan mesra di pipi Benny meski ada Fina yang menyaksikan itu secara langsung.
"Apa sih Re! Ada Fina dan Anakku itu loh! Ck, kamu ini gimana sih!" Bukannya senang, Benny malah emosi atas apa yang baru saja dilakukan oleh Renata.
Fina memalingkan wajahnya ke samping setelah melihat adegan itu. Sebagai sesama wanita, dia malu melihat sikap Renata. Entah mengapa perasaannya mendadak tak karuan. Marah, senang dan gusar membaur menjadi satu.
"Nyebut, Fin. Nyebut!" ujar Fina saat memperingatkan hatinya sendiri, "lagi pula aku ini kenapa sih? Kenapa aku tidak terima melihat pak Ben dikecup pacarnya! Astaghfirullah," batin Fina dengan helaian napas yang berat.
...πΉTo Be Continue πΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·...