
Akad nikah berjalan lancar tanpa ada pengulangan. Johan dan Nisa dinyatakan sah menjadi suami istri, baik secara agama ataupun negara. Setelah acara akad nikah berlangsung, kini keduanya bersiap untuk tradisi upacara militer sangkur pora TNI-AD. Pasukan khusus sudah siap dengan pakaian dinas. Bahkan, bukan lagi suara instrumental yang akan mengiringi upacara tersebut, Johan mendatangkan langsung anggota drumband dari TNI.
"Cantik," gumam Johan setelah mengamati Nisa beberapa saat lamanya. Mereka sedang berada di kamar untuk mengganti pakaian.
Setelah memakai pakaian serba putih di acara akad nikah, kini mereka berdua ganti memakai warna hijau. Johan memakai pakaian dinas berwarna armi dengan kalung rangkaian melati yang menggantung di leher. Sementara Nisa memakai gaun ful payet berwarna mint. Keduanya terlihat sangat serasi dengan pakaian tersebut.
Detik demi detik telah berlalu begitu cepat. Prosesi upacara adat sangkur pora akan dimulai. Semua berdiri di tempat masing-masing. Para pengiring pengantin dari Jakarta sudah duduk di tempat yang sudah disediakan. Pernikahan yang diselenggarakan keluarga Badiah ini terlihat megah jika diukur dengan resepsi di desa biasanya. Tentu hal ini mengundang atensi tetangga untuk menyaksikan upacara sangkur pora dari TNI-AD tersebut.
Badiah dan Fina sepertinya sedang dilanda rasa yang membuncah di dada tatkala melihat Nisa tersenyum manis di sisi Johan. Mungkin saja keduanya teringat sosok almarhum Hasanuddin yang sangat dirindukan kehadirannya.
"Lapor, upacara adat sangkur pora siap dilaksanakan." Komandan pasukan memberikan laporan kepada Johan.
"Lanjutkan!" Ucapan Johan terdengar tegas dan berwibawa.
Hingga berhasil membuat Badiah semakin berusaha keras menahan tangisnya. Berbagai rasa membaur menjadi satu di dalam dada. Apalagi, setelah mendengar suara drumband pengiring yang menggema di sana. Ingatannya kembali ke masa lalu, di mana saat dirinya dipersunting Hasanuddin. Tidak ada pesta ataupun pernikahan mewah seperti ini karena pada saat itu Hasanuddin sedang menjalankan misi penyamaran. Jangankan upacara sangkur pora, duduk di atas pelaminan saja tidak terwujud. Bisa dikatakan pernikahan tersebut hanya dihadiri keluarga dan tetangga sekitar sebagai saksi
"Alhamdulilah, Pak. Anak kita bisa menikah secara terang-terangan tanpa rasa takut dan was-was. Andai Bapak di sini, pasti Bapak bangga melihat keberhasilan Johan saat ini. Lihatlah, putri kita tersenyum bahagia karena sudah menemukan pria yang tepat. Ibu bahagia karena Nisa tidak mengikuti jejak Ibu dalam rasa was-was saat mendampingi Bapak mengemban tugas." Batin Badiah bergejolak ketika teringat sosok pria yang selama ini selalu ada di hati.
Badiah tidak bisa lagi menahan bulir air matanya saat Johan dan Nisa mulai berjalan melewati pasukan. Suara intrumental drumband militer berhasil membuat hatinya bergetar. Jiwa seorang ibu persit hadir dalam dirinya. Tentu hal ini membuat Rahayu meraih tangan Badiah karena dia bisa merasakan bagaimana perasaan Badiah saat ini.
"Akhirnya, anak-anak bisa tersenyum bahagia, Mbak," bisik Rahayu.
Badiah hanya bisa menganggukkan kepala sambil mengusap air mata yang membasahi pipi. Dia harus terlihat tegar di hadapan semua orang, terutama di hadapan anak-anaknya. Sungguh, semua yang ada di hadapannya berhasil menggetarkan dada. Bayang-bayang wajah Hasanuddin ketika masih muda dulu rasanya tidak bisa hilang dari mata.
Sementara itu, di belakang Badiah ... ada Fina yang tak henti mengusap air matanya. Dia terharu saat menyaksikan prosesi militer ini. Ada rasa bahagia yang begitu besar dalam diri ketika melihat adiknya bisa tersenyum ceria. Dia merasa lega karena pada akhirnya Nisa menemukan kebahagiaannya.
Detik demi detik telah berlalu. Upacara adat militer sangkur pora berakhir pada penyematan cincin di jari kedua pengantin oleh Komandan pusat. Serta penyerahan seragam ibu Persit Kartika Chandra Kirana sebagai simbol jika Nisa telah resmi menjadi bagian dari ibu Persit.
Setelah acara tersebut selesai, rangkaian acara diambil alih oleh MC dari pihak WO untuk kelanjutan acara pernikahan ini. Pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang dilantunkan rekan Nisa saat di pesantren dulu semakin menambah kesakralan acara tersebut.
****
__ADS_1
Detik demi detik telah berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu. Langit pun telah berubah menjadi gelap setelah seharian menjadi saksi pernikahan kedua insan yang sedang dilanda rasa bahagia. Semakin malam, tamu undangan pun mulai sepi karena saat ini sudah pukul sebelas malam. Hanya beberapa tetangga yang masih di sana untuk membantu 'melekan'.
"Kalian istirahat saja. Lagi pula jam segini udah gak ada tamu kok," ucap Fina saat menghampiri sepasang pengantin baru yang duduk di teras rumah.
"Alhamdulillah. Akhirnya aku bisa terlepas dari semua kebaya dan aksesoris ini. Pusing kepalaku, Mbak," keluh Nisa dengan wajah yang tertekuk.
Setelah berbincang beberapa saat bersama Fina, mereka berdua pamit beristirahat. Keduanya mengayun langkah menuju kamar. Pintu kamar pun telah terkunci rapat.
"Akhirnya, ketemu kasur juga," gumam Johan saat merebahkan diri di atas tempat tidur tanpa mengganti pakaiannya.
Nisa hanya mengembangkan senyum tipis setelah mendengar ucapan suaminya. Dia berdiri di depan meja rias untuk melepas segala pernak-pernik yang ada di kepala. Satu persatu jarum pentul telah terlepas dari kerudungnya bersamaan dengan aksesoris yang lain. Dia bernapas lega karena pada akhirnya bisa merasakan kebebasan.
"Haaah. Enteng rasanya," gumam Nisa dengan helaan napas yang berat.
"Mau dibantu gak?" Johan menawarkan diri setelah melihat Nisa kesusahan membuka kancing yang ada di punggung.
"Iya, boleh. Susah ini, Mas," ucap Nisa sambil menatap dirinya lewat pantulan cermin meja rias.
"Iya karena modelnya bagus aja," jawab Nisa.
Tak lama setelah itu, akhirnya semua kancing tersebut terlepas bersamaan dengan kebaya yang jatuh ke lantai, menyisakan inner warna cokelat muda di tubuh ramping itu.
"Mas kalau mau istirahat ke kamar mandi dulu gih. Bersih-bersih badan terus istirahat. Aku mau menghapus make-up dulu," ucap Nisa seraya kembali duduk di depan meja rias. Dia mulai menuang cairan penghapus make-up di kapas.
"Di dapur banyak orang gak? Malu aku kalau banyak tetangga," tanya Johan sambil melepas jas navy yang dia kenakan.
"Sepi, Mas. Jam segini mana ada tetangga di sini. Mereka pada istirahat kali," jawab Nisa tanpa menoleh ke belakang.
Gadis cantik itu membuang napasnya kasar setelah Johan keluar dari kamar. Jujur saja dia merasa gugup karena malam ini adalah malam yang ditunggu oleh Johan. Dia bingung harus bersikap bagaimana di hadapan Johan nanti.
Hampir tiga puluh menit, mereka berdua membersihkan diri dari segala pernak-pernik pernikahan. Hingga pada akhirnya mereka berdua bisa merebahkan diri di atas tempat tidur seusai membersihkan diri di kamar mandi. Nisa merasa gelisah karena tidak tahu harus bagaimana mengawali semua ini.
__ADS_1
"Kamu capek gak?" tanya Johan setelah mengubah posisi menghadap Nisa.
"Enggak sih, cuma agak pusing aja," jawab Nisa sambil menatap Johan dengan senyum manis.
"Duduklah. Aku pijit pundaknya. Pasti kamu kelelahan itu." Johan terlihat sangat perhatian kepada Nisa.
Tanpa rasa curiga, Nisa pun mengikuti saran dari Johan. Dia duduk membelakangi pemuda yang sudah resmi menjadi suaminya itu. Pijatan lembut terasa di pundak hingga membuat Nisa memejamkan mata karena merasakan enak. Namun, tak lama setelah itu ... Nisa kembali membuka kelopak matanya ketika merasakan tangan Johan menjalar ke bagian tubuh yang lain. Hembusan napas berat menerpa tengkuknya hingga membuat tubuh Nisa bergetar.
"Mas, pundaknya yang sakit, bukan pinggangnya," gumam Nisa tanpa menolah ke samping.
"Iya. Ini kan salurannya. Coba sekarang hadap ke aku," ujar Johan setelah kedua tangannya terlepas dari pinggang Nisa.
Nisa segera mengubah posisinya hingga duduk berhadapan dengan Johan. Wajahnya bersemu merah karena melihat sang suami tersenyum manis ke arahnya. Kedua tangan Johan pun berada di atas kedua pundaknya.
"Mau cara lain menghilangkan pusing gak?" tawar Johan dengan tatapan penuh arti.
"Apa memangnya?" tanya Nisa dengan diiringi senyum manis.
"Udah kamu diam saja dulu. Pasti nanti pusingnya ilang," gumam Johan lagi, "pokoknya kamu jangan protes dulu. Diam dan rasakan saja." Johan menatap lekat wajah cantik itu.
Nisa kembali memejamkan mata untuk merasakan seperti yang dijanjikan oleh Johan. Dia pasrah dan mengikuti saja apa yang diinginkan oleh suaminya itu. Bibir yang semula tertutup rapat, kini mulai terbuka ketika merasakan sentuhan lembut di beberapa titik tubuhnya.
"Waduh, dia pasti mau melakukan itu sekarang," batin Nisa ketika merasakan tangan Johan mulai membuka kancing piyamanya. Lagi dan lagi dia hanya bisa pasrah karena dirinya telah sah menjadi milik Johan tanpa terkecuali.
Tak sampai di situ saja. Johan mulai menyentuh bibir tipis Nisa untuk merasakan betapa nikmatnya kelembutan bibir kenyal itu. Awal dari sebuah penyatuan telah dimulai. Sang prajurit mulai menjelajah medan perang untuk mengibarkan bendera kemenangan. Tidak ada lagi yang bisa menggambarkan betapa indahnya dunia baru sepasang suami istri itu. Dua tahun menunggu momen ini membuat Johan tidak mau membuang waktunya lagi. Dia bertekad membawa sang ibu persit melesat jauh menembus nirwana. Malam panjang penuh dengan kenikmatan akhirnya dirasakan keduanya.
"Jangan takut dan jangan bersuara. Semua pasti akan baik-baik saja," ucap Johan sebelum menancapkan bendera kemenangan.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Gak perlu dijabarkan ya😀takutnya ada yang batal puasa😎...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...