Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Kejadian di ruang tamu,


__ADS_3

Kehadiran Fina di tengah keluarga kecil Benny bagaikan mata air di tengah padang pasir. Curahan kasih sayang yang tulus berhasil membuat suasana di rumah tersebut menjadi damai meski sang tuan rumah tidak bisa merasakan hal itu. Ya, Benny seperti kehilangan arah sampai dia lupa jalan untuk pulang. Entah apa yang membuat duda mapan itu jarang sekali berada di rumah, padahal ada banyak cerita tentang putranya yang harus dia ketahui. Akan tetapi duda tampan dan mapan itu lebih suka mengukir cerita cinta bersama sang biduan.


Berkat didikan Fina di rumah, Elza tumbuh menjadi sosok yang lebih baik. Emosinya mulai terkontrol dan karakternya mulai terbentuk. Kini, bocah berusia empat tahun itu sudah bisa menghafal banyak surat Al-Qur'an di juz 30, karena setiap malam dia mendengarkan Fina membaca ayat-ayat tersebut. Perlahan bakat yang dimiliki Elza mulai terbuka satu persatu. Guru kelasnya pun takjub akan perkembangan Elza yang begitu cepat. Dia tumbuh menjadi anak yang cerdas karena bisa melakukan apa yang seharusnya belum bisa dilakukan oleh anak-anak seusianya.


Waktu sepertinya berjalan begitu cepat. Latihan di padepokan pencak silat Pagar Bangsa pun sudah berjalan kurang lebih tiga bulan lamanya. Elza dan Fina tak pernah absen sama sekali latihan di tempat ini. Bocah berusia empat tahun itu sudah menguasai beberapa teknik yang diajarkan Aris dengan sempurna.


"Ayo El, sekarang serang Kang Aris dengan teknik bantingan yang baru saja kamu pelajari!" Aris sudah bersiap dengan posisi kuda-kuda.


Elza mengatur napasnya sebelum mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh Aris. Tatapan matanya tak beralih dari titik fokus yang akan diserangnya saat ini. Kalau sudah seperti ini, sisi kekanak-kanakan dalam diri bocah kecil itu mendadak hilang begitu saja. Dia sudah seperti seorang pendekar hebat yang mampu menaklukkan musuh-musuhnya.


Dalam dua kali gerakan yang sudah dia kuasai sebelumnya, Elza menyerang Aris untuk menunjukkan bagaimana teknik yang sudah dikuasainya. Setelah dirasa cukup dalam praktek kali ini, Aris mengakhiri sesi latihan khusus untuk Elza. Dia menemani Elza yang sedang duduk di lantai sambil menatap Fina yang sedang berlatih bersama yang lain.


"El, kamu sayang gak sama mbak Fina?" Tiba-tiba saja Aris menanyakan hal itu kepada Elza tanpa melepaskan pandangannya dari gadis cantik yang sedang sabung bersama gadis yang lain.


"Sayang. Aku sayang mbak Fina selamanya," jawab Elza dengan tegas.


"Kalau misalkan mbak Fina menikah sama Kang Aris gimana? Elza masih sayang gak sama mbak Fina?" Kali ini Aris menatap Elza dengan lekat.


"No! Mbak Fina hanya punyaku! Kang Aris gak boleh minta Mbak Fina! Nanti dimarahi sama Papaku loh!" Elza terlihat sangat posesif ketika mendengar ucapan Aris.


Aris terkekeh setelah mendengar jawaban dari Elza, karena dalam pandangannya Elza terlihat lucu dan menggemaskan. Sikap Aris mendadak berubah menjadi cool setelah melihat Fina berjalan ke arahnya.


"Elza sudah selesai latihannya?" tanya Fina setelah duduk bersolonjor di hadapan Elza.

__ADS_1


"Sudah! Aku tadi udah bisa teknik baru, Mbak! Aku bisa menyerang Kang Aris!" ujar Elza dengan antusias.


"Apa benar seperti itu, Kang?" tanya Fina kepada Aris dengan wajah yang menahan senyum manis.


"Iya. Apa yang dikatakan Elza adalah benar. Pertemuan selanjutnya Elza sudah bisa ganti materi teknik yang baru," jawab Aris sambil menatap Fina sekilas, karena dia tidak mampu menahan debaran di dada jika terlalu lama menatap wajah cantik yang selalu hadir dalam mimpinya itu.


Hubungan kedua sejoli itu masih sebatas pertemanan saat latihan di padepokan saja. Aris sendiri tidak berani untuk melangkah menuju hubungan lebih dari pertemanan, setelah dia tahu jika Fina dulu adalah anak pesantren. Dia mendengar sendiri bagaimana jawaban Fina ketika ada teman di sana yang bertanya tentang siapa pacar gadis tersebut.


"Aku gak punya pacar dan gak berniat untuk pacaran. Jika memang ada pria yang suka denganku dan kami sudah saling mengenal satu sama lain, lebih baik melangkah ke jenjang pernikahan saja. Itu jauh lebih aman dan kita bisa terhindar dari fitnah."


Itulah kalimat panjang yang selalu diingat oleh Aris tentang gadis yang sedang sibuk dengan Elza, tanpa menatap ke arahnya meski hanya untuk sekilas. Tentu Aris semakin penasaran dengan sosok cantik itu. Dia bertekad untuk bekerja keras agar tabungannya cukup untuk melamar Fina. Entah mengapa, dia begitu ingin memiliki gadis cantik itu, padahal mereka hanya bertemu beberapa bulan saja.


Perasaan tak karuan tengah dirasakan oleh Fina karena berada dekat dengan Aris. Untuk menutupi rasa gugup dan salah tingkah yang sedang melanda diri, dia tak henti berbicara dengan Elza, meski harus membahas masalah yang tidak penting pun. Tiba-tiba pindah dari sana rasanya sungkan kepada Aris, tetapi tetap berdiam diri di tempat pun rasanya tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


"Aduh, kenapa kang Aris terus mengamatiku sih! Aku kan jadi bingung harus bagaimana. Mana senyumnya manis banget lagi," gumam Fina dalam hati ketika sempat melihat lewat ekor matanya bagaimana sikap Aris saat ini, "astagfirullah haladzim," ucap Fina dalam hati atas apa yang baru saja dilakukannya.


"Iya boleh. Pamit sama kang Aris dan yang lain dulu deh sebelum pulang." Fina ikut beranjak dari tempatnya.


"Bagaimana kalau aku yang mengantar kalian pulang?" Aris menawarkan bantuan kepada Fina, mengingat gadis pujaan hatinya itu selalu naik taksi online saat datang ke tempat ini.


"Maaf, Kang, tidak perlu repot-repot. Saya sudah memesan taksi online langganan saya," tolak Fina dengan halus agar tidak menyinggung perasaan Aris.


"Oh ya sudah kalau begitu hati-hati," ucap Aris seraya tersenyum manis hingga kedua lesung pipitnya terlihat dengan jelas.

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada semua yang hadir di dalam padepokan itu, akhirnya Fina dan Elza keluar dari gedung tersebut. Taksi online yang sudah dia pesan pun sudah menunggu di halaman luas gedung tersebut. Mobil jenis sedan itu akhirnya melaju di jalanan kota yang dipadati beberapa jenis kendaraan. Hingga pada akhirnya setelah berada di jalanan kota selama beberapa puluh menit, mobil itu berhenti di tempat tujuan. Sebelum turun tak lupa Fina membayar ongkos sesuai yang ada di aplikasi.


"El, ini mobil siapa ya? Apa papa beli mobil baru?" tanya Fina ketika melihat ada mobil berwarna merah terparkir di halaman rumah, "kalau tamu kan pintunya pasti terbuka ya, tetapi ini kok ditutup," gumam Fina sebelum membuka pintu gerbang berwarna putih itu.


"Ayo masuk, Mbak Fina! Aku capek! Ini pasti Papa beli mobil baru," ucap Elza sambil menarik pergelangan tangan Fina.


Langkah kaki keduanya telah sampai di depan pintu rumah. Fina membuka pintu tersebut tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Matanya terbelalak sempurna begitu melihat apa yang ada di ruang tamu. Tangan Fina otomatis menutup mata Elza agar tidak melihat adegan tak senonoh itu.


"Astagfirullah haladzim!" teriak Fina karena benar-benar terkejut.


Mungkin karena penasaran, Elza menghempaskan tangan Fina begitu saja. Sama halnya dengan Fina, bocah kecil itupun terkejut ketika melihat seorang wanita duduk di atas pangkuan ayahnya.


"Minggir! Itu Papaku!" teriak Elza sambil berlari menuju tempat Benny dan Renata berada saat ini. Tanpa diduga Elza manarik tangan Renata begitu saja dengan gerakan keras hingga biduan cantik itu terhempas dari pangkuan Benny.


"Maaf, Pak, maaf karena kami tidak tahu jika ada Bapak sedang, emmm ... itu, sedang ...." Fina tak melanjutkan ucapannya karena dia sibuk menenangkan Elza yang sedang tersulut emosi karena tidak suka dengan kehadiran Renata.


"Gak papa, Fin. Aku tidak melakukan apapun kok. Dia hanya duduk saja di atas pangkuanku," kilah Benny seraya berusaha menghalangi Renata agar tidak dipukul oleh Elza. Ya, memang mereka tidak melakukan hal mesum apapun, tetapi Fina terkejut saja melihat adegan tersebut. Bagi gadis cantik itu, apa yang dilihatnya tadi adalah bagian dari adegan mesum.


Fina segera membawa Elza masuk ke dalam rumah meski bocah kecil itu terus berteriak tak suka dengan kehadiran Renata. Gadis cantik itu membawa Elza masuk ke dalam kamar yang ada di lantai dua untuk meredam emosi yang masih berkobar. "Sayang, dengarkan Mbak Fina. Tante Renata tidak mengambil papa. Dia hanya ingin duduk di atas pangkuan papa, Sayang," ucap Fina sambil mengusap kepala Elza dengan lembut.


"Gak boleh ada yang pangku papa! Aku saja gak pernah dipangku Papa begitu, kenapa tante yang tadi kok boleh! Papa jahat karena mau aja diambil tante itu!" protes Elza hingga membuat Fina terenyuh setelah mendengar ungkapan hati anak asuhnya itu.


...🌹To Be Continue 🌹...

__ADS_1


...Uh dasar bapak-bapak nakal! Anaknya gak dipangku malah Biduan cantik yang dimanja!πŸ™„...


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2