
Rintik hujan tak kunjung berhenti sejak malam hingga pagi tiba. Udara dingin terasa di kota Surabaya, padahal selama ini, dikenal dengan kota padat dan panas. Cuaca pagi ini sangat mendukung untuk kembali bersembunyi di balik selimut. Sama hal nya dengan yang dilakukan Fina dan Elza, mereka masih bersembunyi di dalam kamar, karena enggan turun dari tempat tidur.
"Mbak, kenapa hujannya gak kunjung reda ya? Untung sekarang hari minggu, jadi sekolah libur," ucap Elza tanpa mengalihkan pandangan dari layar gadgetnya.
"Ya kan sekarang udah masuk musim hujan, El," ucap Fina tanpa membuka kelopak matanya. Udara dingin membuatnya enggan untuk membuka kelopak mata, karena berharap akan kembali ke alam mimpi.
Sepi, kamar tak seberapa luas itu mendadak terasa sepi. Suara dengkuran halus terdengar di sana. Rupanya Fina kembali terlelap di balik selimut bulu berwarna merah jambu itu. Sementara Elza masih asyik bermain game di gadget miliknya.
Tok ... tok ... tok ....
"Mbak! Ada yang ketuk pintu tuh!" Elza menepuk punggung Fina beberapa kali, karena gadis cantik itu tidur membelakanginya.
"Bukain dong, El! Mungkin itu mbak Dewi," gumam Fina dengan suara seraknya. Dia benar-benar malas membuka matanya.
Sambil membawa gadget miliknya, Elza turun dari tempat tidur. Dia segera membuka kunci pintu tersebut karena terdengar ketukan pintu lagi. Elza mengalihkan pandangan dari layar gadgetnya dan melihat siapa yang datang ke kamar Fina.
"Papa!" ujar Elza setelah melihat ayahnya berdiri di sana, "ada apa, Pa?" tanya Elza seraya menatap Benny dengan lekat.
"Elza gak mau sarapan bareng Papa?" tanya Benny dengan tatapan fokus pada objek yang ada di atas ranjang. Duda satu anak itu melihat dengan jelas rambut hitam panjang yang tergerai di atas bantal
"Elza belum mandi, Pa. Sebentar ya Pa, aku mau bangunin mbak Fina dulu," jawab Elza sebelum berlalu dari hadapan ayahnya.
Sementara Benny hanya menyilangkan tangan di depan dada sambil mengamati cara putranya membangunkan Fina. Duda tampan itu mengembangkan senyumnya ketika melihat bagaimana interaksi putranya. Dia memicingkan mata ketika melihat Elza mencium pipi Fina beberapa kali.
__ADS_1
"Eh, apa-apaan ini! Papa ngiri, El! Ngiri banget!" ujar Benny dalam hatinya.
Tak lama setelah itu, dia melihat Fina bangkit dari tempat tidur. Gadis itu duduk bersandar di ranjang sambil menguap lebar, dia belum sadar jika ada Benny ada di depan kamarnya yang terbuka. Kelopak mata itu perlahan terbuka dan setelah kesadarannya kembali sempurna, dia terbelalak, mengingat keadaannya saat ini tidak memakai hijab dan belum cuci muka.
"Elza! Tutup pintunya!" teriak Fina setelah menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
Bukannya segera menutup pintu, Elza malah tertawa lepas. Entah mengapa dia serasa melihat hiburan yang lucu dan menggelitik perut. Elza semakin tertawa lepas setelah mendengar teriakan Fina.
"Memangnya kenapa kalau Papa melihat Mbak Fina waktu baru bangun? Malu ya Mbak karena masih bau iler," tanya Elza di sela-sela tawanya.
"Tutup pintu atau Mbak Fina sekarang pulang ke Mojokerto!" ancam Fina hingga membuat Elza seketika turun dari atas ranjang. Dia segera menutup pintu kamar dan membiarkan Benny tercengang di depan kamar.
Duda tampan itu berkacak pinggang setelah melihat perlakuan putranya. Bisa-bisanya Elza lebih memilih Fina daripada memberikan rasa hormat kepadanya. Benny segera berlalu dari kamar tersebut dan memilih duduk di ruang makan, sambil menunggu Fina dan Elza yang masih ada di kamar.
Hujan masih melanda kota Surabaya meski penunjuk waktu sudah berada di angka sebelas siang. Suara gelak tawa terdengar nyaring di ruang keluarga, karena penghuni rumah berlantai dua itu sedang berkumpul di sana. Mereka asyik melihat film luar negeri bertemakan natal, di mana ada seorang anak kecil yang berhasil menangkap komplotan penjahat.
"Maaf, saya pamit ke belakang dulu," ucap Dewi sebelum beranjak dari sana. Ada pekerjaan yang harus dia lakukan di jam menjelang makan siang.
"Silahkan," jawab Benny seraya menatap Dewi sekilas, "El, Papa juga mau ke kamar. Papa ngantuk," ucap Benny sambil menguap lebar.
Kini di ruang keluarga tinggallah Elza dan juga Fina. Mereka masih melanjutkan menonton film yang belum usai itu. Gelak tawa Elza terdengar nyaring di sana ketika ada adegan lucu di sana.
"Mbak, enak ya punya mama seperti anak itu! Tuh mamanya jadi sedih liat anaknya dalam bahaya," tunjuk Elza pada layar televisi yang menampilkan kedekatan ibu dan anak itu.
__ADS_1
"Suatu saat Elza pasti punya mama baru," ucap Fina sambil mengusap kepala Elza, "sekarang yang terpenting, Elza harus sering berdoa kepada Allah, agar mendapatkan mama yang baik dan sayang sama Elza," tutur Fina agar Elza tidak terlarut dalam kesedihan karena tidak memiliki orang tua lengkap.
"Setiap hari aku sudah berdoa kepada Allah, tapi sampai sekarang aku belum punya mama," ucap Elza sambil menatap Fina penuh arti.
Fina tak segera menjawab keluh-kesah anak asuhnya itu. Dia harus mencari jawaban yang tepat agar Elza tidak membahas lebih panjang lagi persoalan ini. Dia merasa kasihan karena setiap Elza membahas perihal ini, sorot matanya terlihat sendu.
"Emm ... memangnya Elza berdoa bagaimana?" tanya Fina penasaran.
"Begini, Mbak ... Ya Allah berikan aku seorang Mama. Aku ingin Mbak Fina yang jadi Mamaku. Semoga Mbak Fina mau jadi Mamaku," jawab Elza dengan polosnya.
Tentu saja hal ini membuat Fina terkejut bukan main. Dia tidak menyangka jika bocah berusia hampir lima tahun itu menginginkan sesuatu yang tidak ada dalam bayangannya sedikitpun. Fina tidak sanggup melihat sorot penuh harap dari mata anak asuhnya itu.
"Kenapa harus Mbak yang jadi Mamanya Elza?" tanya gadis itu dengan heran.
"Karena Mbak baik sama aku. Jadi ... aku suka sama Mbak Fina," ucap bocah kecil itu dengan polosnya.
"Tapi Papa udah punya calon mama buat Elza. Mbak Fina gak cocok jadi mamanya Elza," jawab Fina dengan tegas.
"Cocok kok! Nanti kalau aku bilang Papa, pasti mau," ujar Elza dengan yakin, "Mbak mau ya jadi Mamaku?" tanya Elza dengan sorot mata penuh harap.
Fina mengalihkan pandangan ke arah lain, karena tidak sanggup melihat sorot sendu yang ditunjukkan oleh Elza. Entah ini sebuah drama atau sebuah ungkapan isi hati. Satu hal yang pasti, bocah kecil itu berhasil membuat Fina terenyuh. Dia tidak tega untuk menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata penolakan yang membuat hati bocah kecil itu terluka. Ada rasa sesak di dalam dada yang membuat air mata menggenang di pelupuk mata.
"Kenapa Mbak Fina diam saja? Pasti Mbak Fina enggak mau ya jadi Mamaku. Pasti Mbak Fina mau menikah dengan kang Aris ya!" Sungguh, pertanyaan Elza semakin membuat Fina tak kuasa membendung air matanya.
__ADS_1
...🌹To Be Continue 🌹...