Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Resepsi Mantan,


__ADS_3

"Sayang, kamu yakin resepsinya di sini? Ini bukan rumahnya pak Syakur loh," tanya Benny setelah menghentikan mobil di bahu jalan.


Fina membuka dashboard untuk mengambil undangan yang tersimpan di sana. Dia membaca undangan tersebut sekali lagi untuk memastikan jika tidak salah alamat. "Benar kok, Mas. Kalau gak percaya coba baca sendiri deh," ujar Fina seraya memberikan undangan tersebut kepada Benny.


Ayah dari Elzayin itu membaca dengan teliti alamat yang tertulis di undangan. Mereka tidak salah alamat karena memang tempat mereka berhenti saat ini adalah kawasan tempat resepsi pernikahan Aris.


"Itu Mas, ada Banner masuk gang tuh!" tunjuk Fina pada banner bertuliskan nama Arisandi dan Miranda. Serta ada nama Syakur, istri dan besannya.


Benny mengernyitkan keningnya karena jalan yang ditunjuk Fina adalah jalan masuk menuju rumah Renata. Tentu mantan kekasih biduan terkenal di Surabaya itu merasa ketar-ketir karena takut praduganya benar.


"Apa mungkin pernikahannya diselenggarakan di gedung yang ada di samping rumah Renata? Lalu apa hubungannya pak Syakur, Aris dan Renata jika memang benar tempatnya di sana. Tidak mungkin 'kan jika Aris menikah dengan Renata? Karena yang tertulis di undangan atas nama Miranda," batin Benny bergemuruh saat menerka kebenaran yang sesungguhnya.


"Mas, ayo jalan! Kenapa masih diam di sini? Kita gak salah alamat kok." Pertanyaan Fina benar-benar membuat lamunan Benny hilang seketika.


Benny mengarahkan setir mobilnya sesuai dengan petunjuk arah yang ada di sana. Praduga mantan duda itu sepertinya memang benar, karena gedung tempat resepsi tersebut benar-benar ada di samping rumah Renata.


"Gak masalah 'kan kalau jalannya agak jauh? Gak ada tempat parkir lagi nih," tanya Benny seusai mengatur posisi mobilnya.


"Gak masalah, Mas. Itung-itung olahraga," jawab Fina seraya melepas seatbelt di tubuh, "nanti Elza gak boleh mukul kang Aris loh! Dia gak mungkin berani membawa Mama pergi." Sekali lagi Fina mengingatkan putra sambungnya itu.


Bukan tanpa sebab Fina mengatakan hal itu, karena sebelum berangkat ke tempat ini, Elza sudah menyusun rencana akan memukul Aris karena alasan yang disampaikan oleh ayahnya. Rasa tidak suka bocah kecil itu kepada Aris sepertinya terpatri di hati.


"Kalau kang Aris nakal, pasti aku pukul, Ma!" jawab Elza sebelum membuka pintu samping.

__ADS_1


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju tempat resepsi berlangsung. Fina berada di tengah dengan diapit anak dan ayah itu. Elza terus bergelayut di tangan Fina, seakan takut jika ada yang mengambil ibu sambungnya itu.


"Hah itu Renata, Mas?" tanya Fina setelah melihat penerima tamu yang berdiri di dekat pintu masuk gedung resepsi tersebut.


"Sepertinya iya." Hanya itu yang menjadi jawaban Benny karena dia memutuskan untuk tidak memberitahu Fina jika rumah dua lantai yang ada di samping gedung tersebut adalah rumah Renata.


Seketika Fina menghentikan langkahnya setelah mendengar jawaban pasti dari Benny. Dia enggan masuk setelah tahu jika Renata bagian dari keluarga tersebut, "dari sekian banyak manusia, kenapa harus ulet bulu itu sih yang menjadi penerima tamu? Apa hubungannya coba keluarga pak Syakur dengan dia!" protes Fina seraya menatap Benny dengan tatapan tak suka.


"Sayang, jangan marah dong. Aku pun tidak tahu jika ada Renata di sini," jawab Benny seraya menatap Fina, "mari kita hadapi bersama. Tetaplah tersenyum dan tunjukkan kepada semua orang jika kamu sedang bahagia," tutur Benny seraya mengembangkan senyum tipis.


Fina menghela napas panjang sebelum melanjutkan perjalanan tersebut. Tak lupa dia menampilkan ekspresi wajah terbaik agar bisa menghadapi cibiran Renata nanti. Jarak semakin terkikis dan keluarga bahagia itu akhirnya memasuki gedung resepsi.


"Selamat datang. Wah ... wah ... wah, ada tamu spesial nih? Kok bisa datang di pesta pernikahan adikku?" sambut Renata saat mengetahui mantan kekasihnya hadir di sana.


"Selamat datang, Pak Benny dan keluarga," sambut Syakur dengan wajah ceria.


"Mari Mbak Renata, saya ke dalam dulu," pamit Fina sebelum masuk bersama Syakur dan suaminya. Sementara Benny lebih memilih untuk tidak menyapa mantan kekasihnya itu, demi keamanan bersama.


Mereka bertiga diarahkan Syakur duduk di meja paling depan dekat pelaminan. Fina menatap sekilas sepasang pengantin yang ada di atas pelaminan itu. Tanpa sengaja tatapannya bersirobok dengan Aris. Senyum tipis pun mengembang dari kedua sudut bibir pria manis itu.


Sementara Fina segera mengalihkan pandangan ke arah lain setelah duduk di kursi. Lantas dia fokus pada Syakur dan Benny yang sedang berbicara itu. Lebih baik mendengarkan pembicaraan kedua pria itu daripada sibuk mengamati Aris dan istrinya.


"Oh iya, Pak. Saya tadi hampir saja nyasar jika tidak membuka undangan lagi. Saya pikir resepsi pernikahannya di rumah pak Syakur. Eh, ternyata di sini." Mungkin karena penasaran, Benny pun memutuskan membahas masalah ini.

__ADS_1


"Ini gedung milik kakaknya menantu saya, Pak. Itu loh yang tadi menyambut Pak Benny di depan. Jadi, memang sudah kesepakatan bersama jika resepsi ini digelar menjadi satu agar tidak membuang waktu. Lagi pula ada gedung besar gak pernah dipakai, sayang 'kan Pak jika harus menyewa lagi," jelas Syakur.


Kini, Benny tahu jika ternyata Aris menikah dengan adik dari Renata yang bernama Miranda. Teka-teki itu telah terjawab sudah. Dia tidak menyangka saja jika Aris akan menjadi bagian keluarga mantan kekasihnya itu.


"Silahkan ambil makan dulu, Pak ... Fin, saya tinggal ke depan untuk menemui tamu yang lain," pamit Syakur sebelum beranjak dari tempatnya.


Setelah kepergian Syakur, sepasang suami istri itu pun beranjak dari tempatnya untuk mengambil makanan. Dia meninggalkan Elza di sana seorang diri dan tak lama setelah itu, mereka kembali lagi dengan membawa beberapa porsi makanan.


"Mas, apa mungkin kang Aris menikah karena istrinya udah hamil? Sepertinya itu perutnya udah gede," bisik Fina setelah mengamati wanita yang duduk bersanding dengan Aris.


"Hust. Jangan begitu, Sayang. Itu namanya berprasangka buruk. Mungkin saja istrinya memang gemuk," jelas Benny agar istrinya tidak berpikir ke arah sana, "jangan julid, Sayang. Ingat jika sedang hamil." Benny mengingatkan istrinya agar tidak bersikap seperti itu.


"Astagfirullah haladzim. Amit-amit jabang bayi," gumam Fina sambil mengusap perutnya.


"Kang Aris kenapa lihat Mama terus sih! Aku gak suka!" protes Elza setelah melihat gerak gerik mata mantan pelatihnya itu.


"Ya, namanya juga punya mata, Nak. Biarkan saja dia melihat Mama. Kamu tenang saja, kang Aris gak bakal berani mengambil Mama." Fina tak henti memberi pengertian kepada Elza yang sudah terlanjur terprovokasi ucapan Benny.


Setelah cukup lama berada di sana, Akhirnya Benny mengajak anak dan istrinya pulang. Dia tidak mau berada di sana terlalu lama karena bisa menimbulkan percikan api drama keluarga. Tak lupa mereka bertiga naik ke atas pelaminan untuk menemui Aris sebelum pulang.


"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warohmah," ucap Fina ketika bersalaman dengan Aris.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Yaelah ... dunia sempit amat😆ternyata oh ternyata🤣...


...🌷🌷🌷🌷 ...


__ADS_2