Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Kembali Latihan?


__ADS_3

"Mas, bangun yuk! Udah mau subuh nih," ucap Fina saat berusaha membangunkan Benny yang masih terlelap di balik selimut tebal.


Beberapa kali wanita cantik itu berusaha membangunkan suaminya, tetapi sang empu tak merespon. Suara dengkuran halus terdengar di sana, pertanda jika ayah dari Elzayin itu masih berkelana di alam mimpi.


"Lebih baik aku mandi duluan deh, biar tidak ada sesi mandi bareng," gumam Fina sambil memandang wajah tenang suaminya.


Fina bergegas turun dari ranjang. Dia membuka almari untuk mengambil pakaian terlebih dahulu karena tidak mungkin bukan jika dia memakai pakaian mini yang dia kenakan tadi malam. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Fina memungut beberapa potong pakaian yang tercecer di lantai.


"Dih jadi geli sendiri kalau ingat tadi malam." Fina bergumam lirih saat mengambil celdam putih bergambar robot milik suaminya. Dia terkekeh ketika teringat bagaimana keinginan aneh Benny tadi malam.


"Mas Benny, Mas Benny. Kok bisa gitu pakai iri sama anak sendiri. Astagfirullah." Fina mengembangkan senyumnya saat melihat sosok yang masih bergelung di bawah selimut itu.


Tak lama setelah itu, Fina berjalan menuju kamar mandi. Sebelum masuk, tak lupa dia memasukkan pakaian dinas semalam ke dalam keranjang pakaian kotor. Lantas, dia bergegas masuk untuk melaksanakan sesuci sebelum menjalankan kewajiban dua rakaatnya nanti.


Tepat saat mendengar adzan subuh berkumandang, Fina keluar dari kamar mandi. Rambut yang basah telah dililit dengan handuk putih. Sementara dirinya memakai bathrobe putih saat keluar dari kamar mandi. Ternyata Benny pun sudah bangun dan sedang duduk bersandar di headboard ranjang.


"Buruan mandi, Mas! Nanti keburu Elza bangun," ucap Fina sambil membuka almari yang ada di sisi ranjang.


"Kamu kok gak bangunin aku sih?" protes Benny seraya menatap Fina yang sedang menyiapkan pakaian ganti.


"Udah aku bangunin! Mas aja yang betah di alam mimpi. Emang mimpi ketemu siapa sih kok betah amat tidurnya?" Fina menatap Benny sekilas sambil mengulum senyum. Tak lama setelahnya, dia melempar handuk putih ke atas pangkuan Benny.


"Buruan, Mas!" Fina menatap Benny dengan intens karena suaminya tak kunjung turun dari tempat tidur.


Ayah dari Elzayin itu bergegas turun dari tempat tidur. Dia melilitkan handuk di pinggang saat berjalan menuju kamar mandi. Setelah Benny masuk ke dalam kamar mandi, Fina pun segera merapikan tempat tidur yang berantakan itu. Sisa-sisa pertempuran panas telah dibersihkan dari sana.


"Akhirnya rapi juga," gumam Fina dengan helaan napas yang berat.


Setelah merapikan kamar, Fina segera pergi menuju kamar Elza. Sudah menjadi rutinitasnya membersihkan dan merapikan kamar pribadinya tanpa bantuan ART. Dia memang tidak memperkenankan orang lain masuk kamar tanpa pengawasannya.


Tok ... tok ... tok ...

__ADS_1


Fina beberapa kali mengetuk pintu kamar Elza, tetapi belum ada jawaban dari dalam. Dia membuka pintu tersebut dan ternyata penghuni kamar masih tertidur pulas. Ibu sambung Elzayin itu tak segera membangunkan putra sambungnya, tetapi dia meraih remote AC dan menonaktifkan AC tersebut. Tirai yang tertutup rapat pun telah dibuka beserta jendela kamar. Udara segar masuk mulai masuk ke dalam kamar tersebut.


"Ma, aku bangun," ucap Elza setelah merasakan udara dingin di kulitnya, karena Fina menyingkap selimut tebal itu dari tubuh Elza.


"Kalau udah bangun, buka kelopak matanya dong. Ayo, udah ditunggu Papa sholat subuh," ucap Fina setelah duduk di tepian tempat tidur.


Tanpa protes ataupun banyak alasan, Elza beranjak dari tempatnya. Dia keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar mandi. Fina pun menyiapkan seragam sekolah untuk putra sambungnya itu sebelum pergi.


****


"Ma, aku nanti berangkat agak pagi dari biasanya, karena harus piket di kelas," ucap Elza setelah sampai di ruang keluarga.


Mereka bertiga baru saja menyelesaikan sholat subuh berjamaah dan sekarang sedang bersantai di ruang keluarga. Serial kartun favorit Elza pun menghiasi layar kaca berukuran besar itu.


"Oke, nanti Papa yang akan mengantar Elza," sahut Benny setelah duduk di sofa tunggal.


"Oh iya, Pa. Jadi bagaimana? Apa aku boleh ikut kegiatan ekstrakulikuler bela diri di sekolah?" tanya Elza setelah teringat pengumuman dari guru kelas.


"Enggak tahu, Ma. Pokoknya seragamnya warna putih," jelas Elza seraya menatap Fina.


"Boleh ya, Ma? Aku pengen ikut bela diri lagi. Tanganku sudah sembuh 'kan Ma?" rayu Elza seraya menatap Fina penuh arti.


"Bagaimana kalau Elza latihan di padepokannya Pak Syakur saja? Nanti Elza ikut lomba lagi seperti dulu?" tawar Fina karena dia kurang suka jika Elza masuk ke perguruan lain.


Pertanyaan yang dilayangkan Fina kepada Elza berhasil membuat Benny melebarkan mata. Tentu mantan duda itu sedikit keberatan jika harus berhubungan dengan Syakur lagi. Sudah dipastikan jika nanti mereka akan lebih sering bertemu dengan Aris dan Benny tidak mau hal itu terjadi. Entah mengapa, dia begitu enggan berurusan dengan Aris. Apa lagi pria itu telah menjadi bagian keluarga Renata.


"Lebih baik sekarang Elza siap-siap deh. Biar nanti tidak telat berangkat. Papa mau bicara dulu sama Mama," ucap Benny seraya menatap Elza dengan tatapan penuh arti.


Bocah berusia enam tahun itu bergegas pergi dari ruang keluarga karena mendapat instruksi dari ayahnya. Setelah kepergian Elza dari sana, Benny beralih menatap Fina.


"Kenapa harus padepokannya pak Syakur? Apa tidak ada tempat latihan yang lain?" tanya Benny langsung pada intinya.

__ADS_1


"Mas, tempat latihan binaan pak Syakur itu yang terbaik loh menurutku dari sekian banyak tempat latihan Pagar Bangsa di Surabaya. Elza pasti bisa menjadi atlet berprestasi jika dibina di sana. Aku tidak yakin dengan ekstra kulikuler di sekolahnya," jelas Fina sambil menepuk paha Benny.


"Memangnya beda gitu cara berlatihnya? Meski sama-sama Pagar Bangsa?" tanya Benny lagi.


"Setiap guru pasti memiliki metode yang berbeda dalam mengajar, ya meskipun jurus dan materinya sama. Jika memang Mas mengizinkan Elza kembali berkecimpung di dunia bela diri, aku sarankan mending masuk ke perguruan yang dibina pak Syakur saja. Kalau selain di sana aku gak setuju," tegas Fina.


"Tapi aku tidak sukβ€”" Benny menghentikan ucapannya saat Fina menginterupsi.


"Tidak suka dengan Aris begitu?"


"Iya. Itu alasan terbesarku. Selain dari Aris, aku pun tidak mau jika suatu saat kita bertengkar karena salah paham dengan Aris, istrinya ataupun Renata! Lebih baik menghindar daripada nanti mereka membuat kita bertengkar!" Benny menjelaskan pendapatnya mengenai hal ini.


"Kenapa Mas bawa-bawa biduan itu? Ngarep ketemu dia gitu kah?" Fina mulai menatap sinis ke arah suaminya saat mendengar nama Renata.


"Ya karena Aris kan adik iparnya Renata! Takutnya nanti mereka resek dan membuat kita bertengkar," tutur Benny tanpa melepas pandangannya dari Fina.


"Percaya diri banget sih, Mas! Ya udah lah, kita gak perlu memikirkan mereka. Kita itu hanya perlu fokus dengan kepentingan Elza. Kita harus mendukung bakat yang sempat terpendam itu. Gak usah membawa-bawa Aris ataupun yang lain, Mas. Sebenarnya Mas ini takut ketemu Renata atau Mas takut aku ketemu Aris lagi?" Fina memicingkan mata ke arah suaminya.


Benny mengalihkan pandangan ke arah lain karena pertanyaan dari Fina. Dia gengsi mengakui jika masih cemburu dengan pria yang pernah dekat dengan istrinya itu.


"Nanti malam kita temui pak Syakur! Ingat, gak usah bicara sama Aris!" ujar Benny dengan sinis. Sepertinya dia belum rela jika kembali berhubungan dengan Aris.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Aiiih ... mas Benny takut Fin ngelirik Mas ArisπŸ˜€...


βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–


...Rekomendasi karya keren untuk kalian😍Kuy baca karya author Yayuk Triatmaja dengan judul Suamiku Buruk Rupa Dan Lumpuh. Kuy gercep!...


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2