Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Suami Julid


__ADS_3

Siluet kekuningan mulai terlukis di cakrawala, bersiap menyambut kehadiran sang mentari. Udara pagi berhembus mesra menyapa ketiga orang yang baru saja keluar dari gerbang rumah yang menjulang tinggi.


"Pa, aku boleh bawa sepeda gak?" tanya Elza setelah melihat suasana di komplek yang masih gelap.


"Boleh. Asal naik sepedanya pelan-pelan," jawab Benny.


Setelah mendengar jawaban ayahnya, Elza masuk ke dalam garasi untuk mengambil sepeda. Tak lama setelah itu bocah kecil itu keluar dengan membawa sepeda kesayangannya. Dia mengayuh sepeda di depan kedua orang tuanya.


"Pelan-pelan, Nak! Tunggu Mama!" teriak Fina ketika melihat putranya sudah berada jauh darinya.


"Biarkan saja. Kamu tidak perlu mempercepat langkah. Tetap pelan-pelan saja," ucap Benny ketika melihat gurat kekhawatiran di wajah istrinya.


Hampir setiap hari Benny menemani Fina jalan-jalan pagi keliling komplek. Apalagi, jika rutinitas pagi itu dilakukan di hari minggu, Elza pun ikut semangat mengikuti kedua orang tuanya. Mereka akan jalan kaki sampai ke depan pintu masuk komplek. Banyak pedagang kaki lima yang berjualan di sana. Taman komplek pun cukup ramai jika di hari minggu. Banyak orang yang menghabiskan waktu di sana.


"Ya ... penjual bubur ayamnya gak ada. Padahal, aku lagi pengen makan bubur ayam," gumam Fina setelah sampai di depan komplek dan tidak menemukan gerobak bubur ayam langganannya.


"Beli yang lain saja, Sayang," gumam Benny sambil mengedarkan pandangan untuk mencari penjual makanan yang lain, "soto atau pecel mungkin. Itu sepertinya enak!" tunjuk Benny pada gerobak soto daging khas lamongan.


"Nanti saja deh, Mas. Beli jajan saja lah dulu," gumam Fina karena napsu makannya tiba-tiba hilang begitu saja.


"Aku tunggu di sana saja. Kamu jajan sama Elza," ujar Benny seraya menunjuk bangku panjang yang ada di taman.


Benny pergi menuju bangku tersebut dengan mendorong sepeda hitam milik Elza. Sementara Fina berjalan mencari jajanan kaki lima yang sesuai dengan selera. Dia sibuk memilih makanan bersama Elza dengan melewati beberapa gerobak pedagang di sana.


"Ma, aku mau beli sosis itu!" tunjuk Elza pada gerobak container penjual aneka olahan sea food bakar.


Setelah memilih makanan sesuai dengan yang diminta Elza, ibu dan anak itu pun duduk di kursi plastik yang sudah disediakan di depan container. Dari tempat ini, Fina bisa melihat Benny yang sedang sibuk mengamati di sekitarnya karena suasana di sana cukup ramai.


"El, papa itu lagi lihat apa ya? Kok sampai gak berkedip gitu?" tanya Fina setelah melihat Benny termangu ke arah lain.

__ADS_1


Setelah mendengar pertanyaan dari Fina, bocah kecil itu segera berdiri dari tempat duduknya. Dia melihat ke arah pandangan ayahnya, "itu, Ma! Papa lagi lihat tante-tante," tunjuk Elza pada kerumunan wanita berwajah glowing yang sedang bersiap senam di sana.


"Kamu yakin Papa sedang melihat tante-tante?" Fina meyakinkan jawaban Elza mengingat jarak pandang matanya tidak sejauh Elza.


"Iya, Ma. Malah di sana ada tante yang tekonya besar!" jawab Elza tanpa ada yang ditutupi.


"Tekonya besar? Maksudnya bagaimana?" Fina mengernyitkan kening setelah mendengar jawaban putra sambungnya itu.


"Ini loh, Ma! Tempat susunya adek bayi." Elza memperagakan tangannya di depan dada.


Fina mangut-mangut setelah paham maksud putra sambungnya itu. Tentu Fina tidak suka dengan hal ini. Dia beranjak dari tempatnya dan melihat pesanannya. Fina sudah tidak sabar lagi untuk menjewer telinga suaminya itu karena sudah melihat bukit orang lain yang lebih besar.


"Monggo, Mbak. Semuanya tiga puluh ribu." Suara penjual olahan sea food itu membuyarkan pikiran Fina.


"Terima kasih," jawab Fina sambil menerima satu kantong kresek putih berisi pesanan Elza. Lantas, wanita berbadan dua itu pun segera membayar makanannya.


Fina meraih tangan Elza dalam genggamannya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat Benny berada. Fina memilih jalan lain agar sampai di sana tepat di belakang suaminya. Dia ingin tahu apakah Benny tahu jika dirinya sudah berada di belakang badannya. Tak lupa Fina memberikan isyarat agar Elza tidak bersuara.


"Iya, gede," jawab Benny tanpa menoleh ke belakang. Sepertinya dia tidak sadar jika pertanyaan itu tercetus dari istrinya.


"Oh, jadi pengen yang gede kayak gitu kah?" tanya Fina sambil memandang seorang wanita berumur sekitar tiga puluh lima tahun yang memiliki ukuran dada sangat besar.


"Enggak. Aku takut karena itu kayaknya tumpah-tumpah. Ngeri banget liat yang seperti itu," gumam Benny tanpa mengubah posisinya.


"Kalau takut kenapa sejak tadi dipandang terus. Coba liat ke belakang," ujar Fina sebelum menegakkan tubuhnya.


Benny pun mengikuti perintah itu. Dia menoleh ke belakang dan terkejut setelah sadar jika sejak tadi yang bertanya adalah istrinya. Dia tersenyum lebar hingga deretan gigi putih itu terlihat jelas.


"Eh Sayang ... sejak kapan selesai belinya? Perasaan tadi masih antre di sana," tunjuk Benny pada container tempat Fina membeli jajanan.

__ADS_1


"Hmmm ... ternyata Mas dari tadi asyik mengamati mereka ya! Sampai gak tahu jika aku dan Elza sudah sampai di sini," ujar Fina dengan tatapan tak suka.


"Dasar mesum! Masih aja liat yang kendi nya lebih gede!" sarkas Fina hingga membuat Benny menelan ludah. Untung saja suara istrinya itu tidak sekeras ibu-ibu penjual daster sehingga dia tidak merasa malu karena hal ini.


Elza mangut-mangut setelah tahu jika kedua orang tuanya sedang bersitegang. Sepertinya menjauh lebih baik daripada mendengar celotehan Fina, karena dia pun tahu jika sumber kemarahan ibu sambungnya itu adalah ayahnya sendiri.


"Ma, aku mau main ke sana ya," pamitnya sebelum berlari menuju playground yang ada bagian belakang taman.


"Sayang. Duduk sini, jangan marah dulu," ucap Benny sambil menepuk bangku yang ada di sisinya, "akan aku tunjukkan apa yang membuatku melihat ke arah wanita glowing." Benny tersenyum simpul, berharap kemarahan sang istri segera hilang.


Fina pun mengikuti perintah Benny. Dia duduk di sana dengan bibir yang mengerucut karena kesal dengan sikap suaminya itu, "aku dari tadi lihat Mas dari sana. Sepertinya Mas asyik banget melihat tante-tante senam itu!" gerutu Fina.


"Sayang, coba deh kamu lihat ibu-ibu yang pakai baju kuning itu. Dia percaya diri banget loh. Udah tahu kendinya besar, tapi dari tadi lompat-lompat terus macam katak," gumam Benny.


"Tapi Mas seneng 'kan lihatnya! Apa perlu aku seperti itu biar Mas gak lirik-lirik lagi saat ada yang big size?" ujar Fina dengan ketus.


"Sayang, aku tuh hanya heran aja. Itu asli atau di dalamnya ada balon yang diisi air gitu sih? Serius aku lihatnya ngeri, takut meletus!" ujar Benny tanpa rasa bersalah sedikitpun, "suaminya kok ya ngebolehin istrinya tampil seperti itu," lanjutnya.


"Ih kenapa Mas jadi julid macam tetangga kita sih! Urusan dia lah mau pakai baju apa! Mungkin aja dia gak punya suami. Kalau Mas kepo pengen tahu itu kendi asli atau palsu, pegang sana!" Fina semakin ketus saat menghadapi suaminya.


"Memangnya boleh?" tanya Benny sambil tersenyum smirk.


Fina menjauhkan wajahnya dari Benny dan setelah itu dia berdiri dari tempat duduknya. Bibir tipis itu semakin mengerucut hingga membuat Benny semakin gemas dibuatnya.


"Cari perkara ini!" ujar Fina sambil berkacak pinggang, "oke, kalau Mas mau pegang itu kendi, aku yang akan bilang ke orangnya langsung! Tunggu saja di sini!" Fina membalikkan badan dan bersiap pergi dari hadapan Benny.


Namun, langkahnya harus terhenti ketika Benny meraih pergelangan tangannya, "jangan dong, Sayang! Aku hanya bercanda. Aku hanya ingin menggoda kamu saja," sergah Benny saat berdiri dari tempatnya. Dia berusaha membujuk Fina agar duduk kembali di tempatnya.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Nyari perkara si mantan duda iniπŸ˜†...


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2