Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Pemicu Sakit


__ADS_3

Rasa penasaran yang begitu besar telah memenuhi hati dan pikiran Fina. Setelah keluar dari kamar ibunya, dia tak segera menemui Benny di ruang tamu. Fina menghampiri Nisa yang sedang berkutat di dapur menyiapkan minuman untuk mereka semua.


"Nis, kamu pernah dengar Ibu ada masalah gak sama tetangga?" tanya Fina setelah duduk di kursi yang ada di sana.


"Sejauh ini sih enggak Mbak, tetapi Mbak sendiri 'kan sudah tahu, jika ibu jarang sekali cerita kalau ada masalah dengan tetangga," jawab Nisa tanpa menatap kakaknya, dia sibuk menyelesaikan tugasnya.


Putri sulung Badiah itu termenung di sana, mencoba mencari pokok masalah yang sedang dihadapi oleh ibunya. Akan tetapi dia tak kunjung menemukan jawabannya. Lantas, wanita cantik itu beranjak dari sana. Dia melewati ruang keluarga dan sampai di ruang tamu.


"Elza istirahat sama Papa dulu ya, Mama masih mengurus Mbah Bad," ucap Fina setelah menemui anak dan suaminya di ruang tamu, "Pak Agus silahkan istirahat di kamar tengah, nanti Elza biar tidur sama saya. Mas Ben, nanti tolong ditunjukkan di mana kamar Pak Agus ya," ucap Fina sebelum berlalu pergi menuju pintu penghubung ke toko.


Setelah berada di dalam toko tersebut, tak lupa Fina menghidupkan semua lampu toko agar bisa melihat kondisi di sana. Wanita cantik itu mengamati setiap barang dagangan yang tertata rapi di sana.


"Kenapa banyak yang kosong ya barangnya?" Fina bergumam setelah melihat rak yang kosong, "Ibu tidak biasanya membiarkan barang dagangannya kosong loh, ada apa ini?" Fina semakin penasaran dibuatnya.

__ADS_1


Buku besar yang ada di laci meja telah dikeluarkan Fina dari sana. Dia ingin tahu siapa saja yang sudah hutang di toko ibunya. Wanita cantik itu terkejut setelah melihat banyak nama tertulis di sana dengan nominal yang cukup besar bagi barang dagangan toko kelontong.


"Apa Ibu sakit gara-gara ini?" batin Fina setelah menyimpan kembali buku tersebut di tempatnya. Dia bergegas keluar dari sana untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum membahas masalah ini.


****


Suara adzan ashar telah berkumandang di segala penjuru desa. Bertepatan dengan itu, Fina pun terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia bergegas turun dari tempat tidur setelah mengamati anak dan suaminya yang masih pulas.


"Sudah, Mbak. Udah makan juga," jawab Nisa tanpa menoleh ke arah Fina. Dia sibuk membersihkan meja kaca yang ada di sana. Tak lama setelah itu, Fina pun melanjutkan langkahnya menuju kamar Badiah.


"Sore, Bu," sapa Fina setelah berada di sana. Dia duduk di tepian ranjang tanpa melepas pandangan dari sosok yang sedang terbaring itu.


"Hmmm." Hanya itu yang menjadi jawaban Badiah.

__ADS_1


Fina memijat kaki Badiah sebelum membicarakan masalah yang mungkin saja dihadapi oleh ibunya. Dia menunggu waktu yang tepat untuk bertanya kepada ibunya perihal buku hutang yang tersimpan di laci toko.


"Mungkin sekarang saatnya kita bicara, Bu. Silahkan Ibu cerita semua hal yang menjadi beban pikiran," ujar Fina tanpa menghentikan pijatan di kaki Badiah. Dia hanya ingin semua masalah ini selesai demi kesehatan ibunya.


Helaan napas berat mulai terdengar setelah Badiah mendengar desakan putrinya. Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk membahas masalah yang dihadapinya. Terus bungkam sepertinya bukanlah pilihan yang tepat karena semua ini terlalu berat baginya.


"Ibu bingung harus bagaimana lagi memenuhi barang dagangan di toko sedangkan banyak tetangga yang berhutang dan tidak mau membayar saat ditagih, Fin. Kata-kata pedas mereka membuat telinga Ibu sakit. Tak hanya masalah hutang yang membuat Ibu kepikiran, tetapi ada hal lain yang membuat mental Ibu down." Akhirnya Badiah mengeluarkan sebagian isi hatinya yang menjadi pemicu vertigonya kambuh.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Maaf ya cuma sedikit karena othor ngantuk banget😭besok othor lanjut lagi ya, sekarang mau bobo sbentar🙏🙏 Mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidakpastian update akhir-akhir ini😕🙏...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2