Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Ngidam Malam,


__ADS_3

Hari-hari penuh warna telah terlewati begitu saja dengan kehangatan keluarga. Setelah menemani Elza di kamar hingga bocah kecil itu tidur pulas, Fina keluar dari kamar putra sambungnya itu. Dia segera masuk ke dalam kamar untuk menjalankan tugas kedua, yaitu menjadi pengasuh ayah dari Elzayin itu.


"Tumben masih jam segini udah ganti baju, Mas?" tanya Fina setelah melihat suaminya sudah mengenakan kolor pendek dan kaos tanpa lengan.


"Memang mau kemana lagi? Tidak ada acara 'kan?" tanya Benny sambil menata bantal dan tak lama setelah itu, dia merebahkan badan di sana.


"Ya tidak ada sih, Mas." Fina ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi suaminya.


"Kamu gak ganti baju?" tanya Benny setelah menyadari penampilan istrinya malam ini. Tidak ada pakaian menggoda seperti malam-malam biasanya.


"Nanti saja, Mas. Aku belum ngantuk," jawab Fina tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.


Wanita berbadan dua itu sedang melihat konten kuliner di entup. Dia fokus dengan beberapa video mukbang di wilayah Surabaya. Sesekali dia mengusap perut karena lapar.


"Mas, aku tiba-tiba kok lapar banget ya," gumam Fina sambil mengusap lengan suaminya.


"Memangnya kamu pengen makan apa?" tanya Benny seraya menatap Fina sekilas.


"Ini!" Fina menunjukkan video yang sedang terputar itu kepada Benny, "Sambalnya enak banget ini. Hmmm ...." Fina sampai menelan ludah ketika melihat video tersebut.


"Di sini gak ada sambal kikil seperti itu, Yang! Itu yang jual pasti ada di luar kota. Mending kalau pengen makan ya ... yang ada di sini saja," jelas Benny.


"Sok tahu banget! Asal mas tahu, food vlogger ini meliput penjual sambil kikil di Surabaya timur. Nih, alamatnya aja dekat sama Ampel. Beli yuk, Mas! Bukanya sampai subuh ini," ajak Fina sambil mengembangkan senyum penuh arti.


Benny menghela napas setah mendengar penjelasan istrinya itu. Sudah bisa dipastikan jika malam ini juga mereka akan berangkat ke sana. Padahal meskipun sama-sama di Surabaya, tempat yang dimaksud Fina ada di ujung timur. Mungkin butuh waktu satu jam lebih agar sampai di sana.


"Mas gak mau ya? Ya sudah deh kalau gak mau, gak masalah," tebak Fina setelah melihat respon suaminya.

__ADS_1


"Maaf ya, Dek. Kita gak bisa makan kikilnya dulu. Adek jangan ileran ya kalau udah lahir. Nah, sebagai gantinya, malam ini kita makan mie instan aja yuk! Pasti enak, apalagi ditambah irisan cabe," gumam Fina sambil mengusap perut yang masih rata itu.


Sementara Benny hanya diam ketika melihat tingkah istrinya. Dia heran saja melihat tingkah Fina malam ini. Tidak biasanya Fina menjadikan si utun sebagai alasan untuk mendapatkan keinginannya, "apa dia lagi berada di fase ngidam ya? Astaga ... semoga ngidamnya gak parah seperti Nurma dulu," batin Benny seraya menatap Fina yang sedang turun dari ranjang.


"Stop!" ujar mantan duda itu setelah Fina melangkahkan kakinya.


Fina mengembangkan senyum penuh kemenangan setelah mendengar interupsi suaminya. Sudah bisa dipastikan jika keinginannya malam ini akan terpenuhi, karena Benny tidak akan mungkin membiarkan dirinya mengkonsumsi mie instan. Bahkan, di rumah ini Benny melarang keras untuk menyimpan mie instan sebagai bahan persedian darurat.


"Yes! Berhasil! Tenang, Dek. Setelah ini kita pasti makan," batin Fina sambil mengusap perutnya.


"Kita berangkat setelah ini. Aku mau siap-siap dulu. Jangan lupa bangunkan Elza," ujar Benny seraya turun dari tempat tidur.


Wajah cantik itu terlihat ceria karena Benny akan memenuhi keinginannya. Dia bergegas keluar dari kamar untuk membantu Elza bersiap. Tidak mungkin bukan jika bocah kecil itu ditinggal di rumah bersama pembantu?


*****


Berbekal informasi yang disampaikan food vlogger yang mereview sambel kikil di entup, Mobil pajero hitam yang dikendarai Benny melaju ke kawasan Sunan Ampel. Demi cinta yang sangat besar kepada istrinya, Benny rela menembus jalanan malam kota Surabaya. Membuang jauh rasa kantuk agar perjalanan semakin lancar.


"Katanya dekat tempat parkir Ampel, Mas? Coba deh Mas lihat video ini. Perasaan lokasinya udah bener di sini deh," gumam Fina sambil menyerahkan ponselnya kepada Benny.


"Kalau dilihat sih emang benar. Ya di sini tempatnya, tetapi kok gak ada tanda-tanda orang jualan kikil?" gumam Benny sambil mengamati keadaan yang ada di sekitarnya, "Kamu di sini aja, aku mau tanya ke tukang parkir itu!" tunjuk Benny kepada seseorang yang sedang berdiri di depan warung.


Fina menengok ke belakang untuk memastikan jika Elza masih tidur pulas di kursi belakang. Bocah kecil itu sempat menolak ikut karena ingin tidur dan terlanjur nyaman berada di kamar. Akan tetapi Benny memaksa agar putranya ikut apapun kondisinya. Alhasil, Fina membawakan bantal, guling serta selimut agar Elza tetap bisa tidur nyenyak di dalam mobil.


"Bagaimana, Mas? Udah ketemu belum?" tanya Fina setelah Benny kembali ke dalam mobil.


"Coba mana hapenya tadi? Aku mau lihat videonya," pinta Benny untuk memastikan satu hal dari video tersebut.

__ADS_1


Tanpa rasa curiga sedikitpun Fina menyerahkan ponsel tersebut. Dia sangat berharap jika malam ini akan menikmati sambal kikil yang menggugah selera makannya. Hanya membayangkan saja, dia sudah menelan air liurnya beberapa kali.


"Sayang! Apa kamu tidak melihat kapan pertama kali video ini tayang?" tanya Benny dengan rahang yang mengeras, tetapi dia masih tetap tersenyum.


"Memangnya kenapa sih, Mas?" Fina mengernyitkan keningnya karena penasaran dengan pertanyaan suaminya.


"Warungnya udah tutup sejak satu tahun yang lalu, Istriku tersayang!" ujar Benny dengan tegas hingga membuat Fina termangu, "asal kamu tahu juga, video ini tayang sejak tiga tahun yang lalu, wahai Fina Imaniyah yang cantik jelita tiada tara!" Benny menunjukkan waktu yang ada di video tersebut kepada Fina.


"Haaah! Serius ini? Kok aku tadi gak lihat ya!" Fina terkejut setelah membaca waktu tayang yang ditunjukkan Benny kepadanya.


"Astagfirullahhaladzim." Benny hanya bisa mengusap dada setelah melihat respon tanpa rasa bersalah dari istrinya.


"Yaa ... gak jadi makan sambel kikil sama cingur dong!" Fina mengempaskan punggungnya di sandaran kursi, "terus bagaimana dong, Mas?" tanya Fina sambil menatap suaminya.


Benny tak segera menjawab, dia sepertinya masih berpikir, kemana kiranya dia akan membawa Fina tengah malam begini. Lantas dia membuka ponselnya untuk mencari informasi di internet. Dia mencari tempat rekomendasi yang cocok untuk istrinya.


"Ini ada sambel kikil sama cingur tapi di kawasan Kenjeran. Apa kita harus ke sana?" tanya Benny setelah menemukan tempat lain.


"Hayuk, Sayang!" jawab Fina dengan antusias, "ya ... tapi jarak dari sini ke Kenjeran kan sangat jauh, Mas." Wanita berbadan dua itu membuang napasnya setelah teringat jarak yang akan ditempuh keduanya.


"Gak masalah. Demi istriku yang cantik ini, aku rela menempuh perjalanan jauh, sekalipun sampai ke negeri China," ujar Benny seraya mengembangkan senyumnya. Entah ini senyum tulus ataupun senyum yang dipaksakan.


Fina sangat bahagia setelah mendengar jawaban suaminya. Dia bersorak gembira karena perhatian yang diberikan Benny untuknya. Tangannya tak henti membelai pipi suaminya itu dengan penuh kasih, "terima kasih ya, Mas. Makin cinta deh aku tuh! Setelah pulang nanti, aku pijit deh si otong!" ujar Fina dengan diiringi gelak tawa dan tanpa diduga, dia menyentuh sesuatu yang ada di bawah perut suaminya itu.


"Fin! Jangan macam-macam! Awas saja kalau sampai dia bangun di tengah jalan, aku suruh memijat dan melahap saat ini juga loh!" Benny memberi peringatan kepada istrinya itu.


...🌹To Be Continued 🌹...

__ADS_1


...Nah, kira-kira diwujudkan gak nih permintaan si Benny? Kuy komenπŸ˜†...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2