
"Ma, kita di rumahnya Mbah Bad berapa hari?" tanya Elza setelah masuk ke dalam mobil.
"Satu minggu dong. Kita liburan di sana," jawab Fina seraya menoleh ke belakang.
Liburan sekolah telah tiba. Waktu panjang ini digunakan Fina untuk pulang kampung. Semenjak melahirkan hingga Shazia berusia genap empat bulan, dia baru bisa pulang hari ini karena menunggu Elza libur sekolah. Tentu rasa rindu di hati sangat menggebu karena sudah lama tidak merasakan suasana nyaman di desa tempatnya dibesarkan.
"Shazia mau kemana ini? Mau liburan ya, Nak?" gumam Fina sambil mengembangkan senyum ketika Shazia mulai berceloteh.
"Baca doa dulu yuk sebelum berangkat," ujar Benny setelah menyalakan mesin mobilnya.
Suara Elza terdengar keras di dalam mobil saat membaca doa sebelum berkendara. Bocah kecil itu tak lagi merajuk karena iri dengan Shazia. Dia kembali normal, bahkan sangat menyayangi Shazia dan memperlakukan balita menggemaskan itu dengan baik.
"Adek Zia sayang, nanti kita lihat kerbau ya di rumahnya Mbah Bad," ucap Elza ketika muncul dari sisi kanan kursi yang di tempati Fina.
"Gak mau Kakak. Nanti aku digigit nyamuk!" jawab Fina sambil mendekatkan Shazia kepada Elza.
Balita berusia empat bulan segera meraih kepala Elza dengan kedua tangannya seperti biasa. Elza malah mendekatkan kepalanya kepada Shazia. Balita menggemaskan itu mulai berceloteh sambil sesekali membuka bibirnya, seperti ingin menggigit rambut tipis Elza.
"Aku geli, Ma. Jangan seperti ini," tolak Elza setiap kali merasakan lidah Shazia mendarat di kepalanya.
"Lah kan Kak Elza sendiri yang mendekatkan kepala ke Adek Zia," gumam Fina di sela-sela gelak tawanya.
Suasana di dalam mobil pun cukup ramai tanpa musik pengiring karena tawa renyah Shazia dan Elza. Fina dan Benny pun ikut tertawa lepas ketika melihat hal-hal lucu di antara kedua anaknya. Hingga pada akhirnya tawa renyah Shazia berubah menjadi tangisan karena terus digoda Elza.
__ADS_1
"Mulai ngantuk nih. Alamat rewel pastinya si gemoy ini," gumam Fina seraya mengubah posisi Shazia. Dia bergegas membuka kancing blousnya sebelum suara balita menggemaskan itu memekakkan telinga semua orang.
"Elza! Jangan diganggu adeknya. Nanti bisa tersedak," ujar Benny ketika sekilas melihat Elza menggelitik kaki Shazia.
"Biar adek Zia bobo dulu ya, Nak. Nanti main lagi kalau adek udah bangun. Sekarang Elza bobo juga atau main game dulu," gumam Fina seraya menatap Elza dengan senyum tipis.
Suasana di dalam mobil menjadi tenang setelah Shazia terlelap di atas pangkuan Fina. Sementara Elza asyik bermain game online di jok belakang. Hanya suara musik pop yang menemani perjalanan keluarga kecil Benny. Mungkin tidak lama lagi, mereka akan sampai di Mojokerto.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam, pada akhirnya mobil hitam itu sampai di halaman rumah Badiah. Kedatangan mereka disambut hangat oleh Nisa dan Badiah dengan senyum ceria. Janda dua anak itu sangat bahagia karena bisa menggendong Shazia.
"Aduh ... aduh ... cucunya Mbah cantik sekali," ujar Badiah seraya membungkukkan badan. Dia tak henti tersenyum setelah melihat cucunya tumbuh dengan baik hingga menjadi balita yang menggemaskan.
Sementara Elza sendiri sudah asyik bersama Nisa, entah di mana mereka berada saat ini. Badiah mempersilahkan anak dan menantunya masuk ke dalam rumah. Tentu wanita paruh baya itu sudah menyiapkan segalanya setelah tahu Fina akan menginap di sini selama satu minggu.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu. Nanti kita makan siang bersama. Pasti masih capek 'kan?" ujar Badiah ketika mereka sampai di ruang keluarga.
"Udah kamu juga istirahat saja dulu. Biar Shazia sama ibu," sahut Badiah sebelum mengambil Shazia dari gendongan putrinya, "udah sana! Ibu mau main sama Shazia dan Elza. Kalian istirahat saja." Badiah membawa Shazia ke ruang tamu karena ingin menghampiri Nisa dan Elza yang ada di sana.
Tentu ini kesempatan emas bagi Fina. Bisa istirahat tenang tanpa mengkhawatirkan putrinya. Setelah masuk ke dalam kamar, wanita dua anak itu menghempaskan diri di atas tempat tidur.
"Huuuh ... rasanya lega gitu," gumamnya sambil meregangkan otot-otot tubuh.
Benny hanya mengulum senyum melihat wajah ceria istrinya. Sebelum beristirahat dia melepas arloji yang melingkar di tangan dan mengganti pakaian dengan pakaian santai. Mantan duda itu tidak bisa istirahat tenang apabila masih memakai celana dan kemeja.
__ADS_1
"Sudah aku sarankan untuk pakai jasa baby sitter 'kan sebelumnya? Kenapa gak mau kalau kamu memang capek mengurus Shazia dan Elza?" tanya Benny sambil mengganti pakaiannya.
"Gak ah, Mas. Aku masih mampu kok mengurus mereka berdua. Kalau ada Baby sitter nanti aku ngapain dong di rumah?" Fina malah melempar pertanyaan kepada suaminya.
"Ya ngawasin baby sitternya. Aku kasihan melihat kamu kerepotan mengurus dua anak. Tidak ada salahnya jika kita mempekerjakan baby sitter untuk membantu kamu merawat anak-anak," jelas Benny setelah membaringkan badan di atas tempat tidur. Dia meraih tubuh Fina ke dalam dekapan hangatnya.
"Aku lebih suka mengurus mereka sendiri, Mas. Aku ingin selalu memantau perkembangan anak-anak kita. Kalau ada baby sitter, nanti aku jadi manja dan bisa jadi mengabaikan anak-anak karena bergantung pada baby sitter," gumam Fina sambil mengeratkan dekapannya.
"Aku bernapas lega begini, bukan berarti selama mengurus anak-anak, aku merasa tertekan, Mas. Ya, wajar sih kalau pas ada yang gantiin menggendong Shazia begini, aku bisa lega. Ini adalah hal yang manusiawi, jadi Mas tidak perlu berpikir jika aku terbebani karena anak-anak." Fina membelai rahang kokoh Benny dengan gerakan lembut.
"Aduh ... kalau seperti ini, jadi pengen punya anak lagi. Yuk, cetak adik untuk Shazia!" seloroh Benny hingga mendapatkan tatapan tajam dari Fina.
"Jangan macam-macam Anda, Tuan Benny!" Fina memberi peringatan kepada suaminya, "lukanya saja belum sembuh total, malah mau punya anak lagi. Memangnya Mas pikir melahirkan itu seperti bersin? Tinggal hacciu terus anak bisa keluar gitu aja? Gak semudah itu Ferguso!" cerocos Fina hingga membuat Benny tergelak. Dia sendiri tidak bisa membayangkan apabila mereka memiliki satu bayi lagi di saat Shazia masih balita.
"Ya ... ya ... ya. Setelah Shazia sekolah saja kita rencanakan anak keempat. Bisa-bisa aku gak dapat jatah nih, semua diambil anak-anak," gumam Benny seraya tersenyum jenaka.
"Haduh! Pikirannya itu loh, arahnya ke situ terus!" Helaan napas berat terdengar di sana. Fina berdecak heran melihat suaminya.
Setelah berbincang sesaat lamanya, mereka terlelap begitu saja. Mungkin, mereka berdua merasa lelah setelah melakukan perjalanan cukup jauh dari Surabaya ke Mojokerto. Namun, belum lama Fina merasakan tidur nyenyak, dia dikejutkan dengan suara tangisan Shazia. Wanita dua anak itu gelagapan mencari keberadaan putrinya.
"Fin, Fina ... Shazia sepertinya minta ASI, Fin." Terdengar suara Badiah dengan diiringi ketukan pintu beberapa kali.
...πΉTo Be Continued πΉ...
__ADS_1
...Nulis ini othor jadi baper sendiri, gak kebayang bagaimana serunya bisa main sama anak-anak. Huuuh ... tapi apalah daya, sudah berusaha tapi belum diberi Sang Pencipta....
...π·π·π·π·π·...