
"Jangan harap Mas tidur di kamar malam ini!" ujar Fina setelah selesai makan malam, "aku gak mau lihat Mas Benny!" Fina menatap sinis ke arah Benny.
Tak lama setelahnya dia meninggalkan Benny di ruang makan. Ayah dari Elzayin itu tercengang setelah mendengar statment dari istrinya itu. Tentu dia merasa bingung karena tidak tahu apa persoalan yang membuatnya tidak diperbolehkan tidur di kamar. Sejak pulang dari rumah sakit pun tidak ada masalah yang dibahas Fina. Wanita berbadan dua itu masih bersikap seperti biasanya.
"Kenapa lagi dia?" gumam Benny setelah sadar dari lamunan, "apa Fina salah makan ya?" Benny berdiri dari tempatnya dan melihat sisa makanan yang ada di atas meja makan itu
"Perasaan gak ada yang salah? Makanannya aman seperti biasanya, tetapi kenapa dia jadi aneh begitu?" gerutu Benny sambil berkacak pinggang di sisi meja makan.
Sementara itu, Fina sendiri sedang berada di ruang keluarga. Dia sedang menemani Elza mengerjakan PR dari sekolah. Dia sibuk menjelaskan kepada Elza mengenai pelajaran bahasa indonesia. Ibu dan anak itu terlalu fokus pada buku pelajaran sehingga tidak tahu jika Benny berjalan melewati ruang keluarga hingga sampai di lantai dua.
"Yes! Akhirnya selesai juga," ujar Elza dengan bangga setelah menyelesaikan semua soal yang ada di buku pelajarannya.
"Sekarang lebih baik cepat dibereskan semua bukunya. Terus Elza tidur, oke? Jangan sampai besok bangun terlambat," tutur Fina sambil membantu putra sambungnya itu membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja.
Fina beranjak dari tempatnya setelah Elza pergi ke kamar terlebih dahulu. Wanita berbadan dua itu sedang mencari keberadaan Benny karena belum melihat batang hidung suaminya sejak bertemu di ruang makan.
"Kemana dia?" gumam Fina saat tidak menemukan keberadaan Benny di ruang makan, "apa dia ke teras belakang? Ah bodo amat! Kalau sampai aku ketahuan mencari keberadaannya, gak jadi dapat hukuman dong dia!" gerutu Fina saat menuang air putih ke dalam gelas yang ada di meja makan.
Fina memutuskan pergi ke kamar sebelum Benny mendahuluinya. Dia bertekad untuk menghukum suaminya karena tadi siang sudah bicara berdua dengan Renata di depan matanya. Selama beberapa jam wanita berbadan dua itu menyimpan rasa kesal dalam hati karena tidak mau Elza melihatnya bertengkar dengan Benny.
Ceklak. Pintu kamar akhirnya terbuka lebar. Fina terkesiap ketika melihat Benny duduk bersandar di atas tempat tidur. Dia segera menutup pintu kamar dan setelah itu berjalan menghampiri Benny. Dia berkacak pinggang di sisi tempat tidur dengan wajah yang murung.
"Jangan tidur di kamar! Aku gak mau lihat Mas!" ujar Fina dengan wajah yang murung.
"Salahku di mana sih?" tanya Benny seraya menatap Fina.
__ADS_1
"Pikir saja sendiri!" Fina mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Sayang, aku ini bukan orang sakti yang bisa membaca pikiranmu. Ya, kalau di keningmu ada tulisan berjalan seperti di masjid Agung, aku tahu apa yang ada di pikiran dan hatimu. Sudahlah, jangan terlalu banyak kode, bilang saja apa masalahnya sehingga aku harus tidur di luar," jelas Benny sambil menatap istrinya dengan heran.
"Aku kesel sama Mas! Seharian ini aku tahan tapi gak bisa! Ih! Genit!" Fina melampiaskan kekesalannya dengan memukul bahu Benny beberapa kali.
"Genit sama siapa? Aku gak paham maksudmu, Sayang." Benny semakin bingung menghadapi Fina.
"Renata! Kenapa Mas tadi ngobrol berdua di depan gerobak cilok! Mas sengaja ya ngobrol tanpa aku! Pasti ada rahasia 'kan!" tuduh Fina dengan bibir mengerucut.
"Ya ampun, Sayang! Aku tadi cuma memberikan peringatan kepada dia, gak lebih!" ujar Benny seraya beranjak dari tempat tidur.
"Gak percaya!" sergah Fina tanpa berpikir panjang.
"Kenapa jadi Mas yang marah ke aku?" Mata indah itu mulai berkaca-kaca.
"Astagfirullah. Aku tidak marah, Sayang. Aku hanya mengingatkan agar anak kita tumbuh dan berkembang dengan baik." Benny duduk kembali di tepian tempat tidur.
Benny mengecup perut buncit itu beberapa kali dan tak lupa memberikan usapan lembut di sana, "Nak, bantu Papa dong. Ayolah, jangan biarkan Papa tidur di luar," batin Benny saat memberikan kecupan terakhir.
Sementara Fina hanya bisa menghela napas panjang setelah melihat perlakuan manis suaminya. Kalau sudah seperti ini, semua rasa kesal dan marah mendadak hilang begitu saja karena rasa nyaman mulai hadir dalam diri.
"Nak, kamu pasti rindu ditengok Papa ya? Kenapa nendang-nendang terus hmmm?" ucap Benny ketika tangannya merasakan pergerakan dari dalam perut Fina.
"Alasan! Modus!" cibir Fina dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Loh serius ini! Dia tadi berbisik, kalau ingin ditengok loh. Malah aku disuruh lewat jalan tol biar cepat sampai. Tanya sendiri kalau gak percaya!" ujar Benny hingga membuat Fina mengembangkan senyumnya karena hal sepele itu.
"Syukurlah dia bisa tersenyum. Yes! Gak jadi tidur di luar!" batin Benny bersorak gembira karena sudah bisa dipastikan jika Fina tak lagi marah dengannya.
Hidup bersama selama beberapa tahun, membuat Benny dengan mudah meluluhkan hati Fina. Kini, tinggal sekali melangkah, sudah bisa dipastikan jika dia bisa mengakses jalan tol itu. Sentuhan lembut serta kata-kata romantis adalah senjata ampuh Benny di kala Fina sedang marah dengannya. Seperti sebelumnya, kemarahan itu pasti berakhir di atas tempat tidur. Suara manja terdengar di kamar itu sejak perjalanan awal dimulai. Mereka memadu kasih agar mencapai tujuan bersama.
"Jadi bagaimana nih? Aku jadi tidur di luar atau di dalam?" Benny menghentikan gerakannya setelah tahu jika Fina akan terbang mencapai puncak nirwana. Dia sengaja melakukan itu untuk menggoda istrinya.
"Tidur di kamar lah!" jawab Fina dengan tegas, "jangan berhenti! Aku bisa jatuh lagi!" Fina membuka kelopak matanya dengan lebar karena ulah Benny, "buruan ih! Jalan tol gak ada lampu merah, jadi gak perlu berhenti, Mas!" ujar Fina sambil memukul bahu Benny karena suaminya itu tak kunjung memberikan sayap untuknya terbang.
Malam itu perjalanan menuju puncak nirwana berjalan lancar tanpa hambatan melalui jalan tol. Peluh keringat mengalir deras selama perjalanan itu berlangsung. Benny berhasil menguasai istrinya dengan memberikan rasa nikmat tiada tara itu.
"Peluk, Mas," pinta Fina dengan suara yang manja seusai semuanya berakhir. Mereka terbaring di balik selimut tebal yang menutupi tubuh dari dinginnya udara AC.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Siapa yang sering begini sama suaminya? Marah-marah tapi berakhir di atas tempat tidurπ...
...βββββββββββββββ...
...Hallo semuaπAda rekomendasi karya super keren dari author Crazy_Girl dengan judul Duda Tampan Misterius. Serius baca deh karena ini punya sahabat othorπ...
...π·π·π·π·π·π·π·...
__ADS_1