
Satu penghalang menuju sebuah hubungan yang indah telah tersingkirkan. Setelah berusaha menahan untuk tidak datang menemui Renata, akhirnya, biduan cantik itu masuk ke dalam perangkapnya. Dia datang untuk sebuah kejelasan dan berakhir pada perpisahan. Entah apa yang akan dilakukan wanita itu nanti, mengingat dia telah kehilangan pundi-pundi rupiah untuk menunjang gaya hidupnya yang mewah bak kaum sosialita.
"Setelah ini aku harus mengatur strategi untuk mendapatkan Fina. Mendapatkan dia lebih sulit daripada mendapatkan sepuluh biduan seperti Renata," gumam Benny dengan tatapan lurus ke depan.
Hanya ada satu rintangan lagi yang menghalangi jalannya—Aris—pemuda yang dianggap Benny sebagai rival itu memiliki kelebihan yang tidak dia miliki. Apalagi kelebihan itu adalah hal yang membuat Fina tertarik. Tidak mungkin bukan jika duda satu anak itu harus belajar bela diri agar disukai Fina.
"Jalan menuju kebahagiaan tidak mungkin hanya ada satu. Jika Aris memilih jalur prestasi, maka aku akan memilih jalur orang dalam," gumam Benny dengan tatapan penuh arti. Dia tersenyum smirk setelah mendapatkan kunci yang akan membuka lebar jalannya.
"Seperti si kedelai hitam malika yang perlu dijaga sepenuh hati, maka aku pun akan melakukannya untukmu, malika-ku. Mas Benny ini akan menjagamu dari rasa dingin dan dahaga akan cinta kasih," gumam Benny ketika melihat foto cantik pengasuh putranya yang tersimpan di galeri ponsel.
Benny memutuskan pulang dari tempat kerja karena pikirannya sedang tidak fokus. Dia ingin segera pulang dan bertemu Fina. Tentu dia harus memiliki alasan yang tepat untuk mengajak pengasuh putranya jalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan untuk menjalankan misi pendekatan. Sepertinya makan malam bersama adalah alasan yang tepat, mengingat Dewi sedang pulang kampung.
"Fina hanya akan luluh dengan Elza. Ah, lebih baik aku meminta bantuannya. Bukankah dia pun sayang kepada Fina? Kita memiliki tujuan yang sama, Nak," gumam Benny sebelum membuka pintu ruangannya. Jalan menuju kemenangan sepertinya lebih mulus dari jalan tol antar kota.
***
Langit nampak gelap setelah awan putih berubah menjadi abu-abu. Perlahan rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Semakin lama rintik itu semakin deras hingga genangan air terlihat di halaman rumah. Hembusan angin mesra semakin menambah syahdunya cuaca sore ini.
Elza berdiri di jendela ruang tamu seorang diri untuk mengamati air hujan yang turun dengan derasnya. Dari sorot matanya, terlihat jelas jika dia sedang gelisah, "kenapa Papa belum pulang juga," gumamnya dengan suara yang lirih.
Tak berselang lama mata sipit bocah kecil itu melihat mobil ayahnya berhenti di depan gerbang. Dia melihat Benny keluar dari mobil dan berlari membuka gerbang di tengah hujan lebat. Elza segera membuka pintu ruang tamu, dia keluar dan menyambut kedatangan ayahnya di teras.
"Kenapa di luar, El? Hujannya lebat loh," tanya Benny setelah keluar dari mobil dan menghampiri Elza di teras.
"Aku nunggu Papa pulang. Aku lagi sedih," gumam bocah kecil itu dengan sorot mata sendu.
__ADS_1
"Sedih kenapa?" Benny mengangkat tubuh putranya ke dalam gendongannya. Lantas dia membawa Elza masuk ke dalam rumah.
"Mbak Fina sakit. Badannya panas, Pa," ucap Elza tanpa melepaskan pandangan dari wajah ayahnya.
"Sakit?" Benny meyakinkan pengakuan putranya.
"Iya. Mbak Fina tidur di sofa depan TV." Elza menunjuk sofa panjang yang ada di ruang keluarga, "tadi aku yang mengambilkan selimut, kasihan tadi Mbak Fina menggigil, Pa," lapor Elza kepada Ayahnya.
Benar saja, setelah sampai di ruang keluarga, Benny melihat Fina yang sedang tidur meringkuk di sofa. Selimut tebal menutupi sekujur tubuhnya, sementara di meja ada secangkir teh. Benny menyentuh cangkir tersebut dan ternyata masih hangat.
"Siapa yang membuat teh ini?" tanya Benny seraya menatap Elza.
"Aku, Pa," jawab singkat bocah kecil yang sedang duduk di atas karpet tepat di sisi sofa yang ditempati Fina.
"Mbak Fina gak bangun-bangun. Aku takut, Pa."
Lamunan Benny tentang Elza seketika sirna setelah mendengar suara sendu putranya. Ya, Elza benar-benar sedih melihat pengasuhnya jatuh sakit. Dalam situasi seperti ini, dia menunjukkan sisi dewasa yang dia miliki. Melakukan beberapa hal untuk merawat sosok yang sangat dekat dengannya itu.
Duda tampan itu memberanikan diri menyentuh kening Fina yang terasa halus dan lembut, untuk memastikan suhu badannya. Ternyata apa yang disampikan Elza memang benar, Fina demam tinggi. Lantas Benny mendekatkan jari telunjuknya ke dekat hidung gadis cantik itu untuk memastikan jika masih ada nafas yang berhembus di sana.
"Panas banget," gumam Benny setelah merasakan hembusan napas gadis yang ada di balik selimut itu.
Benny beranjak dari tempatnya lalu dia berjalan menuju dapur. Tidak lama setelah itu, dia kembali lagi ke ruang keluarga dengan membawa baskom berisi air beserta handuk kecil. Dia mencoba mengompres gadis yang masih terlelap itu untuk membantu menurunkan suhu tubuhnya.
"Elza bisa membantu Papa seperti ini gak?" tanya Benny seraya menatap putranya, "Papa mau telfon dokter sebentar," lanjutnya sambil merogoh ponsel yang tersimpan di dalam tas kulit miliknya.
__ADS_1
"Bisa, Pa," jawab Elza sambil berdiri dari tempatnya. Dia melakukan apa yang sudah dia lihat dari Benny.
Tatapan bocah kecil itu terlihat sendu ketika mengamati wajah cantik Fina. Tangannya beberapa kali menepuk pipi Fina dengan gerakan pelan agar tidak mengganggu tidur nyenyak pengasuhnya itu, "Mbak harus sembuh, jangan sakit lama-lama," gumam Elza dengan suara yang bergetar. Rasa cinta dan sayang yang begitu besar telah membuat Elza menjadi seperti ini. Ikatan batin yang sudah terjalin kuat benar-benar mempengaruhi perasaan bocah kecil itu kepada Fina.
Perlahan kelopak mata Fina terbuka setelah merasakan sentuhan di pipinya. Dia berusaha tersenyum tipis saat melihat wajah Elza dari dekat, "ada apa, Sayang? Kenapa sedih?" tanya Fina dengan suara lirih.
"Mbak Fina jangan sakit begini, aku sedih dan takut," jawab Elza tanpa melepaskan pandangan dari wajah pengasuhnya.
Benny bernapas lega setelah mendengar interaksi di antara Fina dan Elza. Setidaknya dia tahu jika Fina masih dalam kondisi sadar. Dokter umum yang biasa menjadi langganan keluarganya sudah di hubungi dan dalam perjalanan.
"Kamu sudah makan, Fin?" tanya Benny setelah mendekat di tempat Fina.
"Loh kapan Pak Ben pulang?" Fina terkejut melihat kehadiran Benny di sana. Dia berusaha bangun karena tidak enak hati dengan majikannya.
"Kenapa bangun? Sudah ... sudah tidur saja di sini sampai dokter datang," ujar Benny ketika melihat Fina duduk bersandar di sofa.
"Saya baik-baik saja, Pak," sanggah Fina dengan senyum yang dipaksakan. Wajah cantik itu terlihat pucat dengan sorot mata sayu.
Gadis itu merebahkan tubuhnya lagi karena terasa lemas. Untuk sementara dia membuang jauh rasa segan kepada majikannya itu. Dia kembali menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuh karena terasa menggigil.
"Sebentar lagi dokter akan sampai, Fin," ucap Benny setelah mengamati pergerakan Fina, "minumlah teh hangat ini, barangkali bisa menjadi obat. Kamu tahu, teh ini dibuat oleh Elza sendiri, entah bagaimana prosesnya," ucap Benny saat menyodorkan cangkir teh tersebut ke dekat Fina.
...🌹To Be Continue 🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1