
"Bu Fina masih pembukaan satu, Pak. Mungkin, pembukaan sempurnanya nanti malam," ucap Anik setelah melakukan pemeriksaan kepada Fina.
Bidan delima itu menjelaskan apa saja yang perlu dilakukan Fina jika merasakan kontraksi lagi. Wanita yang sudah berpengalaman selama puluhan tahun itu memberikan motivasi dan dukungan semangat kepada Fina.
"Berarti saya harus ke rumah sakit sore saja ya, Bu?" tanya Fina setelah mendengarkan penuturan panjang dari Anik.
"Iya. Perkiraan saya, sore nanti Bu Fina baru mendekati pembukaan sempurna. Bila nanti siang kontraksinya semakin terasa berulangkali, langsung ke rumah sakit saja. Akan tetapi jika jarak kontraksinya agak panjang, lebih baik menunggu di rumah saja, biar tidak tegang. Jangan takut, karena nanti bisa mempengaruhi tekanan darah Ibu. Kalau bisa tidur miring ke kiri, itu bisa mempercepat pembukaan, tetapi rasanya sangat sakit. Jika bisa duduk bersila, boleh dilakukan ya, Bu. Itu juga salah satu jalan mempercepat pembukaan jalan lahir."
Fina menyimak dengan seksama setiap penjelasan yang disampaikan oleh bidan tersebut. Setelah melakukan tugasnya, Anik pun pamit pulang karena harus pergi dinas ke puskesmas.
"Ingat kata bu Anik, jangan panik," ucap Benny sambil menggenggam tangan Fina dengan erat.
"Ibu sudah diberi kabar kah?" tanya Fina setelah teringat jika tadi menyuruh Benny untuk menghubungi Badiah.
"Sudah. Ibu dan Nisa dalam perjalanan ke Surabaya," jawab Benny, "tapi aku belum memberi kabar Dita dan Ibu Ani, karena takut mereka khawatir dan bisa membawa Elza pulang sebelum lomba," jelas Benny.
"Iya gak masalah. Nanti kasihan Elza kalau gak jadi lomba. Dia udah latihan setiap hari." Fina mengembangkan senyum tipis ketika teringat bagaimana antusiasnya Elza saat tahu jika terpilih menjadi perwakilan sekolahnya.
Rasa sakit yang begitu hebat datang kembali. Fina memejamkan mata dan mencengkram dengan erat tangan Benny. Tak lama setelah itu, rasa sakit hilang begitu saja dan Fina pun merasa relax. Apalagi saat merasakan usapan lembut di punggungnya. Dia merasa nyaman karena perhatian kecil yang diberikan Benny untuknya.
"Sayang, berjanjilah kepadaku, jika kamu bisa melewati semua ini. Jika memang kamu tidak sanggup melahirkan normal, gak masalah jika memang harus caesar. Jujur saja aku sangat takut melihatmu kesakitan seperti ini," ucap Benny dengan suara bergetar. Sepertinya mantan duda itu benar-benar ketakutan saat ini. Matanya mulai berembun saat menatap Fina.
"Mas, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk anak kita. Kita pasti bisa melewati semua ini. Aku pasrahkan semuanya kepada Allah. Jangan berpikir buruk, Mas," tutur Fina ketika melihat kesedihan dari sorot mata suaminya itu.
Benny segera mendekap tubuh berisi itu dari samping. Entah mengapa ayah darpi Elzayin itu mendadak melankolis. Mungkinkah dia trauma, mengingat pernah merasakan kehilangan seorang istri? Entahlah ... satu hal yang pasti, perasaannya saat ini bercampur aduk, antara sedih, bahagia, takut dan resah. Dia tidak sanggup membayangkan, apabila terjadi hal buruk kepada Fina dan calon anaknya.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu, Fin. Sangat ...." Benny bergumam lirih dengan suara yang bergetar. seakan sedang menahan tangis.
****
Adzan ashar baru saja berkumandang. Siluet jingga mulai terbentang di cakrawala. Kicauan kawanan burung terdengar syahdu di indera pendengaran. Apalagi ditambah dengan hembusan mesra angin pengiring senja. Sungguh, suasana sore ini begitu syahdu dan nyaman bagi siapapun yang merasakannya.
Namun, semua itu tidak berlaku untuk Fina. Dia mulai merasakan kontraksi beberapa kali dalam kurun waktu satu jam. Pada akhirnya dia memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit karena takut air ketuban pecah begitu saja.
"Kamu yakin Ibu dan Nisa di rumah saja?" tanya Badiah setelah Fina masuk ke dalam mobil.
"Iya, Ibu sama Nisa tunggu Bu Ani saja. Sekarang mereka baru perjalanan pulang. Nanti tolong urus Elza ya, Bu," ucap Fina penuh harap.
"Baiklah kalau begitu. Nanti Ibu menyusul bersama bu Ani saja." Akhirnya Badiah mengambil keputusan itu karena memikirkan Elza.
Mobil putih yang dikendarai Benny perlahan keluar dari halaman luas rumah tersebut. Badiah mengantar keberangkatan putrinya hingga keluar dari gerbang. Tentu sebagai seorang Ibu, Badiah tidak tega melihat Fina kesakitan. Dia pun sebenarnya ingin menemani Fina selama di rumah sakit, tetapi karena keadaan, Badiah harus menunggu dijemput besannya.
Sementara itu di dalam mobil putih yang sedang melaju di jalanan kota, Fina terus mendesis saat merasakan sakit yang luar biasa. Dia mencengkram jok mobil dengan erat karena tidak tahan dengan rasa sakit yang tak kunjung reda.
"Mas, jangan ngebut, Mas! Pelan-pelan saja." Fina memberi peringatan kepada Benny karena mobil tersebut melaju kencang di tengah jalanan kota yang padat.
"Jangan khawatir, aku kuat kok! Pelan-pelan, Mas." Sekali lagi Fina memberikan peringatan kepada suaminya agar lebih berhati-hati.
"Awaaaaas!" teriak Fina dengan kencang tatkala ada truk melaju kencang dari arah berlawan sedang mendahului mobil di depannya dan akhirnya ....
Ciit ... ciiiiit ... bruak ... bruak ... pyar.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai Benny tak dapat menghindar dari truk berwarna kuning itu. Tabrakan keras terjadi di jalanan kota hingga membuat lalu lintas lumpuh total karena kedua mobil tersebut berada di tengah jalan.
"Aaaw ... Mas Benny ... Mas," rintih Fina dengan mata tertutup rapat. Ternyata wanita yang akan melahirkan itu terpental keluar dari mobil dengan posisi tengkurap, karena tidak memakai seatbelt. Darah segar pun mulai mengalir di kakinya.
Sementara Benny masih bertahan di dalam mobil karena memakai seatbelt. Akan tetapi kondisinya tak kalah parah dengan Fina. Dia tertunduk di atas setir mobil dengan darah yang mengalir dari kening. Tangan dan kaki kanannya pun terluka, seperti terjepit pintu.
"Fina! Fin!" Benny mulai bergumam setelah sadar dari keadaan yang membuatnya shock. Mantan duda itu hanya bisa mengerang karena rasa sakit di kepala dan di bagian tubuh yang lain.
Semua orang mengerumuni dua mobil tersebut untuk menolong korban. Mereka terkejut ketika melihat Fina tergeletak di luar mobil dalam keadaan sadar. Ada yang menangis karena tidak tega melihat keadaan Fina. Sementara yang lain menolong Benny yang masih terjepit di dalam mobil.
"Tolong selamatkan istri saya dulu. Istri saya akan melahirkan. Tolong bawa dia ke rumah sakit secepatnya," pinta Benny setelah ada orang yang mencoba membantunya.
"Woe tolong istrinya woe! Dia akan melahirkan, bawa ke rumah sakit!" teriak seorang pria yang ikut membantu Benny.
Tentu keadaan ini membuat panik semua orang. Begitu pun dengan polisi yang baru tiba di sana. Mereka segera mengevakuasi Fina dan membawa wanita berbadan dua itu ke rumah sakit dengan membawa mobil patroli. Sirine mobil tersebut menggema di tengah keramaian kota.
"Tolong saya, sakit sekali," rintih Fina sambil menangis pilu. Wanita cantik itu tetap sadar meski kondisi tubuhnya terasa tak karuan, "di mana suami saya?" tanya Fina setelah teringat jika Benny tidak ada bersamanya.
Tentu polwan yang duduk di kursi belakang bersama Fina hanya bisa menggeleng pelan. Sebagai seorang wanita, Polwan tersebut pun ikut merasa perih melihat kondisi Fina saat ini.
"Tenang, Bu. Suami Ibu sedang dievakuasi. Nanti pasti menyusul ke rumah sakit. Ibu yang kuat ya," ucap Polwan tersebut sambil menggenggam tangan Fina sebagai bentuk kepedulian.
...🌹To Be Continued 🌹...
...Aduh, othor panik nih😭bayangin aja bagaimana kondisi Fina saat ini😭 Minggu sad. Pray for Fina dan Benny gaes biar bisa melewati semuanya🌹...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...