
"Kenapa bisa kalian lengah seperti ini?" tanya Benny dengan suara meninggi sambil menatap tim marketing di pabrik sandal dan sepatu miliknya.
Keempat orang yang berdiri di depan meja kerja Benny hanya bisa tertunduk karena kesalahan fatal yang terjadi. Apalagi, selama ini mereka belum pernah melihat kemarahan Benny seperti pagi ini.
"Nilainya bukan puluhan juta loh! Ini barang nilainya delapan ratus juta! Siapa yang bertanggung jawab atas cek kosong dari Gatot ini!" Suara Benny semakin meninggi sampai memukul meja kerjanya.
"Sudah berkali-kali saya memberi peringatan, jangan mau menerima pembayaran cek atau giro! Kalian bekerja di sini sudah berapa tahun? Sudah sejak awal saya pertegas ada uang, ada barang! Misalnya terpaksa ada sistem pembayaran kredit, itupun harus sepengetahuan saya! Kenapa kali ini kalian lancang memberikan barang kepada orang baru dengan sistem pembayaran cek!"
"Siapa yang membuat aturan bisa kirim produk dengan ekspedisi luar! Kalian belum tahu juga hmmm bagaimana sistem pengiriman kita? Sudah tertulis dengan jelas dalam peraturan pabrik, semua barang yang keluar dari gudang harus dikirim dengan kendaraan dari pabrik!"
Benny tidak bisa mengontrol emosinya karena kecerobohan tim marketing yang selama ini sudah dipercaya itu. Seribu pasang sandal sudah dibawa kabur oleh sales baru bernama Gatot. Tentu hal ini membuat kepala Benny berdenyut. Mau tidak mau dia harus turun tangan mencari keberadaan sales tersebut.
"Kalian ini meremehkan saya ternyata! Kepercayaan, kemudahan dan royalitas saya kepada kalian bukan untuk ini. Bukan untuk menyepelehkan saya loh! Apa sih mau kalian? Mau saya bikin peraturan baru?" Benny menyandarkan tubuh di sandaran kursi. Kali ini suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
"Hilda! Siapa yang bertanggung jawab atas kasus ini?" Benny menatap kepala marketing yang selama ini bertanggung jawab menjalankan pemasaran produk.
"Semua tim pemasaran akan bertanggung jawab atas semua kesalahan ini, Pak. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian ini. Kami janji tidak akan mengulang kesalahan yang sudah terjadi. Kami siap menerima segala konsekuensi dari Bapak," ucap Hilda dengan tegas.
Wanita berhijab itu sebenarnya takut melihat kemarahan dari bos yang selama ini dianggapnya baik itu. Permasalahan ini terjadi karena anak buahnya yang bertugas di bagaian pemasaran offline. Tentu ini bukan perkara mudah karena setidaknya harus menemukan di mana barang itu disembunyikan termasuk keberadaan pria bernama gatot yang harus bertanggung jawab atas semua ini.
"Cari informasi keberadaan Gatot! Lacak di mana barang kita dikirim dia! Bila Gatot tidak bisa melunasi pembayarannya, tarik barangnya!" titah Benny dengan tatapan penuh amarah, "keluar dari ruangan ini! Lanjutkan pekerjaan kalian, saya tidak mau tahu ... nanti sore saya harus mendapatkan informasi tentang pria itu!" titah Benny sambil menunjuk pintu keluar.
Tim marketing yang berjumlah empat orang itu segera pergi dari hadapan Benny. Mereka ketakutan melihat amarah yang terpancar dari sorot mata pemilik pabrik ini. Entah apa yang akan mereka lakukan untuk mempertanggung jawabkan masalah ini. Satu hal yang pasti, mereka harus bertanggung jawab penuh atas semua yang terjadi.
Benny membuang napasnya kasar setelah tim marketing keluar dari ruangannya. Dia menatap layar laptop yang menyala terang itu. Nilai nominal yang tertulis di sana membuat kepalanya semakin berdenyut. Delapan ratus juta bukanlah nilai yang sedikit untuk produki sandal di industrinya.
"Tolong lacak keberadaan pria bernama Gatot Pujo dengan nomor KTP 3616187878787871. Segera informasikan rekam jejaknya," ucap Benny setelah melakukan panggilan telfon dengan seseorang.
__ADS_1
Helaan napas berat terdengar di sana. Benny memijat pangkal hidungnya karena masalah ini. Dia mulai memikirkan langkah yang harus dia lakukan untuk mencari keberadaan orang yang membawa kabur barangnya.
****
Rona jingga terbentang di cakrawala barat saat menemani sang surya yang bersiap kembali ke peraduan. Burung-burung mulai berterbangan mencari sarang karena tak lama lagi langit berubah gelap.
"Ayo masuk, Nak. Udah mau magrib," ajak Fina sambil menepuk bahu Elza.
"Papa kok belum pulang ya, Ma? Biasanya kan gak sampai langitnya gelap Papa udah pulang," tanya Elza seraya menengadahkan kepala.
"Mungkin Papa masih ada pekerjaan, Sayang," tutur Fina agar Elza tidak bertanya lagi mengenai ayahnya.
Padahal yang sebenarnya Fina sendiri sedang resah memikirkan suaminya yang tak kunjung pulang. Tidak biasanya Benny tidak memberi kabar jika pulang terlambat. Biasanya sekitar pukul empat sore, ayah dua anak itu sudah sampai di rumah.
"Ayo, masuk! Gak baik di jam-jam seperti ini ada di luar. Kasihan adek nanti kena angin," ajak Fina sambil mengayun Shazia yang ada di dalam gendongannya.
"Adek Zia cantik lagi ngomong apa sih? Mau minta jajan apa sih, Dek? Mau cilok atau cokelat nih?" Elza duduk di sisi sofa sambil mengajak bicara Shazia yang sedang berceloteh itu.
"Masa adiknya dikasih cilok? Kan belum ada giginya," sahut Fina seraya mengulum senyum.
"Kapan adek Zia tumbuh gigi, Ma? Lama sekali sih," tanya Elza seraya menatap ibu sambungnya itu.
"Shazia kan masih berusia lima bulan, Nak. Jadi belum tumbuh dong giginya. Nanti kalau sudah tumbuh pasti bisa gigit kak Elza ya, Dek?" ujar Fina seraya menatap putrinya yang sedang tengkurap itu.
Suara adzan magrib terdengar di segala penjuru perumahan. Bersamaan dengan itu Benny muncul dari pintu penghubung garasi dan ruang keluarga. Dia berjalan lunglai dengan wajah yang terlihat menanggung beban berat. Fina tahu jika suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Elza sholat magrib dulu ya," ucap Fina seraya menatap Elza dengan senyum manis. Dia tidak mau putra sambungnya itu sampai mendengar masalah yang sedang dihadapi oleh Benny.
__ADS_1
"Aku sholat di musholla depan boleh ya, Ma? Naik sepedah," tanya Elza dengan antusias.
"Iya, boleh. Ambil sarung dan pecinya dulu di kamar. Akan tetapi harus ingatnya, tidak boleh main atau mampir ke rumah siapapun setelah pulang dari mushollah. Paham 'kan?" tutur Fina dengan tegas.
"Siap, Ma!" Elza mengacungkan jempol sebelum pergi dari ruang keluarga. Dia sangat antusias karena bisa sholat berjamaah bersama teman-temannya.
Sepeninggalan Elza dari ruang keluarga, Fina duduk di samping Benny. Dia mengangkat Shazia dan di tengurapkan di atas pangkuannya. Fina menepuk paha Benny hingga membuat sang empu menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Fina dengan tutur kata yang menenangkan.
"Ada masalah di pabrik," jawab ayah dua anak itu tanpa semangat.
"Memangnya ada masalah besar ya?" tanya Fina lagi.
Benny menghela napas yang berat setelah mendengar pertanyaan itu. Sampai saat ini dia belum mendapatkan informasi detail di mana keberadaan Gatot. Dia mengusap wajahnya kasar sebelum menceritakan masalah yang sedang menimpanya. Fina mendengarkan dengan seksama keluh kesah suaminya itu. Tentu dia terkejut setelah mendengar nominal yang disebutkan oleh Benny, tetapi dia mencoba tetap tenang agar tidak memperburuk keadaan. Dia tak berkomentar apapun hingga Benny selesai bercerita.
"Sabar ya, Mas. Mungkin ini teguran dari Allah agar kita lebih berhati-hati. Mungkin saja Allah sedang menunjukkan kepada kita siapa saja orang-orang tidak baik yang ada di sekitar kita. Jika memang orangnya tidak ditemukan dan barang tidak kembali, mari kita menguatkan hati. Anggap saja, itu bukan rezeki kita, Mas," tutur Fina dengan tenang. Dia mengusap kepala Benny yang sedang bersandar di bahunya.
"Tidak semudah itu, Fin," sangkal Benny dengan suara yang lirih. Dia benar-benar membutuhkan tempat bersandar saat ini.
Fina tak henti menenangkan suaminya itu walau dia sendiri belum bisa menerima kejadian ini. Dia harus menyembunyikan rasa yang membuncah di dada karena musibah ini. Sekuat hati dia menahan air mata agar tidak mengalir di hadapan Benny karena bisa menambah beban suaminya itu.
"Sebaiknya sekarang Mas mandi terus ambil wudhu. Kita sholat dulu yuk! Masih ada sajadah untuk kita bersujud dan berserah diri kepada-Nya," ucap Fina sambil mengusap rambut suaminya.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Kalau kalian punya uang delapan ratus juta mau buat apa nih?...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·...