Pengasuh Idaman

Pengasuh Idaman
Sindiran!


__ADS_3

Senam hamil telah usai sejak beberapa menit yang lalu. Akan tetapi, para ibu hamil yang hadir di sana tak segera bangkit dari tempatnya. Mereka duduk berselonjor untuk relaksasi otot-otot kaki sambil mendengarkan beberapa tips-tips dari instruktur senam.


Fina mendengarkan dengan seksama saran yang diberikan pegawai rumah sakit itu. Banyak hal baru yang dia pelajari dari pertemuan kali ini. Dia mencoba acuh dengan ocehan Renata dengan temannya. Terkadang ada sindiran yang membuat hatinya meradang, tetapi harus menahan.


"Bagaimana? Udah paham belum dengan saran dari bu Siska?" tanya Renata setelah petugas rumah sakit mengakhiri sesi sharing.


"Udah kok." Fina masih mencoba tersenyum di hadapan Renata. Padahal, di dalam hatinya ingin sekali menyerang wanita berbadan dua itu.


"Masa iya baru sekali ikut senam udah paham. Aku dulu nunggu beberapa kali pertemuan loh baru paham," gumam Renata dengan senyum mengejek.


"Ya setiap orang kan pasti berbeda cara berpikirnya. Ada yang tanggap dan ada yang lambat. Lagi pula ini juga bukan kehamilan pertama, jadi ya ... pasti udah lebih pengalaman sih daripada yang hamil pertama kali," sarkas Fina dengan diiringi senyum smirk. Dia sudah tidak tahan bersikap baik di hadapan Renata.


Raut wajah biduan cantik itu berubah kesal setelah mendengar jawaban Fina. Tentu obrolan mereka didengarkan beberapa ibu hamil yang ada di sekitar mereka berdua. Sepertinya kedua wanita berbadan dua itu mulai mengibarkan bendera peperangan, ya meski hanya perang adu sindiran.


"Eeem ... berat badan kamu naik drastis ya. Kamu gendutan sekarang. Hati-hati loh, nanti suaminya bisa lirik sana-sini. Secara pengusaha muda, ganteng, royal lagi. Hati-hati deh Say, takutnya ada karma yang harus dibayar," ujar Renata tanpa rasa bersalah sedikitpun. Dia tersenyum manis saat mengatakan hal itu, sedangkan Fina mulai meradang setelah mendengar semua itu.


"Kamu ngomongnya kok gitu sih, Mbak Re. Sesama wanita hamil seharusnya saling mendukung. Emang Mbak Renata kenal sama suaminya Mbak itu, kok ngomong seperti itu?" sahut seorang wanita yang ada di sisi Renata.


"Kenal banget lah, Mbak. Suaminya Mbak Fina ini mantan saya. Mbak Suci tahu gak store sandal dan sepatu AlasKa? Itu yang punya suaminya Mbak Fina ini," jelas Renata tanpa tahu malu.


Jawaban yang diucapkan oleh Renata berhasil membuat keadaan menjadi sunyi seketika. Atmosfer udara di sana terasa menyesakkan. Sebagai sesama wanita tentu mereka tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Fina.

__ADS_1


"Oh iya Mbak Suci, saya sarankan aja ya ... kalau nanti sudah lahiran dan rencana pakai jasa baby sitter, nyari yang udah agak umur aja, Mbak. Jangan yang masih muda, takutnya nanti suami Mbak Suci digoda sama Baby sitternya, kan berabe,"


Tutur kata yang diucapkan Renata berhasil membuat Fina merasa sesak karena amarah yang bergemuruh di dalam hati. Rahangnya mengeras karena sedang menahan amarahnya agar tidak keluar di sini. Tentu dia malu jika bersikap bar-bar di depan umum seperti ini. Apalagi, semua orang yang ada di sana sudah tahu siapa dia sebenarnya.


"Iya 'kan Mbak Fina? Bahaya 'kan kalau ada pengasuh muda? Bukan hanya anaknya yang diasuh, tetapi bapaknya juga ya!" sindir Renata dengan senyum smirk.


"Entahlah. Saya belum pernah memperkerjakan pengasuh di rumah. Mungkin Mbak Renata yang harus berhati-hati, sepertinya yang butuh baby sitter sepertinya Mbak 'kan? Soalnya Mbak Renata pasti banyak job nyanyi ya. Nah, sebaiknya Mbak cari pengasuh yang udah berumur, daripada nanti suaminya digodain gimana?" Fina tersenyum penuh arti sambil menatap Renata.


"Selagi pengasuh anakku bukan kamu sih, suamiku aman-aman saja. Gak bakal ada yang genit!" Rupanya Renata mulai tersulut percikan api yang dia ciptakan sendiri.


"Maaf ya, Mbak. Sepertinya saya enggak minat sama suaminya Mbak. Ya ... Mbak Renata pasti tahu lah apa alasannya. Katanya Mbak mantan suami saya, tentunya tahu dong bagaimana suami saya," sarkas Fina tanpa rasa takut sedikitpun.


Fina beranjak dari tempatnya setelah mengatakan hal itu kepada Renata. Dia puas karena berhasil membungkam mulut biduan cantik itu dengan kata-kata yang tepat. Orang-orang yang tadinya menyimak obrolan kedua wanita itu pun ikut beranjak dari tempatnya.


Fina memejamkan mata dengan tangan tak henti mengusap perut buncitnya. Tutur kata yang baru saja diucapkan Renata berhasil membuat hatinya terluka. Tak hanya itu saja, dia pun merasa malu kepada semua orang yang ada di sana. Fina tidak mau hanya diam saja saat mendengar ucapan itu. Dia membalikkan badan dan menatap Renata yang masih duduk di lantai beralaskan matras itu.


"Terima kasih, Mbak Renata, atas saran dan nasihat yang sudah Mbak berikan untuk saya. Akan tetapi begini ya, Mbak ini kan cuma mantannya. Jadi, Mbak belum mengenal bagaimana suami saya. Jauh sebelum suami saya mengenal Mbak, saya sudah mengenalnya. Satu lagi yang perlu Mbak catat. Coba diingat kembali masa lalu Mbak dengan suami saya!"


"Siapa sih yang tidak mengakui Mbak cantik dan seksi. Terus biduan terkenal di Surabaya lagi, tetapi bukan itu poin yang dipertimbangkan Mas Benny 'kan? Mbak tetap ditinggalkan meski penampilan Mbak menggoda di depan Mas Benny. Justru Mas Benny memilih gadis bau kencur yang levelnya jauh di bawah Mbak Renata. Sampai di sini paham bukan?"


Lagi dan lagi jawaban Fina berhasil membuat Renata bungkam. Andai saja mereka bertemu bukan dalam keadaan hamil besar, sudah bisa dipastikan jika Fina akan menantang Renata duel. Fina tersenyum smirk sebelum pergi dari hadapan Renata, dia mengambil tasnya di loker dan setelah itu kembali ke tempat awal.

__ADS_1


"Saya permisi dulu, Mbak Renata. Oh iya, saya kasih saran saja ya untuk Mbak. Sebaiknya segera tobat deh, biar mulutnya tetap aman dari tamparan orang. Syukur, syukur bisa berhijab, biar suaminya semakin penasaran. Kalau di rumah dan di luar rumah pakaiannya terbuka terus, pria juga bisa cepat bosan loh," tutur Fina sebelum pergi meninggalkan Renata di aula tersebut.


Fina berjalan keluar bersama teman barunya yang bernama Anna. Dia meninggalkan Renata yang sedang termenung bersama temannya. Ada rasa lega setelah berhasil menjaga pertahanan hati agar tidak sampai meledakkan emosi.


"Mbak Fina hebat ya berani melawan Mbak Renata. Kalau ibu-ibu yang lain kebanyakan diam saja kalau hidupnya dicibir Mbak Renata. Dia dan beberapa temannya memang suka begitu sih. Sering mencibir orang, Mbak."


"Sebenarnya tangan saya gatal ingin menampar mulutnya, tetapi saya tahan karena tidak mau melakukan kekerasan," jelas Fina sambil menoleh sekilas ke arah Anna.


Obrolan di antara kedua wanita berbadan dua itu terus berlanjut hingga mereka sampai di lobby rumah sakit. Anna pamit terlebih dahulu karena sudah dijemput keluarganya. Sementara Fina memilih duduk di bangku panjang sambil menunggu kedatangan Benny.


"Baru kali ini aku menemui wanita tidak tahu malu seperti Renata. Masa iya dia mengungkit masa lalu di hadapan semua orang!" gerutu Fina sambil mengusap perutnya.


...🌹To Be Continued 🌹...


...Kalau kalian jadi Fina, bakal ngapain?😎...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Sambil nunggu othor up, yuk baca karya author Sensen dengan judul Reinkarnasi Istri Kecil Mafia. Jangan sampai gak baca ya😎...


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2